Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Balada Suami Ketika Istri Sedang Hamil


__ADS_3

"Maksudnya kalau papi nyari gitu loh, Yank..." jelas Satya yang otaknya langsung nyambung dengan cepat.


Satya menggandeng istrinya yabg memakai fkat shoes itu berjalan ke arah lift. Para karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengan bos mereka pun menunduk hormat. Sementara Amartha selalu memasang senyumnya, dan tak ada kesan angkuh sebagai istri seorang Satya Ganendra.


Sepanjang perjalanan Amartha hanya diam, bahkan terlihat sangat cuek walaupun sudah di towal towel suaminya.


"Yank masih ngambek? kok aku dicuekin gini, sih? tanya Satya sambil sesekali melihat wajah istrinya.


"Yang tau nggak? kalau..." ucapan Satya terhenti saat Amartha melihatnya dengan wajah yang menyiratkan bahwa ' aku sedang tidak ingin bicara saat ini.'


"Hem, iya iya, aku tutup mulut," Satya memilih untuk diam daripada nanti salah lagi. Tangannya tak lupa mengelus kepala istrinya yang lucu kalau lagi ngambek, ternyata begini lah balada suami kalau istri lagi hamil. Stock sabarnya harus melimpah, dan harus punya cara jitu supaya acara perngambekan bumil segera teratasi. Dan sampai saat ini Satya belum menemukan cara itu.


Beberapa saat mereka terdiam larut dalam pikirannya masing-masing. Amartha masih saja teringat tatapan wanita bernama Ivanka, tatapan padanya berbeda ketika wanita itu menatap suaminya. Tatapan menggoda seorang wanita.


"Makan disana aja yuk? atau kamu mau makan yang lain?" ucapan Satya tiba-tiba membuyarkan lamunan Amartha.


"Terserah," jawab Amartha singkat.


"Ya udah deh, disana aja ya?" ucap Satya seraya memarkirkan mobilnya di sebuah restoran.


Satya pun turun dari mobilnya dan dengan segera berjalan memutar ke sisi pintu dimana Amartha duduk, lalu ia membukakan pintu untuk istrinya.


"Hati-hati, Yank..." ucap Satya saat Amartha mulai keluar dari mobil, tak lupa Satya memegang tangan Amartha agar wanita itu punya tumpuan saat berdiri.


Satya menggenggam tangan istrinya, mereka berjalan perlahan menuju pintu masuk restoran tersebut.

__ADS_1


Begitu masuk mereka disambut oleh seorang pelayan, dan langsung menunjukkan meja yang kosong.


Amartha hanya duduk tak berniat melihat menu. Suasana hatinya benar-benar tidak seperti biasanya. Mood nya naik turun seperti roaller coaster, membuat Satya kelimpungan menghadapi mood ibu hamil yang satu ini. Beberapa kali wanita itu membuang nafasnya kasar, dan itu tak luput dari perhatian Satya.


Satya segera memesan makanan untuk mereka nikmati siang ini. Pelayan itu meninggalkan suami istri yang masih belum berbaikan itu.


"Maafin, yah? aku nggak sadar dia duduk sedeket itu, karena aku terlalu fokus sama dokumen yang lagi aku baca," ucap Satya yang menggenggam tangan istrinya, dan mencium punggung tangan itu.


"Kita ada lagi ada kerja sama untuk-" ucapan Satya langsung terhenti saat Amartha meliriknya dengan tatapan tidak suka dengan apa yang akan diucapkannya. Entah mengapa Amartha tidak suka ketika suaminya membahas tentang wanita bernama Ivanka dan apa yang sedang mereka lakukan saat di ruang kerja Satya beberapa saat yang lalu.


"Iya iya deh nggak," Satya memilih untuk tidak melanjutkan perkataannya.


"Tapi mau maafin aku kan, Sayang?" ucap Satya lembut. Sebenarnya dia tidak mau berlama-lama marah dengan suaminya, namun rasa cemburu itu tak bisa ia bendung.


"Aku bisa liat dia tertarik sama kamu, Mas. Aku bisa liat itu dan aku nggak suka." akhirnya Amartha mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya. Satya lebih suka Amartha jujur dengan apa yang dirasakannya daripada ia berkata baik-baik saja namun menyimpan sejuta luka di dalam relung batinnya.


"Pikir aja sendiri," sahut Amartha yang membuat kepala Satya berdenyut nyeri. Jawaban boomerang bagi kaum adam ketika sang wanita sudah bicara terserah atau pikir aja sendiri, itu berarti apapun yang kamu lakukan akan tetap salah.


Satya hanya menghembuskan nafasnya, maju salah mundur pun akan salah juga. Lebih baik ganti topik, pikirnya. Tak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang, menu sajian makanan indonesia yang sangat segar dimakan di cuaca yang terik seperti sekarang ini.


"Hem, ya udah kita makan dulu aja, ya? kasian dedek pasti udah kelaperan, gara-gara ibunya telat makan," ucap Satya mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Aku suapin, ya?" ucap Satya seraya menyuapkan soup daging ke arah mulut istrinya.


Amartha akhirnya luluh juga, dia mau makan bahkan dia sangat lahap menyantap soup daging dengan nasi panas ditambah sambel kecap yang membuat lidah tak berhenti untuk mencicipinya

__ADS_1


Selama kehamilannya, Amartha tidak merasakan mual pusing seperti orang hamil pada umumnya. Semua itu malah dirasakan Satya selama hampir 2 bulan setelah Amartha dinyatakan hamil. Firlan yang menjadi sasaran ngidam bosnya, setiap hari Firlan akan mencarika es rujak serut untuk bosnya itu. Karena dengan makan itu perutnya merasa lebih baik dan bisa memakan makanan lain setelah itu, walaupun beberapa saat dia akan mengeluarkannya lagi.


"Enak?" tanya Satya yang melihat istrinya makan kentang goreng.


Amartha hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Satya. Amartha beruntung karena walaupun ***** makannya bertambah namun berat badannya tidak melonjak, malah wanita itu sangat menarik dengan tubuh yang semakin berisi. Mereka pun menikmati makanan dengan tenang tanpa ada perdebatan tentang wanita ulet keket itu.


"Yank ... nanti malem mami minta kita dateng makan malam di rumah," ucap Satya pada istrinya yang sudah menyelesaikan makannya.


"Iya," sahut Amartha mengiyakan permintaan mami Sandra.


"Sekalian aku mau bilang kelakuan suamiku di kantor hari ini," celetuk Amartha yang membuat Satya tersedak saat minum.


"Uhukkk, uhukk," Satya terbatuk.


"Kok gitu? kan aku udah bilang aku nggak tau dia duduk sedeket itu," Satya mencoba mengulang penjelasannya lagi.


"Oke, kalau duduknya kalau nggak ngeh, tapi kalau pipi mau di cium masa iya nggak kerasa juga? kalau aku nggak buka pintu pasti bibir cewek itu udah mendarat di pipi kamu, Mas." ucap Amartha yang membuat Satya kedap-kedip.


Memang benar, dia tidak tau dengan apa yang wanita itu akan lakukan. Satya memijit pangkal hidungnya. Keadaan perusahaan sudah kembali bahkan sedang meroket. Para investor yang lain pun berdatangan setelah perusahaannya kembali stabil.


"Beneran aku nggak tau, dan aku nggak ada apa-pa sama dia, cuma hubungan kerja dan nggak lebih. Aku akan jaga jarak dan lebih berhati-hati lagi, oke? kamu percaya kan sama aku?" tanya Satya memandang lekat Amartha dan wanita itu mengangguk sebagai jawabannya. Satya tersenyum saat melihat istrinya yang kini akan menyerang es yang sangat menggugah selera.


Sewaktu Amartha sedang menikmati es kopyornya, dia melihat seorang wanita yang sangat ia kenal, seseorang yang pernah menjadi tempat bertukar keluh kesah di masa lalu. Pandangan mereka bertemu, wanita itu memandang perut Amartha yang membuncit.


Wanita itu melepaskan tautan tangannya dengan seorang lelaki dan berjalan menghampiri seoasang suami istri yang sepertinya telah menyelesaikan makan siangnya.

__ADS_1


"Bisa kah kita bicara berdua?" ucap wanita itu.


...----------------...


__ADS_2