
"Beruntung lukanya tidak terlalu dalam," kata Amartha setelah Satya mendapat perawatan di rumah sakit. Pria itu menghuni ruangan yang di khususkan untuk sang pemilik rumah sakit.
"Kenapa? setauhu, Mas nggak pernah mecahin barang-barang, aku melihat wajah suamiku ini sangat berbeda," tanya Amartha.
"Mungkin terlalu banyak yang mengganggu pikiranku, jangan khawatir..." kata Satya.
"Baiklah..." Amartha akan beranjak dari sisi tanjang Satya. Namun pria itu segera menangkap lengannya. Ia menggenggam erat tangan istrinya.
"Jangan berpikir yang macam-macam, ingat ada anak kita di dalam sini, dia akan merasakan apa yang ibunya rasakan..." Satya mengelus perut istrinya.
"Tapi aku juga ingin tau, apa yang terjadi," kata Amartha.
"Hari ini Ivanka menarik semua dana investasinya di perusahaan," ucap Satya tiba-tiba.
"Sehabis meeting aku duduk di sofa, memijat sedikit kepalaku yang terasa pusing, tapi ternyata aku malah ketiduran. Sampai aku bermimpi, di dalam mimpiku aku bermimpi lagi, dan ketika aku membuka mata aku melihat dia ada di hadapanku, aku ingin memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Jadi, aku memukul meja itu dengan tanganku, setelah merasakan perih dan sakit, barulah aku sadar bahwa aku sudah terbangun, dan ini nyata," jelas Satya.
"Mimpi bertingkat. Yang Mas alami itu mimpi bertingkat atau mimpi dalam mimpi, dan bisa disebut juga mimpi ganda." jelas Amartha, ia kembali duduk kembali di kursi samping ranjang Satya.
"Ya, aku pernah mendengar istilah itu," ucap Satya.
"Jika mengalami mimpi seperti itu, kamu dalam kondisi stres, Mas ... itu juga menjadi pertanda kualitas tidur yang buruk," ujar sang istri. Satya menghela nafasnya. Akhir-akhir ini memang dia sedang banyak pikiran.
"Dan lagi, kenapa dia tiba-tiba menarik semua uangnya?" tanya Amartha, ia memandang lrkat suaminya. Satya tak kunjung menjawab.
"Karena kamu menolak untuk menikahinya?" celetuk Amartha. Satya terkejut dengan sindiran yang dilontarkan Amartha.
"Kenapa kamu..." Satya menggantung ucapannya.
"Kenapa aku bisa tahu?"
"Dari Sinta ... aku mendapat peringatan dari Sinta. Katanya dia berada di tempat yang sama saat kamu bertemu dengan Ivanka dan kalian membahas pernikahan. Bukannya sebelum itu juga aku sudah bilang kalau aku pernah tak sengaja membaca chat yang dia kirim ke ponsel kamu, Mas ... yang isinya dia ingin membahas rencana pernikahan kalian?" jelas Amartha.
"Dan semuanya memang terbukti, kan?" lanjut wanita itu.
"Maaf," ucap Satya penuh penyesalan.
__ADS_1
"Aku tau kamu nggak mau bikin aku kepikiran, aku tau perusahaan terbantu dengan pasokan dana dari Ivanka atau apalah istilahnya. Aku tau itu ... hanya saja, lebih baik kita saling terbuka, aku nggak tau seberat apa beban yang ada di pundakmu, tapi mungkin dengan kita saling bercerita itu bisa melegakan hati kamu, Mas. Kecuali aku memang sama sekali nggak berguna..." kata Amartha, air mata sudah memupuk di matanya.
"Sssshhh..." Satya menaruh telunjuknya di bibir wanitanya, ia segera menghapus air mata yang lolos begitu saja dari kedua mata indah Amartha.
"Jangan bicara seperti itu, jangan..." Satya menggeleng, hatinya tersayat ketika melihat kesedihan dimata istrinya.
"Kamu tau? kamu itu penyemangat aku, kamu yang bikin aku selalu kuat apalagi sekarang ada calon anak kita," Satya mengelus perut istrinya.
"Kalian sangat berarti buatku, jadi jangan bicara seperti itu lagi ... kali ini aku yang salah, dan dalam hatiku tak ada niat secuil pun untuk menghianati pernikahan kita," Satya meraih tangan Amartha, ia mengecup punggung tangan wanita itu.
"Benar apa kata Satya, Nak!" ucap Abiseka tiba-tiba, Amartha beranjak dan memutar tubuhnya untuk memastikan siapa yang datang. Mereka berdua terlalu serius hingga tak menyadari kalau ada orang yang masuk, karena Amartha tadi menutup sebagian tirai yang mengelilingi ranjang suaminya. Dia segera menyibak tirai berwarna krem itu, sehingga dengan jelas mereka melihat sosok pria tua yang tersenyum ke arah keduanya.
"Papi?" pekik Amartha. Amartha langsung meraih tangan mertuanya, menyalaminya.
"Papi sudah tau semua, tenang saja perusahaan tidak akan terkena dampak yang berarti walaupun Ivanka telah menarik dirinya sebagai Investor terbesar dari perusahaan," ucap Abiseka ia mengusap kepala menantunya, mereka berjalan mendekat pada ranjang Satya.
"Kita tidak tau niat seseorang membantu kita karena apa, tenang saja semua ada di bawah kendali papi..." ucap pria tua itu lagi.
"Kamu sudah bekerja keras, Satya! papi bangga sama kamu, pasang surut dalam dunia bisnis itu sudah biasa. Yang perlu kamu pahami kalau keutuhan rumah tangga adalah segalanya, dan itu tidak akan bisa tergantikan dengan apapun..." kata Abiseka, Satya tersenyum mendengar apa yang dikatakan sang ayah. Sikap seperti inilah yang kemudian membawa dampak dalam pembentukan sikap dan karakter Satya.
"Papi kan sudah bilang, papi sudah melihat gelagat tidak baik dari wanita itu, jadi papi segera mencari tau semuanya..." jelas Abiseka.
"Mami dimana? Pap?" tanya Satya karena ia tak melihat kehadiran Sandra.
"Di rumah,"
"Papi langsung kesini, memastikan keadaan kamu baik-baik saja, berliburlah ... papi akan menggantikan posisimu untuk sementara waktu," kata Abiseka.
"Satya memang ada rencana mau ke luar kota, mau ke rumah orangtua Amartha..." kata Satya.
"Bagus, disana kamu bisa menemukan ketenangan, apalagi disana bukan kota besar..." ucap Abiseka.
"Papi pulang dulu, ya? kalau kelamaan nanti mami nyariin, maklum sekarang kan papi sama mami udah kayak lem sama perangko..." seloroh pria yang tetap bugar di usianya.
"Papi ada-ada aja," Amartha terkekeh mendengar ucapan mertuanya.
__ADS_1
"Amartha, kamu jangan heran kalau suami kamu banyak dilirik wanita, karena udah turunan dari papinya..." Abiseka menepuk pundak menantunya, Amartha hanya tertawa kecil.
"Iya, Pap..." sahut Amartha.
"Ya sudah, kamu istirahat, jangan banyak pikiran..." kata Abiseka yang melihat wajah Satya yang begitu lelah.
"Kamu harus cepat pulih, karena kamu harus menjaga menantu dan calon cucu papi!" ucap Abiseka lagi.
"Iya, Pap!" ucap Satya.
Abiseka keluar dari ruang perawatan Satya, ia meninggalkan suami istri itu di dalam ruangan yang sama.
"Kamu makan, ya? kamu kan belum makan dari siang," ucap Amartha seraya membuka lit.
"Lagi males," sahut Satya.
"Baru juga dibilangin papi suruh cepet sembuh, malah nggak mau makan? yang ada nambah penyakit lain kalau kayak gini," Amartha mengomel, Satya terkekeh.
"Kamu tuh lucu banget sih kalau lagi ngomel?"
"Aku nggak ngomel, aku mau suapin kamu biar makan, Mas..." Amartha cemberut.
"Iya, iya ... tapi kamu juga ya?" kata Satya.
"Ini jatah pasien," kata Amartha.
"Tapi kamu belahan jiwaku, Yank..." ucap Satya tak mau kalah.
"Nggak nyambung!" sarkas Amartha.
"Emang ... hahahahaha!"
"Nggak usah banyak protes, sekarang Mas harus makan," kata Amartha, kali ini dia tidak mau dibantah, Satya membuka mulutnya saat sendok berisi makanan mengarah padanya.
...----------------...
__ADS_1