
Amartha mengalihkan pandangannya pada karangan bunga yang satu lagi, yang ukurannya lebih kecil dari yang pertama, berisikan sebuah ucapan yang membuat Amartha sangat malu.
Amartha, apa bedanya kamu sama jam 12 siang? kalau jam 12 siang itu kesiangan, kalau kamu itu kesayangan, ea ea ea...ππ
Happy graduation, kesayangan...
Dari inisial S.G
Vira mengarahkan kameranya, untuk merekam ekspresi Amartha yang menahan malunya melihat tulisan yang tertera di karangan bunga itu. Terlihat dada Amartha yang naik turun, jelas wanita itu sedang mengontrol emosinya supaya tidak meledak. Vira berusaha menahan tawanya agar tidak pecah, sambil terus merekam tanpa sepengetahuan Amartha.
"Ini pasti ulah Mas Satya, nggak salah lagi! cuma dia yang suka nyolong gombalan di g**gle," gumam Amartha yang juga di dengar oleh Vira, dan otomatis terekam dalam vidio berdurasi 30 detik itu. Vira langsung mengantongi ponselnya setelah mengirimnya pada Firlan.
"Dari siapa, Ta?" Vira menunjuk karangan bunga dengan dagunya.
"Inisial, S.G siapa, Ta?" tanya Vira memancing reaksi Amartha.
"SABLENG!" ucap Amartha spontan, lalu mendorong motornya masuk ke teras kosan. Vira hanya cekikikan berjalan di belakang gadis itu.
Kedua gadis berkebaya maroon itu, masuk ke dalam kosan, mereka segera naik ke lantai 2, betapa terkejutnya mereka saat pintu kamarnya terbuka.
"Vir, kok pintunya kebuka?" tanya Amartha panik.
"Nggak tau, tadi sebelum berangkat aku kunci kok!" kata Vira.
Mereka berdua melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju kamar mereka, lalu mereka dikejutkan dengan begitu banyak buket bunga mawar putih yang memenuhi kamar.
"Amartha! maaf mbak buka kamarnya, soalnya mbak bingung mau ditaro dimana bunga mawar sebanyak ini, jadi mbak buka kamar kamu pakai kunci duplikat!" kata mbak Nita dengan mode juteknya.
"Eeh, iya mbak..." ucap Amartha tersenyum canggung. Pasti saat ini mbak Nita lagi dongkol perkara direpotin dengan kiriman mawar ini.
"Dari siapa, Mbak?" tanya Amartha.
"Noh, ada kartunya, baca aja sendiri!" sahut mbak Nita menunjuk sebuah kartu yang tergeletak di meja, kemudian melenggang keluar dari kamar Amartha.
Amartha pun meraih kartu ucapan itu.
Seratus mawar putih yang cantik menjadi simbol 100% cintaku padamu.π
From
Satya Ganendra ( S.G)
"Dasar sableeeeeng!" ucap Amartha yang duduk di pinggir ranjangnya dengan melihat kumpulan buket bunga mawar putih. Kamarnya lebih mirip taman bunga, ya walaupun itu bunga kesukaannya tapi tunggu! darimana Satya bisa tahu bunga kesukaannya?
Amartha menatap Vira yang sudah jelas cekikikan di pojok kamarnya.
__ADS_1
"Vira?" Amartha bangkit lalu mendekati Vira.
"Heheheheh..." Vira hanya bisa nyengir, dia mau kabur pun susah, punggungnya sudah mentok ke tembok.
"Aku curiga, kamu terlibat, Vira..." ucap Amartha dengan taapan mematikan.
"Hehehe, nggak kok, Ta..." ucap Vira ngeles.
"Terus itu Mas Satya tau aku suka mawar putih darimana kalau bukan dari kamu?" Amartha tak sedetik pun melepaskan pandangan dari tersangka di depannya.
"Orang aku nggak ngasih tau Satya, aku cuma ngasih tau Firlan, Eh!" Vira keceplosan.
"Siapa itu Firlan?" tanya Amartha yang berjalan mendekat ke arah Vira. Vira yang sudah terpojok tidak bisa berkutik.
"Eh, tunggu! Firlan ... Firlan...?" Amartha tiba- tiba menghentikan langkahnya.
"Jangan-jangan orang yang waktu itu nganter aku sama Satya ke apartemen?" gumam Amartha yang didengar oleh Vira.
"Eh, apa? kamu pernah ke apartemen bareng laki- laki, Juminten?" sekarang giliran Vira yang menatap Amartha dengan tatapan menyelidik bak detektif abal- abal. Vira seenak jidatnya mengganti nama Amartha, kadang jadi Juminten, Tukijem dan masih banyak sebutan lainnya.
"Eh, hehheheheh ... emmm, itu..." Amartha jadi salah tingkah. Baru saja bibir Amartha akan mengucapkan sesuatu, tiba-tiba ponsel yang ada di papper bag yang dipegangnya tiba- tiba berdering.
Amartha mengabaikan Vira yang masih menatapnya penuh selidik, kini gadis itu duduk di tepi ranjang dengan aroma bunga yang memenuhi kamar itu. Amartha melihat ada banyak buket yang tergeletak di lantai kamarnya. Amartha segera menyentuh tombol hijau dan menempelkan ponsel di telinga kanannya.
"Halo?" sapa Amartha.
"Iya, Mah ... Amartha segera turun, tunggu ya, Mah?" sahut Amartha yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
"Tante Rosa, udah dateng?" tanya Vira yang berjalan mendekat ke arah Amartha.
"Ya udah langsung aja ke Masjid Agung, udah jam segini juga, jangan lupa bawa kartu undangan," ucap Vira yang segera meraih toga dan jubah hitam dan segera memakainya.
"Nggak nunggu orangtuamu dulu, Vir?" tanya Amartha.
"Oh, mereka nggak kesini... mereka lagi sibuk," Vira berusaha tersenyum, menyembunyikan kesedihannya.
"Ada aku, aku akan selalu ada buat kamu, Vira ... maafkan pertanyaanku tadi," ucap Amartha sembari memeluk sahabatnya.
"Nggak apa-apa, aku udah biasa," ucap Vira sambil menjarak tubuh keduanya.
"Hari ini hanya ada senyuman, nggak boleh ada setetes pun air mata kesedihan," ucap Vira sambil menyodorkan toga dan jubah hitam milik Amartha.
"Iya, kamu benar..." ucap Amartha yang tersenyum ke arah Vira. Dia beruntung memiliki sahabat seperti Vira.
Satu hal yang dia tahu, Vira memang dimanjakan secara materi namun tidak dengan kasih sayang. Orangtuanya terlalu sibuk, sampai tidak punya waktu untuk Vira, kebetulan, Vira juga anak tunggal. Mamanya tidak mau hamil lagi, karena dia merasa kerepotan untuk mengurus anak- anak. Tapi Amartha tidak menyangka, di hari yang sangat penting, orangtua Vira tidak bisa datang. Amartha bisa melihat segurat kekecewaan di wajah Vira, namun gadis ceria itu mencoba menutupinya.
__ADS_1
"Hey ... ngelamun aja, ayok!" ajak Vira membuyarkan lamunan Amartha.
"Kasihan, om dan tante sudah nungguin kita di depan, aku udah pesen taksi," Vira menggoyang- goyangkan ponselnya tanda bahwa ia sudah memesan kendaraan untuk mereka.
"Sebentar, kita foto dulu," ucap Vira yang dengan secepat kilat merapatkan tubuhnya pada Amartha, kedua gadis itu berfoto dengan warna kebaya yang sama.
"Yuk, kita turun..." ajak Vira yang dijawab anggukan kepala Amartha.
Mereka berdua menyambar tas selempangnya dan segera melangkahkan kakinya keluar dan tak lupa mengunci pintu.
Amartha sangat gugup bertemu kedua orangtuanya, ia benar-benar sangat gugup.
"Amartha?" ucap Rosa yang langsung bangkit dari duduknya di kursi teras depan.
"Mama!" Amartha berhambur memeluk Rosa. Ia sangat rindu, bahkan terlalu rindu.
"Kamu berhutang penjelasan sama mama, Nak..." ucap Rosa yang tak sanggup menahan air matanya.
"Sayang..." ucap Rudy yang segera bergabung memeluk putrinya.
"Papa..." Amartha berusaha tegar, ia tidak mau menangis di hari bahagia ini.
Mereka bertiga menumpahkan kerinduan yang teramat menyiksa, ada banyak hal yang ingin Rudy dan Rosa pertanyakan, namun semua itu mereka tahan, biarlah mereka menikmati moment ini sejenak.
Vira yang melihat Amartha dipeluk kedua orangtuanya pun, ikut terharu. Ia pun rindu pelukan seorang ibu.
Tiiin.
Tiin.
Suara taksi menyadarkan mereka, Rudy dan Rosa melonggarkan pelukannya, Rosa menangkup wajah anaknya.
"Kamu sangat cantik, Sayang..." ucap Rosa, kemudian beralih pada Vira.
"Kamu pasti Vira, ya?" ucap Rosa pada Vira, Rosa memeluk Vira dan mengucapkan terima kasih sudah menjadi teman baik untuk putrinya, sedangkan Rudy mengangguk dan tersenyum pada Vira.
"Taksinya sudah menunggu, ayo Om ... Tante..." ucap Vira seraya melepaskan pelukan Rosa.
Mereka berempat kemudian masuk ke dalam taksi yang akan membawanya menuju tempat digelarnya wisuda kedua gadis cantik itu.
...----------------...
Terima kasih, karya ini sudah dikontrak, terima kasih untuk para readers yang sudah mendukung karya ini...
Stay safe dan stay healthy...
__ADS_1
lope lope dari othorπ