Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Curiga


__ADS_3

Satya yang baru selesai dari toilet pun mendekati Amartha yang yang berdiri membelakanginya tepat di depan meja kerjanya. Amartha yang menyadari bahwa suaminya sudah keluar dari toilet pun langsung meletakkan ponsel Satya ke tempat semula.


"Yank? udah bangun?" pria itu menyentuh bahu istrinya dari belakang.


Amartha segera menyeka air matanya, namun bagaimanapun hal itu tak luput dari perhatian suaminya.


"Iya," sahut Amartha dengan suara paraunya.


"Hey? kenapa? kok nangis," Satya memutar tubuh Amartha dan memegang kedua bahu wanita itu, memandang wanitanya dengan lekat.


"Nggak apa-apa aku cuma mau pulang, capek." ucap Amartha singkat.


"Iya, kamu pasti capek nungguin aku kerja, ya udah kita pulang sekarang, ya?" Satya langsung mengantongi kembali ponsel miliknya tanpa mengeceknya terlebih dahulu.


Sepanjang perjalanan Amartha hanya diam memandang langit yang sudah berubah menjadi jingga. Pikirannya tak jauh dari pesan dari seorang wanita.


"Kenapa dia minta ketemuan buat membahas pernikahan, harusnya aku klik aja chatnya biar aku tau semua isinya, tapi kalau aku buka Mas Satya jadi curiga kalau aku bongkar-bongkar chatnya." gumam Amartha dalam batinnya.


Menyadari sedari tadi istrinya terdiam dan hanya melihat ke arah luar jendela, Satya kemudian memegang tangan istrinya dan memulai pembicaraan.


"Yank? kok diem aja dari tadi?" Satya meraih tanga istrinya kemudian mencium punggung tangan Amartha.


"Aku ada salah, ya?" Satya mencoba menebak apa yang sedang mengganggu pikiran Amartha.


"Capek," sahut Amartha datar.


"Ya udah kamu nanti istirahat dulu, sebelum kita pergi ke rumah mami." ucap Satya yang berpikir mungkin Amartha memang benar lelah, karena menunggunya di ruangan sampai ketiduran. Pria itu melepaskan tangan istrinya dan kembali fokus pada jalanan yang saat ini sedang padat merayap.


"Masa sih? Mas Satya selingkuh dari aku? dan tergoda wanita lain? nggak! nggak bisa dibiarin. Aku nggak boleh kalah dari wanita yang mau merusak rumah tanggaku dengan Mas Satya." lagi-lagi Amartha bermonolog sendiri dalam hatinya.


Dia tidak merespon apa yang diucapkan Satya. Pria itu mengernyit heran, manakala melihat istrinya nampak memikirkan sesuatu. Dan beberapa saat kemudian wanita itu sibuk menscroll ponselnya. Satya hanya melirik sekilas, sepertinya Amartha sedang tidak ingin diganggu. Pria itu memilih untuk diam dan menikmati lagu jazz yang mengalun menemani dirinya yang sedang menyetir.


Amartha langsung berselancar ke dunia maya, mencari artikel ciri-ciri suami sedang selingkuh, matanya tak lepas dari tulisan di artikel. Wanita itu membaca setiap poin yang tertulis disana, namun matanya membelalak kaget saat membaca poin kelima.


"Berkurangnya intensitas aktivitas suami istri," lirih Amartha.

__ADS_1


Amartha mengingat-ingat kapan terakhir kali Satya menyentuhnya.


"Lumayan lama sih jika dipikir-pikir," gumamnya dalam hati. Satya tak mengetahui istrinya sedang menaruh curiga padanya, dia hanya berpikir mungkin mood istrinya sedang tidak baik pengaruh dari hormon kehamilan.


Mata wanita itu beralih pada poin selanjutnya, dengan susah payah Amartha menelan salivanya.


"Sering lembur di kantor," ucapnya dalam hati.


Amartha mengingat-ingat beberapa waktu ini memang Satya sering lembur di kantor. Hal ini membuat ia semakin yakin kalau suaminya sedang bermain api dibelakangnya.


Wanita itu lantas, kembali mengetik di search engine di ponsel pintar miliknya, 'cara mempertahankan rumah tangga yang hampir diujung tanduk.' Amartha baru membaca sekilas, tak terasa mobil mereka sudah sampai di bassement apartement.


Amartha langsung turun dari mobil sebelum Satya membukakan pintu. Wanita itu nampak sangat berhati-hati keluar dari dalam mobil.


"Hati-hati," ucap Satya yang segera menghampiri istrinya. Mood istrinya benar-benar tidak bagus, pikirnya.


Didalam lift pun Amartha lebih banyak diam, pikirannya terpusat pada apa yang baru dibacanya. Satya menggenggam tangan Amartha saat pintu lift terbuka, mereka berjalan ke unit apartemen milik Satya. Pria itu memencet pasword dan Amartha melengos masuk saat pintu apartement itu terbuka.


Amartha tanpa babibu langsung mrlabgkah ke arah kamarnya. Sedangkan Satya nampak heran dengan tingkah laku istrinya, yang semakin tak banyak bicara.


"Yank? kamu mau aku buatkan susu? rasa coklat atau vanilla?" tanya Satya yang langsung mendapatkan respon dari istri tercinta.


"Nggak," sahut Amartha cepat. Ia menaruh clutch miliknya.


Melihat Amartha yang kurang bersemangat, pria itu berpikir bahwa lebih baik ia membatalkan acara makan malam di rumah maminya.


Ketika pria itu hendak menelepon Sandra untuk membatalkan acara makan malam, namun matanya sekilas melihat ada missed called dari Ivanka.


"Ivanka? ngapain dia telfon?" gumam Satya dalam hatinya.


Terlihat aplikasi chatting berwarna hijau, memperlihatkan kalau Ivanka mengirimnya chat, namun setelah Satya klik pesan itu sudah terhapus.


"Kok udah terhapus? mungkin salah kirim," ucap Satya yang mencoba berpikir positif.


Satya mengira kalau Ivanka salah mengirim pesan lalu segera menghapusnya. Satya mendekati Amartha yang sedang duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Satya tak menghiraukan chat yang sudah dihapus oleh pemiliknya, ia menaruh ponselnya diatas kasur.


"Yank? aku bilang mami kalau kita nggak jadi ke rumah mami, ya?" ucap Satya yang melepas jasnya dan dasinya, ia menggulung kemeja sebatas siku.


"Kenapa?" tanya Amartha singkat.


"Kayaknya kamu kecapean banget, biar malem ini kamu istirahat. Pegel kakinya?" tanya Satya yang melihat Amartha memijit kakinya sendiri.


"Sini aku pijitin, segini enak?" Satya mengambil alih tugas pijit memijit. Amartha memperhatikan tingkah laku suaminya. Pikirannya kembali tertuju pada chat ivanka, dan hal itu membuatnya kesal.


"Udah, Mas ... nggak usah, Mas pasti capek," ucap Amartha sambil menepis tangan Satya agar tak memijit kaki Amartha lagi.


"Nggak kok, aku nggak capek," Satya melanjutkan pemijatan di kaki suaminya.


"Kaki kamu pasti pegel, sampau bengkak kayak gini," kata Satya memberi perhatian.


"Nanti mami kecewa kalau kita nggak dateng," kata Amartha tiba-tiba.


"Nggak akan. Mami pasti ngertiin kok," kata Satya seraya mengelus pucuk kepala Amartha.


"Terserah Mas aja kalau gitu," lirih suara Amartha namun masih bisa didengar Satya.


"Ehm, kamu atau aku duluan yang mandi?" tanya Satya pada Amartha.


"Mas aja yang mandi duluan," jawab Amartha.


"Atau mau sekalian kamu ikut aku mandi aja, gimana?" goda Satya pada istrinya.


"Maunya," sahut Amartha yang melepaskan tangan Satya dari kakinya.


"Ya udah kalau nggak mau, jangan nyesel, ya?" ucap Satya sambil beranjak dari duduknya.


Pria itu melenggang ke kamar mandi. Sementara Amartha turun dari ranjang dan sedang mencari sesuatu yang mungkin akan menyelamatkan pernikahannya.


"Nah, ketemu!" ucap Amartha.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2