
"Oh, itu..." ucap Sinta sambil melirik undangan yang ada di meja. Sinta menyeruput minumannya.
"Kok oh doang, sih?" Fendy mengerutkan keningnya.
"Ya terus? harus jingkrak-jingkrak gitu?" kata Sinta menyudahi minumannya.
"Ya nggak gitu juga ... Om udah tau soal ini, eh maksudku papa kamu sudah tau soal ini? bukannya harusnya tahun depan kamu lulusnya?" kata Fendy.
"Ya kan otakku emang encer, nggak bebel!" kata Sinta.
"Masa?" kata Fendy meremehkan.
"Ih, rese!" kata Sinta.
"Iya deh calon istriku emang pinter," puji Fendy.
"Papa kamu udah tau? dia pasti bangga sama kamu," lanjut Fendy.
"Belum tau, lagian kak Refan lebih butuh papa disana. Lagian itu acara mindahin tali toga doang, nggak ada yang spesial," kata Sinta menyembunyikan perasaannya.
"Tapi kan ini salah satu pencapaian hidup kamu, orangtua kamu berhak tau. Di tengah tekanan pekerjaan kamu bisa menyelesaikan ini kan sesuatu yang luar biasa, dan sudah berbulan-bulan kamu nggak ketemu sama mereka," kata Fendy nyerocos bae.
"Kok kamu hafal sedetail itu?" Sinta mengerutkan keningnya.
"Ya kan aku calon suami kamu, aku harus tau dong semua tentang calon istriku ini," kata Fendy berkilah.
"Kamu harus dateng ke acara ini, aku nggak mau tau! tenang aja, kamu nggak akan sendirian karena aku akan nemenin kamu,"
"Sekarang kita cari gaun atau apalah itu," kata Fendy.
"Aku bayar dulu, kamu tunggu disini," kata Fendy menyuruh Sinta untuk tetap duduk. Fendy segera bangkit dan menuju meja kasir. Sambil matanya terus melirik ke arah Sinta, memastikan wanita itu masih di tempatnya.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Fendy segera mengajak Sinta keluar dari mall.
"Tapi aku bawa mobil sendiri," kata Sinta yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Fendy segera merogoh sakunya.
"Cepat kesini," kata Fendy menelepon seseorang.
Nampak seorang pria berjas hitam datang menghampiri mereka, dan menunduk hormat pada Fendy.
"Bawa! nanti aku kabarin lagi," kata Fendy seraya menyerahkan kunci mobilnya. Fendy mengajak Sinta menuju parkiran.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Sinta ambigu.
"Yang tadi..." lanjut Sinta.
"Pengawal," kata Fendy.
"Sok yes banget pakai pengawal segala," kata Sinta sinis.
"Iya lah, sebagai pengusaha kita harus waspada, ya kali ada musuh tiba-tiba nongol kan berabe," kata Fendy seraya meminta kunci mobil Sinta saat mereka sudah berada di dekat kendaraan wanita itu.
"Siapa juga musuh yang bakalan nongol di depan kamu? kamu nggak sehebat itu," kata Sinta setelah berada di dalam mobil.
"Kan aku bilang misal! bagaimanapun kita harus waspada, orang bisa saja berbuat jahat..." kata Fendy. Sinta terdiam.
"Kenapa? kamu tersinggung? masa lalu, nggak usah diinget-inget lagi, cukup jadi bahan pelajaran kamu supaya jangan terlalu berambisi terhadap sesuatu," kata Fendy. Ia pun melajukan mobil Sinta krluar dari area pusat perbelanjaan itu. Fendy melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang, sementara Sinta masih terdiam menatap ke depan.
"Nggak usah dipikirin, yang penting sekarang kamu udah berubah," kata Fendy.
Fendy sesekali melirik Sinta, ia akan mengsjak Sinta membeli sesuatu yang akan dipakai wanita itu di hari wisudanya. Padahal Sinta sudah bilang kalau dia tidak berniat untuk datang.
Sementara di tempat lain, Amartha sudah bangun dari tidur siangnya. Hari sudah semakin sore, wanita itu beringsut secara perlahan. Ia tak melihat suaminya. Amartha memilih untuk mandi, paling tidak itu bisa menyegarkan tubuhnya saat ini.
Setelah beberapa saat berendam di air hangat, bermain dengan busa. Amartha keluar dengan bathrobe.
Wanita itu mengeringkan rambut panjangnya dengan hair dryer, karena Satya akan mengomel seperti ibu-ibu komplek kalau melihat rambutnya basah setelah mandi. Menurut Amartha dia tidak selemah itu, yang kalau rambut basah sedikit saja bisa masuk angin. Tapi, wanita itu memilih untuk menuruti ucapan suaminya. Amartha melihat pantulan dirinya yang kini sedang menyisir rambutnya perlahan. Ia bergegas untuk memakai dress khusus ibu hamil dengan bahan yang super adem.
Amartha keluat kamar mencari sosok suaminya. Amartha yang memang masih asing dengan rumah ini pun perlahan menyusuri bangunan satu lantai namun sangat luas. Sayup-sayup Amartha mendengar suara orang mengobrol. Ia mendekat ke arah sumber suara itu. Dan ternyata Satya, dan Rudy sedang duduk bersantai di halaman belakang yang khusus di bangun sebuah kebun kecil yang terdapat sayuran hijau, tomat, cabai, sampai kemangi pun ada. Sedangkan Rosa sedang memberi sentuhan air pada tanamannya.
"Aku cariin ternyata ada disini," ucap Amartha membuat mereka bertiga menoleh pada wanita cantik itu.
"Eh, udah bangun, Yank..." kata Satya.
"Sini, duduk disini ... tadi kamu tidur pules banget, nggak tega juga aku bangunin," kata Satya. Amartha duduk di samping suaminya, melihat kebun kecil dan taman yang sangat asri.
"Kebunnya Mamah keren, ya?" kaya Satya yang melihat Rosa sedang menyirami tanamannya sendiri.
"Mamah emang dari suka menanam, terutama sayur-sayuran..." jelas Amartha.
"Papah kalau liat taneman lagi disiram begini, hati jadi ikutan sejuk," ucap Rudy tersenyum pada Rosa. Rosa lebih senang menyiram tanamannya sendiri, bagi Rosa kegiatan seperti ini bisa membuang kepenatan.
"Tomatnya seger-seger banget ya, Mah..." kata Amartha.
__ADS_1
"Iya, karena mama rawat setiap hari," kata Rosa.
Taman dan kebun mini yang membuat mata dimanjakan dengan rumput hijau dan air yang mengalir dari bebatuan menimbulkam suasana yang sangat menenangkan jiwa.
"Ini minum punya kamu, Mas?" tanya Amartha, ia menunjuk sebuah gelas berwarna merah.
"Iya, itu punya aku..." ucap Satya.
"Jus semangka, ya?" tanya Amartha.
"Iya, cobain deh ... seger banget," kata Satya.
"Biasanya ngopi," ucap Amartha sebelum menyeruput jus.
"Papah yang menyuruh Satya membatasi konsumsi kopi, lebih baik perbanyak minum sari buah tanpa gula..." jelas Rudy.
"Iya memang, Mas Satya terlalu sering minum kopi " ucap Amartha.
"Mulai sekarang kamu kurangi minum kopinya, Sayang..." kata Amartha yang beralih pada Satya.
"Siap, Boss!" ucap Satya.
Rosa menyudahi menyiram tanamannya, karena kalau terlalu banyak air juga tidak baik untuk tanamannya, semuanya harus pas.
"Minum dulu tehnya, Mah..." kata Rudy.
"Iya, Pah..." kata Rosa setelah mencuci tangannya lalu ia duduk di samping Rudy dan mulai menyeruput teh yang membuatnya terasa hangat.
"Mamah seneng loh, kalian bisa liburan ke sini, jadi kami nggak kesepian..." kata Rosa.
"Maafin Amartha ya, Mah..." kata Amartha menyesal.
"Hahaha, kamu ini! kok minta maaf, sih? oh, ya jangan lupa sering jalan pagi, biar nanti persalinannya mudah," kata Rosa.
"Iya, Mah ... besok rencananya lepas subuh aku pengen jalan-jalan pagi, kangen juga sama suasana disini," kata Amartha.
"Sama siapa?" celetuk Satya.
"Sama kamu lah, Mas! sama siapa lagi, coba? menyebalkan..." kata Amartha, lalu semua orang tertawa.
Ternyata sesederhana itu untuk merasakan bahagia, terkadang kita sendiri yang mematok standar kebahagiaan terlalu tinggi. Dan kita lupa untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki.
__ADS_1
...----------------...