Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Bermain Api


__ADS_3

Selama beberapa waktu, Aaraf memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia, dia memutuskan menjadi salah satu investor di perusahaan Ganendra group, hal ini tentu disambut baik oleh Satya. Padahal investasi itu adalah hanya sebuah alasan agar dia bisa lebih lama tinggal di Indonesia.


Pagi menjelang siang, sepasang suami istri sedang berada di supermarket, mendorong troleynya yang sudah penuh dengan belanjaan.


"Kamu pengen bikin apa sih, Yank?" tanya Satya yang melihat istrinya memilih buah-buahan dan memasukkan gula jawa ke dalam troleynya.


"Rujak buah, Mas ... kayaknya enak dimakan siang- siang gini," ucap Amartha sembari memilih buah melon.


"Boleh, aku juga mendadak pengen, bikin yang agak pedes, Yank ... sekalian beli mangga juga, aku pengen rujaknya dikasih mangga," kata Satya sambil membayangkan segarnya rujak buah. Setelah memilih buah melon yang diinginkan, Amartha lantas memilih buah mangga yang kira-kira masih belum terlalu matang, biar ada asem-asemnya gitu. Dan bukan cuma melon dan mangga, wanita itu juga mengambil buah nanas.


"Kamu ambil susu sebanyak ini buat apa, Mas?" kening Amartha berkerut saat melihat 2 lusin susu kaleng ningkring di troleynya.


"Nggak tau, sekarang suka minta Firlan cari susu," ucap Satya santai, namun mendapat tatapan menyelidik dari istrinya.


"Susu kaleng, Yank ... susu kaleng, susu steril kayak gini nih..." Satya segera memperjelas ucapannya agar tidak terdengar ambigun


"Yank, kayaknya itu Aaraf, deh! ngapain tuh orang disini?" ucap Satya pada istrinya yang melihat ke arah yang pria itu tunjuk.


"Ya mau belanja lah, masa mau nyangkul? gimana sih, Mas?" sahut Amartha.


"Raaf! hey!" Satya melambaikan tangan pada Aaraf.


"Lagi belanja juga?" ucap Aaraf yang mendorong troleynya.


"Iya biasa stock bulanan, eh ... bukannya kamu tinggal di hotel? kok belanja bahan mentah?" tanya Satya yang menunjuk barang belanjaan Aaraf.


"Oh, aku udah ngambil apartemen disekitar sini, jadi ya sering masak sendiri, bosen juga kalau makan makanan dari luar," jawab Aaraf dengan melempar senyum pada istri temannya, membuat Amartha sedikit kurang nyaman dengan senyum yang diberikan pria itu.


"Ya udah kebetulan kita ketemu disini, kita makan bareng di rumahku, aku undang kamu untuk makan siang," kata Satya yang langsung memandang Amartha meminta persetujuan.


"Iya, bwoleh," Amartha mengangguk sebagai tanda bahwa ia setuju dengan apa yang Satya ucapkan.


"Dengan senang hati," kata Aaraf yang kemudian melihat ke arah Anartha yang sepertinya sedikit gugup.

__ADS_1


Sesampaimya di unit apartemen, Satya dan Amartha membuka pintu, Aaraf tak sekalipun memalingkan pandangannya dari wanita cantik yang ada di depannya.


"Kalian duduklah, biar aku yang buatkan makan siang untuk kita bertiga, dimana dapurnya? " kata Aaraf tanpa nasa basi.


"Ada disana," Satya menunjuk salah satu sudut rumahnya, menampilkan kitchen set berwarna putih dengan lantai parket berwarna coklat tua, memberibkesan hangat.


"Ya udah aku ganti baju dulu, tinggal dulu ya , Raaf!" kata Satya yang memberi kode pada istrinya kalau dia bisa mengambil pakaiannya sendiri


"Oke, oke santai aja," jawab Aarafbyang mulai berjalan ke arah dapur.


"Kakak duduk aja, biar aku yang masak," ucap Amartha merasa canggung. Entah menfapa dia tidak nyaman dengan tatapan Aaraf padanya, terkanga tatapan itu seperti tatapan yang dalam, tapi jika ada suaminya Aaraf menatapnya biasa saja.


"Nggak apa-apa cantik, kamu bantu kupas-kupas aja kalau mau," kata Aaraf yang membuat Amartha menjaga jarak dengan pria itu. Dia sibuk mengeluarkan belanjaan yang telah dibelinya dengan Satya.


"Kalian sukanya western atau indonesian food?" tanya Aaraf saat melihat bahan-bahan makanan yang tersedia.


"Apa ajah..." jawab Anartha singkat.


Aaraf mulai dengan mengiris tipis-tipis daging, sedangkan Amartha membantu mengupas jahet, bawang putih. Berdekatan dengan wanita ini membuat sensasi yang berbeda. Wangi parfum yang dipakai Amartha begitu soft membuat Aaraf ingin sekali mendekap tubuh itu. Amartha yang menyadari dirinya terlalu dekat dengan teman suaminya itu bergeser menjauh, pura-pura mengambil sesuatu di kulkas misalnya.


"Kamu!" celetuk Aaraf dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ehm, maksudku kamu bisa kupas bawang bombay dan juga iris sekalian," Aaraf segera meralat ucapannya ketika melihat wajah Anartha yang terlihat kurang nyaman dengannya.


Aaraf kini beralih membuat bumbu dan marinasi daging, dan menaruh daging dalam kulkas, namun Amartha belum juga menyelesaikan irisan bawang bombay, ternyata wanita itu mengiris sambil menangis.


"Hey, kamu nangis?" Aaraf bertanya sambil mendekati wanita yang menjadi istri temannya itu.


"Nggak," sahut Amartha cepat, dia tidak mau Aaraf menghampirinya.


"Cuma perih ngiris ini," ucap Amartha sambil menunjukkan bawang bombay ditangannya.


"Sini biar aku..." ucap Aaraf yang akan menyentuh Amartha namun Satya cepat datang dan menghampiri istrinya yang sudah banjir air mata

__ADS_1


"Sayang? kenapa? hem?" Satya menangkup wajah istrinya.


"Nggak apa-apa Mas, cuma bawangnya bikin perih mata," jawab Amartha yang akan mengucek matanya dengan tangan.


"Jangan! sini, biar aku tiupin," ucap Satya yang mencekal tangan Amartha yang akan mengucek matanya.


"Udah? sekarang mending kamu cuci tangan dan tunggu kita, biar aku yang bantuin Aaraf," ucap Satya setelah meniup mata istrinya, agar rasa pedih dimatanya sedikir berkurang.


"Betul kata suamimu ini, kalian bikin iri, ya?" ucap Aaraf.


"Makanya cepetan nikah," celetuk Satya.


"Nanti, kalau udah ada calonnya," sahut Aaraf lalu tersenyum.


Amartha memilih untuk memotong buah sebagai pencuci mulut mereka, daripada harus duduk-duduk santai.


Beef teriyaki sudah siap dengan beberapa makanan lain seperti jamur enoki yang digoreng crispy dan saute baby kailan.


"Wah, jago masak juga kamu, Raaf! ini enak banget loh, sumpah!" Satya memuji masakan Aaraf yang memang enak.


"Syukurlah kalau kalian suka, nanti kapan-kapan mampirlah ke rumahku, biar aku bikinin steak wagyu," ucap Aaraf sambil mencuri pandang pada Amartha.


"Boleh juga, tuh! nanti kapan-kapan gantian kami yang main ke rumahmu, iya kan, Sayang?" ucap Satya sambil menggenggam tangan istrinya diatas meja. Aaraf melihatnya biasa saja, mencoba untuk tersenyum pada temannya itu.


"I-iya, Mas..." jawab Amartha dengan senyum canggungnya.


Mereka menikmati makan siang bersama. Namun, Amartha tidak nyaman karena terus ditatap Aaraf. Dan dengan atau tanpa disengaja, kaki Aaraf menyenggol kaki wanita yang duduk disamping suaminya, Amartha mendongakkan wajahnya yang semula menunduk mencoba fokus dengan makananya.


Aaraf tersenyum dengan mengangkat gelas yang berisi air putih, Amartha benar-benar tidak ingin pria itu berlama-lama bertamu di rumahnya.


"Maaf Satya, tapi ini sungguh menarik," ucap Aaraf dalam hatinya.


Sementara Amartha berusaha menggeser tempat duduknya mendekat ke arah suaminya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2