
"Biar aku yang beresin," ucap Amartha, tanpa babibu Satya langsung mlengos, ningkring aja di sofa. Amartha hanya menghela nafasnya sambil membereskan bekas piring makan mereka.
"Huuufh... yang lagi cemburu, disabarin aja." gumam Amartha yang melihat Satya yang duduk di depan TV, matanya menatap layar besar itu tapi pikirannya entah kemana.
"Nggak biasanya dia kayak gitu," Amartha kembali bicara dalam hatinya, heran dengan sikap Satya yang menurutnya terlalu berlebihan cuma karena bunga yang belum diketahui siapa pengirimnya.
"Mas?" Amartha duduk di samping Satya, namun pria itu malah beranjak dan masuk ke kamar.
"Kok dia jadi marah sama aku? segitunya banget, deh! hufh ... sabarrrrrrrr ... sabaaaaarr,"
"Atau karena bajuku yang bau cumi? lupa tadi belum ganti baju," Amartha mencium baju dibagian lengannya. Ia mematikan tivi dan bergegas menyusul suaminya ke dalam kamar.
Wanita itu mengganti pakaiannya yang tadi sudah bau masakan, sedangkan Satya kini tengah duduk bersandar pada tumpukan bantal diatas ranjang sementara matanya menatap layar ponsel yang ada ditangannya. Satya meminta tolong Firlan untuk mencari tahu tentang si pengirim bunga. Satya yakin ini ada hubungannya dengan orang yang mengawasi mereka saat di Sumbawa.
Mata wanita itu masih memperhatikan gerak-gerik suaminya, yang tengah sibuk memperhatikan benda pipih yang dipegangnya.
Amartha lantas naik ke atas ranjang dan berbagi selimut dengan suaminya. Akan tetapi, Satya sekarang malah memunggunginya.
Wanita yang sudah sah menjadi istri Satya itu, membuang nafas kasar, rasanya ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Satya yang lagi kesambet setan kembang. Bukankah dia tadi sudah menjelaskan dari mana datangnya tuh kembang, dan alasan kenapa bunga itu dia terima, tapi kenapa Satya masih saja marah padanya? Entahlah!
Amartha langsung turun dari ranjang dan mengganti pakaian tidurnya dengan sweater dan jeans, lalu ia memasukkan beberapa baju ke dalam tas.
"Mau kemana?" tanya Satya yang melirik pada Amartha yang kini tengah memenutup sleting tasnya.
"Mau ke kosan, Vira..." sahut Amartha dingin, tanpa melihat ke arah suaminya, ia lalu mencangkolkan tas di kedua bahunya, bersiap untuk pergi.
"Nggak boleh!" Satya segera bangkit dan secepat kilat mencekal tangan istrinya yang akan pergi.
"Ih apaan sih?" Amartha mencoba melepaskan cekalan tangan suaminya.
__ADS_1
"Aku bilang nggak boleh." Satya kembali mengulang ucapannya dengan penuh penekanan.
"Seenggaknya disana aku nggak akan dicuekin kayak gini," kata Amartha menyidir suaminya yang tengah menghalangi kepergiannya.
"Lepasin!" ucap Amartha yang sebenarnya tidak benar-benar ingin pergi, namun dia sudah kehabisan akal supaya Satya mau bicara padanya.
"Nggak, nggak, kamu nggak boleh keluar," Satya mencoba melepaskan tas yang sudah tercangkol di bahu istrinya, namun Amartha mempertahankan tas itu agar tidak berpindah posisi.
"Aku, aku minta maaf, aku minta maaf, aku hanya..." Satya tak mrlanjutkan ucapannya, ia menjeda sesaat.
"Aku hanya lagi banyak pikiran, jangan pergi ... aku minta maaf," ucapnya lagi dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku tau aku salah, aku cuma nggak suka ada yang kirim bunga buat kamu dan nggak suka dengan ucapan di kartu itu," ucap Satya mengakui bahwa dia sebenarnya cemburu, dan Amartha merasa bukan hanya itu yang menjadi alasannya, wanita itu merasa ada yg lain yang Satya tidak utaran padanya.
"Jangan marah lagi, ya?" ucap pria iru mencoba membelai pipi sebelah kiri istrinya yang malah mlengos liat ke arah lain.
"Oh ya, kita tadi mau ke supermarket, ya? ehm, sekarang aja, yuk ... sebentar aku ambil dompet," kata Satya yang dengan segera mengambil dompet dan ponselnya.
"Kan bahan makanan di kulkas abis," Satya tak habis akal, mungkin dengan jalan berdua mereka bisa berbagi kegundahan, pria itu masih saja berusaha bersikap manis pada mantan istrinya itu.
"Ya tinggal puasa," celetuk Amartha yang membuat Satya kalang kabut.
"Kan aku udah minta maaf, Yank..." Satya masih menarik-baik ujung baju Amartha.
"Noh liat jam, udah jam 9 malem, sampe sana yang ada udah pada tutup!" ucap Amartha.
"Ehm, maafin aku nggak nih?" tanya Satya yang hanya dijawab deheman oleh Amartha.
"Hem," sahut Amartha singkat.
__ADS_1
"Dih kok jawabnya gitu," Satya berucap sangat lembut, berharap Amartha mau memaafkannya.
"Loh, Yank? mau kemana?" tanya Satya pada Amartha yang tiba-tiba keluar dari kamar.
"Minggat!" seru Amartha yang membuat Satya segera mengejarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan disinilah mereka berdua di dalam mobil, masih diem-dieman. Hanya lagu yang mengalun memecah keheningan diantara keduanya.
Mereka berdua akan menuju kediaman Ganendra, mengunjungi rumah mertuanya. Tak lupa ia membawa oleh-oleh untuk mertua dan adik iparnya sebagai buah tangan.
Suasana kota masih ramai, beberapa kali Satya menawarkan untuk mampir ke cafe atau kemana gitu supaya bisa memperbaiki mood Amartha yang sudah ia buat berantakan. Namun gadis itu kekeuh tidak ingin mampir, ia ingin langsung ke rumah mertuanya.
Tak berapa lama, akhirnya mereka pun sampai juga di kediaman Ganendra sepertinya para penghuni rumah sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Amartha lantas berjalan menuju kamar tamu, kamar yang dulu pernah ditempatinya. Akan tetapi, dengan segera tangannya dicekal oleh Satya. Pria tampan itu segera membawanya ke lantai atas, menuju kamar pria yang beberapa saat yang lalu sedang terbakar cemburu.
"Yank ... masih marah?" ucap Satya menusuk-nusukkan jarinya ke pipi istrinya. Mereka kini tengah berbaring diatas ranjang, dengan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Nggak," sahut wanita itu singkat, dengan nada tanpa ekspresinya, namun membuat bulu kuduk Satya merinding. Karena jawaban 'nggak' yang terlontar dari mulut istrinya adalah bermakna kebalikannya.
"Jangan lama-lama marahnya, aku kesepian, butuh kehangatan, mana diluar lagi ujan," Satya mode merajuk. Mendengar ocehan suaminya, Amartha malah memunggungi pria itu karena tidak tahan untuk tidak tertawa. Dia semakin menaikkan selimutnya.
"Yaaaaank..." Satya malah mendekat dan memeluk tubuh istrinya, sementara di luar hujan sangat deras, memberikan nuansa yang pas untuk berbagi kehangatan. Apalagi beberapa kali kilat menyambar, namun sang istri masih betah diposisinya saat ini.
"Yank, sini liat aku ... jangan marah lagi, ya? aku tau aku salah, karena udah cemburu nggak jelas," ucap Satya yang membalikkan tubuh istrinya agar berhadapan dengan dirinya. Melihat wajah Satya yang melas banget, akhirnya Amartha mengangguk perlahan dan membuat Satya tersenyum. Pria itu semakin mengikis jarak diantara mereka, memberikan sebuah sentuhan yang selalu membuat mereka seperti terbang ke awan.
Satya tetap mencari tahu siapa orang yang sedang mencoba untuk merusak hubungannya dengan Amartha. Dia tidak mau memberi celah pada orang lain untuk masuk ke dalam rumah tangganya.
__ADS_1
...----------------...