Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Pernikahan


__ADS_3

Kenan tak bisa tidur semalaman, dia merasakan ada yang menghunus perasaannya saat ini, dia duduk di sofa sementara pikirannya menerawang entah kemana. Sinar yang menelusup dari celah tirai, mengisyaratkan bahwa matahari sudah terbit.


Pria itu tak melakukan apa yang dikatakan sahabatnya, Refan. Kakinya akan berhenti mengejar, dia akan diam ditempat, menyaksikan orang yang dicintainya merengkuh kebahagiaannya. Walaupun hatinya saat ini sangat sakit, dan perih ketika mengenang masa-masa yang pernah mereka lalui.


Kenan mulai membuka gallerynya, ia tersenyum kala melihat potret dirinya dengan sang mantan, tersenyum gembira menghadap kamera. Pria itu tertawa, perlahan matanya mengembun, pandangannya mulai kabur, dan satu tetesan demi tetesan mengalir dari kedua matanya.


"Bahkan saat kita menikah dulu, kita tidak sempat untuk berfoto ... dan aku yakin, pria itu sekarang akan mewujudkan pernikahan impianmu," Kenan bermonolog sambil memandangi layar ponselnya.


"Biarlah cinta ini akan aku nikmati sendiri, walaupun nyatanya kamu tak bisa lagi aku miliki, aku akan baik-baik saja ... ya, selama aku bisa melihatmu setiap hari dengan senyum yang mengembang, aku akan tetap mencintaimu, sampai kapanpun..." Kenan menaruh asal ponselnya.


Tak berapa lama, ada seseorang memencet bel berkali-kali tanpa jeda, seakan-akan ia tak mau menunggu lama untuk dibukakan pintu.


Kenan tak sempat melihat dimonitor siapa orang yang mengganggunya sepagi ini. Dengan langkah gontai, ia membuka pintu.


Dan...


PLAK


PLAK


Dua tamparan sekaligus melayang di pipinya.


Seorang pria paruh baya, mendorong Kenan sampai tubuhnya terhuyung ke belakang. Bahkan lelaki tua itu menendang tubuh anaknya dengan kakinya.


"Ayah, hentikan, Ayah ... kita kesini untuk melihat keadaan Kenan, bukan untuk melukainya seperti ini," Berliana langsung memeluk putranya yang jatuh tersungkur. Kenan tak mau membalas, bagaimanapun yang melukainya saat ini adalah ayahnya.


"Dasar anak sialan! tidak berguna! bukannya datang ke kantor malah bermalas-malasan disini! berapa ribu orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan kita!" teriak Damar, sementara Kenan tak menjawab, pandangannya kosong, membuat Damar kembali menghajar Kenan hingga darah mengalir dari sudut bibir dan hidung pria itu.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Hati seorang wanita sedang bertalu-talu, bagaimana tidak? sebentar lagi ia akan dipersunting seorang pria gagah bernama Satya Ganendra.


Amartha sangat cantik dengan kebaya berwarna putih dengan sanggul dan riasan adat jawa solo putri. Wanita itu nampak ayu dan anggun.


"Deg-degan?" ucap Vira yang masuk ke dalam kamar Amartha, wanita itu hanya mengangguk.

__ADS_1


"Nggak usah tegang santai aja," kata Vira enteng.


"Kayak yang udah pernah nikah aja, pake bilang santai," kata Amartha saat Vira sudah duduk disampingnya, di ranjang sambil melihat ke arah monitor besar yang sengaja dipasang di kamarnya, karena wanita itu tidak boleh keluar sebelum ijab qobul dilakukan.


"Ya belom sih, eh ... cantik nggak? cantik dong..." ucap Vira sambil memperlihatkan riasannya dengan sanggul modern lengkap dengan kebaya berwarna silver.


"Cantik kok keliatan anggun pake sanggul begitu, cuma keanggunan itu sirna pas kamu mulai ngomong," ucap Amartha yang membuat Vira mencebikkan bibirnya.


"Ish ... dasar!" Vira mendengus kesal.


"Eh, diem, diem udah mau mulai tuh..." ucap Amartha saat rombongan pengantin laki-laki sudah datang.


Amartha melihat Satya yang gagah valutan beskap berwarna putih lengkap dengan aksesorisnya, membuat pria itu tampak semakin gagah.


"Awas ileran," Vira menyikut lengan Amartha, membuat gadis itu melotot ke arah Vira.


Satya duduk diatas meja yang ditutupi kain putih dengan rangkaian melati melapisi bagian atasnya. Pria itu tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya, beberapa kali pria itu terlihat membuang nafas. Amartha yang melihat hanya tersenyum, betapa lucunya wajah tegang pria yang biasanya slengean itu.


Suara alunan gending jawa mengiringi acara sakral itu. Dengan perlahan tapi pasti Satya menjabat tangan Rudy dan melafalkan kalimat ijab qobul dengan satu tarikan nafas dan diserukan kata 'sah' yang membuat semua orang mengucap syukur.


"Alhamdulillah, semuanya lancar, ayok temui suamimu, Sayang..." ucap Rosa yang dijawab senyuman dari Amartha.


Amartha diapit oleh Rosa dan Vira berjalan menemui Satya. Satya yang melihat Amartha yang sangat cantik dengan kebayanya, sampai lupa untuk berkedip, sampai seseorang menyenggol lengannya.


"Inget napas, Sat..." celetuk Sandra.


"Ish, Mami..." gumam Satya.


Amartha duduk disamping Satya, wanita itu meremas jari jemarinya untuk melawan rasa gugup yang mendera hatinya saat ini.


"Cantik!" bisik Satya membuat Amartha dengan susah payah menelan salivanya.


Setelah selesai menandatangani buku nikah, Amartha dan Satya melakukan prosesi adat, seperti balang suruh atau balang gantal, injak telor atau wijikan dimana pria akan menginjakkan kakinya diatas telur kemudian sang istri akan membasuh kaki suaminya menggunakan air bunga, melambangkan bakti istri terhadap suaminya. Setelah itu Satya dan Amartha melakukan prosesi sinduran, pengantin dibalut dengan kain sindur dan diantar oleh Rudy menuju pelaminan, setiap prosesi memiliki makna tersendiri.


Setelah sampai dipelaminan, Rudy memanggu Amartha di paha kirinya dan memangku Satya dipaha kanannya.

__ADS_1


"Pah? berat yang mana, Pah?" tanya Rosa.


"Aduhhhh yang mana ya, Mah? soalnya berat semua..." ucap Rudy yang membuat orang yang ada disana tertawa.


Tahapan demi tahapan mereka lalui, tak ketinggalan acara dulangan, tarik-tarikan ayam yang katanya memprediksi rejeki siapa yang lebih besar, dan Satya memperoleh 3/4 bagian ayam sedangkan Amartha hanya mendapat bagian paha ayamnya saja, dan yang terakhir saatnya sungkeman yang merupakan penghormatan terhadap kedua orangtua.


"Satya, jaga putriku baik-baik, bahagiakan dia, karena dukanya akan menjadi dukaku juga, aku menyerahkan putriku padamu, kini dia menjadi tanggung jawabmu dunia dan akhirat," ucap Rudy seraya mengelus punggung menantunya.


"Terima kasih, Pah ... sudah merawat dan membesarkan Amartha, istriku ... aku tidak bisa berjanji, Pah ... tapi aku akan berusaha selalu membahagiakannya," jawab Rudy yang membuat pria itu meneteskan air mata haru.


Amartha dan Satya melakukan sungkeman kepada orangtua Amartha dan orangtua Satya.


Rosa dan Rudy sangat bahagia melihat anaknya dicintai pria sebaik Satya, dan diterima dengan baik di keluarga Satya.


Sementara Vira, ada seseorang yang berdehem dibelakangnya.


"Ehem,"


"Keselek? kalau keselek minum," ucap Vira ketus pada pria yang membuat hatinya terpotek-potek.


"Ambilin!" ucap Firlan.


"Dih, nyuruh? saudara bukan pacar bukan, pake nyuruh-nyuruh!" ucap Vira seraya melengos meninggalkan Firlan.


"Dih cewek aneh! tumbenan dia ketus begitu, baru juga mau bilang kalau dia dapet extra libur lagi," gumam Firlan.


Sementara Amartha dan Satya sedang berfoto dengan keluarga besar, Vira mojok dekat stand minuman.


Bruk


Seorang pria tak sengaja menyenggol Vira dan minuman berwarna merah itu membasahi kebaya silver Vira.


"Awwwhhh!" pekik Vira.


----------------

__ADS_1


__ADS_2