
Pagi pun menjelang. Satya membuka matanya dan mulai menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
"Sayang? bangun udah pagi," ia meraba kasur disampingnya. Namun kosong, tak ada sosok yang selalu menemani tidurnya. Satya mengacak rambutnya. Sesaat dia baru menyadari kalau istrinya belum kembali. Satya menghela nafasnya.
Pria itu berjalan dengan gontai ke kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air hangat. Pikirannya berkelana, memikirkan bagaimana keadaan istrinya yang sampai saat ini belum jelas keberadaannya.
Satya pun bergegas menyudahi ritual mandinya. Ia segera pergi ke ruang ganti, disana ia memilih jeans dan kemeja hitam sebagai out fit-nya hari ini. Setelah mengeringkan tubuhnya ia segera menyemprotkan parfum, dan mulai berpakaian. Ia menggulung lengan kemejanya sampai siku.
Setelah siap, ia segera mengambil dompet, ponsel dan kunci mobil yang tergeletak diatas nakas. Pria itu segera keluar dari kamar dan menuruni tangga.
"Sarapannya, Tuan..." ucap Sasa saat berpapasan dengan majikannya.
"Tidak, Sa ... saya sedang terburu-buru," ucap Satya tanpa menghentikan langkahnya. Ia segera berjalan keluar menuju mobilnya berada.
Melihat mobil majikannya akan keluar, mang Tatang pun segera membukakan pintu gerbang.
Satya segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantornya. Selama diperjalanan, pikirannya tak lepas dari bayang-bayang wajah istrinya. Dia sangat khawatir, terlebih lagi istrinya itu sedang mengandung. Beberapa kali ia memukul stir mobilnya melampiaskan rasa kesalnya.
Tak lama, ia sudah sampai di depan gedung perkantoran yang mewah itu. Satya keluar dari mobilnya, ia melempar kunci mobilnya pada orang yang bertugas untuk memarkirkan kendaraan pemimpin perusahaan itu.
Satya berjalan menuju kotak besi yang akan membawanya ke lantai atas. Pria gagah itu segera keluar saat pintu terbuka, ia berjalan menuju ruangannya dan mengabaikan sapaan sekretarisnya, Maura.
"Tuan, di dalam adaa..." ucap Maura terhenti saat Satya sudah masuk ke dalam ruangannya.
Setelah Satya masuk, dia menangkap sosok yang sangat malas untuk ia temui saat ini.
"Ada apa kau ke kantorku sepagi ini?" tanya Satya ketus pada seseorang yang sedang duduk di sofa.
"Wow! sepertinya kau sangat frustasi," ucap pria itu.
"Sebaiknya anda pergi Tuan Carlo, karena saya sedang sibuk hari ini," ucap Satya yang bergerak menuju mejanya. Ia duduk di kursi kerjanya dan mencari sesuatu di laci meja.
"Saya hanya ingin memastikan jika anda tidak mengacaukan rencana yang sudah berjalan setengahnya," kata Carlo.
"Apa otak anda sudah gila? rencana ini yang yang malah mengacaukan kehidupan rumah tangga saya," ucap Satya.
"Come on! ini hanya sebentar lagi, lagi pula setelah ini hidupmu dan istrimu akan tenang dari gangguan. Setelah aku berhasil mendapatkan Vanka," kata Carlo.
__ADS_1
"Kau pikir kau siapa berhak mengaturku?" Satya menatap Carlo dengan tajam.
"Hahahaha, tenang saja, Tuan Satya. Wanita yang sedang hamil tak akan bisa menggugat cerai anda," ucap Carlo yang semakin memancing emosi Satya.
"Jaga ucapanmu itu! atau aku..." ucapan Satya terhenti saat telepon berbunyi. Satya pun mengangkat gagang telepon itu.
"Ya," ucap Satya seraya menempelkan gagang telepon ke telinga kananya.
"Tuan ada Nona Ivanka," ucap Maura.
"Ivanka?" Satya sengaja mengeraskan suaranya agar Carlo mendengarnya.
"Katakan aku sedang sibuk," ucap Satya.
Carlo yang mendengar jika Ivanka datang ingin menemui Satya pun segera bersembunyi di toilet. Satya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Carlo.
"Tapi, Tuan..." ucap Maura belum menggantung, namun Satya segera menutup sambungan telepon itu.
Pintu pun terbuka dan Ivanka menerobos masuk tanpa permisi.
"Sayang? sekretarismu menahanku di luar," ucap Ivanka setelah menutup pintu, Satya tak menghiraukan ular betina itu. Ia mencari sebuah benda berwarna hitam, namun ia tak kunjung menemukannya.
"Singkirkan tanganmu, kamu hampir mencekikku," ucap Satya yang menghempaskan tangan Ivanka.
"Kenapa? kenapa kamu bersikap seperti itu dengan calon istri keduamu, Sayang?" kata Ivanka yang akan menyentuh wajah Satya namun lelaki itu menjaukan kepalanya, menghindar.
Sementara di tempat lain. Amartha sedang menikmati pemandangan kebun teh yang tak jauh dari Villa. Dia hanya pergi seorang diri, karena Esih sedang pergi ke pasar membeli beberapa keperluan.
Amartha melihat orang-orang yang sedang memetik daun teh, dan memasukkannya ke dalam keranjang. Amartha tersenyum sesaat, namun matanya berembun ketika teringat pada Satya. Dengan cepat ia menghapus air mata yang akan segera tumpah. Ia menghela nafas panjang, menenangkan hatinya yang sedang gusar.
"Sendirian?" tanya seorang pria.
"Mas Akbar?" jawab Amartha.
"Nggak bareng teh Esih?" tanya Akbar yang berdiri disamping Amartha.
"Teh Esih lagi ke pasar," jawab Amartha seadanya.
__ADS_1
"Nggak capek berdiri disini? kaki bisa bengkak kalau terlalu lama berdiri," ucap pria yang sepertinya lebih tua beberapa tahun dari Amartha.
"Kita duduk disana," ucap Akbar menunjuk sebuah tempat duduk panjang tanpa senderan yang terbuat dari kayu. Tanpa menjawab, Amartha pun berjalan di depan Akbar. Amartha merasa harus menjaga jarak dengan Akbar, ia tak mau terlalu dekat dengan pria itu.
Sesampainya di kursi panjang yang terbuat dari kayu itu, Amartha duduk dengan hati-hati. Perutnya yang semakin besar, membuatnya cepat lelah dan kakinya terasa pegal karena menopang berat tubuhnya.
"Oh ya, saya lupa bilang kalau kalau kamu mau jalan cukup sampai disini. Jangan sekali-kali kamu berjalan ke sana," ucap Akbar seraya menunjuk sebuah jalan yang bercabang.
"Kenapa memangnya?" tanya Amartha menoleh pada Akbar.
"Nggak apa-apa, tapi sebaiknya jangan. Selain jalannya tidak bagus, itu bisa membahayakan kamu," ucap Akbar.
"Dan jangan keluar saat senja, apalagi sendirian..." imbuh Akbar.
Amartha hanya bisa mengangguk, lagipula tidak ada salahnya melakukan apa yang disarankan Akbar.
Amartha yang sudah merasakan lapar, berniat untuk pulang ke Villa.
"Mas Akbar, saya mau balik ke Villa. Permisi..." ucap Amartha, ia lalu bangkit dari duduknya.
"Ya sudah, hati-hati. Atau mau saya antar pakai motor?" Akbar menunjuk motornya.
"Tidak perlu, saya bisa jalan. Lagi pula itung-itung olahraga pagi, sebelumnya terima kasih..." ucap Amartha sebelum melangkah pergi.
"Oh, ya? terima kasih untuk makanannya semalam," lanjut Amartha.
"Sama-sama," jawab Akbar.
Pria itu masih duduk di kursi kayu sembari melihat hamparan kebun teh yang memanjakan mata. Sedangkan Amartha berjalan menuju Villa.
"Jam segini aja masih dingin," gumam Amartha, ia merasakan ketenangan di tempat ini terlepas dari semua hal yang terdengar sedikit menyeramkan mengenai tempat yang menyediakan udara yang sejuk ini.
Setelah beberapa saat, Amartha sampai di Villa yang disewanya. Ia duduk di kursi kayu yang ada di teras, ia memijat lututnya yang terasa pegal. Tak lama, Esih datang diantar ojek motor.
"Hatur nuhun, Mang!" ucap Esih seraya menyerahkan uang pada kang ojek.
"Kok tidak masuk ke dalam, Neng?" tanya Esih yang membawa tas yang terbuat dari anyaman yang penuh dengan belanjaan.
__ADS_1
"Nungguin Teteh..." jawab Amartha.
...----------------...