
Sesuai janjinya, Satya mengantarkan Amartha pulang ke rumah Sandra, ya walaupun pria itu tak bisa menghindar dari tatapan menyelidik Sandra. Pokoknya Satya ditanya detail mereka ngapain aja, kenapa bisa pulang lewat jam 10 malam, sementara Satya disidang Sandra dan Abiseka di ruang keluarga, Amartha malah memilih kabur masuk ke dalam kamar, tentunya setelah izin dengan calon mertuanya. Amartha terkekeh melihat wajah Satya yang dibuat- buat seakan dia meminta pertolongan pada Amartha, namun Amartha tak menghiraukannya, dia memilih meninggalkan Satya di ruang keluarga.
Karena sudah sangat malam untuk kembali ke apartemen, Satya memilih untuk tidur di rumah orangtuanya, tubuhnya begitu lelah, setelah seharian bekerja memutar otak, sementara papinya sekarang lebih banyak meluangkan waktu untuk Sandra. Menurut Abiseka, Satya sudah mampu untuk memimpin perusahanan. Dia percaya putranya bisa mempertahankan kejayaan Ganendra group.
Amartha sudah bangun sedari subuh, dia tak akan pernah lupa untuk melaksanakan dua rakaat wajibnya. Setelah itu dia berniat ke dapur, membantu Mira menyiapkan sarapan.
"Jangan, Non ... Non duduk saja disana, biar saya yang memasak," ucap Mira yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng ayam, dengan omellete.
"Nggak apa-apa, biar aku bantu, Mbak..." kata Amartha yang akan mengambil pisau, namun tangannya dihalangin Mira. Amartha sudah terbiasa memanggil para pelayan, dengan sebutan 'Mbak'. Dan para pelayan juga senang dengan Amartha yang selalu bersikap baik terhadap mereka.
"Saya udah biasa, Non ... nanti Non Amartha terlambat berangkat kerja, sudah jam setengah 6 loh, Non..." ucap Mira beralasan.
"Aku bantu potong-potong, deh..." Amartha akan mengambil sayuran yang akan dia potong, namun lagi-lagi Mira mengambil sayuran yang ada ditangan Amartha, dan malah mengarahkan tangan wanita itu ke wastafel, dan membasuh tangan Amartha di bawah air mengalir, kemudian mengelapnya dengan tissue towel.
"Benar, Non ... biar kami saja, nanti tangan Non bau bawang," kata Nala membenarkan ucapan Mira.
"Non duduk saja, nanti saya buatin susu coklat anget kesukaan Non," kali ini Sasa yang bicara, pelayan itu mendudukkan Amartha di kursi yang ada di ruang makan.
"Ih, kalian ini, aku cuma-" Amartha mencoba untuk beranjak, namun dengan sigap Sasa mendudukkan Amartha kembali.
"Sudah, Non duduk disini saja, ya?" ucap Sasa.
"Ehem," Satya berdehem.
"Eh, Tuan muda, selamat pagi Tuan? Tuan mau dibuatkan kopi atau teh, Tuan?" tanya Sasa pada Satya yang baru saja menarik salah satu kursi di depan Amartha.
"Mas? udah rapi?" tanya Amartha yang heran dengan Satya yang sudah rapi sepagi ini.
"Kamu pengen kopi atau teh, Mas? biar aku buatin," Amartha menawarkan diri untuk membuatkan minuman untuk Satya.
__ADS_1
"Susu anget," jawab Satya santai.
"Hah?" Amartha menatap Satya cengo, dia beberapa kali berkedip dengan otak yang masih loading.
"Aku pengen susu coklat anget, kayak yang setiap hari kamu minum," Satya tersenyum simpul melihat reaksi Amartha.
"O-oh, iya, sebentar aku buatin ya?" Amartha beranjak dari duduknya.
"Biar saya yang buatin, Mbak ... spesial buat calon suami," ucap Amartha pada Sasa yang masih berdiri di ruang makan. Mendenfar itu, Sasa langsung menyusul Amartha ke dapur.
Tak lama Amartha membawa dua gelas susu coklat hangat, satu untuknya dan satu lagi untuk Satya.
"Ini Mas," Amartha meletakkan satu gelas susu coklat dihadapan Satya
"Makasih ya, Sayang?" Satya segera meminum susu buatan calon istrinya.
"Mereka sudah terbang ke Thailand sejam yang lalu, katanya papi mau ngecek anak perusahaan yang ada disana, tapi papi maunya ditemenin mami, ya gitu lah papi sekarang nggak mau jauh- jauh dari mami," jelas Satya yang membuat Amartha terkekeh, dia melihat begitu bucinnya Abiseka terhadap Sandra, mereka memang sudah tidak muda lagi, tapi kemesraan mereka selalu membuat keuwuan sendiri di rumah itu.
"Orangtua kamu seru ya, Mas? aku aja betah banget tinggal disini, mami perhatian banget sama aku," ucap Amartha setelah meneguk susu hangat miliknya.
"Ya iya lah, kan kamu juga anaknya, sebentar lagi kan kamu jadi istri pria tampan ini," Satya memuji diri sendiri
"Dih, pede banget, siapa juga yang mau nikah sama Mas?"
"Ya memang kayak gitu kan kenyataannya, eh ... jangan bilang kalau kamu berniat berubah pikiran buat nikah sama aku?" kata Satya yang melihat Amartha lekat-lekat.
"Hmmm, gimana ya? hmmm," Amartha mengetuk-ngetukkan jari di meja.
"Yank ... jangan rese, deh..." Satya merajuk melihat reaksi Amartha yang sepertinya berpikir dan tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
__ADS_1
"Hahahaha dihabisin dulu susunya," Amartha tertawa melihat wajah Satya yang kesal bukan main.
"Dih, jawab dulu, kamu nggak berniat berubah pikiran, kan?" Satya kesal melihat ekspresi wajah Amartha.
"Iya, iya nggak, ih..." ucap Amartha diselingi tawa kecilnya dan menaik turunkan alisnya, menirubapa yang sering Satya lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hati-hati di jalan, ya Mas? makasih udah nganterin aku," kata Amartha sembari melepas sabuk pengamannya.
"Iya Sayang, aku berangkat ya?" kata Satya mengusap pucuk kepala Amartha.
Amartha turun dari mobil dan melangkah menuju lobby rumah sakit. Sementara Satya melajukan mobilnya menuju perusahaan, ada meeting dengan client yang mengharuskan Satya menghadirinya.
Setelah mengganti pakaiannya dengan seragam rumah sakit, Amartha keluar dari lift menuju lobby rumah sakit. Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang menuju toilet perempuan.
"Mas Kenan? lepas, Mas!" Amartha memekik saat tubuhnya dihimpit pria itu
"Ta, aku ingin kita rujuk, Ta... aku bakal ninggalin perusahaan, aku mau hidup sama kamu," Kenan malah membawa Amartha ke dalam pelukannya.
"Mas, lepas Mas ... jangan kayak gini, sebentar lagi aku akan menikah, Mas ... aku nggak mau ngecewain Mas Satya, tolong kamu ngerti, Mas..." Amartha meronta ingin melepaakan diri dari dekapan Kenan.
"Nggak, Sayang ... aku cinta banget sama kamu, Dek ... aku nggak rela Satya milikin kamu, nggak, nggak ... kita rujuk ya, Sayang ... aku udah punya banyak cabang restoran, itu hasil kerja kerasku tanpa campur tangan ayahku, Ta ... itu cukup buat kita tinggal diluar negeri, aku juga punya perusahaan lain, aku yakin perusahaan itu akan semakin besar, aku akan membahagiakan kamu, kamu percaya ya sama aku," jelas Kenan melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Amartha dengan kedua tangannya.
"Kalau cintamu sebesar apa yang kamu katakan, kita tidak akan sampai berpisah, Mas ... sudah lah, Mas ... cerita kita sudah berakhir, kita udah selesai ,maaf Mas, aku mau kerja, permisi," Amartha menepis tangan Kenan dan pergi meninggalkan pria itu. Sementara Kenan berusaha mengejar Amartha, namun dia kehilangan jejak.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memotret keduanya yang sedang berada di toilet. Orang itu tersenyum licik melihat apa yang didapatnya hari ini.
...---------------...
__ADS_1