Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Gagal Surprise


__ADS_3

Sontak Satya menjarak tubuh istrinya dan melihat ke asal suara. Mami Sandra berdiri di depan pintu, lalu dengan segera memukul lengan anaknya itu.


"Dasar! nggak tau tempat, nyosor aja nih kerjaannya," seru Sandra yang diiringi suara Satya mengaduh kesakitan.


"Ampun, Mam!" Satya meminta Sandra untuk berhenti. Satya lebih mirip anak sekolah yang ketauan bos sekolah dan pulangnya di gebukin emaknya.


"Apa nggak malu nanti kalau dilihat orang!" ucap Sandra melihat adegan yang seharusnya tidak dilihatnya


Mendengar keributan di luar, semua orang yang tadinya berkumpul di dalam pun akhirnya keluar, melihat ada apa gerangan sang mami tereakan kayak lagi pencak silat.


"Ada apa, Mam?" tanya Abiseka pada istrinya yang lagi ngegeplakin anaknya.


"Ini nih Sableng nyosor menantu mami, di depan rumah. Kayak nggak punya tempat aja," Sandra ngadu ke suaminya, sementara yang lain menutup mulutnya dengan tangan supaya suara cekikikannya nggak kedengeran.


"Namanya juga gelora anak muda, Mam. Dulu kita juga-" Abiseka tidak melanjutkan ucapannya kala melihat mata


istrinya membulat seperti bola pingpong.


"Ehm, Sat! yang bener dong! kalau nyosor-nyosor tau tempat dikit, udah mau jadi bapak juga!" Abiseka ngomel yang nggak niat-niat banget.


Sedangkan Amartha hanya bisa menunduk malu, tak kuasa melihat ke arah orang-orang yang keluar dari pintu, menonton sepasang suami istri yang melakukan hal yang tidak-tidak di depan rumah.


"Kamu, sih!" kata Amartha menyalahkan tindakan Satya, wanita itu menarik ujung baju Satya.


"Udah, Mam! Satya udah gede, Mam! malu diliatin orang," ucap Satya memohon ampun pada baginda ratu. Sandra yang sudah lelah pun akhirnya mengakhiri eksekusinya.


"Sini, Sayang ... masuk ke dalem," Sandra beralih pada menantunya, ia mengelus rambut Amartha yang tergerai.


Amartha yang diusap rambutnya menatap Sandra malu, dan sekilas ia melihat orang-orang yang sekarang berdiri berjejer di hadapannya.


"Mama?" pekik Amartha. Rosa langsung menghampiri Amartha, sudah dipastikan wajah Amartha kini semerah udah rebus. Namun rasa rindunya mengalahkan semua itu, ia segera memeluk Rosa dengan erat.


"Amartha kangen, Maaah..." ucap Amartha.


"Mama juga, Sayang..."


"Gara-gara bocah itu surprise mami jadi gagal, deh!" Sandra berdecak kesal melihat putranya.


"Kok aku sih, Mam?" Satya tidak terima dituduh sebagai perusak rencana surprise dari mami Sandra untuk Amartha. Disana ada Firlan dan Vira, juga orangtua Satya dan Amartha, hanya Prisha yang tidak ada karena dia masih di luar negeri.

__ADS_1


"Masuk dulu, yuk!" ucap Sandra yang kini menuntun menantunya untuk masuk ke dalam.


Ruang tamu sudah dihias dengan rangkaian bunga mawar pitih kesukaan Amartha. Dekorasi sangat cantik dengan aroma bunga yang menyeruak membuat relaks saraf-saraf yang menegang.


"Ada acara, Mam?" tanya Amartha pada Sandra yang terseny geli.


"Kamu nggak inget ini hari apa?" Sandra bertanya dan di jawab kerutan kening oleh Amartha.


"Hari ini ulang tahun kamu, Sayang..." Rosa menjawab kebingungan Amartha


"Astaga, aku nggak inget sama sekali," kata Amartha.


"Selamat ulang tahun, Sayang..." ucap Rosa memeluk putrinya. Dan satu persatu mengucapkan selamat serta doa terbaik untuk Amartha.


Wanita itu meniup sebuah kue berukuran yang besar dan memotongnya untuk dibagikan pada orang-orang yang berkumpul di kediaman Ganendra.


"Selamat ya, Sayangku ... hai cucu oma, kamu jangan nakal ya di dalem," Sandra mengelus perut buncit Amartha.


"Makasih, Mam. Makasih, Mah..." ucap Amartha pada Rosa dan Sandra yang telah memberikan kasih sayah yang luar biasa.


"Selamat bertambah umur, Amartha..." ucap Rudy yang mengelus pucuk kepala putrinya.


Ucapan selamat pun dilontarkan oleh Abiseka dan pasangan absurd, Firlan dan Vira.


"Selamat ya bumil, nambah usia nambah bener ya kelakuannya," celetuk Vira, Amartha sontak menepuk kecil lengan Vira yang sudah nggak tahan untuk tertawa.


"Kamu suka?" kata Satya dan hanya di jawab deheman istrinya.


"Selamat hari burung ya, Sayang!" bisik Satya


"Hari burung?" Amartha mengernyit heran.


"Happy bird day..." Satya memperjelas maksudnya.


"Happy birthday bukan bird day, nih sekolah dimana sih?" Amartha kesal tapi tak bisa menepis senyuman yang mulai merekah.


"Oh, udah ganti, ya?" kata Satya yang tertawa renyah dengan banyolan sederhananya.


"Dari dulu emang gitu, Masss..." Amartha geleng-geleng kepala mendengar guyonan receh ala Satya.

__ADS_1


"Makasih ya, Yank?" ucap Amartha tulus.


"Untuk?" Satya mengelus pipi istrinya.


"Untuk semuanya, untuk semuanya yang udah kamu lakuin buat aku, Mas." Amartha memperjelas maksud ucapannya.


"Iya. sama-sama. Oh ya ada satu hadiah buat kamu," Satya merogoh kantong celana dan memberikan sebuah kunci pada Amartha.


"Kunci apa ini, Mas?" Amartha melihat apa yang berada dalam genggaman tangannya.


"Kunci rumah, Sayang. Sebentar lagi kita akan pindah ke rumah itu." ucap Satya seraya membawa Amartha dala dekapannya. Amartha tak sanggup untuk menahan tetesan bulir bening yang berlomba-lomba untuk segera terjun ke pipinya.


Satya menghadiahkan sebuah rumah elit untuk istrinya, dan tanpa sepengetahuan Amartha, saat ini Satya tengah meminta persetujuan kedu mertuanya untuk merenovasi rumah Amartha. Satya sengaja memberi 4 rumah di kanan dan kiri rumah tempat istrinya tumbuh. itu.


Rudy dan Rosa menerima kebaikan hati Satya, Satya mau rumah yang mertuanya tinggali itu dibuat semegah mungkin dengan fasilitas yang no play-play pokoknya.


"Ayo, sekarang kita makan siang," seru Sandra yang menghampiri besan dan juga Amartha agar mengikutinya untuk menuju ruang makan.


Amartha tersenyum melihat sang mami begitu sayang terhadap dirinya.


"Makan dulu, yuk? sekarang udah waktunya makan siang, ayok..." ucap Sandra yang mengajak menantunya untuk mau mengikutinya.


Satya tersenyum saat melihat perlakuan maminya pada Amartha seperti memperlakukan anaknya sendiri. Satya sungguh beruntung mempunyai ibu sebaik Sandra.


Dan kini mereka semua menikmati jamuan makan yang dipersiapkan khusus untuk acara baby shower sekaligus ultah dari Amartha. Mereka semua berbagi kebahagiaan, Amartha sampai lupa bahwa dia sedang ngambek dengan suaminya.


Gelak tawa mengiringi suasana makan siang di kediaman Ganendra.


Sementara di tempat lain seorang wanita tengah memikirkan cara yang tepat untuk menghindar dari sebuah perjodohan dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Dia sama sekali tidak ingin menikah karena nyatanya dia sudah mencintai seseorang.


Diusianya yang sudah cukup untuk membina sebuah keluarga, wanita itu masih sering berkelit untuk menghindari apa yang orangtuanya inginkan sejak beberapa tahun yang lalu.


"Udah deh, Mah. Nggak usah maksa-maksa lagi, jawabanku selalu sama dari dulu. Kalau aku nggak mau nikah sama dia. Aku tau seperti apa dia sebenarnya, dia tak sebaik yang kalian bayangkan. Aku bisa jamin itu..." ucap wanita itu beradu argumen dengan wanita yang melahirkannya.


"Tapi usiamu sudah cukup untuk menikah, dan lagi orangtuanya ingin sekali menjadikanmu menantu mereka," ucap wanita yang sudah tidak muda lagi.


"Aku ... s-sudah punya calon sendiri, aku akan mengenalkannya pada kalian," ucap wanita muda itu dengan percaya diri.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2