
"Maaf, Nona ... ada kiriman bunga," ucap seorang kurir yang membawa sebuket bunga, dan menyodorkan sebuah tanda bukti penerima pada Amartha.
"Dari siapa, ya?" tanya Amartha saat bunga itu berpindah ke tangannya.
"Saya hanya disuruh mengantarkan, Nona ... permisi," ucap sang kurir yang hanya ditugaskan mengantar bunga itu ke alamat yang tertera.
"Ok, terima kasih," ucap Amartha sopan, kurir tersebut meninggalkan Amartha yang masih berdiri di depan pintu.
"Bentuknya sering liat, tapi namanya bunga apa, ya? kok aku lupa..." Amartha bermonolog melihat bunga yang ada ditangannya.
Kemudian wanita itu membawa sebuket bunga yang berwarna merah itu ikut masuk ke dalam. Sementara ada seorang pria yang tersenyum saat melihat bunga ada ditangan wanita yang kini sudah menutup pintunya.
Pria itu pergi dengan rasa bahagia yang membuncah di hatinya, bahkan dia terus saja tersenyum hingga memasuki mobilnya.
Untuk wanitaku
*Tu es a moi
Itulah pesan yang ada di dalam kartu, singkat dan tidak ada nama pengirimnya, Amartha membolak balikkan kartu itu mencari nama pengirimnya, namun ia tak menemukannya.
"Apa mungkin dari Mas Satya?" Amartha mengendikkan bahunya, tapi sesaat dia kembali berpikir.
"Tapi dia nggak pernah ngasih bunga jenis ini dan warna ini," Amartha mengingat- ingat, bahwa Satya memang kerap memberinya bunga, tapi pria itu selalu mengirim bunga mawar putih, tidak mungkin dia salah membeli bunga.
Amartha duduk di sofa, ia pun menjadi penasaran, bunga apa yang sedang dipegangnya. Berbekal smart phone, ia segera membuka browser dan mencari tau jenis-jenis bunga. Wanita itu memperhatikan satu persatu bunga yang ada di layar ponselnya, dan ketika beberapa kali menscroll layarnya, ia mendapatkan apa yang dia cari.
"Bunga anyelir?" lirih Amartha sambil membaca makna dari bunga yang dikirimkan padanya.
Dia memandang buket bunga anyelir berwarna merah dengan beberapa baby breath yang semakin mempercantik buket bunga dengan pita berwarna merah itu.
"Bunga ini melambangkan cinta yang dalam?" Amartha membaca arti dari bunga yang ada di tangan kirinya.
__ADS_1
Dengan sesekali melihat buket bunga dengan kain spoundbound berwarna hitam sangat kontras dengan baby breath yang berwarna putih dan anyelir yang berwarna merah, membuat kesan misterius pada buket bunga itu.
"Mending aku tanya aja deh, kalau Mas Satya pulang," Amartha tak mau ambil pusing perihal bunga yang belum jelas siapa pengirimnya.
Amartha lalu meletakkan bunga di atas meja yang di ruang tamu, meninggalkannya begitu saja.
Wanita itu kemudian melihat isi kulkas, mungkin sebentar lagi suaminya pulang, dia ingin memasak sesuatu untuk makan malam, lagipula ia sudah merasa sangat lapar.
Wanita itu hanya menemukan beberapa bahan makanan seperti cumi asin, tofu dan sayuran kangkung.
Amartha segera memakai apron berwarna hitam yang ia temukan didalam kabinet. Ia pun menguncir rambut panjangnya asal dan wanita itu mulai memotong dan menghaluskan bumbu, tak lupa memasak nasi terlebih dahulu sebelum dia mengeksekusi cumi asin sudah dicuci bersih.
Ditengah keribetannya menyiapkan makan malam untuk suaminya, Satya baru saja pulang dan masuk ke dalam rumah, ia sudah selesai dengan urusannya.
"Hmmm, masak apa, Yank?" ucap Satya yang mencium bau harum dari arah dapur, ia berjalan mendekat mengikuti dari mana bau harum itu berasal, ia melihat istrinya sedang memotong bawang merah dan cabai.
"Cumi cabe ijo, Mas. Adanya cuma ini di dalem kulkas, ada kangkung dan tofu juga," ucap Amartha sambil memotong-motong cabai merah di atas cutting board.
"Geli, Mas ... aku lagi masak, nih! bau cumi, Mas duduk aja disana," ucap Amartha menunjuk kursi di meja makan.
"Nggak mau! aku maunya disini nemenin kamu," Satya tak mau memindahkan tangannya dari pinggang istrinya, dia malah mencium pipi Amartha gemas.
"Sini, aku bantuin..." Satya mencuci tangannya dan akan meraih kangkung organik yang masih di dalam plastik, berniat akan membuka dan mencucinya. Akan tetapi, Amartha dengan segera mengambil alih kangkung yang masih terbungkus itu
"Nggak usah, kamu mandi dulu aja, Mas ... ini bentar lagi juga kelar kok, kamu kan pasti capek," Amartha mencuci dan mengelap tangannya, kemudian mendorong pelan-pelan agar suaminya itu bergerak ke arah kamar mereka.
"Mau jadi istri solekha nih ceritanya?" ucap Satya dengan alis yang naik turun menyebalkan.
"Nggak, siapa juga yang mau jadi istri solekha? orang aku istrinya Satya, wleee!" Amartha semakin mendorong punggung suaminya.
"Bisa ae kamu, Yank!" Satya tertawa mendengar istrinya yang melemparkan jokes recehnya
__ADS_1
"Aku mau mandi, asal ditemenin," Satya mencoba untuk merayu sang istri yang sudah khawatir nasib cumi yang masih di masak diatas kompor elektrik.
"Maaaaassss!" teriak Amartha gemas dengan tingkah Satya yang terus menerus merayunya agar mau menemani dalam tanda kutip.
"Iya, iya, ih ... nih mau mandi," kata Satya pasrah dan segera melesat masuk ke dalam kamar.
Kemudian pria itu segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia keluar untuk membantu istrinya yang sedang memasak, namun matanya memicing saat tak sengaja melihat sebuket bunga tergeletak diatas meja.
"Bunga dari siapa?" Satya bertanya dengan wajah yang tak biasa.
"Aku kira dari kamu, Mas ... nggak ada nama pengirimnya soalnya," ucap Amartha sembari menata meja makan.
"Aku tidak pernah memberimu bunga anyelir," ucap Satya yang menunjukkan sebuket bunga anyelir di tangannya.
"Atau mungkin salah kirim," celetuk Amartha yang membuat pria itu menautkan kedua alisnya.
Satya kemudian membuka sebuah kartu yang terselip di rangkaian bunga, rahangnya langsung mengeras saat membaca apa yang tertulis di dalam kartu itu.
Pria itu langsung membuka tong sampah dan membuang buket bunga yang tidak diketahui siapa pengirimnya.
"Kamu marah sama aku, Mas? atau makanannya nggak enak?" Amartha melihat Satya yang hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat memakannya.
"Kalau nggak enak biar aku beresin aja, kita makan diluar, atau deliverry aja," ucap Amartha yang akan membereskan makanan yang sudah tersaji di meja.
"Bukan, ehm, ini enak kok ... cuma suasana hati aku aja yang lagi nggak enak," sergah Satya, yang tersenyum namun sedikit dipaksakan, dia tidak tahu setelah melihat bunga itu moodnya sedikit berantakan, karena bunga itu mengingatkan ia pada seseorang.
"Karena masalah bunga tadi? bunga itu di antar oleh kurir, aku kira Mas yang kirim. Makanya aku terima bunga itu, kalau aku tau tuh kiriman bunga bukan dari Mas, aku nggak akan bawa bunga itu masuk ke dalam," Amartha menjelaskan, dia tidak mau Satya berpikiran macam-macam.
"Aku rasa ada orang yang memang sengaja mengirim itu," kata Satya.
...----------------...
__ADS_1