Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Dia Tak Mungkin Berkhianat


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Aku berangkat kerja dulu ya, Sayang..." ucap Satya pada istrinya, Amartha.


"Hati-hati, Mas ... bekal kamu, Mas!" ucap Amartha seraya membawakan bekal makanan untuk Satya.


"Aku pulang sore, ya? ada banyak hal yang perlu diurus. Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Satya.


"Nggak apa-apa, nanti aku makan siang sama Vira..." ucap Amartha seraya mengantarkan suaminya ke depan rumah.


"Jangan lupa pakai masker, kalau bisa jangan dekat-dekat waktu Vira lagi ngegambar tembok. Bau cat menyengat, nggak baik buat kamu..." ucap Satya mengingatkan.


"Ayah berangkat dulu ya, Sayang ... muach!" Satya memberi kecupan pada perut istrinya.


"Kalau perlu apa-apa, telfon aku..." lanjut Satya seraya mengecup kening istrinya.


"Iya, Mas..." jawab Amartha tersenyum.


Amartha melambaikan tangannya saat mobil Satya menjauh keluar dari halaman rumah. Tak lama setelah itu, Vira datang ke rumah bahkan wanita itu sempat berpapasan dengan mobil yang keluar dari rumah mewah itu.


"Amartha!" seru Vira saat melihat sahabatnya baru saja memutar tubuhnya menghadap ke pintu. Amartha langsung menoleh.


"Vira?" pekik Amartha, senyum mengembang di wajahnya. Vira mempercepat langkahnya, wanita itu terlihat membawa banyak barang.


"Sorry nggak bisa cipika-cipiki, nih tanganku repot bawa barang," kata Vira setelah berdiri di depan Amartha.


"Non Vira, ini mau ditaruh dimana?" tanya mang Tatang dengan membawa satu tas lumayan yang lumayan berat.


"Di kamar yang mau didekor, Mang!" ucap Vira.


"Bawa ke lantai atas, Mang! nanti saya tunjukin di mana kamarnya," ucap Amartha.


"Sebentar saya mau kunci pintu gerbang dulu," ucap mang Tatang yabg meletakkan bawaannya diatas lantai, dan pria itu langsung berlari menuju pintu gerbang yang belum sempat di tutup.


"Masuk dulu, Vir!" kata Amartha seraya menyentuh punggung Vira. Mereka berdua masuk.


"Saaaa..." Amartha memanggil oelayannya yang bernama Sasa.


"Iya, Nyonya..." sahut Sasa setelah sampai di hadapan majikannya.

__ADS_1


"Sa, tolong ini bawakan barang-barang ini ke kamar bayi. Oh, ya? sekalian tungguin mang Tatang, soalnya ada barang yang masih di luar," Amartha menunjuk barang yang ada di tangan Vira. Dua tentengan itu pun segera berpindah ke tangan Sasa.


"Mau sekalian dikeluarin isinya, Nyonya?" tanya Sasa.


"Mau dikeluarin, Vir?" Amartha balik bertanya pada Vira.


"Nggak usah, biar aku sendiri aja nanti..." jawab Vira.


"Nggak usah, Sa! taruh aja disana." kata sang majikan.


"Baik, Nyonya..." Sasa mengangguk paham.


"Kamu butuh apa lagi? biar sekalian disiapin," tanya Amartha. Vira mengerucutkan bibirnya, lagi mikir.


"Ada kursi nggak kira-kira yang kuat buat aku manjat?" tanya Vira.


"Ada, udah cuma itu aja?" tanya Amartha.


"Iya sementara itu aja udah," jawab wanita berambut sebahu itu.


"Sa, nanti bilang sama mang Tatang, minta tolong buat ngambilin kursi, ya?" kata Amartha pada Sasa.


"Nah, itu mang Tatang! tolong ya, Sa?" ucap Amartha yang tak pernah lupa mengucapkan kata tolong saat menyuruh para pelayannnya.


"Kalau begitu saya permisi, Nyonya..." ucap Sasa yang langsung menghampiri mang Tatang.


"Ayo, Mang. Langsung ke lantai atas," ucap Sasa pada mang Tatang.


Amartha pun mengajak Vira untuk dusuk di meja makan, disana ada bik Surti yang sedang mengelap meja makan.


"Eh, ada Bik Surti yang cantik..." ucap Vira.


"Elah dalah, Mbak Vira ini bikin kaget aja," kata bik Surti.


"Mbak Vira ada-ada saja, orang udah tua dibilang cantik. Ngeledek apa ngeledek, hayo?" kata bik Surti, Amartha dan Vira pun kompak tertawa.


"Tuh buktinya mang Tatang tak bisa berpindah ke lain hati," kata Vira.


"Ya harus itu, Mbak! orang udah pada tua juga, kalau macem-macem tinggal diperes-peres seperti kain lap ini, Mbak!" kata bik Surti yang meremas kain lap yang dipegangnya.

__ADS_1


"Hahaha, becanda ya, Bik ... jangan masukin ke hati, nanti cantiknya digondol kucing!" kata Vira.


"Vira kalau udah ketemu bik Surti pasti deh, heboh..." kata Amartha seraya menarik satu kursindan mendudukinya


"Kamu mau minum apa, Vira? udah sarapan belum? kamu kan punya sakit lambung, nggak boleh telat makan!" Amartha mencecar Vira dengan pertanyaan.


"Udah sarapan kok, beneran..." jawab wanita yang bertahun-tahun menjadi sahabatnya itu.


"Bawain klepon cake sama vanilla ice tea aja, Bik...." ucap Amartha pada bik Surti.


"Baik, Nyonya..." sahut bik Surti.


Sementara di kantor.


Satya sedang sangat sibuk dengan tumpukan dokumen yang tak pernah habis. Pria itu nampak sedang meneliti sebuah berkas di tangannya. Namun, ia merasa ada seseorang yang terus saja memperhatikan dirinya.


"Ada yang ingin kamu sampaikan, Firlan? gerak gerikmu sungguh mengganggu konsentrasiku!" tanya Satya tanpa mengalihkan matanya dari berkas yang sedang dibacanya. Ilmu bela yang dipelajarinya dulu membuat instingnya terlatih.


"Kenapa, Tuan?" Firlan nampak sedikit gugup.


"Dari tadi kamu membuat gerakan yang sama berulang-ulang. Sebentar duduk sebentar berdiri, katakan apa yang ingin kamu sampaikan padaku..." kata Satya. Walaupun matanya tak melihat secara langsung, tapi pendengarannya sangat tajam. Ia dapat merasakan jika asistennya itu sedang menyembunyikan sesuatu, namun Satya percaya kalau apapun itu, Firlan tak akan berkhianat.


"Tidak ada, Tuan. Saya hanya sedikit pegal, duduk terlalu lama..." ucap Firlan yang duduk di sofa dengan beberapa dokumen di atas meja.


"Benarkah? ada setumpuk dokumen di hadapanmu, tapi kenapa kepalamu menoleh ke arahku, hah?" tiba-tiba Satya mendongak dan menaruh berkas yang sedang diperiksanya ke atas meja. Firlan yang melihat itu merutuki kebodohannya, karena dia lupa kalau bos sablengnya itu memiliki intuisi yang tajam dan tidak bisa dianggap remeh.


Satya memainkan pena di tangannya, kemudian melemparnya tepat mengenai kepala Firlan.


"Jangan menakutiku dengan tatapanmu itu!tinggalkan dokumen itu dan periksalah ke dokter. Aku rasa beban kerja membuatmu stres. Aku takut jika kamu tiba-tiba menyukaiku," ucap Satya menatap Firlan dengan tatapan ngeri.


"Anda jangan menuduhku dengan tuduhan kejam seperti itu, Tuan. Saya pria normal, mana mungkin saya bisa tertarik dengan sesama," kata Firlan ketus.


"Katakan kenapa kau terus saja melihatku?" tanya Satya, ia sengaja memancing asistennya itu agar bicara. Sebenarnya dia sudah curiga saat Firlan meneleponnya kemarin. Firlan jarang sekali menelepon jika tidak menyangkut hal yang penting atau mendesak.


"Iya kepala saya kan pegal juga, melihat ke depan terus, jadi saya melihat ke segala arah. Bukan hanya melihat ke arah meja anda," Firlan berkilah.


"Benarkah?" Satya melayangkan tatapan menelisiknya.


"Tentu!" sahut Firlan, dia ingin bicara soal apa yang Alia sampaikan padanya. Perihal wanita yang sangat tengah di desak keluarganya untuk menikah, dan sang wanita berencana menjadikan Satya menjadi sang pengantin pria.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2