Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Siang menggelora


__ADS_3

Satya kini sedang mengemudikan mobilny membelah jalanan ditengah teriknya matahari. Satya berulangkali merutuki kebodohannya karena terlibat perjanjian konyol dengan asisten laknat, Firlan. Satya meminta bantuan Firlan untuk membereskan anak buah Damar Brawijaya, yang mengganggu dan mengancam Amartha dan orangtuanya, berakhir dengan sebuah perjanjian bahwa Satya harus mau menerima tawaran Abiseka untuk memimpin perusahaan.


Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya Satya membelokkan mobilnya ke perumahan elit dan berhenti di depan rumah orangtuanya. Satpam yang melihat mobil majikannya, langsung membuka pintu gerbang agar mobil majikannya bisa masuk ke dalam. Satya mematikan mesin mobilnya dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Mira, mami dimana?" tanya Satya ketika melihat Mira sedang membereskan bacaan buku milik Sandra yang tergeletak di ruang keluarga.


"Nyonya ada di kamarnya, Tuan..." ucap Mira hati-hati.


"Kalau ... ah sudahlah, lanjutkan pekerjaanmu" Satya mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal keberadaan Amartha. Mira yang sudah selesai dengan pekerjaannya pun, memilih untuk kembali ke dapur.


Satya melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang tak jauh dari ruang keluarga. Disana ada 3 kamar yang khusus diperuntukkan apabila ada tamu atau kerabat yang akan menginap. Satya membuka perlahan salah satu kamar.


Dilihatnya Amartha sedang terbaring di ranjang king size yang super empuk, Satya menutup pintu kamar dan melangkahkan kakinya yang nyaris tak terdengar.


Satya duduk di pinggir ranjang, salah satu tangannnya menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Amartha.


Andaikan aku yang kamu cintai, andaikan aku yang berada di posisi penting itu, aku akan sangat bahagia, Amartha!


Satya kemudian membelai wajah cantik itu, tanpa sadar Satya mulai mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan semakin dekat seakan ada magnet yang menariknya untuk terus mendekat.


Tiba-tiba mata Amartha terbuka, dan gadis itu sangat terkejut mendapati wajah Satya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Hembusan nafas pria itu jelas terasa menyapu wajahnya. Pandangan mereka terkunci, memandang satu sama lain. Lidah gadis itu seakan kelu, otaknya seakan tak mau berkompromi saat Satya tiba-tiba mengecup bi**rnya dengan lembut.


Amartha membulatkan matanya saat Satya mel**at bi**rnya. Pria itu bertumpu pada satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain membelai wajah gadis itu. Amartha tak bisa mengimbangi saat Satya mulai memperdalam ciu***nnya dan mengabsen apa saja yang ada di rongga mulutnya.


Tokk


Tokk


Tokk


"Amartha?" terdengar suara Sandra dan diiringi ketukan pintu kamar Amartha. Sepersekian detik kesadaran Amartha terkumpul sempurna setelah mendengar suara Sandra di balik pintu kamarnya.

__ADS_1


"Mmnph...mmmph.." Amartha memukul dada bidang Satya, namun Satya tak menghentikan ciu***nnya.


"Mmmmphhh..." Amartha kemudian menggigit lidah Satya, dan langsung mendorong tubuh pria yang kini terguling ke sisi kanan ranjangnya.


"I-iya Tante, se-sebentar..." jawab Amartha dengan gugup dan langsung bangkit dari tidurnya. Satya yang baru menyadari Sandra ada di depan kamar pun membelalakkan matanya, wajahnya sangat panik pria itu seperti pencuri yang nyaris tertangkap.


"Sa-saya lagi ganti ba-baju, Tante..." lanjut gadis itu sambil merapikan rambut dengan jari tangannya.


"Oh, ya sudah ... tante tunggu di ruang makan ya, Sayang?" teriak Sandra.


"I-iya Tante..." sahut Amartha yang terus saja memandangi pintu, takut jika Sandra tiba-tiba masuk.


Sandra pun segera meninggalkan kamar itu dan melangkahkan kakinya menuju dapur karena entah mengapa, ia sangat ingin sekali memakan salad buah di siang hari yang cukup terik ini.


Setelah mendengar suara langkah kaki Sandra sudah menjauh, kedua insan itu menghela nafasnya lega, setelah sebelumnya jantung mereka seakan diajak marathon, berdetak begitu cepat dari biasanya.


"Untung saja!" gumam Satya seraya mengelus dadanya, yang diringi tatapan dari Amartha.


"Se-sebaiknya Mas Satya cepat ke-keluar," ucap Amartha yang memalingkan pandangannya, dia sungguh malu saat ini, dia tak sanggup melihat wajah pria itu. Bisa-bisanya mereka berc**man, sungguh tak masuk akal.


Satya lalu melangkahkan kakinya keluar, Amartha langsung menutup pintu kamarnya dan memukul bibirnya dengan telapak tangannya.


"Bodoh bodoh bodoh!" umpatnya dalam hati.


Sedangkan Satya melangkah dengan sangat hati-hati, takut Sandra memergokinya berjalan dari arah kamar tamu yang jelas akan membuat wanita itu curiga padanya, bisa tamat riwayatnya.


Namun sepertinya, nasib baik sedang berpihak padanya, Satya tak menemukan Sandra baik di ruang keluarga maupun di ruang makan. Satya kemudian mempercepat langkahnya dan menarik salah satu kursi di meja makan.


"Loh, Sat? kamu kapan dateng?" tanya Sandra mengerutkan keningnya saat mendapati anak lelakinya sudah duduk manis di ruang makan.


Sandra meletakkan satu mangkuk salad buah dengan taburan keju yang melimpah diatas meja makan, lalu ia menarik salah satu kursi dan mendudukkan dirinya.

__ADS_1


"Iya, Mam ... udah dari tadi, tapi tadi aku ... ehm, aku terima telfon dari Firlan dulu di mobil," jawab Satya dengan tersenyum tipis.


Namun, Sandra merasakan anak lelakinya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya, Sandra mebatap anaknya dengan tatapan menyelidik.


"Bener?" tanya Sandra yang tak melepaskan pandangannya dari Satya.


"I-iya Mam! ih mami nggak percayaan banget, sih!" Satya mencoba menutupi kegugupannya.


"Siang, Tante..." ucap Amartha yang seketika membuat Sandra melepaskan tatapan mematikannya dari Satya.


"Eh, Sayang ... ayok duduk, kita makan siang bareng," ucap Sandra dengan sangat bersemangat.


Amartha lantas mendudukkan dirinya tepat di samping Satya. Mereka berdua terlihat sangat canggung, Sandra mengernyitkan keningnya heran melihat gerak-gerik dua orang yang berada di hadapannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Amartha? kenapa kamu nggak mau angkat telfonku? aku sangat merindukan kamu!" gumam Kenan yang saat ini menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


Mulai hari ini, dia yang akan menggantikan posisi sang ayah, karena keadaan Damar yang masih terbaring di rumah sakit. Perusahaan juga sedang tidak baik-baik saja, banyak inverstor yang menarik saham mereka setelah mendengar tumbangnya seorang Damar Brawijaya.


Kenan memijit pangkal hidungnya, dia sangat penat memikirkan Amartha yang saat ini entah dimana keberadaannya.


"Argghhh! kenapa aku yang harus di posisi ini!" Kenan menggebrak mejanya, dia sangat frustasi dengan semua hal yang terjadi padanya.


Terlebih lagi dia harus berpisah dengan istrinya, orang yang sangat dicintainya. Kenan mengatur kembali nafasnya, dan mencoba menenangkan pikirannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Kenan langsung meraih benda pipih itu dan melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya. Kenan mengabaikan panggilan telepon, sampai ponselnya berhenti berdering.


Namun tak lama, sebuah panggilan dari orang yang sama membuat ponselnya kembali berdering. Mau tak mau Kenan menjawab panggilan itu.


"Halo, ada apa?" ucap Kenan pada orang itu.

__ADS_1


...----------------...


Hayoo siapa yang nelpon? apakah si wanita sundal?


__ADS_2