
"Nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti?" tuduh Firlan, Vira hanya mengernyitkan dahinya
"Aku nggak ngerti apa yang kamu omongin, Ay..." ujar Vira, Firlan sudah terlanjur kesal pada kekasihnya itu, wajahnya menyiratkan sebuah kemarahan.
"Kalau kamu cuma mau ribut, mendingan besok aja karena hari ini aku udah keburu capek," lanjut Vira.
"Capek nemenin orang?" Firlan mencibir, Vira pun menatap Firlan sinis.
"Pria di ruang 201," ucap Firlan tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan.
"Ricko?" tanya Vira soal ucapan Firlan yang terdengar ambigu di telinganya, pria itu tak menjawab.
"Emang Kak Ricko kenapa?" tanya Vira ingin tahu, karena Ricko baru saja menjalani operasi, dia takut terjadi sesuatu pada pria itu.
"Vira, bisa nggak sih kamu ngehargain aku sebagai pacar kamu, baru ditinggal beberapa hari aja kamu udah deket sama cowok lain," kata Firlan cepat.
"Apa? gimana, gimana? aku nggak ngerti..." Vira menangkap kekasihnya itu sedang dilanda api cemburu.
"Darimana kamu tau Kak Ricko?" Vira gantian bertanya, namun Firlan hanya meliriknya sekilas.
"Nggak perlu tau," jawab Firlan ketus.
"Oh, ya udah..." Vira memilih masa bodo dengab pacarnya yang lagi mendidih otak dan hatinya. Lumayan lama mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa seharian ini kamu nggak bisa dihubungi?" tanya Firlan ia menghentikan mobilnya.
"Hanya karena aku nggak bisa kamu hubungi terus kamu seret-seret aku kayak tadi?" akhirnya Vira terpancing emosi.
"Denger ya, hari ini tuh papaku operasi cangkok ginjal, dan aku fokus nemenin mamaku, aku nggak ada waktu buat..." ucap Vira namun segera di potong oleh Firlan.
"Tapi kamu ada waktu buat nemenin laki-laki itu," ucap Firlan menohok.
"Aku nggak ngerti sama cara berpikir kamu," Vira benar-benar lelah menghadapi Firlan yang kekanak-kanakan, dia tidak sadar kalau dia juga sering seperti itu
"Kenapa? kenapa kamu nggak ngasih tau aku hal sepenting itu?" ucap Firlan menghadap wanita yang kini juga menatapnya
"Kamu sibuk dan semua yang terjadi begitu cepat, terserah kamu mau percaya atau nggak!sekarang aku mau pulang," ucap Vira dengan menggebu.
"Kita belum selesai!" Firlan meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Apalagi yang harus aku jelasin?" Vira menggeleng melihat reaksi Firlan.
"Ada orang yang berbaik hati memberikan satu ginjalnya untuk papaku, orang lain yang sama sekali nggak aku kenal. Dia bersedia melakukan itu, lantas apakah aku salah jika aku berbuat baik padanya? memastikan keadaannya baik-baik saja? apa aku salah, hah?" ucap Vira lantang.
"Aku baru pulang setelah menunggu selama berjam-jam di rumah sakit, dan kamu malah ngajak aku berantem disini, sedangkan mamaku sendirian di kosan, dia pasti khawatir anaknya cari makan nggak pulang-pulang!" lanjut wanita itu, dadanya naik turun karena sedari tadi menahan emosi yang membuncah
"Vira..." lirih Firlan, ia melihat Vira menangis. Kali ini oria itu nengakui bahwa dia keliru.
"Diem..." ucap Vira sembari membuang muka ke arah jendela.
"Kamu nggak tau apa-apa, apa yang aku alami kamu nggak tau apa-apa..." ucap Vira disertai isakan.
"Vira..." ucap Firlan.
"Cepat jalan atau aku pulang sendiri," kaya Vira tak memberi kesempatan Firlan untuk bicara.
"Aku..." Firlan ingin minta maaf, tapi wanita itu langsung menyela.
"Jalan!" tegas Vira.
Firlan memilih untuk menjalankan mobilnya, Vira terus saja melihat ke arah jendela seakan tak mau di ganggu, sedangkan air mata sudah lolos begitu saja dari matanya.
Firlan mengambil beberapa helaian tissue dan memberikannya pada Vira, wanita itu mengambilnya dengan kasar, dan menggunakan itu untuk menghapus bekas tangisannya.
"Gimana, Sat?" tanya sang papi saat bersantai di ruang keluarga berdua dengan anaknya.
"Gimana apa, Pap?" Satya bertanya balik, mulutnya dari tadi masih mengunyah potongan buah melon.
"Proyek," kata Abiseka singkat.
"Beres, udah di-cut semua yang udah curang sama kita," jawab Satya santai, ia terus memasukkan potongan buah melon yang dingin ke mulutnya.
"Bagus, jangan lupa Firlan dikasih bonus," Abiseka mengingatkan
"Dia mintanya cuti panjang, jadi aku kasih tiket liburan," jawab Satya santai.
"Kasih yang jauh sekalian, Sat!" celetuk Abiseka.
"Jangan, Pap! kalau kejauhan ntar nggak pulang-pulang kecantol bule disana, kita juga yang repot," seloroh Satya
__ADS_1
"Suka bener kamu, Sat!" kata sang papi.
"Ngobrolin apa sih? seru banget?" tanya Sandra yang muncul dengan menantunya. Anartha duduk disamping Satya dan langsung merebut mangkok yang berisi melon dari tangan suaminya, garpunya juga langsung berpindah tangan pada bumil itu.
"Sat, Amartha nginep disini, ya? kamu kalau mau pulang, pulang sendiri aja," ucap Sandra setengah ngusir.
"lah kalau Amartha nginep disini ya, Satya ikutan disini juga lah, ngapain pulang? mami aneh-aneh aja..." jawab Satya.
"Ini anak kandung Mam ... ingeeeeet," lanjut Satya.
"Mami lupa kamu itu sebenernya anak siapa, Sat!" celetuk Sandra, Amartha hanya tertawa melihat suaminya yang sedang merana tak diakui anak. Mereka tertawa melihat ekspresi Satya.
Ditengah canda tawa mereka, si anak bungsu meminta panggilan video lewat ponsel Sandra.
"Halooohaaaaaa..." seru Prisha, Satya memegang perut Amartha.
"Brisik, Mon! anak abang nanti kaget denger suara ontinya yang cempreng," celetuk Satya, Prisha mencebikkan bibirnya dongkol dengan ucapan abang laknat.
"Hai semuaaaaa, minggu depan queen Prisha dataaaaaaang..." ucap Prisha penuh percaya diri.
"Ngapain pulang? udah bagus kamu disana aja, Mon! disini yang ada ngribetin tau, nggak?" canda Satya, sang adik melihat kakaknya dengan kesal.
"Mamiiiiiii, abang nyebelin tuh!" adu Prisha.
"Jangan dengerin omongan abang kamu yang nggak ada faedahnya itu, mami nggak sabar kamu pulang," ucap Sandra.
"Prisha nggak kangen sama papi?" tanya abiseka ikutan nongol di layar.
"Kangen banget, Papiiiiii ... Papi uang jajan tambahin, duit Prisha mau abis!" seru Prisha.
"Astagaaaa, ngomong kangen kalau minta transferan aja," Abiseka ngelus dada.
"Kamu belajar irit, Prisa!" ucap Sandra mengingatkan agar anaknya tidak terlalu boros.
"Prisha udah irit, kok! iya kan, Pap?" Prisha meminta dukungan sang papi. Abiseka hanya senyam-senyum saja, padahal anak gadisnya itu lumayan boros bulan ini. Terlihat dari tagihan kartu kredit yang ia gunakan, membuat Abiseka geleng-geleng kepalanya. Rencananya dia akan menasehati Prisha secara perlahan-lahan.
"Keponakan onti yang apa kabar? pasti kangen sama onti yang cantik ini, iya kan? tenang aja, sebentar lagi onti akan pulang!" ucapbPrisha seolah berbicara dengan anak kecil.
"Halooo adek tetiiiil, denger onti nggak? denger dong, ya? kamu kapan launching-nya? masih lama, ya?" ucap Prisha kayak ngomong sama anak kecil.
__ADS_1
"Aku mau launching tapi syarat dan ketentuan berlaku," ucap Satya menirukan suara anak kecil.
...----------------...