
Setelah pesta yang melelahkan, kondisi kamar sang pengantin terlihat sangat mengenaskan, gaun yang harganya bikin orang kejang-kejang itu pun teronggok begitu saja di lantai.
Sementara sudah lebih dari sepuluh kali Sandra menelepon anak dan menantunya itu, namun nada dering telepon yang lumayan nyaring takembuat kedua orang itu berniat mengangkat pinselnya yang entah nelusup dimana.
Karena Satya maupun Amartha tak kunjung menjawab teleponnya, wanita paruh baya memutuskan sambungan itu. Ia merasa tidak enak pada besannya, pasalnya anak dan menantunya tak juga menampakkan batang hidungnya.
Mungkin Sandra lupa bahwa dirinya turut andil dalam serangan yang dilakukan putranya, karena kain jaring ikan menjadi pencetusnya.
Prisha yang semalam ikutan nyelip di kamar mami papinya itu lebih memilih untuk mengisi perutnya dengan sereal dan susu daripada harus mendengar Sandra yang terus saja misuh-misuh nggak jelas.
Sementara Abiseka lebih memilih menikmati kopi seraya bercengkrama dengan Rudy, besannya serta menikmati roti yang sudah di toast dengan selai blueberry diatasnya.
"Udah deh, Mam... makan dulu aja, tuh Prisha udah ambilin lasagna, keburu dingin, nggak enak," ucap Prisha setelah meneguk jus strawberry miliknya.
"Abang kamu tuh ditelfon nggak diangkat, Sha!" ucap Sandra yang menaruh ponsel disampingnya, sementara prisa hanya bisa mengendikkan bahunya tanda tak mengerti.
"Ehm, mari Jeng Rosa, kita mulai saja sarapannya, sambil menunggu mereka turun, mari pak Rudy," kata Sandra yang mempersilakan besannya untuk menikmati sarapannya.
"Nggak usah di telfonin terus, Mam ... Mami ini kayak nggak pernah ngrasain jadi pengantin baru, Mami nggak inget? kita malah lebih parah dari mereka, Mam!" celetuk Abiseka yang membuat besannya ikut tertawa.
"Ish Papi ini, kan malu pih sama besan..." kata Sandra sembari menyenggol lengan suaminya.
Rudy dan Rosa merasa sangat beruntung Amartha bisa mendapatkan mertua sebaik Sandra dan Abiseka, orang yang notabene tajir melintir itu selalu bersikap ramah. Bukan mertua yang selalu menyiksa menantunya, seperti yang ada di FTV ikan terbang yang kerap Rosa tonton setiap hari.
Sementara para orangtua sedang menikmati sarapan, Prisha mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor abangnya itu, sambil menyuapkan salad ke mulutnya yang mungil itu. Dan yap! dalam beberapa detik saja, suara orang yang sedang menjadi target incaran Sandra pun menyapa telinganya.
"Ada apa, Mon?" tanya Satya yang sedang merebahkan tubuhnya disamping istrinya.
"Man Mon Man Mon, aku aduin nanti ke Mami!" Prisha mendengus kesal, sementara Sandra yang kebetulan duduk disamping putrinya itu bertanya, siapa yang sedang bicara dengannya ditelepon. Prisha mengkode bahwa dia sedang bicara dengan Satya. Sandra langsung mengambil alih ponsel Prisha dan menjauh dari mereka yang tengah menikmati sarapan paginya.
__ADS_1
"Buset dah, sensi amat, Mon ... pagi-pagi udah nelfon, ada apaan si, ganggu orang aja!" seru Satya yang membuat Sandra kesal.
"Satyaaaaaaaa!" suara Sandra melengking menyapa gendang telinga pria yang otomatis menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Astaghfirllah, Mami! ya Allah nyebut, Mam!" ucap Satya sambil mengusap telinganya yang terasa sakit.
"Dasar anak durhaka! ditelfon dari pagi nggak diangkat-angkat, ngapain aja kamu?" Sandra hilang kesabaran.
"Hoam, baru bangun, Mam. Ada apa emangnya?" ucap Satya yang malah nguap.
Amartha yang mendengar suaminya sedang bicara dengan mertuanya, langsung meraih ponselnya. Dan benar, ada banyak missed call dari Sandra, membuat Amartha melirik kesal pada suaminya yang kini menaik turunkan alisnya menatap dirinya.
"Mertua kamu pulang, baru jadi mantu berapa hari udah bikin malu, Mami! sini, cepet turun!" ucap Sandra yang tak mendapatkan respon dari putra sulungnya.
"Heh, Satya! kamu dengerin mami nggak, sih!" seru Sandra yang membuat Satya gelagapan.
"Iya, Mam ... iya, aku denger kok."
"Rasain dimarahin mami!" ucap Amartha, meledek Satya yang tak berkutik saat Sandra mengomel lewat sambungan telepon.
Setelah mendapat ultimatum dari Sandra, Satya dan Amartha langsung bergegas mandi dan menemui mereka semua yang telah menyelesaikan sarapannya.
"Yeuuh, yang penganten baru ... jam 9 baru bangun." sindir Prisha pada abangnya yang sengklek bin gesrek.
"Bocil diem!" kata Satya sambil menjejalkan potongan buah ke mulut adiknya, membuat gadis melotot karena gerakan tangan Satya yang tidak bisa diprediksi sebelumnya.
"Mama sama papa pulang hari ini, Sayang..." ucap Rosa sambil mengusap punggung anaknya yang duduk disamping Rosa.
"Aku masih kangen, Mah..." Amartha menatap Rosa memelas.
__ADS_1
"Kamu udah punya suami masih aja glayutan sama mama, nanti mama sama papa bisa kesini lagi kapan-kapan," ucap Rosa yang mendapat anggukan dari Rudy.
"Mama kamu benar, Sayang. Kamu sudah menjadi seorang istri, tanggung jawab papa sudah berpindah pada suamimu. Kita bisa ketemu lagi setelah ini," ucap Rudy.
"Kalian jadinya berangkat sore ini atau besok, Sayang?" Sandra bertanya pada menantunya yang kemudian menegakkan tubuhnya dengan alis yang saling bertautan.
"Berangkat? kemana, Mam?" bukannya menjawab, Amartha malah balik bertanya pada mertuanya yang langsung memandang putranya
"Sat? kamu belum ngasih tau Amartha soal keberangkatan kalian ke sumbawa?" tanya Sandra yang membuat Satya hanya nyengir.
"Belum, Mam lupa ... kita berangkat besok, Mam," sahut Satya.
"Ish, kamu ini ... hal sepenting itu kamu lupa bilang sama Amartha, maaf ya Jeng ... maaf ini anak saya emang suka keluar sablengnya, tapi aslinya baik kok, cuma agak mensle dikit," kata Sandra yang malah membuat semua orang tertawa
"Mami, dimana-mana ibu tuh ngebanggain anaknya, ini malah ngejatohin, gimana sih?nasib nasib .... astagfirllah..." celetukan Satya justru membuat Amartha tak berhenti tertawa melihat suaminya yang tertindas.
"Nak Satya, saya titip Amartha..." ucap Rudy sambil tersenyum pada menantu satu-satunya itu.
"Dikira helm kali dititipin," gumam Amartha dalam hatinya.
"Oh ya, mama cuma pesen, pulang dari sana cepet bawa calon cucu buat mama ya," ucap Rosa pada Amartha yang langsung dijawab oleh Satya.
"Siap, Mah!" sahut Satya dengan lantang dan bersemangat.
"Aish, emangnya bikin anak kaya ngadon kue apa ya? main pesen-pesen aja," Amartha kembali bergumam dalam hatinya
"Sumbawa? beneran Abang mau kesana? Bang, aku ikuuut! ya, ya, ya..." ucap Prisha yang memohon untuk ikut dengan puppy eyesnya.
"Bocil dilarang ikut, ganggu!" ucap Satya yang menjejalkan lagi satu potong buah melon ke dalam mulut adiknya. Mata Prisha membulat sempurna saat mendapatkan satu potong melon menyumpal mulut kecilnya.
__ADS_1
Pagi itu pun Amartha dan Satya menikmati sarapannya ditemani keluarga. Hari itu juga Rosa dan Rudy pamit untuk kembali ke kota asalnya. Sementara Amartha masih menginap di hotel sampai besok pagi, Prisha pun kekeuh ingin ikut ke Sumbawa, ia merayu dan merajuk pada Amartha agar dirinya diperbolehkan untuk ikut, dan berjanji tidak akan mengganggu kegiatan mereka.
...----------------...