
"Satya?!" teriak Sandra yang melihat anaknya dengan kemeja yang belum terkancing.
"Mami?!!"
"Ada apa, Mas?" tanya Amartha yang tampak sudah segar namun masih memakai piyama.
Sedangkan sang mami memandang keduanya secara bergantian, ditambah kemeja Satya yang masih ewes ewes ewes bablas kancinge, ehek!
"Dasar anak nakal! kamu habis ngapain, hah? mami nyuruh kamu pacaran, tapi bukan bobolin anak orang juga?!" serangan bertubi-tubi dari Sandra.
Sandra memukul Satya dengan tas berbentuk kotak milik wanita itu. Membuat Satya terhuyung ke belakang. Amartha pun meringis ngeri saat wanita yang dipanggil mami oleh Satya, kini beralih menjewer telinga anaknya.
"Aduh, duh, Mih! sakit!" kata Satya yang mendapat jeweran dari sang mami tercinta yang menerobos masuk dengan tak melepaskan tangan dari telinga Satya.
"Biar tau rasa! ternyata begini ya kelakuan kamu!" Sandra menuduh anak lelakinya berbuat tak senonoh dengan seorang gadis.
"Aduh, aduh, Satya nggak ngapa- ngapain, suer!" Satya mengelak tuduhan Sandra, pria bertubuh tinggi itu sampai meringis kesakitan.
"Mata mami belum rabun-rabun amat Satya! kalo udah ngebet kawin ngomong sama mami, Nak! jangan kayak gini, dosa tau! dosa!" Sandra semakin melengkingkan suaranya, membuat Amartha ngeri-ngeri sedap.
"Tante ... tante, salah paham, kita nggak ngelakuin yang seperti tante pikirkan," Amartha mencoba menengahi antara Satya dan Sandra.
Sandra pun mengalihkan pandangannya pada wajah cantik Amartha. Sandra tak melihat kebohongan di mata gadis, yang menyentuh tangannya yang masih memegang daun telinga anaknya yang kini sudah sangat merah, dengan badan yang sedikit membungkuk karena ditarik sang mami.
"Ehm!" Sandra langsung melepas tangan kanannya dari telinga Satya, dan merapikan bajunya dan memasang wajah tanpa dosa, seakan-akan tak terjadi apa-apa.
Sandra langsung mendudukkan dirinya di sofa berwarna putih tulang, di ruang tamu. Satya memberi kode pada Amartha untuk membuatkan teh untuk maminya. Satya pun mendudukkan dirinya di kursi single abu-abu samping kanan maminya.
Tak berapa lama, Amartha membawa dua cangkir teh, yang ditaruhnya di depan Satya dan Sandra. Amartha pun masih berdiri, dia tidak tahu harus duduk di sebelah mana. Rasanya sungguh canggung.
"Mami, minum dulu mih..." ucap Satya menawarkan teh pada Sandra.
Wanita itu kini mengangkat cangkir beserta tatakannya, dan menyesap teh hangat yang disuguhkan di hadapannya.
"Kamu duduk disni, Nak..." kata Sandra setelah menaruh kembali cangkir diatas meja.
Sandra menepuk sofa panjang yang ia duduki, ia menyuruh Amartha duduk di sebelahnya. Amartha lalu meletakkan nampan diatas meja dan duduk di samping kanan Sandra, agar Sandra bisa menatap Amartha dan Satya sekaligus.
"Ayok, siapa yang mau jelasin," tatap Sandra pada Satya dan Amartha.
__ADS_1
"Saya ... ehm ... saya Amartha, teman Mas Satya, Tante..." Amartha memperkenalkan dirinya sebagai teman Satya.
Sandra menatap gadis di sampingnya dengan tatapan menyelidik, pasalnya terlihat jelas gadis ini lebih muda dari anaknya, Satya.
"Umur kamu, berapa?" tanya Sandra dengan lembut.
"20 tahun, Tante..." sahut Amartha takut-takut.
"Saya masih kuliah," lanjut gadis itu.
"Dia calon perawat, Mih... intinya kami nggak berbuat yang aneh-aneh, dia hanya menginap disini," jelas Satya.
Satya pun menjelaskan bagaimana Amartha bisa sampai di kota ini, termasuk menceritakan bagaimana gadis itu bisa menjadi target incaran Damar Brawijaya.
Satya menceritakan dengan detail semua kejadian yang sudah Amartha lewati, sampai kejadian semalam yang menjadi akhir dari pernikahannya dengan Kenan. Sandra pun menatap Gadis itu yang kini meremas ujung piyama yang dipakainya.
"Nih, liat tangan Satya masih di perban!" Satya menunjukkan telapak tangannya yang masih di perban.
"Makanya, nih baju belum kekancing, akunya susah buat ngancingin baju sendiri, eh mami malah dateng, dan langsung main pukul aja!" gerutu Satya yang memandang maminya dengan sangat kesal, karena menuduhnya yang iya-iya.
"Ya Allah, Sayang ... kasian banget kamu, Nak!" ucap Sandra seraya mengelus punggung Amartha, kemudian beralih menggenggam tangan Amartha.
"Perasaan Satya yang lagi sakit kok Amartha yang dielus sih, Mih?" Satya berdecak kesal melihat maminya yang berubah menjadi lembut setelah beberapa saat tadi, menjelma menjadi singa betina.
"Berisik kamu, Sat!" ucap Sandra ketus pada sang anak. Kemudian raut wajahnya berubah kembali teduh ketika menatap Amartha.
"Terus apa rencana kamu selanjutnya, Sayang?" tanya Sandra seraya mengelus rambut panjang Amartha yang terurai.
"Apa kamu nggak takut kalau kamu, pisah sama suami kamu terus kamu hamil anak dia, kan kamu udah-" lanjut wanita itu.
"Sudah apa, Tante?" Amartha mengernyitkan keningnya.
"Sudah itu loh ... itu..." ucap Sandra, yang bukannya memperjelas pertanyaannya, malah semakin membuat Amartha bingung.
"Itu apa ya, Tante...?" Amartha masih dengan wajah polosnya, tak tahu kemana arah pembicaraan wanita di sampingnya itu.
"Mami ngomong apaan, sih! nggak jelas banget!" gerutu Satya pada Sandra.
"Ah, itu loh, Sayang ... sudah praktek caranya berkembang biak," ucap Sandra malu-malu, yang membuat Satya menepuk jidatnya.
__ADS_1
Aih, kenapa mami jadi malu-malu gitu?
"Oh, itu ... belum Tan..." lirih Amartha dengan wajah yang memerah seperti tomat, karena di todong pertanyaan seperti itu
"Syukurlah kalau belum, karena jangan sampai itu menjadi masalah baru," ucap Sandra yang menepuk punggung tangan Amartha
"Lalu sekarang, apa rencana kamu, Sayang?" tanya Sandra menatap Amartha dengan lekat.
"Rencananya, besok saya mau ke kota S, melanjutkan kuliah, Tan ... tinggal 1 tahun lagi, sayang kalau enggak dilanjutin," ucap Amartha.
"Tapi kamu yakin, mereka nggak akan mencelakai kamu?" ucap Sandra khawatir.
"Tenang aja, Mih! nanti Satya suruh orang kita supaya jagain dia disana," tanpa diminta, Satya menjawab kegelisahan Sandra.
"Mami setuju, Sat!" Sandra menatap anaknya dengan wajah yang serius. Entah mengapa, melihat gadis muda dihadapannya, membuat hatinya tersentuh.
Sandra ingin melindungi gadis itu, padahal ini kali pertama dia bertemu Amartha, namun Sandra sudah sangat menyukainya. Dia tidak menyangka, Amartha akan berurusan dengan Damar Brawijaya, seorang pebisnis yang sangat angkuh, yang selama ini menjadi rival suaminya, Abiseka Ganendra dalam mengusai dunia bisnis di negeri ini.
"Oh, ya kamu cepet siap-siap ya? hari ini kamu nginep di rumah tante, ya? jangan disini, bahaya! apalagi cuma berdua sama si bocah sableng itu, tante khawatir kamu digigit sama dia!" ucap Sandra sambil terkekeh, melihat raut wajah Satya yang kesal bukan main.
"Hey, bocah nakal! bajunya dikancing, jangan malah diumbar!" teriak Sandra, yang membuat Amartha dan Satya terkejut mendengar lengkingan yang sungguh aduhai dari Sandra.
"Mamiiiiii?!" Satya berdecak kesal melihat Sandra yang malah tertawa renyah.
...----------------...
.
.
Kalau suka ceritanya jangan lupa buat ngelike, komen dan vote.
Maacih...
*akhir kata
Sarimin pergi ke pasar...
Pulangnya beli mangga...
__ADS_1
ya udah sampe rumah langsung dimakan...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kezel..kezel..kezel*****