
"Baik, Tuan Satya ... terima kasih atas waktunya, maaf harusnya anda mengatakan kalau anda sedang sakit, jadi kita bisa mengatur ulang jadwal pertemuan ini," ucap Irwan merasa bersalah.
"Hanya luka kecil, tidak masalah..." ucap Satya.
"Mari..." Satya mengajak Irwan untuk melangkah menuju meja Amartha. Amartha bangkit saat melihat Satya dan Irwan berjalan ke arahnya.
"Sudah selesai?" tanya Amartha pada suaminya.
"Sudah ... oh, ya Sayang, Tuan Irwan ingin berpamitan," ucap Satya.
"Saya masih ada urusan lain setelah ini, kalau begitu saya permisi, Tuan dan Nyonya Satya..." ucap Irwan.
"Hati-hati di jalan, Tuan..." ucap Amartha, Irwan mengangguk.
"Mari," kata Irwan sebelum pergi.
Irwan segera. berjalan menuju pintu keluar, Ia segera menghubungi seseorang.
"Halo? Tuan? sesuai dengan permintaan anda..." ucap Irwan.
"Apakah dia setuju?" tanya pria yang menjadi lawan bicara Irwan.
"Ya, tentu..." sahut Irwan yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Ingat semua atas namamu," ucap pria itu mengingatkan.
"Sesuai rencana awal," kata Irwan.
"Good! thanks, Wan!" ucap pria itu sebelum ia mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Irwan lantas menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan sepasang suami istri yang masih di dalam cafe tersebut.
"Mas? Prisha mau berangkat ke Aussie hari ini," kata Amartha yang duduk kembali.
"Terus? lah kan emang dia udah waktunya dia harus balik lagi," ucap Satya enteng.
"Dia minta aku buat kesana, kan habis urusan Mas selesai katanya mau anterin aku ke rumah Mami?"
"Sekarang?" tanya Satya.
"Ngga, tapi tahun depan!" jawab Amartha.
"Oh, masih lama berarti, ya?"
"Ih, ngeselin deh..." Amartha kesal, Satya malah tertawa.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya pergi menuju kediaman Ganendra. Prisha masih belum mandi, dan ongkah-ongkah di depan televisi super besar di ruang keluarga.
"Mbaaak! duduk sini, Mbak! mau minum apa? biar aku suruh Nala yang ambilin," ucap Prisha.
"Yeuh, si moster! baru aku mau muji, tumben-tumbenan gercep nyuguhin minuman, eh ujung-ujungnya nyuruh juga!" seloroh Satya.
"Tapi kan intinya aku yang nanyain dan endingnya tuh minuman dateng sesuai pesanan," kata Prisha.
"Mau minum apa, Mbak?" Prisha mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab kakak iparnya.
"Jus semangka, ada nggak?" tanya Amartha.
"Ada kayaknya, bentar aku telpon si Nala,"
"Abang nggak ditanyain?"
"Abang mah disediain air ledeng mentah aja doyan, jadi nggak usah pake acara nawarin segala, ngabis-ngabisin gula di dapur aja," celetuk Prisha.
"Bener-bener nih bocah!" Satya melempar bantal sofa ke arah adiknya tapi meleset.
"Wleeeee nggak kena! payah!" Prisha meledek. Gadis itu langsung menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo, La ... bikinin jus semangka tiga, ya? bawain ke ruang keluarga, tengkyuuuuh!" ucap Prisha yang langsung mematikan ponselnya.
"Tinggal ke belakang aja pake nelfon si Nala segala, malesan banget sih, Mon!" protes Satya, Amartha memijit pangkal hidungnya pusing mendengar perdebatan dua spesies makhluk kakak beradik itu.
"Mon! katanya mau minggat? kok masih crumut kayak gitu?" tanya Satya saat mendapati adiknya masih santai di depan tivi dan tidak ada tanda-tanda akan berangkat.
"Ntar sore," ucap Prisha sambil mengunyah ciki-cikian rasa coklat.
"Adik durhaka! tau gitu abang nggak cepet-cepet kesini. Ngeselin banget kamu sih, Mon!" ucap Satya, lalu ia menaikkan satu kaki diatas kakinya yang lain, menatap adiknya dengan tatapan ganasnya.
"Ngeliatnya nggak usah gitu banget, sebelum tuh mata kena karma karena berani melototin adik yang super solekhah ini," ucap Prisha.
"Jorok banget sih kamu, Mon! jam segini belum mandi, pantesan si baskom hajatan milih nikah sama cewek laen, mungkin dia udah tau kelakuan kamu yang kayak gini," ucap Satya dengan nada mengejek.
"Heeeeeyyy, jangan sembarangan ganti nama orang, ya? aku bantuin eja, ef er a en es dibaca?"
"Baskom hajatan!" seru Satya.
"Fraaaaaaannnnsss, dibaca Fraans! katanya lulusan kedokteran, ngeja aja nggak bener! menyebalkan!" sarkas Prisha. Satya tertawa.
"Nggak usah ketawa! Mbak tolong itu suaminya disumpel apa, kek! ketawanya itu loh bikin gondok banget!" kata Prisha.
"Nggak bisa, sha! udah setelan pabriknya begitu..." ucap Amartha.
__ADS_1
"Nanakan onti Isha, kamu pokoknya jangan mirip bapak kamu itu, ya?" ucap Prisha sambil mengelus perut kakak iparnya.
"Heh, anak abang jangan diajarin yang aneh-aneh!" ucap Satya.
"Mami sama papi kemana, Mon? kok nggak keliatan?" tanya Satya.
"Lagi kemana ya tadi? oh, itu katanya mami lagi pengen banget beli taneman apa itu yang bolong-bolong, dedaunan yang lagi hits itu lah!" ucap Prisha.
"Aiiih, itu tangan kenapa? pake diiket-iket perban kayak mumi? nggak sekalian sampe muka aja? biar cosplay jadi mumi arab?" seloroh Prisha.
"Adik durjana emang!" ucap Satya. Prisha menabok tangan Satya yang sedang sakit.
"Aawhhh! sakit, monster!" Satya mengaduh.
"Maaf, cuma ngetes itu sakit beneran atau bohongan," kata Prisha nyemgir dan mengatupkan kedua tangannya namun sesaat kemudian gadis itu tertawa renyah.
Satya yang berniat melayangkan bantal sofa pun mendadak mengurungkan niatnya saat melihat Nala membawa gelas berisi jus semangka.
"Minum dulu, Mas ... biar nggak emosian," ucap Amartha yang sekuat tenaga tidak tertawa.
"Nggak usah ikutan ketawa, deh..." ucap Satya. Kemudian Amartha membantu Satya untuk minum.
"Kita ke kamar, Yank ... ntar tangan aku bisa di gaplok lagi sama dia! alih-alih nggak sengaja padahal semua itu dustaa!" ucap Satya mendramatisir suasana.
"Ke atas dulu ya, Sha..." ucap Amartha setelah meminum jusnya.
"Disini aja, Mbak! biar Abang naik sendiri," ucap Prisha yang menahan Amartha.
"Nggak! nggak boleh, kalau kamu kebanyakan gaul sama ini bocah, nanti yang ada baby kita shock, Yank..." protes Satya.
"Enak aja! nggak ada ya, lagian Abang kan bisa ke kamar sendirian, jalannya masih sama nggak akan nyasar, kalau nyasar berarti di tarik setan!" ucap Prisha.
"Yuk, ke kamar aja, Yank ...tangan aku nyut-nyutan abis ditempeleng sama monster ini, sakit banget loh ini," ucap Satya memelas.
"Sha ... kita ke atas, ya?" ucap Amartha yang segera bangkit dan mulai melangkah menuju tangga.
"Nggak tau malu emang! udah mau jadi bapak-bapak, kelakuan masih anak-anak, dasar kolokan!" ejek Prisha.
Satya tak mau menjawab ucapan adiknya itu, karena perdebatan itu tak akan ada habisnya.
"Ya Allah, mami kenapa ngasih aku adik model begitu," ucap Satya setelah masuk ke dalam kamar.
"Prisha itu kamu versi cewek, Mas!"
"Nggak, ya ... dia itu nyebelinnya udah sampai ke akar-akarnya. Kalau aku kan nggak gitu, Yank..." ucap Satya membela diri.
__ADS_1
...----------------...