Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kau Begitu Menggoda


__ADS_3

"Sa-saya sudah melakukan apa yang Nona perintahkan," ucap Alia.


"Lalu kenapa-" ucapan Ivanka terhenti dia malah main tatap-tatapan sama Alia.


"Saya yang memintanya, kamu tidak keberatan, kan? sepertinya makan bersama dalam satu meja seperti ini akan lebih seru," ucap Satya lembut lalu tersenyum.


Ivanka kedap-kedip, akhirnya mau tidak mau Ivanka menuruti kemauan Satya. Ia duduk di samping Alia yang daritadi kacamatanya melorot terus.


"Alia, kacamata." Firlan menyentuh hidungnya memberi tahu Alia bahwa kacamatanya hampir jatuh. Alia pun melepaskan benda yang sangat identik dengan dirinya.


Wajahnya cantik tanpa alat bantu baca itu. Apalagi Alia memiliki lesung pipi, yang kalau dia ngomong atau ketawa pasti keliatan tuh ada cekungan di pipinya yang putih. Firlan mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


Beberapa saat menunggu pesanan datang. Mereka makan dengan mengheningkan cipta. Ivanka yang berada tepat di depan Satya malah sibuk memperhatikan rahang tegas pria itu yang naik turun karena mengunyah makanan. Satya tahu dia sedang diperhatikan, ah resiko cowok ganteng pikirnya.


"Nggak dimakan?" Satya menunjuk piring Ivanka yang masih utuh dengan alfredo pasta.


"Ehm," Ivanka berdehem dan tersenyum canggung. Satya hanya senyum sekilas saat melihat wanita itu kepergok tengah memperhatikannya, sedangkan Ivanka malu bukan main.


Tak mau berlama-lama, Satya segera menyudahi makan siangnya. Dia kepikiran juga dengan istrinya yang sedang menunggunya di apartemen. Satya lantas meneguk minumannya, serta mengelap bibirnya dengan tissue. Ivanka sengaja memperlambat makannya agar bisa berlama-lama menikmati ciptaan tuhan yang aduhai indahnya dipandang mata.


Satya beberapa kali melihat jam tangannya, ini sudah terlalu lama untuk sekedar makan siang. Satya menunggu Ivanka selesai makan baru ia akan segera pergi dari situ.


Satya melambaikan tangannya pada pelayan dan membayar bill makanan mereka.


Ivanka seakan tersihir dengan tatapan mata Satya padahal si pria biasa saja, memang begitu tatapannya.


"Nona Ivanka, saya ada urusan lain, saya permisi," ucap Satya kemudian berdiri.


"Tunggu!" Ivanka mencekal lengan pria itu. Pria itu melihat ke arah tangan Ivanka yang memegang lengannya. Wanita itu segera melepaskan cekalan tangannya.


"Ehm, terima kasih." ucap Ivanka yang diangguki Satya.


Pria itu pergi diikuti oleh asistennya. Sementara Ivanka malah duduk kembali, dan menghela nafas kasar. Alia segera mengenakan kembali kacamatanya, dan ketar-ketir berada di dekat Ivanka yang mungkin sebentar lagi akan meledak.

__ADS_1


Sementara di apartemen.


Amartha sudah selesai mengepack semua barangnya, namun suaminya tak kunjung pulang. Saat ini Amartha berada di kamarnya sementara Rosa dan Rudy sedang nonton tivi. Amartha ingin menelepon suaminya, namun ia urungkan lagi niatnya. Dia takut mengganggu pekerjaan Satya, karena terakhir dia bilang kalau masih ada urusan.


Satya pun akhirnya datang, dia menyalami kedua mertuanya.


"Udah pulang, Sat?" ucap Rudy saat Satya mendudukkan dirinya di sofa.


"Iya, Pah. Ini juga sebenarnya udah telat dari waktu yang udah Satya janjiin sama Amartha," jawab Satya, dia kemudian beralih menatap Rosa yang sedang mengganti channel tivi.


"Amartha dimana, Mah?" tanya Satya. Rosa langsung menoleh pada menantunya.


"Di kamar, Sat. Udah selese beres-beres dia tuh. Katanya hari ini kalian akan menempati rumah baru?" tanya Rosa.


"Iya, Mah. Rencananya sih begitu, Mah..." ujar Satya sambil tersenyum.


"Mah, Pah ... Satya ke kamar dulu," Satya bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kamarnya. Setelah pintu terbuka, terlihat Amartha yang tertidur di sofa sambil terduduk.


Satya mendekati Amartha yang tertidur dengan memegang ponsel di tangan kanannya. Satya mengambil ponsel itu dan meletakannya di atas meja.


"Mas?" ucap Amartha saat melihat wajah suaminya.


"Kok tidur disini? hem? badan kamu nanti pada pegel loh, Sayang..." Satya mengecup kening istrinya dan membawa Amartha nyungsep ke pelukannya.


"Nungguin kamu, Mas..." ucap Amartha dan sekilas rasa bersalah bergelayut di dalam dadanya.


"Maaf, ya? aku datengnya telat. Kamu udah makan, Yank?" tanya Satya sambil mengusap perut istrinya. Amartha mengangguk kecil, ia bersembunyi di dada bidang Satya, ia senang sekali mencium aroma parfum yang bercampur aroma tubuh suaminya. Rasanya nyaman dan tidak ingin beranjak.


"Mau tidur lagi? aku temenin, hem?" tanya Satya yang masih mengelus perut Amartha, dia merasakan tendangan halus dari dalam perut istrinya.


Amartha mengangguk, Satya segera mengangkat tubuh istrinya itu dan meletakannya diatas ranjang. Satya membuka jasnya dan melepas dasinya, ia mengganti pakaiannya dulu dengan pakaian yang nyaman. Lalu ia merebahkan tubuhnya disamping Amartha.


"Mas?" ucap Amartha tiba-tiba yang udah merangsek ke dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Ya, Sayang..."


"Kakinya pegel? mau aku pijitin?" Satya menebak apa yang ingin diucapkan Amartha. Wanita itu menggeleng.


"Terus?" Satya menyisir rambut Amartha dengan jarinya.


"Nggak apa-apa cuma pengen manggil aja," ucap Amartha, kemudian ia mengganti posisinya tidurnya membelakangi Satya.


"Kenapa?" tanya Satya lembut, ia memeluk istrinya dari belakang.


"Cuma nggak enak aja perasaaannya," kata Amartha, yang menautkan jari jemarinya dengan suaminya. Satya menaruh kepalanya di perpotongan leher Amartha.


"Hormon wanita yang lagi hamil memang begitu, Sayang. Yang perlu kamu lakuin alihin pikiran kamu," kata Satya. Lama Amartha terdiam, entahlah perasaannya saat ini benar-benar gelisah.


"Banyakin istighfar, Sayang..." lanjut Satya.


"Mas? jadi?" tanya Amartha.


"Apanya?"


"Tuh..." Amartha menunjuk koper-koper yang berisi baju miliknya.


"Jadi, Sayang. Ya udah kita siap-siap sekarang, ya? ucap Satya, Amartha membalikkan badannya menghadap suaminya. Ia membelai wajah Satya, menyentuh semua bagian yang ada di wajah itu.


"Jangan pernah menghianati kepercayaanku," ucap Amartha.


"Percaya sama aku," kata Satya.


Mereka pun segera bersiap untuk pergi menuju rumah baru yang letaknya tak jauh dari kediaman Ganendra.


Sementara di tempat lain, seorang wanita muda sedang melihat dirinya di cermin. Dia memakai dress ketat brwarna yang menampilkan lekuk dan kemolekan tubuhnya. Wanita itu membiarkan rambutnya yang bergelombang itu tergerai.


"Cuma kamu yang mungkin bisa nolong aku dari perjodohan itu. Bagaimanapun caranya aku nggak mau dijodohin sama tuh orang, aku sangat tau dengan semua kelakuan dia diluar sana dengan para wanita, aku nggak akan mau jadi salah satunya," ucap Ivanka seakan berbicara dengan pantulan dirinya di cermin.

__ADS_1


Namun sesaat kemudian, Ivanka tersenyum saat mengingat sosok Satya. Dia berpikir, mengapa dia pria itu sangat menggoda untuk dimiliki, padahal dia tahu jika Satya telah memiliki istri. Mungkin memang benar, daya tarik seorang pria akan meningkat ketika ia sudah menikah.


...----------------...


__ADS_2