Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Aaaaaaa!


__ADS_3

Mentari menyapa mereka yang masih bergelung dibalik selimut diatas kasur berukuran king size itu. Amartha menggeliat dan mengerjapkan matanya berkali-kali dan sesekali memijit kepalanya yang terasa pusing. Setelah nyawanya terkumpul, ia baru menyadari ada tangan yang melingkar diatas perutnya, seperti sedang memeluk sebuah guling. Jantungnya bedegub kencang, ia belum berani melihat siapa orang yang tengah memeluknya saat ini. Wajahnya sangat tegang saat tangan itu semakin mengeratkan pelukannya ketika ada pergerakan kecil dari Amartha.


Amartha menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia mulai memindahkan tangan itu dari tubuhnya. Amartha membuka selimutnya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati dirinya sudah berganti pakaian namun tak memakai dua benda yang biasanya melindungi daerah privacy miliknya.


Astaga! apa yang terjadi?


Amartha lantas bangkit dari ranjang empuk itu dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Dia merasa sangat risih dengan apa yang dikenakannya saat ini, kemeja putih yang nampak kebesaran di tubuhnya. Dia betul-betul tidak ingat apa yang sudah terjadi.


"Hemmm, kamu sudah bangun, Sayang?" ucap pria saat melihat Amartha tengah berdiri membelakanginya.


Amartha kaget mendengar suara pria yang sangat familiar ditelinganya. Dia memutar tubuhnya, dan matanya membulat sempurna saat melihat Kenan yang sudah duduk diatas ranjang dengan tak memakai baju hanya selimut yang menutupi area bawah perutnya.


Kenan lalu menyingkap selimutnya, berniat mendekati Amartha namun si gadis malah menutup matanya dan berteriak.


"Aaaaaaaaaaaa!"


Kenan pun kaget saat Amartha yang tiba- tiba menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. Pria itu segera berjalan mendekati Amartha dan membekap mulut istrinya.


"Sssttt! pagi-pagi jangan teriak!" ucap Kenan yang saat ini berada di belakang Amartha seraya berbisik di telinga gadis itu yang membuat merinding disko.


"Mmmmph ... mmmmph!" Amarta membuka matanya dan mencoba melepaskan tangan kenan dari mulutnya. Amartha memegang tangan Kenan dengan kuat lalu menggigitnya.


"Aaaww!" Kenan yang mendapatkan serangan tiba-tiba pun segera menjauhkan tangannya dari mulut gadis itu. Amartha lantas menjauhkan dirinya dari pria itu, dan ia melihat ternyata Kenan masih mengenakan celananya. Dia pikir pria itu tidak mengenakan apapun.


"Kamu kenapa sih, Ta? pagi- pagi udah tereak aja," ucap Kenan yang sedang mengibas-ngibaskan tangannya yang perih. Amartha hanya tersenyum canggung, merasa sangat bersalah pada Kenan yang kini berjalan mendekatinya.


Ah! bodoh! bisa-bisanya aku mikir kalau dia nggak pake apa-apa!


"A-aku pi-pikir Mas nggak pake apa-apa!" ucap Amartha gugup.


"Dasar! kecil-kecil pikirannya mesum!" kata Kenan sambil menjentikkan jarinya di kening Amartha.

__ADS_1


"Lagian, kalau aku nggak pakai sehelai benangpun di depan kamu juga nggak apa-apa, kan?" ucap Kenan sambil menaik turunkan sebelah alisnya dan berjalan selangkah demi selangkah mendekati istrinya.


Amartha yang mendengar ucapan Kenan itu raut wajahnya mendadak tegang. Dia perlahan berjalan mundur, sampai punggungnya menyentuh tembok. Melihat wajah Amartha yang begitu ketakutan membuat Kenan ingin tertawa.


"Sepertinya kamu lupa, kalau kemarin kita sudah menikah!" ucap Kenan tersenyum sambil menepuk pipi kanan istrinya.


"Hah?" yang ditepuk pipinya hanya melongo. Bisa-bisanya dia lupa bahwa dia dan Kenan sudah menikah.


Bodoh! bodoh!


Amartha terus saja merutuki kebodohannya saat Kenan berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh darinya saat mendengar ponsel Kenan berdering. Kenan tersenyum saat mendengar gumaman kecil istrinya. Pria itu lalu mengambil ponselnya diatas nakas.


"Ya, halo?" ucap Kenan setelah menekan tombol hijau di ponselnya.


"Aishh! lama sekali!" gerutu pria di seberang telepon.


"Baru juga bangun!" ucap Kenan kesal pada pria yang sempat menjadi rivalnya, Satya Ganendra.


"Nggak perlu tau!" kata Kenan malas.


"Aku hanya mau kasih info, kalau ayahmu Damar Brawijaya kena serangan jantung, dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit, begitu pun dengan Sinta tunanganmu yang dilarikan ke rumah sakit karena depresi karena ditinggal kawin!" ucap Satya


"Oh," sahut Kenan singkat, namun sejujurnya ia sangat khawatir dengan keadaan sang ayah. Kenan memang sudah tahu kalau ayahnya mengidap penyakit jantung. Kenan masih berdiri mematung membelakangi Amartha. Sedangkan Amartha masih berdiri mematung, memperhatikan gerak-gerik Satya.


"Sekarang aku mau bicara sama Amartha kekasihku!" ucap Satya santai.


"Jaga ucapanmu! sekarang dia istriku, kalau kamu lupa?!" kata Kenan sebal.


"Suka-suka aku!" kata Satya sambil terkekeh.


"Ck! dasar sontoloyo!" omel Kenan pada pria yang menyebut Amartha, kekasihnya. Kenan melangkah kakinya mendekati Amartha dan memberikan ponselnya.

__ADS_1


Amartha mengerutkan keningnya saat Kenan memberinya kode bahwa ada orang yang ingin bicara dengannya.


"Assalamualaikum," Amartha mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, ini aku Satya, kamu baik-baik aja, kan?" tanya Satya dengan sangat lembut, walaupun hatinya teriris ketika mendengar suara gadis yang kini tak mampu diraihnya.


"Iya, aku baik-baik aja, maaf..." jawab Amartha lirih


"Hey, kenapa harus minta maaf? udah ah jangan nangis, ntar aku nyesel loh udah biarin kamu nikah sama Kenan," ucap Satya yang diiringi tawanya.


"Kenapa Mas Satya lakuin itu buat aku?" Amartha melontarkan pertanyaannya.


"Kenapa? ehm, karena aku tahu yang kamu cintai itu dia, aku mau kamu bahagia," sahut Satya dengan mengontrol suaranya agar terdengar tetap tenang.


"Hmmm, tapi itu menurut kalian..." kata Amartha yang sukses membuat Satya mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu?" tanya Satya.


"Kalian, ya ... kalian melakukan sesuatu tanpa bertanya padaku, apakah aku setuju atau nggak, apakah aku mau atau nggak," ucap Amartha dengan airmata yang kini membasahi pipinya.


"Hanya untuk kebahagiaanku, aku telah melukai banyak orang," lanjut Amartha disertai isakan.


"Maaf ... karena aku hanya ingin kamu bisa hidup dengan orang yang kamu cintai, dan aku tau orang itu bukan aku," ucap Satya dengan sendu.


Tuuuut tuuut tuuut.


Amartha menutup telepon itu sepihak, dia tak sanggup untuk mendengar suara pria yang sudah sangat baik padanya walaupun dengan gaya menyebalkannya. Kenan dan Satya memang dua orang yang berbeda. Kenan selalu bersikap lembut padanya, sedangkan Satya selalu bertingkah menyebalkan dan membuat satu warna yang berbeda dalam hidup Amartha. Pria itu mendampinginya disaat dia butuh pertolongan, disaat dia terpuruk saat mengetahui sahabatnya menikamnya dari belakang. Pria itu tak pantas menerima perlakuan seperti ini. Amartha menangis menggenggam ponsel Kenan.


Kenan menatap Amartha dengan sendu, apakah benar pernikahannya dan Amartha bukan sesuatu yang tepat? Kenan yang berada di depan Amartha pun segera membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Sementara Satya yang sedang duduk di ruang tamu di kediaman orangtuanya pun mengusap wajahnya kasar. Pria itu menyesal telah berbuat sesuatu tanpa melibatkan Amartha dalam pengambilan keputusan, terlebih lagi ini berkaitan dengan kehidupan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2