Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Keputusan


__ADS_3

Satya dan Amartha keluar dari ruang IGD, namun ada seorang wanita yang menghampiri keduanya dan mencekal lengan Amartha. Amartha yabg dicekal tangannya pun menghentikan langkahnya dan menatap wanita itu.


"Maaf, kamu Amartha?" tanya Kamila. Ya wanita yang ditemui Amartha beberapa saat yang lalu di ruang perawatan Sinta.


"Ee ... iya tante, ehm ... tante mamanya Sinta, kan?" Amartha berbalik bertanya.


"Iya, ehm, kita bisa bicara sebentar?" pinta Kamila pada Amartha.


"Mas?" Amartha menoleh ke arah Satya, yang di


jawab anggukan kecil oleh Satya.


"Aku tunggu di mobil," ucap Satya yang mengelus punggung Amartha lembut, dia pergi untuk memberi ruang pada Amartha dan Kamila untuk berbicara.


"Ayo kita duduk disana," ucap Kamila sembari menunjuk bangku di ruang tunggu depan IGD yang saat itu sangat sepi karena hari sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Amartha mengikuti Kamila yamg berjalan ke arah yang dia tunjuk tadi. Amartha mendudukkan dirinya di samping Kamila. Wanita itu menggenggam tangan Amartha seraya menghela nafasnya sebelum mengatakan maksud dan tujuannya.


"Tante, bingung harus mulai dari mana..."


"Amartha, keadaan Sinta sekarang jauh dari kata baik-baik saja ... dia terus menyakiti dirinya sendiri, begitu pun pak Damar, ayah Kenan yang kena serangan jantung, kamu tahu kan maksud, tante?"


"Hanya kamu kunci dari semua masalah ini, tante tau, akan sangat egois ... tapi tante nggak bisa kalau harus kehilangan Sinta, Sinta sangat membutuhkan Kenan untuk disampingnya," Kamila terisak sambil memandang ke arah Amartha. Gadis itu hanya mengusap lembut tangan Kamila. Jelas sekali wanita itu menyimpan sedih yang sangat mendalam.


"Aku mau ketemu sama Sinta, boleh tante?" ucap Amartha yang memandang Kamila dengan sendu.


Kamila menyambut pertanyaan Amartha dengan anggukan kepalanya. Mereka berdua bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai 3. Amartha dan Kamila berjalan beriringan, sampailah mereka di depan pintu kamar ruangan dimana Sinta di rawat. Kamila membuka pintu yang memperlihatkan seorang gadis yang tengah tertidur diatas ranjang pasien.


Amartha duduk di samping kiri ranjang Sinta. Dia meraih tangan Sinta yang banyak terdapat luka yang kini sudah mengering.


"Maafin aku," ucap Amartha yang mengusap lembut punggung tangan Sinta


Sementara Kamila terus saja menangis melihat anaknya begitu rapuh saat ini. Air mata lagi-lagi jatuh membasahi pipinya. Kemudian ia merasakan ada usapan di punggungnya. Amartha pun menoleh, dia menangkap sosok lelaki bernama Kenan telah berdiri di sampingnya. Ia meraih tangan Kenan dan menyatukanya dengan tangan Sinta.


"Bahagiakan dia, dia lebih membutuhkanmu," ucap Amartha sembari memandang wajah Kenan


"Lalu?" pria itu bertanya.


"Kita akan mengakhiri semuanya," jawab Amartha sesaat sebelum mengalihkan pandangannya pada Sinta.


Kenan tak bisa bersikap egois untuk membawa Amartha ke dalam bahaya yang akan terus mengejarnya, jika gadis itu tetap bersama dirinya. Kenan melihat Sinta, ada rasa iba yang terselip di hatinya. Dan bodohnya dia sama sekali tak bisa bersikap tegas. Mungkin ini saatnya untuk menyerah, walaupun dengan rasa sakit yang begitu dalam.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


Satya sedang menungggu Amartha di dalam mobil. Pria itu duduk di kursi penumpang di bagian belakang. Sedangkan Firlan, menunggu di luar sambil melipat tangannya di dada. Suasana malam begitu dingin, sekilas terlihat seorang perempuan yang sedang berjalan ke arah mobil berwarna hitam itu. Firlan yang melihat sosok perempuan itu langsung membukakan pintu mobil belakang.


Satya yang mendapati Amartha masuk ke dalam mobil pun hanya terdiam. Amartha duduk di sampingnya dan menoleh ke arah Satya dengan segaris senyuman yang sulit sekali untuk diartikan. Satya yang merasakan Amartha tidak sedang baik-baik saja pun memilih untuk diam dan menggenggam tangan Amartha.


"Firlan, kita ke apartemen!" titah Satya pada Firlan yang sudah siap menginjak pedal gasnya.


"Baik, Tuan!" jawab Firlan singkat.


Firlan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia ingin segera mengantarkan anak bosnya ini agar ia juga bisa secepatnya bertemu dengan bantal dan kasur favoritnya di rumah.


Sesampainya di basment, Firlan segera membukakan pintu untuk Satya dan juga Amartha, serta menurunkan koper kedua orag itu yang tersimpan di bagasi mobil.


"Biar aku bawa sendiri," kata Satya sambil meraih koper miliknya.


"Seharusnya memang begitu," gumam Firlan yang nyaris tak terdengar oleh Satya.


Satya menarik kopernya sendiri begitu pun juga dengan Amartha. Mereka melangkahkan kakinya menuju kotak besi yang akan membawa mereka ke unit milik Satya di lantai 20.


"Ayo," satu kata singkat meluncur dari bibir Satya.


Satya menekan sandi setelah sampai didepan unitnya, dan tak lama pintu pun terbuka. Satya mempersilakan Amartha untuk masuk ke dalam. Pria itu kemudian menutup pintunya.


"Ehm, ini kamar kamu, istirahatlah, kalau butuh apa-apa, aku ada di kamar sebelah," tunjuk Satya dengan dagunya.


"Iya," sahut Amartha singkat.


Amartha pun masuk ke dalam kamar yang di dominasi oleh wallpaper berwana krem, dengan lukisan bunga yang terpajang di dinding. Amartha menaruh kopernya di samping ranjang dan membukanya untuk mengambil handuk. Mungkin dengan mandi, dia bisa menenangkan pikirannya.


Satya yang sudah memesan ayam bakar untuk makan malam yang sudah sangat terlambat itu pun segera mengetuk pintu kamar Amartha.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Amartha?' panggil Satya namun tak ada jawaban.


"Apa dia sudah tidur?" Satya bertanya entah pada siapa.


"Eh, kok nggak dikunci?" gumam Satya saat menyadari pintu kamar Amartha tidak sempurna.


Ketika Satya membuka pintunya berbarengan dengan Amartha yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk putih yang melilitnya. Satya yang disuguhkan pemandangan indah pun tak mengedipkan matanya. Kesadarannya pulih saat mendengar lengkingan dari gadis itu.


"Aaaaaaaaaa!" Amartha berteriak, yang membuat Satya pun tak kalah terkejutnya. Amartha pun segera menyilangkan tangan di depan dadanya.


Satya langsung menutup pintu kamar Amartha, dengan nafas yang terengah-engah dan mengusap dadanya yang kaget mendengar teriakan Amartha.


Satya mengepalkan tangannya dan memukul-mukul keningnya pelan, merutuki kebodohannya.


"Astagfirllah, ada aja rejeki malem-malem, eh!" ucap Satya seraya menatap pintu kamar Amartha.


Sedangkan Amartha yang masih di dalam kamar langsung mengunci pintu dan segera memakai piyama berbahan satin berwarna pink untuk menutupi tubuhnya. Setelah selesai menyisir dan mengikat rambutnya, gadis itu beranjak dari tempat tidur dan mondar- mandir di depan pintu kamar.


"Huffh, keluar nggak ya?" Amartha berkacak pinggang sambil menatap pintu.


"Dia tadi kesini mau ngapain, sih?" Amartha bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Duh, habis mandi malah laper!" Lagi-lagi gadis itu berbicara sendiri, dia gelisah karena perutnya sudah minta untuk diisi.


Amartha pun membuka pintunya perlahan-lahan dan melongokkan kepalanya keluar. Berharap situasi aman terkendali, supaya dia bisa mengambil air atau apapun itu yang bisa mengganjal rasa laparnya.


"Ehem! ngapain nongol disitu?" tanya Satya mengagetkan Amartha yang tertangkap basah sedang celingukan.


"Astagfirllah! bikin kaget ajah!" ucap Amartha yang menegakkan tubuhnya dan mengelus dadanya yang rasanya mau copot.


"Ya lagian, ngapain tuh kepala nongol di sela pintu?" tanya Satya yang sudah kembali pada mode sableng.


Kruuuuk...krukkk...


"Ayok makan dulu, aku udah pesen ayam bakar!" ucap Satya dengan seringai yang sangat menyebalkan.


"Nggak, ah!" tolak Amartha.


"Udah nggak usah malu-malu, tuh cacing udah pada minta nasi!" kata Satya yang langsung menggandeng tangan Amartha menuju meja makan


Kamu selalu punya cara untuk membuatku lupa kalau aku sedang bersedih.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2