Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kamu Suka Sama Dia?


__ADS_3

"Halo? Lan?" ucap Satya di seberang telepon.


"Ya, Tuan..." jawab Firlan agak grusak grusuk.


"Diem sebentar astagfirllahal'adziiiiiim..." seru Firlan, Satya kaget asistennya tiba-tiba ngomong kenceng di telepon.


"Kamu nyuruh saya diem? yang bener aja kamu, Lan!" ucap Satya dongkol.


"Bukan anda, Tuan..." kata Firlan.


"Kalau bukan saya lalu siapa? setan?" sarkas Satya, berani-beraninya asisten laknat itu membentak dirinya.


"Sebentar, ya ampuun..." ucap Firlan.


"Vira! diem napa!" lanjut Firlan setengah berbisik namun masih terdengar di telinga Satya.


"Firlan kamu sebenarnya kamu lagi dimana?" tanya Satya, Firlan yang ditelepon malah ribut sendiri.


"Lagi di jalan, Tuan..." jawab Firlan.


"Kamu lagi ngapain di jalan?" tanya sang bos jahanam.


"Maksud saya, saya lagi di mobil. Lagi nyetir," jelas Firlan.


"Ya sudah, nanti saja" kata Satya, sesaat dia akan mengakhiri teleponnya, tiba-tiba Firlan berucap.


"Ini saya mau minggir dulu,"


"Baik, ada perlu apa anda mengganggu cuti saya yang tinggal beberapa jam lagi, Tuan?" tanya Firlan sedikit menyindir.


"Saya lagi di rumah sakit," kata Satya.


"Istri anda sudah melahirkan, Tuan?" Firlan salah paham.


"Ish, bukan! tangan saya terluka, jadi sekarang saya ada di rumah sakit," jelas Satya, dia mulai emosi.


"Lalu apa hubungan tangan anda yang sakit dengan saya?" tanya Firlan, heran dengan bosnya yang tidak tahu waktu itu


"Besok saya nggak masuk kantor, dan papi yang akan menggantikan saya untuk sementara waktu," jelas Satya.


"Alhamdulillah,"


"Kamu bilang apa tadi, Lan?" Satya menajamkan pendengarannya.


"Saya bilang alhamdulillah, Tuan..." ulang Firlan.


"Kalo Tuan Abi kan lebih manusiawi kalau ngasih kerjaan, apalagi beliau suka banget dikit-dikit ngasih bonus, dikit-dikit voucher makan gratis, dikit-dikit tiket liburan, kesejahteraan saya jadi terjamin..." kata sang asisten yang begitu gembira.


"Kan saya juga kasih kamu cuti panjang plus liburan ke paris, salah kamu sendiri kalau nggak ngambil," sarkas Satya.

__ADS_1


"Hahahahaha," Firlan malah tertawa.


"Jangan ketawa-ketawa aja kamu, Lan! ya sudah saya tutup, ngomong sama kamu malah bikin saya emosi jiwa yang ada," ucap Satya.


Satya menutup panggilan teleponnya dengan sang asisten laknat.


"Kenapa, Mas?" tanya Amartha.


"Nggak kenapa-napa," jawab Satya.


"Kalau ngomong sama Firlan tuh bikin kesel, Yank..." lanjut pria yang menjauhkan ponsel dari telinga kirinya.


"Ya kamu juga suka bikin kesel dia, Mas..." kata Amartha.


"Kok kamu belain dia sih, Yank?" Satya tidak suka istrinya membela asistennya yang bikin gedeg.


"Ih, cemburuan banget sih..." Amartha terkekeh.


Saat Satya tengah bercanda dengan istrinya tiba-tiba ponselnya berdering. Kening Satya berkerut.


"Halo?" sapa Satya.


"Halo, selamat malam, Tuan..." ucap seorang pria muda.


"Perkenalkan saya Irwan, saya ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan anda, jika anda berkenan mungkin kita bisa mengatur waktu untuk bertemu," lanjut pria itu.


"Baiklah, Pak Irwan ... kalau besok, jam 10 pagi. Saya tunggu di cafe dekat kantor saya, bagaimana?" kata Satya.


"Irwan?" gumam Amartha, rasanya ia tidak asing dengan nama itu.


"Telfon dari siapa?" tanya Amartha.


"Pak Irwan, dia minta ketemu ... urusan kerjaan, rencananya besok aku mau ketemu dia di cafe dekat kantor," jelas Satya.


"Besok ketemu gimana? kan Mas lagi di rumah sakit," protes Amartha.


"Ini cuma luka kayak gini aja, masa iya mau di rawat disini, aku juga bisa yank ngerawat luka sendiri di rumah, lagian istriku juga perawat..." ujar Satya menunjuk tangan kanannya yang masih dibalut dengan perban.


"Terserah kamu aja lah, Mas..." ucap Amartha.


"Sekarang waktunya tidur, udah malem..." kata wanita itu lagi, ia meredupkan lampu dan merampas ponsel suaminya agar pria itu bisa istirahat.


Di belahan bumi yang lain, seseorang sedang menghubungi orang kepercayaannya.


"Bagaimana?" tanya seorang pria di balik telepon.


"Dia setuju untuk bertemu," jawab si penerima telepon.


"Bagus, terima kasih, Wan!" ucap pria itu lagi.

__ADS_1


Pria itu memutus sambungan teleponnya dengan orang kepercayaannya itu.


Sementara di suatu tempat di pinggir jalan, ada sepasang kekasih yang sedang menikmati jahe hangat di sebuah angkringan.


"Apa enaknya sih nasi yang dibungkus kecil-kecil kayak gini? bikin capek doang bukainnya," ucap Firlan mengangkat sebuah nasi yang dibungkus dengan kertas nasi.


"Gini nih kalau orang nggak pernah susah," celetuk Vira. Dia menikmati mendoan yang dipegang di tangan kanannya dan cabe rawit di tangan kirinya


"Itu namanya nasi kucing," lanjut Vira menjelaskan apa yang dipegang kekasihnya.


"Ih, Vira aku jorok banget suwer, aku tuh nggak nyangka kamu makan begituan," Firlan langsung meletakkan lagi apa yang barusan dipegangnya, priabitu bergidig ngeri .


"Itu cuma namanya, isinya ya bukan meong lah! emang aku omnivora? segala macem dimakan tanpa titik koma?" ucap Vira kesal. Beberapa orang melirik Vira yang ngomong setengah teriak.


"Lah kamu kan tadi bilang nasi kucing," kata Firlan.


"Emang itu namanya, ya Allah ... isinya mah ini ayam, ada teri juga, udah ah ... capek ngomong sama kamu," kata Vira, ia memilih menikmati mendoan yang masih hangat itu.


"Kosan kamu kan bentar lagi, kenapa malah minta kesini coba?" tanya Firlan, ia menyeruput jahe yang hangat di tenggorokan bahkan sampai lambungnya ikut merasa hangat.


"Ya nggak tau, pengen aja..." jawab Vira.


"Lagian siapa suruh tadi kamu kan nawarin jemput aku, padahal kan aku bisa pulang sendiri," lanjut Vira.


"Ya emang nggak boleh jemput pacar pulang kerja?" tanya Firlan.


"Ya boleh," sahut Vira.


"Terus apa masalahnya?"


"Ya nggak ada," jawab gadis itu, ia membuka nasi yang dibungkus kecil-kecil dengan kertas nasi, ia menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya.


"Vira..."


"Hmm," Vira menjawab dengan deheman.


"Kok malah males gitu sih aku panggil?" tanya Firlan yang baru menyadari ada sesuatu yang janggal, Vira tidak menyematkan kata 'Ay' yang biasa diucapkannya.


"Aku lagi ngunyah ini loh, nanti yang ada aku keselek," jelas Vira.


"Kok kamu sekarang beda?" tanya Firlan, Vira segera meraih jahe hangatnya, ia meminumnya sedikit-sedikit sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya.


"Beda apanya?" tanya Vira, ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan kekasihnya itu.


"Semenjak kamu kenal Ricko, kok kamu sekarang beda sama aku?" tanya Firlan, pria itu seperti anak abege yang lagi bucin dengan pasangannya, sangat tidak sesuai dengan umurnya.


"Masa sih? nggak, ah!" Vira memutar bola matanya, sebenarnya ia masih ingin membuka satu bungkus nasi lagi, tapi Firlan terus saja mengajaknya bicara.


"Kamu itu beda, kenapa? kamu suka sama dia?" tanya Firlan. Vira menatap Firlan dengan keheranan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2