Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Nggak Apa-Apa, Pergi Aja...


__ADS_3

"Makan," ucap Firlan datar.


Tanpa bicara Vira mengambil piring yang ada di tangan pria itu. Tapi Firlan dengan sengaja menjauhkannya dari jangkauan Vira.


"Buka mulut kamu, ehm, biar aku yang suapi..." kata Firlan.


"Aku bisa sendiri," ucap Vira.


"Kamu itu masih lemah, jadi biar aku aja yang melakukan ini. Kamu tinggal diem dan buka mulut, dikunyah juga jangan lupa," perintah Firlan. Karena sudah kruyukan ditambah capek juga meladeni omongan Firlan, akhirnya Vira menerima suapan dari kekasihnya.


Hening, tak ada yang bersuara. Ruangan pun terasa sangat dingin, sedingin hubungan percintaan mereka. Makanan yang ada dipiring berpindah ke dalam perut Vira, ia menyudahi sarapannya yang sudah sangat telat.


"Kamu di rumah sakit aja, makan nggak teratur ... gimana kalau diluar? kalau kayak gini terus mending kamu-" ucapan Firlan terpotong karena bunyi nada dering dari ponsel yang ada di dalam sakunya.


"Alia?" gumam Firlan. Vira menaikkan safu sudut bibirnya.


Firlan segera menaruh piring diatas meja. Lalu ia segera mengangkat panggilan itu.


"Kenapa, Al?" tanya Firlan, ia beranjak dari duduknya dan berhalan menjauh dari Vira. Wanita itu nampak tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Firlan.


"Ketemu? emang harus sekarang banget?" ucap Firlan sambil melirik Vira yang sedang memainkan ponsel di tangannya, sambil senyum-senyum sendiri.


"Oh, ketemu? sekarang? ehm, oke Al! aku tunggu di tempat biasa," seru Firlan, ia sengaja mengeraskan suaranya berharap mendapat perhatian dari Vira. Pria itu memutuskan sambungan teleponnya, dan menyimpan kembali ponsel ke dalam saku jas.


"Vira, aku..."


"Pergilah," serobot Vira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, dia tersenyum palsu.


"Kamu..." ucap Firlan menggantung.


"Nggak apa-apa, pergi aja..." kata Vira lagi. Reapon Vira diluar dugaan Firlan, ia berharap wanita itu akan cemburu dan menghentikan dirinya.


"Baiklah, nanti sore aku akan kesini. Seperti kata dokter, hari ini sebenarnya kamu udah boleh pulang. Jangan pergi kemana-mana, aku yang akan mengantarmu ke apartemen Ricko," ucap Firlan meskipun dengan susah payah menyebut nama Ricko agar terdengar biasa saja.


"Ya!" jawab Vira.


"Aku pergi," kata Firlan.


Beberapa saat setelah Firlan pergi untuk menemui seorang wanita yang bernama Alia, Vira pun mendapatkan panggilan telepon.


"Halo? Vira, syukurlah nomormu masih bisa dihubungi," ucap seseorang di sebrang sana.


"Ya?"


"Papi, aku mau ngomong! papiiiiii!" rengek seorang gadis kecil terdengar sangat jelas.


"Sebentar, Nona kecil..." ucap pria itu meminta sang gadis untuk bersabar.

__ADS_1


"Vira, ini Gia pengen ngomong..."


"Halo, ini Gia ... Tante masih ingat aku?" tanya Gia.


"Iya, masih ingat ... Tante, Gia..." kata gadis itu ragu-ragu.


"Gia kenapa?" tanya Vira lembut.


"Emh, Gia ... Gia pengen main ke rumah Tante, boleh?"


"Maaf, Vira ... anakku itu..." ucap Gusti tertahan karena sepertinya dia sedang menyuruh anaknya untuk diam sejenak.


"Gia belum selesai, Piiii..." rengek Gia manja pada Gusti.


Vira hanya bisa tertawa, ya dia malah terkekeh mendengar perdebatan antara ayah dan anak itu.


"Gusti, biar aku bicara dengan Gia..." kata Vira, dia sangat gemas dengan gadis kecil berambut panjang itu.


"Baiklah," ucap Gusti lemas.


"Halo, Tanteeee ... ini Gia," kata Gia bersemangat, sekilas terdengar Gia meledek sang papi.


"Gia? emh, kayaknya Tante nggak bisa kalau Gia main ke rumah,"


"Yaaaahh..." Gia nampak sangat kecewa.


Suaranya yang tadi lemas, dan tak berdaya kini terdengar sangat bersemangat.


"Hari ini, Tante?" tanya Gia.


"Nggak hari ini, mungkin besok..." kata Vira.


"Kirain hari ini, tapi kalau Gia pengen video call boleh, nggak?" ucap gadis kecil.


"Giaa..." kata Gusti menginterupsi permintaan anaknya.


"Boleh," jawab Vira.


"Asikk! Piiii, tolong!" ucap Gia pada Gusti, ia meminta tolong untuk mengalihkan panggilan telepon ke panggilan video call.


Tak lama, ada permintaan panggilan video call. Vira langsung mengusap layar ponselnya.


"Hai," ucap Vira saat melihat wajah gadis kecil dengan pita berwarna merah di kepalanya.


"Halo, Tante ... ini Gia," kata Gia, dia selalu memperkenalkan dirinya, Vira tertawa dengan tingkah anak itu. Sudah berapa kali dia mengucapkan kalimat itu.


"Hai, Gia ... apa kabar?" tanya Vira.

__ADS_1


"Baik. Emh, Tante lagi dimana?" tanya Gia.


"D-di kamar, ehm! kalau Gia dimana?" Vira baluk bertanya.


"Di kantor, Papi..."


"Loh, Gia nggak sekolah?" tanya Vira, ia melihat dibelakang Gia ada pria berdasi. Sepertinya Gia sedang di pangku oleh Gusti.


"Gia udah pulang sekolah, tapi nggak langsung pulang ke rumah. Karena Gia mendadak kangen sama papi," kata Gia polos.


Tak ada suara Gusti, dia hanya mendengarkan dua perempuan beda generasi itu saling bercakap-cakap. Namun, tiba-tiba pintu terbuka perlahan. Ternyata Firlan yang masuk ke dalam kamar rawat Vira. Wanita itu mengernyit heran, bukannya tadi dia ingin bertemu wanita berkacamata?


"Tante?" Gia memanggil Vira yang terlihat bengong.


"Eh, iya. Emh, Gia ... udahan dulu ya video call-nya, Tante lagi ada tamu,"


"Ya udah, bye-bye..." ucap Gia mengakhiri panggilan video itu.


Vira segera menyimpan kembali ponselnya di balik selimut. Ia mendapat tatapan tajam dari Firlan.


"Siapa?" tanya pria itu.


"Kenapa balik lagi?" senyum Vira memudar setelah melihat kedatangan Firlan.


Sedangkan di tempat dengan suhu ruang cukup dingin, ada dua manusia sedang memegang sebuah cangkir hangat. Duduk berdampingan menghadap ke pelataran Villa.


"Sinta..." seorang pria memanggil wanita di sampingnya.


"Hm," Sinta hanya berdehem. Wanita itu masih menyembunyikan tubuhnya dari rasa dingin. Jas milik Fendy sangat berguna di situasi seperti ini.


"Kamu sebenernya kenapa, sih?" tanya Fendy, tapi Sinta hanya meliriknya sekilas.


Wanita itu menyesap capuccino yang masih mengeluarkan asap berwarna putih, tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Fendy.


"Oke, aku ganti pertanyaannya. Aku salah apa sebenernya? seharusnya aku loh yang marah, karena kemarin kamu nggak jadi dateng ke kantor," kata Fendy.


Mereka berdua rencananya akan makan siang bersama, Sinta mengatakan bahwa dia akan mampir ke kantor Fendy di hari terakhir dia bekerja. Namun, sampai matahari tenggelam wanita itu tak muncul juga. Fendy sempat menelepon, tapi Sinta tak mengangkatnya. Fendy yang khawatir dengan kondisi wanita itu langsung menancapkan gasnya ke kediaman Aryaka.


Setelah sampai disana, salah seorang oelayan menemuinya dan mengatakan bahwa Sinta sedang tidak enak badan. Fendy pun akhirnya pulang dan datang kembali keesokan harinya.


"Aku nungguin kamu loh kemarin, aku sampai dateng ke rumah kamu. Dan pelayan kamu bilang kamu lagi sakit. Tapi kenapa kamu nggak ngabarin aku? seenggaknya aku bisa tau keadaan kamu, Sin..." kata Fendy nyerocos, sedangkan bibir Sinta komat-kamit seakan sedang menirukan perkataan Fendy.


"Sorry," satu kalimat meluncur dari bibir Sinta.


"Tapi mungkin sebaiknya mulai sekarang kita nggak usah ketemu lagi," lanjut Sinta sambil menatap kedua mata Fendy dengan tajam.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2