
Amartha yang mendengar ucapan Kenan lantas menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kenan dengan tajam.
"Penjelasan apa lagi?" ucap Amartha
"Aku..." Kenan tak bisa meneruskan ucapannya.
"Maaf, Mas ... Aku nggak akan ngelarang kamu untuk menikah dengan Sinta! tapi setidaknya, ceraikan aku, dulu!" ucap Amartha dengan tatapan menusuknya.
"Nggak, aku nggak mau!" tolak Kenan sembari mendekat dan memegang kedua bahu Amartha.
"Aku cinta sama kamu!" ucap Kenan penuh penekanan.
"Cinta kamu bilang? cinta seperti apa yang kamu maksud, hah? kamu meninggalkan aku di kota itu sendirian, Mas!" kata Amartha yang kini melepaskan Kenan yang sedang menggengam tangannya.
"Ken ... siapa dia, Ken? apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" Berliana yang sedari tadi duduk, kemudian berdiri dan menghampiri mereka .
"Dia istri Kenan, Bu..." ucap Kenan sembari menggenggam tangan Amartha.
"Istri? lalu bagaimana dengan-" Berliana memandang keduanya bergantian.
Sebenarnya Berliana pun tidak tahu siapa Amartha yang dimaksud Kenan, yang menjadi syarat ketika Kenan menyetujui akan menikah dengan Sinta, asalkan Amartha tidak mengetahuinya. Berliana shock mendengar Kenan sudah mempunyai istri.
Apakah ini yang menjadikan suaminya serangan jantung? Berliana menatap Amartha yang kini sudah berlinangan air mata. Ketika berliana akan mendekati Amartha tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan Sinta yang tiba-tiba bangun dan menarik selang infus yang menancap di punggung tangannya. Darah segar mengalir dari punggung tangan gadis itu menetes diatas sprei putih yang membungkus tempat tidurnya.
SREEEEET....
"JIKA AKU TAK BISA MEMILIKIMU LEBIH BAIK AKU-" teriak Sinta yang dia dengan segera meraih pisau buah yang ada di dekatnya.
"Sintaaaaaaaa! jangan, Sayang!" teriak kamila, ketakutan melihat anaknya sudah memegang pisau itu dan mengarahkan pada pergelangan tangannya.
"Sinta! jangan, Nak!" ucap Berliana yang membalikkan tubuhnya ketika mendengar kamila berteriak.
"Sin, kakak mohon, letakkan pisau itu..." Refan yang berdiri agak jauh dari ranjang Sinta pun mencoba mendekat.
"JANGAN MENDEKAT!" Sinta memegang pisau itu dengan gemetar dengan air mata yang terus saja mengalir ke pipinya.
Amartha melepaskan genggaman tangan Kenan dan mencoba mendekat pada Sinta.
"Sinta..." Amartha memanggil Sinta dengan lembut.
"Aku bilang jangan mendekat!" Sinta kembali berteriak pada Amartha yang kini menghentikan langkahnya.
"Sinta ... ini aku Sin, Amartha ... sahabat kamu!" Amartha mencoba membujuk Sinta agar tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya.
"Hahahahahaha, sahabat? kamu bilang sahabat?" Sinta tertawa seakan dia mendengar lelucon yang sangat menggelikan.
__ADS_1
Amartha pun bingung dengan Sinta yang menertawakan dirinya. Dia baru kali ini melihat sisi lain dari Sinta. Sinta yang dulu ia kenal adalah gadis yang pintar dan ceria, membuat siapapun terpikat oleh kecantikannya.
Namun kali ini, dia melihat Sinta yang sangat rapuh. Apakah sebesar itu rasa cintanya pada Kenan? tapi sejak kapan? Seandainya Amartha mengetahui itu sejak awal, mungkin dia tidak akan mengijinkan Kenan untuk mengenalnya dan masuk ke dalam kehidupannya.
Amartha yang akan melangkahkan kakinya dicekal oleh Satya yang berdiri di belakangnya.
"Jangan!" ucap pria itu yang menangkap sinyal tidak baik jika Amartha terus melanjutkan langkahnya.
Kenan yang melihat Satya memegang tangan istrinya pun segera menepis tangan pria itu. Namun, Satya tetap memegang tangan Amartha, dia tidak mau gadis itu bertindak ceroboh. Kenan pun melayangkan tatapan tajam ke arah Satya. Sepertinya, dia lupa siapa yang membantunya untuk menikah dengan Amartha.
Please, ini bukan waktunya kalian adu mata!
Amartha mengabaikan adu mata antara Satya dan Kenan, dia hanya fokus dengan Sinta.
"Sinta, kita bisa bicarakan ini baik-baik," Amartha mencoba untuk bicara dengan Sinta.
"Bicara baik-baik? sedangkan kamu sudah merebut dia dari aku! tidak ada yang perlu kita bicarakan! aku sudah muak melihat wajahmu itu!" kata Sinta menatap Amartha dengan tatapannya yang tajam.
"Tapi, kamu tidak pernah bilang kalau kamu sebenarnya suka sama Kenan," Amartha menatap Sinta dengan penuh iba.
"Dia mendekatiku hanya untuk mendapatkan informasi tentang kamu, gadis bayangan! dia mengabaikan aku hanya untuk gadis bodoh sepertimu!"
Gadis bayangan, maksudnya dia apa sih? please Amartha jangan lola, ini bukan saatnya!
"Aku menyukainya jauh sebelum kamu kenal dengan dia!" ucap Sinta dengan deraian airmata. Amartha hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sinta.
.
.
FLASH BACK
"Biar Sinta aja yang buka, Bi!" ucap Sinta ketika melihat bik Sumi berlari dari arah dapur menuju ruang tamu. Sinta yang saat itu baru pulang sekolah, masih memakai seragam putih biru tuanya pun menawarkan diri untuk membukakan pintu.
"Baik, Non!" kata bik Sumi yang kembali ke dapur.
Sinta segera membuka pintu, dan melihat seorang lelaki tampan memakai seragam putih abu-abu dengan tas punggung berwarna hitam.
"Cari siapa, ya?" tanya Sinta gugup.
"Aku Kenan teman sekelasnya Refan, Refannya ada, Dek?" tanya Kenan dengan senyum memikatnya.
"Hah?" Sinta yang terpana dengan wajah tampan Kenan pun hanya bisa 'hah hoh' menjawab pertanyaan lelaki tampan itu.
"Dek? Refannya ada dirumah nggak?" Kenan mengulang pertanyaannya, menyadarkan gadis kecil didepannya yang sepertinya pikirannya lagi travelling entah kemana.
__ADS_1
"Eh, iya iya, a-ada di-diatas," ucap Sinta gugup.
"Kamu ngomong sama siapa, Sin?" tanya Refan yang kebetulan sedang berjalan menuruni tangga berniat ke arah dapur untuk mengambil minuman dingin
"Fan?!" teriak Kenan yang mendengar suara Refan.
"Eh, udah dateng? ayo masuk!" kata Refan mempersilakan Kenan untuk masuk. Sinta dengan canggung menggeser tubuhnya ke samping, memberi jalan pada Kenan untuk masuk.
"Kirain lo nggak jadi kesini!" ucap Refan saat Kenan berjalan mendekat ke arahnya. Mereka berdua pun melangkahkan kakinya menuju kamar Refan di lantai 2, dengan diiringi tawa renyah dari keduanya.
Kemudian Sinta menutup pintu dan segera melenggang menuju kamarnya yang juga berada di lantai 2.
FLASH BACK OFF
.
.
"Tapi, saat kamu pacaran sama Fendy," Amartha merutuki kebodohannya karena dia tidak bisa mengerem pertanyaan yang mungkin bisa memancing amarah Sinta.
"Fendy? hahahahah, dia cuma pacar pura-pura!" ucapan Sinta sukses membuat Amartha mengerutkan keningnya.
Pacar pura-pura? Nggak ngerti lagi, sumpah!
"Maafin aku, Sin ... aku, aku nggak bermaksud" ucap Amartha yang kemudian melepaskan tangan Satya dan memilih untuk berjalan perlahan mendekati Sinta. Satya yang menyadari itu lantas mengikuti Amartha, dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Amartha.
"Maaf maaf maaf! aku nggak butuh maaf! aku hanya butuh Kenan!" Sinta kembali berteriak.
Tanpa sadar, Amartha sudah berada sangat dengan Sinta.
"Ken, gue mohon, Ken..." ucap Refan pada Kenan, sahabatnya saat melihat Sinta kembali berteriak.
"Refan, gue ga cinta sama Sinta, please lo ngerti!" ucap Kenan pada Refan yang memaksanya untuk menikah dengan Sinta.
"Tapi hidup adik gue..." ucap Refan.
"Lalu bagaimana dengan hidup Amartha?" Kenan membalik perkataan Refan dan menghunuskan tatapan tajam pada Refan.
Mendengar perkataan Kenan, Sinta menjadi gelap mata dan dengan gerakan yang sangat cepat, ia mengarahkan pisau pada tangannya.
"Sintaaaaaaaa!" Semua orang berteriak tanpa terkecuali.
...----------------...
Haduh gaes semakin bikin puyeng ya? apa yang terjadi ya setelah ini?
__ADS_1
🍁BTW Sinta kagak boleh dicontoh yah...Nggak boleh ya! self injured itu dosaaa!🍁
eh, jangan lupa setelah baca tinggalkan jejak like dan komen ya...kalau suka favoritin juga boleh, nyumbang vote sebiji seminggu jg boleh...🤣🤣🤣🤣