Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Ini Bukan Lelucon


__ADS_3

Firlan pun segera menghubungi nomor Vira.


"Halo? nyonya Amartha lagi sama kamu, Vira?" tanpa basa-basi Firlan mencecar Vira dengan pertanyaan.


"Telfon hanya untuk nanyain itu?" sindir Vira. Vira pikir itu hanya pancingan Firlan agar Vira mau berbicara padanya.


"Nyonya Amartha lagi sama kamu atau nggak? jawab aku, Vira!" Firlan bertanya dengan nada kesal.


"Nggak ada," sahut Vira.


"Bicaralah jujur, atau aku akan menyeretmu dari apartemen Ricko!" ucap Firlan hilang kendali.


"Beginikah caramu bicara dengan kekasihmu?" sindir Vira.


"Aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya. Silakan kalau anda ingin mencariku disana, aku tidak pe-du-li," lanjut Vira yang membuat Firlan semakin jengkel. Firlan yakin kalau Amartha bersama dengan wanita yang masih menjadi kekasihnya itu. Vira segera menutup telepon Firlan secara sepihak.


"Astaga, gadis itu semakin membuatku gila!" gumam Firlan yang menyadari Vira telah memutuskan sambungan teleponnya.


Firlan menyimpan ponselnya ke dalam saku. Ia berniat untuk mengecek di apartemen Ricko. Hari sudah mulai sore, Firlan segera bergegas menuju tempat tujuannya.


Sementara Satya, pria itu mendatangi kantor Carlo. Rahang tegas dan mata yang memancarkan aura dingin membuat siapapun tak berani menyapanya. Satya berjalan dengan langkah terburu-buru.


"Saya Satya ingin bertemu dengan tuan Carlo," ucap Satya pada sekretaris Carlo


"Baik, tunggu sebentar..." ucap wanita yang menjadi sekretaris pria yang sedang dicari Satya. Wanita itu menelepon bosnya, mengataka jika ada seseorang yang ingin bertemu.


"Silakan masuk, Tuan. Tuan Carlo sudah menungu anda," ucap wanita itu sopan, ia membukakan pintu untuk pria bertubuh tegap itu.


"Terima kasih," kata Satya.


"Tumben kau ingin bertemu denganku, apakah ada sesuatu yang sangat penting?" Carlo beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Satya yang sudah tak bisa lagi menahan amarahnya.


"Carlo Jester Brooks! ternyata kau mencoba menjebakku. Katakan jika kau sengaja berkomplot dengan Ivanka untuk menjebakku! cepat katakan!" Satya mencengkram jas milik Carlo.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan! take your hands off! kau membuat jasku kusut!" ucap Carlo seraya melepaskan cengkraman tangan Satya.


"Jangan pura-pura bodoh Tuan Brooks!" Satya memandang Carlo dengan tatapan mematikan.


"Demi apapun aku tidak mengerti ucapanmu. Berkomplot dengan Ivanka? mana mungkin aku melakukan itu," kata Carlo. Satya pun melepaskan cengkramannya.


"Jika kau tidak melakukan itu mana mungkin foto-foto ini sampai ke tangan istriku!" ucap Satya sambil melemparkan beberapa foto ke atas meja.


Carlo meraih salah satu foto, dan melihat beberapa fotobyang lain. Satu sudutnya terangkat.

__ADS_1


"Hahahaha, berarti actingmu sangat natural tuan Satya Ganendra!" kata Carlo sambil tertawa.


"Heh, ini bukan lelucon!" Satya memandang Carlo dengan sangat kesal.


"Astaga, wanita ini ternyata bergerak dengan cepat, aku semakin tertantang untuk menaklukannya!" gumam Carlo seraya duduk di sofa single di ruangan itu.


"Duduklah, atau kakimu akan pegal jika terus berdiri seperti itu," lanjut Carlo.


Satya dengan malas menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang berhadapan dengan lawan bicaranya.


"Coba kau pikir, mana mungkin aku mempertaruhkan 50% sahamku sebagai jaminan. Kita sudah melakukan kesepakatan, dan untuk mengatasi Ivanka kita harus mempunyai cara," jelas Carlo dengan santai.


"Tapi rumah tanggaku jadi taruhannya, sekarang istriku pergi meninggalkan rumah! dan semua ini gara-gara ide gilamu itu," ucap Satya menggebu-gebu.


"Hahahahhaa, sepertinya kau sangat mencintai istrimu itu," kata Carlo.


"Seseorang telah meneror istriku dengan mengirim video dan foto-foto sialan itu!" ucap Satya seraya bangkit dari duduknya.


"Aku tidak akan tinggal diam jika terbukti kau ikut andil dalam kekacauan ini," lanjut Satya, pria itu berjalan menuju pintu keluar.


"Hey, kau mau kemana?" Carlo setengah berteriak. Satya tak menggubrisnya, dia membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.


"Oh, My! dia seperti sedang kerasukan!" gumam Carlo yang melihat Satya keluar dengan membanting pintu ruangannya.


.


.


Sementara, Firlan sudah sampai di apartemen Ricko. Dia memencet bel menunggu pintu dibuka.


"Firlan?" Ricko mengerutkan keningnya saat dihadapannya berdiri seorang pria yang sudah lama tak pernah ia lihat.


"Masuk," ucap Ricko seraya berjalan masuk, Firlan pun mengikuti pria itu dari belakang.


"Duduk dulu, Lan..." ucap Ricko mempersilakan tamunya untuk duduk.


"Tidak perlu. Aku tidak punya banyak waktu," jawab Firlan.


"Aku ingin mengajak Vira keluar, jadi tolong panggilkan dia," kata Firlan dingin.


"Vira? tapi dia sudah pindah dari sini," kata Ricko yang membuat Firlan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan pria itu.


"Pindah?" Firlan menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Iya pindah. Kalau orangtuanya masih ada disini, tapi kalau Vira dia sudah beberapa hari yang lalu pindah ke kontrakannya yang baru," jelas Ricko.


"Kamu nggak tau kalau Vira udah nggak tinggal disini? apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Ricko, namun Firlan tidak suka dengan pertanyaan Ricko yang terkesan mengorek hubungannya dengan Vira.


"Bukan urusanmu!" jawab Firlan.


"Kau tau dimana sekarang dia tinggal?" tanya Firlan. Ricko menggelengkan kepalanya, tingkah Firlan sungguh seperti anak kecil.


"Sebentar, aku akan mengambil ponselku. Sepertinya aku pernah mencatatnya," ucap Ricko seraya pergi ke kamarnya.


"Tunggu dan duduklah disana," ucap Ricko menunjuk deretan sofa.


Firlan pun melangkah menuju sofa dan mendudukkan dirinya.


"Keterlaluan banget kamu, Vira! kamu pergi tapi nggak ngasih tau aku, kamu emang udah nggak nganggep aku sebagai pacar kamu," gumam Firlan.


Tak lama Ricko datang dengan ponsel di tangannya. Pria itu duduk dan mengetik sesuatu oada benda pipih di tangannya.


"Itu alamatnya, sudah aku kirim," ucap Ricko seraya menunjukkan layar ponselnya.


"Terima kasih," ucap Firlan.


"Selesaikan masalah kalian baik-baik, aku harap kamu lebih sabar menghadapi Vira," kata Ricko pada Firlan.


"Aku pergi," Firlan tak menanggapi ucapan Ricko, dia memilih untuk pergi menuju alamat yang diberikan oleh Ricko.


Dalam perjalanannya, Firlan berpikir. Mengapa Vira tak mengatakan apapun padanya mengenai rencana kepindahannya dari apartemen Ricko.


"Kenapa kamu selalu membuatku seperti orang bodoh saja, Vira! kali ini kamu sudah sangat keterlaluan," kata Firlan bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ketika ia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, ponselnya berdering menampilkan nama bosnya.


"Ya, halo..." ucap Firlan seraya memasang earpods miliknya.


"Kata Vira, Nyonya tidak bersamanya saat ini. Tapi saya akan memastikannya langsung ke kosannya, nanti saya kabari lagi setelah saya sudah bertemu dengan Vira," ujar Firlan.


Panggilan pun terputus, Firlan memusatkan konsentrasinya membelah jalan raya yang padat merayap. Pria itu terus saja memikirkan wanita yang masih berstatus kekasihnya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Firlan sampai di sebuah rumah kontrakan sederhana.


Firlan keluar dari mobilnya dan melangkah menuju area rumah itu. Saat Firlan akan mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Seorang wanita terkejut saat melihat sosok pria yang sangat tidak ingin ditemuinya. Wanita itu langsung menutup pintu, namun dengan segera tangan pria itu menahannya.


"Tunggu! aku mau ngomong sama kamu," ucap pria itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2