
"Halo, ada apa?" ucap Kenan pada orang itu.
"Ken, Sinta dari kemarin nyariin lo," ucap Refan.
"Gue sibuk," sahut Kenan singkat.
"Seenggaknya, lo telfon dia, Ken..." Refan mencoba membujuk Kenan untuk menghubungi adiknya, Sinta.
"Bisa nggak sih lo ngerti sedikit perasaan gue, Fan?!" ucap Kenan dengan suara meninggi.
"Gue baru pisah sama Amartha, hati gue lagi nggak baik-baik aja, please ini bukan hanya tentang hidup adik lo aja!" lanjut Kenan dengan amarah yang memuncak.
"Iya tapi-" belum sempat Refan menjawab, Kenan sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Tuuut... tuuuut...tuuuut...
"Shiiiiiit!" Kenan meletakkan ponselnya diatas meja, dan mengusap wajahnya kasar.
Kenan memutuskan sambungan telepon dari Refan. Sahabatnya itu seakan tak peduli dengan perasaannya. Kenan sedang tidak baik-baik saja, dia merelakan kebahagiaannya untuk memberi kebahagiaan untuk orang lain, jelas itu tidak mudah.
Kenan kembali berkutat dengan tumpukan berkas diatas mejanya. Sesekali dia memijit kepalanya, dan menghela nafasnya dengan kasar, semua pekerjaan ini membuatnya gila.
Hari sudah malam, Kenan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah orangtuanya. Kenan menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Setelah 45 menit memacu kendaraannya, akhirnya Kenan sampai juga di kediaman Brawijaya.
"Kamu kenapa baru pulang? darimana saja kamu, Ken?" tanya Berliana saat melihat Kenan baru masuk ke dalam rumah.
"Ibu belum tidur?" Kenan menghentikan langkahnya sesaat dan menatap ibunya.
"Kamu belum jawab pertanyaan ibu," Berliana yang semula duduk kini berdiri, memandang anaknya lekat-lekat.
"Aku capek, Bu! aku mau istirahat," kata Kenan yang kemudian melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Ken, ibu tau kamu marah sama ibu! tapi setidaknya pikirkan kesehatan kamu, Ken!" Berliana meninggikan suaranya, saat anaknya tak menghiraukannya. Kenan menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap ibunya.
"Sudahlah, Bu ... aku sudah menuruti semua permintaan kalian, jadi jangan coba-coba untuk meminta hal lain yang tidak ingin aku lakukan," ucap Kenan dengan penekanan di akhir kalimatnya. Kenan tak mau berdebat dengan Berliana, dia memilih untuk segera pergi ke kamarnya.
Berliana hanya terduduk, memegang kepalanya yang terasa sangat pening. Damar sudah melewati masa kritisnya, dia masih dirawat di rumah sakit, namun Berliana memutuskan pulang. Karena dua hari ini, Kenan tak mengunjungi ayahnya di rumah sakit. Berliana ingin tahu keadaan Kenan, makanya dia memilih untuk pulang sebentar. Namun, sepertinya sang anak sedang memendam kekecewaan yang sangat besar padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
__ADS_1
.
Sementara di tempat lain.
"Kenapa aku pake acara nyosor tadi siang, arrg! Amartha pasti marah sama aku?! bego!" umpat Satya pada dirinya sendiri. Pria itu mondar mandir di kamarnya seperti setrikaan.
Tokk
Tokk
Tokk
"Sat?" Sandra memanggil anaknya di balik pintu.
Satya segera membuka pintunya.
"Makan dulu, yuk? papi udah nunggu di meja makan!" ajak Sandra sesaat setelah pintu kamar anaknya terbuka.
"Iya, Mam!" sahut Satya yang berdiri di ambang pintu.
"Cepet turun ya, jangan kelamaan!" titah sang mami tercinta.
Akhirnya Satya keluar dari kamar, menuruni tangga dan berjalan ke arah ruang makan, disana sudah ada, orangtuanya dan juga Amartha. Terlihat mereka sedang berbincang, entah apa yang mereka bicarakan, namun sesekali terdengar Amartha yang tertawa renyah.
"Ehem," Satya berdehem seraya menarik kursi disamping gadis cantik dengan rambut panjangnya.
"Eh, kamu udah nongol aja Sat!" ucap Sandra yang baru menyadari kehadiran Satya.
"Lagi ngomongin apa sih? seru banget kayaknya!" Satya bertanya pada papinya.
"Itu, Amartha lagi cerita soal motor bututnya di rumah," jawab Abiseka sedangkan Amartha hanya tersenyum canggung.
"Temen kamu ini lucu juga loh, Sat! papi jadi pengen punya motor, bosen juga kemana-mana naik mobil!" kata Abiseka bersemangat.
"Ish Papi?! inget umur, Pih..." Satya berdecak mendengar Abiseka yang ingin membeli motor.
"Papi ini gaya-gayaan mau beli motor, emangnya papi bisa naik motor?" ucap Sandra meremehkan suaminya.
"Mami meragukan papi?" Abiseka menatap Sandra sambil menepuk dadanya.
"Nanti kita beli ya, Mam? nanti papi ajak mami keliling kota naik moge, itung-itung mengenang masa pacaran dulu," ucap Abiseka sambil berbicara genit pada Sandra.
__ADS_1
Satya hanya menepuk jidatnya, dia tidak menyangka orangtuanya akan bersikap seperti ABG di depan orang lain, Amartha hanya terkekeh melihat ke uwuan kedua pasangan yang tak muda lagi itu.
"Ih, Papih bisa aja, mami jadi malu, Pih..." Sandra malu mendengar perkataan suaminya.
Abiseka yang terkenal dingin saat di kantor menjadi seseorang yang lain ketika di rumah. Pria paruh baya itu bisa tertawa lepas, kehangatannya hanya ditujukan untuk keluarganya, sedangkan di dunia bisnis jangan di tanya, dia sangat dingin dan handal dalam menyingkirkan para pesaing yang ingin menjatuhkan perusahaannya.
Acara makan malam pun menjadi sangat menyenangkan, ternyata Amartha disambut baik oleh kedua orangtua Satya. Padahal Amartha tipikal orang yang susah bergaul, tapi kehangatan di rumah Satya membuat hatinya yang dingin pun mulai menghangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Amartha akan kembali ke kota S, rencana Satya mengantar Amartha pun gagal karena Firlan mengatakan kalau ada rapat penting di perusahaan siang nanti. Rencananya, Satya akan mengantar Amartha sampai di kota S. Namun sayang seribu sayang, rencana itu gagal karena Firlan. Sungguh Satya sangat ingin memberi bogem mentah pada Firlan, Satya benar-benar kesal dibuatnya.
Setelah berpamitan dengan Sandra dan Abiseka, Amartha pun pergi menuju bandara diantar oleh Satya. Satya tak memakai jasa supir, dia ingin menyetir sendiri agar lebih leluasa berbicara dengan Amartha.
"Ehem, Amartha?" Satya menoleh sekilas pada Amartha, sembari tetap fokus pada kemudinya.
"Ya?" sahut Amartha.
"Soal kejadian kemarin-" Satya memberanikan diri membahas adegan yang tak seharusnya dia lakukan kemarin.
"Lupain aja, Mas!" ucap Amartha tiba-tiba seraya tersenyum tipis.
"Aku minta maaf..." ucap Satya penuh penyesalan.
Suasana di mobil pun sangat canggung, Amartha hanya memandang ke arah luar jendela. Dia akan melanjutkan kehidupannya, dan mulai melupakan setiap memori tentang Kenan.
Mobil Satya akhirnya sampai juga di Bandara, Satya memarkirkan mobilnya dan segera mengantar Amartha untuk segera check in.
"Hati-hati, ya?" ucap Satya seraya membawa Amartha ke dalam pelukannya.
"Iya, Mas ... makasih untuk semuanya," ucap Amartha dengan tulus.
"Aku harap setelah ini, kamu akan selalu bahagia," kata Satya yang mengusap rambut Amartha perlahan, menghirup aroma shampoo rasa vanila yang digunakan Amartha saat mandi pagi tadi.
"Aku mencintaimu..." ucap Satya yang membuat Amartha menjarak tubuh mereka berdua.
"Mas?" Amartha menatap Satya dengan tatapan sendu.
"Pergilah ... pesawatmu akan segera berangkat," kata Satya mengalihkan pembicaraan.
"Aku pamit..." ucap Amartha dengan senyum tipis lalu berjalan memunggungi Satya, Amartha segera melangkahkan kakinya untuk check in, ia menoleh sekilas melihat Satya yang melambaikan tangan padanya, lalu gadis itu melanjutkan langkahnya menuju pesawat yang beberapa saat lagi akan berangkat.
__ADS_1
Aku akan terus menjagamu, aku akan memastikan kau aman dan tak seorang pun boleh menyakitimu.
...----------------...