
"Makasih? aku nggak salah denger? bukannya kamu bilang aku sekongkolan sama pria-pria baj*ngan itu?" ucap Fendy dengan datarnya,
"Ma-af," ucap Sinta yang lebih mirip bergumam.
"Apa? nggak denger, ngomong apa barusan?" Fendy menatap wanita itu
"Maaf gue bilang! kuping lo aja yang budek!" kata Sinta nyolot bin ngegas.
"Hahahha, pacarku udah bisa bilang maaf? sejak kapan?" Fendi hanya melirik Sinta dan kembali menyesap kopi miliknya.
"Kita nggak pernah pacaran ya, kita cuma pacar bohongan, dan itu juga 'dulu'," Sinta meralat omongan Fendy yang mengklaim Sinta sebagai pacar.
"Nah, kata bohongannya udah aku coret waktu itu, jadi kita pacaran beneran, dan kita nggak pernah putus, jadi sampai sekarang kita masih pacaran," ucap Fendy santai.
"Otak lo udah nggak waras kayaknya, ya?" ketus Sinta yang masih berdiri dan merasa ubun-ubunnya panas meladeni setiap perkataan Fendy.
"Iya, itu juga karena kamu, Sinta ... lagian apa bedanya sama kamu? yang nggak ada capeknya ngejar-ngejar sahabat kakakmu itu, kamu boleh aja kejar dia, tapi aku juga akan kejar kamu," ucapan Fendy menohok hati Sinta, iya memang dia sangat berambisi memiliki Kenan, itu sejak dulu.
"Dasar gila!" sarkas Sinta yang kemudian berbalik badan, berniat meninggalkan Fendy.
"Eits, mau kemana?" Fendy mencekal tangan Sinta.
"Pulang, lepas, ih!" sahut wanita itu dan menepis tangan pria yang semalam menolongnya.
"Kamu tunggu disini, aku mandi baru nanti aku anterin kamu pulang," pria itu beranjak dari duduknya dan membawa cangkir kopi yang sudah kosong ke wastafel.
"Nggak usah, gue bisa naik taksi," Sinta menolak dengan angkuhnya.
"Dengan pakaian yang kayak gini? ini lebih mirip sundel bolong kesiangan, ya udah sih, terserah kamu aja, aku cuma mau ngasih tau, katanya banyak yang suka ngalamin kejadian mistis di dalam lift apartemen ini, kamu ati-ati aja, kalau ada yang mau ikut naik, kamu liatin kakinya napak tanah atau nggak," kata Fendy menyeringai penuh arti, yang membuat bulu kuduk Sinta jadi merinding.
"Nggak usah pake nakut-nakutin!"
"Percaya nggaknya kan terserah kamu, aku cuma ngingetin .. kalau ada yang ikut naik, perhatiin tuh kaki napak tanah atau nggsk, kalau ngegantung jangan biarin ikut masuk, udah baik lho aku ngasih tau," Fendy menjawab santai sementara Sinta sangat geram dengan semua yang keluar dari mulut pria itu.
"Oh, ya ... kalau keluar jangan lupa tutup pintunya, aku mau tidur lagi," lanjutnya, Fendy melenggang menuju kamarnya, dan Sinta yang sudah terlanjur merinding mengekori Fendy.
__ADS_1
"Pintu keluarnya disana, bukan disini, kamu belum rabun kan, Sayang?" Fendy menunjuk pintu keluar.
"Mau ngambil, tas..." sahut Sinta beralasan, padahal dia juga takut di tempat asing seperti ini, walaupun matahari emang udah nongol daritadi, tapi kan yang namanya takut nggak mengenal waktu.
Fendy merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuknya dan berpura-pura memejamkan matanya, wanita itu yang telah menyambar tas miliknya tak juga pergi, Fendy ingin tertawa tapi ia tahan sekuat tenaga.
"Fen!" Sinta menggoyangkan kaki Fendy, namun Fendy tak juga bergeming.
"Fendy! bangun, gue tau lo belum tidur," Sinta kembali membangunkan Fendy, kali ini ia menepuk keras betis pria itu.
"Cepat keluar, jangan ganggu deh! aku masih ngantuk!" seru Fendy yang kini mengubah posisi tidurnya.
"Bangun, ih! anterin!"
"Katanya mau naik taksi? dibawah taksi banyak tinggal pilih mana yang kamu suka," sahut Fendy.
"Bangun gue bilang! anterin gue pulang!" ucap Sinta yang membuat Fendy menatap ke arah wanita itu.
"Tadi nolak, sekarang nyuruh! ogah sana pulang sendiri!" seru Fendy yang membuat Sinta ingin menjambak pria itu, kalau masalah dunia ghaib Sinta memang penakut dari dulu, membayangkannya saja dia tidak mau.
"Oke, tapi nggak gratis..." ucap Fendy yang masih nyaman dengan posisi tidurnya.
"Oke, lo sebutin aja nominalnya, ntar gue transfer, buruan!" ucap Sinta yang membuat Fendy mengerutkan keningnya.
"Nggak mau dibayar pake duit!" seru Fendy dengan membuat Sinta memicingkan matanya pada pria itu, dia berpikir Fendy akan minta imbalan yang aneh-aneh.
"Ntar malem harus mau aku ajak Dinner," lanjutnya.
"Nglunjak lo ya!" Sinta dengan ketus menolak permintaan Fendy, bertemu dengan Fendy saja sudah membuatnya malas apalagi harus makan dengan pria itu.
"Ya udah kalau nggak mau," Fendy tak mau ambil pusing, dia langsung memejamkan matanya menuntaskan rasa kantuknya pagi ini.
"Iya udah deh, cepetan!" sejurus kemudian Sinta mengiyakan permintaan Fendy, dia juga berpikir mungkin dia bisa memanfaatkan pria itu lagi.
"Oke, mandi dulu ya, cantik!" Fendy segera beranjak dari tempat tidur dan langsung berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Assalamualaikum, Jem?" sapa Vira ketika panggilannya tersambung pada Amartha.
"Ya, waalaikumsalam, kenapa Yem?"
"Gilaaaaaa, nomor nggak aktif dari kemarin, aku kira tuh nomor angus, gara- gara jarang diisi pulsa!" kata Vira yang membuat Amartha pengen ngaretin mulut Vira pake karet bungkus nasi.
"Hehehehe, iya, sengaja," Amartha nyengir kuda.
"Ta? bisa ketemuan hari ini? aku hari ini libur, semenjak di kota ini kita jarang nongki bareng, loh..." ucap Vira diseberang sana.
"Eh, hari ini kamu masuk atau-" Vira lupa kalau jadwal mereka sering bentrokan, dia main ngomong ngajak ketemuan aja.
"Udah nggak kerja," ucap Amartha singkat.
"Kenapa?" Vira mulai mode kepo tingkat dewa, jangan-jangan desas-desus di rumah sakit memang benar, tapi dia ingin mendengar langsung dari mulut sahabatnya.
"Nanti aku ceritain, ehm ... mau ketemuan dimana?" Amartha juga sebenarnya kangen dengan Vira, mereka disatu kota yang sama namun jarang bisa bertemu, karena jadwal rumah sakit yang selalu bentrokan, membuat keduanya hanya mengobrol lewat telepon.
"Aku tunggu di cafe XX, ya? jam 1 siang, aku mau nyuci-nyuci sama beres-beres dulu," kata Vira yang melihat sekilas tumpukan baju-bajunya di keranjang.
"Tumben nyuci? biasanya laundry?" Amartha mengernyit heran, karena dia tahu persis, Vira paling malas kalau urusan cuci baju, kesambet setan darimana, kenap Vira mendadak rajin nyuci.
"Ya, mau gimana lagi, Udah nggak dapat aliran dana bantuan dari-" kata Vira yang menghentikan ucapannya tiba-tiba.
"Dari siapa?" tanya Amartha penasaran.
"Udah ya, Ta ... mau beli sarapan dulu, bye!" Vira yang gelagapan perihal ditanya sumber dari aliran dana yang ia maksudpun, memilih untuk segera mengakhiri percakapannya dengan Amartha.
"Nih, mulut remnya blong mulu, heran deh!" gumam Vira yang menabok bibirnya karena hampir keceplosan, perihal aliran dana dari Satya.
"Nyuciii lagiiii, nyuciii teroooosssss, aaarghhh ... pegel," kata Vira setengah berteriak, sambil merendam baju kotornya di dalam ember.
...----------------...
__ADS_1
Hari iniii aku masih nge gasss up...semoga konsisten ya sampai 25 hr kedepan