Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Perhatian Satya


__ADS_3

Amartha kini berada di mobil Satya, sementara Vira dia sudah pulang dengan mengendarai motornya. Sebenarnya Amartha tidak mau pulang dengan Satya, namun berdebat dengan Vira menguras tenaganya. Dengan segala ucapan Vira yang sengklek itu mampu membuat Amartha pasrah dan menuruti saran sahabatnya.


"Sini aku pakein sabuk pengamannya," ucap Satya membuyarkan lamunan Amartha.


"Eh," Amartha kaget saat Satya mendekat ke arahnya. Satya hanya tersenyum manis melihat ekspresi kaget Amartha.


Klik


"Biar aman, Ta!" tutur Satya setelah selesai memasangkan sabuk pengaman gadis itu.


"Iya," Amartha memalingkan wajahnya dari Satya.


Amartha merasa canggung berada di satu mobil yang sama dengan Satya. Tapi, sejauh ini Satya tidak bertindak diluar batas kewajaran. Satya kini melajukan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit.


"Ta, kita makan dulu, ya?" ucap Satya memecah keheningan.


"Ehm, lagi diet!" jawab Amartha dengan tatapan tajamnya.


"Diet? ngapain? nggak bagus badan terlalu kurus!" sarkas Satya.


"Ish..." Amartha mencebikkan bibirnya.


"Nggak usah manyun-manyun gitu, nanti aku tambah suka," kata Satya.


Amartha yang mendengar itu tak bisa menyembunyikan wajah kesalnya. Dia malas meladeni perkataan Satya yang tidak berfaedah.


"Hahahahahah" Satya tertawa melihat wajah Amartha yang kesal bukan main.


"Pokoknya kita makan dulu!" kata Satya sambil melirik ke arah Amartha.


"Ih, maksa!" ketus Amartha.


"Lagian nggak baik kalo magrib masih di jalan! nanti kena sawan, mau?" Satya menaik turunkan alis tebalnya.


Yang ada aku kena sawan tuh kalo deket sama nih orang!


Beberapa saat kemudian Satya memarkirkan mobilnya di sebuah restoran yabg di dominasi warna monokrom. Satya melepas sabuk pengamannya.


"Mau turun sendiri atau mau aku gendong?" tanya Satya sambil menatap Amartha jahil.


"Ish, emang aku bayi!" Amartha mendengus kesal.


"Ya bukan bayi, karena nggak ada tuh bayi yang jutek kaya kamu! hahahah," Satya tertawa melihat muka Amartha yang semakin kesal dibuatnya.


Akhirnya Amartha melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil itu, daripada mendengar celotehan Satya yang semakin membuat emosi. Satya bergegas keluar dan menghampiri Amartha yang baru saja membuka pintu mobil. Satya meraih tangan Amartha dan melepaskan tas berada di punggung gadis itu.


"Ih tasku!" teriak Amartha.


"Ish kamu tuh! teriak kaya mau dicopet aja!" ucap Satya seraya membekap mulut gadis itu dengan tangannya. Sesaat kemudian lelaki itu melepaskan tangannya yang membekap mulut Amartha.


"Ya lagian bikin kaget aja!" bentak Amartha.


"Sini tasku!" Lanjut gadis itu.


"Biar nggak ribet, udah biar aku yang bawa!" tolak Satya.

__ADS_1


Tanpa melihat wajah Amartha yang kesal dengan cuek , Satya menggandeng tangan Amartha. Saat Amartha akan melangkahkan kakinya tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai kabur.


Bruk!


Tubuh Amartha nyaris ambruk, namun dengan cekatan Satya menangkap tubuh gadis itu.


"Amartha!" teriak Satya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kenan sungguh gelisah seharian ini. Lelaki itu belum sempat menghubungi kekasihnya. Baru saja dia sampai di rumah lalu berjalan menuju kamarnya.


Perasaanku nggak enak gini!


Kenan meraih ponselnya didalam kantong jeansnya dan segera menelpon Amartha. Namun, Amartha tak kunjung menjawab telponnya. Kenan makin gelisah dan ia terus saja menghubungi gadis itu, berharap segera mendengar suara gadis yang sebulan ini sangat ia rindukan. Kenan mengurut pangkal hidungnya, mencoba menenangkan pikirannya. Lelaki itu mondar-mandir di dalam kamarnya dengan ponsel yang setia menempel ditelinganya.


"Jawab Amartha!" gumam Kenan lirih.


Kenan duduk di tepi ranjangnya , ia masih mencoba menghubungi ponsel gadis itu. Kenan tidak akan tenang sebelum mendengar suara kekasihnya.


"Halo?" sapa lelaki disebrang sana.


"Halo, ini siapa?" jawab Kenan mengernyitkan dahi, karena yang didengarnya adalah suara lelaki yang lumayan familiar.


"Ini aku Satya!"


"Satya? kenapa ponsel Amartha ada sama kamu!" Kenan terperanjat, lelaki itu langsung berdiri saat mengetahui yang menerima telponnya adalah Satya. Lelaki yang juga menyukai Amartha.


"Bisa diem nggak! Nanti Amartha bangun!" bentak Satya.


"Bangun? kalian?"


"Terus? kenapa Amartha sekarang bisa sama kamu!" Kenan mencecar Satya dengan pertanyaannya.


"Ih ngotot!" sahut Satya yang semakin memancing emosi Kenan.


"Jelasin sekarang!" bentak Kenan.


"Kenapa juga aku harus jelasin?" jawab Satya dengan nada mengejeknya.


"Karena aku pacarnya sekaligus calon suaminya!" Kenan masih terus memaksa Satya untuk menjelaskan mengapa Amartha bersama orang menyebalkan itu.


"Brisik!" sarkas Satya


"Kamu-" belum selesai Kenan bicara, Satya buru-buru memutuskan sambungan telepon Kenan.


"Arghhhh!" Kenan membanting ponselnya ke atas ranjang. Dada bidangnya naik turun dengan nafas yang memburu. Dia bergegas mengambil koper dan memasukkan baju seperlunya dan langsung menyambar kunci mobilnya.


Setelah menutup panggilan telepon Kenan, Satya menghampiri Amartha yang mulai membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan netranya dengan cahaya lampu yang terang.


"Syukurlah, kamu udah sadar!" ucap Satya sembari duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut pucuk kepala Amartha.


"Awh ... aku dimana?" kata Amartha sembari memegang kepalanya yang masih pusing.


"Kamu di rumahku," jawab Satya dengan lembut.

__ADS_1


"Kenapa aku disini?"


"Kamu pingsan di depan restoran, lalu aku bawa kamu kesini dan aku cek ternyata tekanan darahmu rendah," Satya menjelaskan kepada gadis yang masih terbaring lemah.


"Ini jam berapa?" tanya Amartha


"Ini hampir tengah malam, tunggu sebentar aku ambilkan bubur, aku baru aja buatin bubur buat kamu," Satya berjalan menuju dapur.


Sementara Amartha mencoba bangkit dengan kepala yang masih terasa pusing. Satya datang dengan membawa nampan yang terdapat sebuah mangkuk dan secangkir teh hangat diatasnya.


Satya meletakkan nampan diatas nakas. Lalu membantu Amartha untuk duduk. Dia meletakkan bantal agar menjadi sandaran yang nyaman untuk gadis itu.


"Makan, ya? aku suapin," ucap Satya menatap Amartha. Gadis itu menggeleng pelan.


"Kenapa?" Satya mengernyit heran.


"Nggak mau, kali aja dikasih racun!"


"Hahahah, ini otak mikirnya negatif mulu!" ucap Satya kesal sambil mendorong dahi gadis itu dengan telunjuknya.


"Ishhhh!" Amartha mendengus kesal.


"Sekarang buka mulut kamu," Titah Satya yang sudah memegang mangkuk lalu menyendokkan bubur dan mengarahkannya ke mulut gadis keras kepala itu.


"Makan dan aku nggak mau dibantah!" lanjutnya sambil menatap lekat manik Amartha.


Mau tak mau Amartha membuka mulutnya dan mengunyah bubur ayam dengan kuah kuning itu.


"Enak?" tanya Satya yang dibalas anggukan kecil Amartha.


"Pinter..." ucap Satya dengan mengacak-acak pucuk kepala Amartha.


Dia pikir aku anak kecil apa ya?


Satya dengan telaten menyuapi Amartha. Gadis itu tak bisa membantah karena dia tak punya tenaga yang cukup untuk berdebat. Setelah menghabiskan satu mangkuk bubur, Satya mengarahkan secangkir teh hangat ke depan bibir gadis itu. Amartha sedikit demi sedikit menyesapnya.


"Masih pusing?" tanya Satya.


"Iya," jawab Amartha lirih.


"Sekarang minum obat, terus istirahat," ucap Satya dengan lembut.


Amartha meminum obat yang diberikan Satya. Amartha kembali berbaring dan Satya mengambil mangkuk dan cangkir dan membawanya kembali ke dapur. Ketika Satya baru berjalan beberapa langkah, gadis itu membuka mulutnya.


"Aku mau pulang aja," ucap Amartha yang sukses membuat Satya berbalik badan.


"Besok aja pulangnya," sahut Satya.


"Tapi, nanti Vira khawatir!" bantah Amartha.


"Aku udah bilang sama temenmu itu, kalau kamu nginep disini! besok pagi baru aku antar kamu pulang, "


Tanpa menunggu jawaban dari Amartha, Satya melanjutkan langkahnya menuju dapur. Meninggalkan gadis itu yang mulai memejamkan matanya.


...----------------...

__ADS_1


Hai hai....terima kasih sudah membaca karya ini. Tinggalkan jejakmu ya, klik like dan komen di bawah.


Maaciiiih kesayangan....


__ADS_2