Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Menepati Janji


__ADS_3

Setelah mendapatkan titah oleh bunda Ratu, eh mami Sandra, Amartha segera masuk untuk mengganti baju dan membereskan barang miliknya. Amartha tak pernah menyangka Satya adalah anak orang kaya, pasalnya pria itu selalu berpenampilan sederhana. Banyak hal yang dia tidak ketahui mengenai pria itu, dibalik sifat sablengnya ternyata dia menyimpan sejuta rahasia.


"Mami kok tahu aku disini?" tanya Satya penuh selidik, setelah Amartha sudah masuk ke kamarnya. Satya satu persatu mencoba mengancingkan bajunya dengan satu tangan.


"Tadi pagi, mami telpon ke HP kamu, tapi malah nggak aktif, jadi mami tanya ke Firlan, katanya ku masih di kota ini," ucap Sandra.


"Dia kasih tau mami alamat apartemen ini," lanjut wanita itu.


"Dasar, asisten laknaaat!" gumam Satya lirih.


"Kamu ngomong apa barusan, Sat?" Sandra memicing melihat Satya yang terlihat komat- kamit sendiri.


"Nggak, nggak kok, Mam!" ucap Satya berusaha tersenyum.


"Kamu itu kadang panggil 'mam', 'mih'! nggak jelas banget!" sarkas Sandra pada putranya.


"Suka-suka aku dong, Mam?! daripada aku panggil Sarimin?" kata Satya, yang langsung mendapat wajah tak mengenakan dari Sandra.


"Durhaka kamu, ya?!" Sandra hendak mengangkat tas yang harganya diluar nalar, untuk menimpuk Satya.


"Ampuun, Mam!" Satya mengatupkan kedua telapak tangannya, meminta ampun.


"Jadi, Mami ada apa nyari aku?" tanya Satya mode baik-baik.


"Ehem, tadinya mami mau nemuin kamu sama anak temen mami namanya Savia," sahut Sandra diiringi tawa kecil.


"Aku nggak ada minat dijodoh-jodohin gitu!" tolak Satya yang sudah tahu arah pembicaraan.


"Kamu kan belum liat orangnya," kata Sandra dengan ketus.


"Tapiii aku nggak minat, Mamiiiiii! aku jadi males pulang ke rumah kalau mami bahas-bahas masalah perjodohan, emangnya aku nggak laku apa?!" sahut Satya yang dongkol perihal Sandra yang akan menjodohkannya dengan gadis bernama Savia. Cintanya sudah berlabuh pada seorang perempuan bernama Amartha Dina, dan itu tidak akan mudah tergantikan oleh siapapun.


"Kalau kamu udah laku, pasti kamu udah punya pacar!" Sandra menyerang Satya dengan argumennya.


"Tenang aja, nanti juga kawin," ucap Satya Santai sambil menyesap teh hangat miliknya yang belum sama sekali tersentuh.


"Nikaaaaaaah! bukan kawin!" ralat Sandra.


"Iya iya, nikah!" ucap Satya cepat, Satya menaruh kembali cangkir yang sudah kosong itu ke atas meja.


"Udah selesai?" tanya Sandra ketika Amartha berjalan mendekat.


"Sudah, Tante.." ucap Amartha sopan.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang!" ajak Sandra.


"Sebentar, Tante ... biar saya bereskan dulu cangkirnya," ucap Amartha.

__ADS_1


Sandra pun tersenyum dan mengangguk. Amartha segera menyelesaikan membawa dua cangkir itu ke dapur untuk mencucinya. Setelah selesai, dia kembali ke ruang tamu.


"Aku ada urusan dulu sebentar, kamu ikut mami aja, aku nggak lama kok," ucap Satya sambil menatap Amartha dengan lembut.


Sandra menangkap sebuah perhatian dari Satya untuk Amartha. Sandra bisa membaca anaknya mempunyai perasaan lebih untuk gadis yang ada di sampingnya.


"Ya udah, aku pamit ya, Mas?" ucap Amartha.


"Hati-hati ya," sahut Satya lembut.


"Sat, mami-" belum sempat Sandra menyelesaikan kalimatnya, Satya sudang memotong.


"Iya, Mam hati-hati!" ucap Satya singkat.


"Ish! orangtua belum selese ngomong main samber aja!" ucap Mama ketus yang malah membuat Satya terkekeh karena berhasil menjahili mami kesayangnnya.


"Ampun, Mam!" ucap Satya sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Ya sudah, mami pulang ya Sat," ucap Sandra.


"Oke Mam!" kata Satya.


Amartha kini berada dalam mobil yang sangat nyaman di kursi penumpang bagian belakang. ia duduk bersama Sandra yang sedari tadi memikirkan Satya, feelingnya mengatakan Satya bukan hanya tertarik pada gadis yang kini sedang bersamanya, dia yakin Satya memiliki perasaan yang lebih. Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya kedua wanita itu sampai di depan rumah megah bergaya arsitektur modern yang di dominasi warna putih.


"Kita sudah sampai, Nyonya," ucap Barli supir keluarga Ganendra, yang khusus untuk mengantar kemana pun Sandra pergi.


"Eh, iya, Tante..." sahut Amartha gugup.


"Biar saya bawa sendiri, Pak..." ucap Amartha saat Barli sudah menurunkan kopernya dari bagasi.


"Tapi, Nona..." sergah Barli namun sang nyonya memberi kode bahwa tidak apa-apa, jika Amartha ingin membawa kopernya sendiri.


Amartha berdecak kagum saat di hadapannya kini terpampang nyata sebuah rumah yang sangat megah. Sandra menggandeng tangan Amartha untuk masuk ke dalam rumahnya.


Kemudian, Sandra mengajak Amartha ke kamar tamu yang berada di lantai 1.



.


.


"Nah, ini kamarnya, kamu bisa istirahat disini, Sayang..." ucap Sandra mengajak Amartha untuk masuk.


"Terima kasih, Tante..." sahut Amartha.


"Iya, Sayang ... tante keluar dulu ya..." Sandra tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Amartha. Wanita itu kemudian mengkahkan kakinya, menutup pintu dari luar dan berjalan menuju kamarnya di lantai 2.

__ADS_1


Amartha merogoh ponselnya dan menghubungi Vira, ia mengatakan akan ke kota S besok. Kurang lebih selama seminggu, Vira kehilangan berita mengenai Amartha. Pasalnya baik sms maupun chat yang Vira kirim tak satu pun Amartha balas, bahkan teleponnya pun tak ia angkat. Amartha menghela nafasnya, ia belum berani menelepon orangtuanya. Gadis itu tak sampai hati mengabarkan ia telah berpisah dengan Kenan, pernikahan mereka baru sah secara agama. Karena tidak ada persiapan apapun semuanya terlalu mendadak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di perusahaan Ganendra Group.


Satya melangkahkan kakinya dengab kemeja santai berwarna hitam dan bawahan jeans. Pria itu melangkahkan kakinya menuju ruangan sang papi. Semua karyawan menunduk hormat berpapasan dengan anak sang pemilik perusahaan.


"Tuan Satya akhirnya anda datang juga," ucap Firlan saat melihat Satya sudah di depan ruangan papinya.


"Mari," lanjut Firlan sambil mengetuk pintu ruangan Abiseka,


"Silakan, Tuan..." Firlan membuka pintu dan mempersilakan Satya masuk.


"Papi," sapa Satya saat melihat papinya sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa beberapa berkas.


"Eh, Sat kamu sudah datang!" sahut Abiseka saat melihat anaknya berjalan ke arahnya.


"Kata Firlan, kamu setuju menggantikan papi? apa benar itu Sat?!" lanjut Abiseka tampak bersemangat.


"Ya ampun, Pih ... nggak ada basa-basinya sama sekali sama anak," ucap Satya sambil menarik kursi di depan meja Abiseka, lalu mendudukinya.


"Hahahhahaha, karena papi terlalu senang, Sat! akhirnya kamu mau menerima tawaran papi," Abiseka menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Kerja yang bagus Firlan!" Abiseka memuji kegigihan Firlan dalam membujuk Satya, entah bagaimana caranya asistennya bisa membujuk anaknya yang keras kepala itu.


"Cih!" Satya berdecih saat papinya memuji Firlan.


"Terima kasih, Tuan..."ucap Firlan yang berdiri di samping kiri Satya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Jadi, kapan kamu akan mulai bekerja?" tanya Abiseka yang sudah sangat tidak sabar.


"Apa kamu pake lirik- lirik segala?!" ucap Satya pada Firlan yang melirik pada Satya, melihat tampang kesal pria itu. Firlan menyembunyikan senyumnya, hatinya benar- benar bahagia karena sebentar lagi akan mendapatkan bonus sesuai janji Abiseka, jika dia bisa membujuk Satya agar mau meneruskan bisnis yang susah payah dirintisnya.


"Jadi, kapan Sat?" Abiseka menegakkan tubuhnya


"Lusa," jawab Satya singkat.


"Oke, nanti kamu akan menempati posisi CEO di perusahaan ini, dan Firlan yang akan menjadi asisten kamu," jelas sang papi.


"Nggak ada yang lain lagi, Pih?" ucap Satya sambil melirik pada Firlan.


"Sepertinya anda harus terbiasa, Tuan!" sahut Firlan sambil menyembunyikan senyumnya.


...----------------...


Bagaimana keadaan Sinta? ada yang mau tau nggak?

__ADS_1


__ADS_2