
"Kak Kenan ya? syukurlah akhirnya kakak datang juga, gue pulang ya Sin, cepet sembuh" ucap Bella yang kemudian segera beranjak ke pergi, meninggalkan Sinta dengan pria yang bernama Kenan.
"Kita pulang," satu kalimat yang meluncur setelah beberapa saat pria itu terdiam.
"Kak," Sinta dengan suara yang dibuat lemas, sebenarnya dalam hati dia bersorak gembira melihat pujaan hatinya memilih untuk datang menjemputnya.
"Awh," Sinta mencoba menegakkan tubuhnya, dia memegang kepalanya, menunjukkan bahwa kepalanya terasa pusing.
"Sini, aku bantu," Kenan mencoba membantu Sinta untuk duduk.
"Makasih, Kak ... maaf ngrepotin," ucap Sinta dengan raut wajah menyesalnya.
"Iya nggak apa-apa, ayok aku antar kamu pulang," Kenan memapah Sinta keluar dari ruang klinik.
Begitulah adegan-adegan yang tergambar di otak Sinta, Sinta berbaring dan sesekalo tertawa cekikikan, Bella yang mendengar itu langsung menepuk pipi Sinta, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
"Woy! gue capek nih! kok belom dateng?" tanya Bella, yang melirik arlojinya.
"Ish, ngagetin aja lo, sakit nih pipi gue!" Sinta mengusap pipinya. Dalam hatinya pun bertanya- tanya, sudah satu jam ia menunggua, tapi mengapa pria itu tak juga datang?
"Mana kalau udah sore jadi serem nih kampus!" kata Bella seraya mengusap lengannya secara bergantian, dan sesekali matanya melirik kesana kemari, gelisah.
"Bella, lo jangan ngomong yang horor-horor ya, gue tabok lo!" Sinta memperingatkan agar Bella tidak bicara yang macam-macam.
"Gue mau pulang, ah Sin ... gue takut!"
"Tungguin gue bentar, gue traktir deh uang makan lo selama seminggu, lo disini sampe mas Kenan dateng," cegah Sinta menahan Bella agar mau menemaninya.
Sinta dan Bella mendengar ada langkah kaki yang menuju ke arah mereka, Sinta berbaring berpura-pura memejamkan matanya. Sementara Bella, duduk disamping ranjang Sinta mencoba setenang mungkin.
Ceklek
Pintu pun terbuka, menampilkan sosok lelaki bertubuh tegap, dengan wajah yang sudah sangat lelah.
"Bangun Sin," ucap Refan sambil menarik selimut yang menutupi setengah tubuh adiknya.
__ADS_1
"Kak Refan?!" Sinta memekik terkejut melihat yang datang adalah kakaknya, bukan Kenan lelaki yang diharapkannya datang menjemputnya.
"Kok Kakak sih yang kesini?" Sinta memicingkan matanya melihat tak suka pada Refan.
"Udah, cepetan bangun, kakak tau kamu cuma pura-pura, ayok cepet bangun," Refan melipat tangannya di depan dada, dia begitu pusing dengan kelakuan Sinta.
"Sin gu-gue duluan, bye!" Bella memilih untuk segera beranjak dari duduknya lalu ngibrit keluar.
"Bel, Bella! ish, malah kabur!" Sinta mendengus kesal melihat Bella yang keluar tanpa persetujuannya terlebih dahulu.
"Kamu mau pulang atau kakak tinggal disini?" Refan masih mencoba bersabar dengan Sinta, ia sudah mencoba memperingatkan Sinta agar tidak mengganggu Kenan lagi, tapi sepertinya omongannya hanya menjadi angin lalu di telinga Sinta.
"Ih, kakak kenapa sekarang galak banget sih sama aku?" Sinta benar-benar heran dengan Refan, kenapa sekarang dia ingin menjauhkan Kenan darinya, bukankah dulu Refan yang memaksa Kenan untuk mendampinginya berobat selama 1 tahun belakangan ini?
"Sampai kamu berhenti ngejar Kenan," ucap Refan datar, ia ingin adiknya berhenti dengan obsesinya terhadap pria itu.
Refan selama ini berpikir bahwa dia telah bersikap egois jika meminta Kenan untuk bersama Sinta, perempuan yang sama sekali tidak dicintai Kenan, dan kalaupun pernikahan itu terjadi, Sinta tidak akan bahagia bahkan mungkin akan membuat Sinta hidup menderita karena pernikahan yang tidak dilandasi cinta.
"Dia tidak akan datang, walaupun kamu menunggunya sampai pagi disini, dia tidak akan datang, karena Kenan yang meminta kakak untuk datang kesini menjemput kamu," kata Refan yang membuat Sinta menggelengkan kepalanya tidak percaya.
FLASH BACK ON
"Fan, katanya Sinta pingsan di kampus, temennya minta tolong gue buat kesana," ucap Kenan setelah panggilan tersambung.
"Sinta? pingsan?" Refan mengerutkan keningnya, dia tidak yakin dengan apa yabg dikatakan Kenan barusan.
"Iya, katanya ada di klinik kampus, lo jemput sana, gue ada urusan," Kenan langsung to the point, dia malas menjemput adik Refan.
"Oh, iya, iya gue aja yang jemput, makasih lo udah ngabarin, gue ehem, gue minta maaf sama lo, Ken..." kata Refan merasa tidak enak dengan Kenan, dia banyak merepotkan Kenan selama ini.
"It's okay, Fan ... gue nggak mau bahas itu, sorry Fan, bye" Kenan tidak ingin membahas itu, dia langsung menutup sambungan teleponnya. Sementata Refan menghela nafasnya, dia memijit pangkal hidungnya. Lalu Refan segera menyambar kunci mobilnya dan segera keluar dari perusahaan milik ayahnya.
Setelah sambungan telepon itu terputus, Kenan memutar arah, ia membelah jalanan menuju apartemennya. Sekarang dia tidak tinggal serumah dengan Damar, dia memilih tinggal di unit apartemen yang dulu ia persiapkan untuk Amartha, mengingat itu hati Kenan berdenyut nyeri.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
"Nggak, nggak mungkin, Mas Kenan pasti dateng kesini,"
"Terserah kalau kamu nggak percaya, kakak mau pergi, oh ya, Kakak dengar-dengar di kampus ini banyak hantunya, ya mungkin mereka bisa nemenin kamu disini, nungguin orang yang nggak akan pernah datang," kata Refan seraya memutar tubuhnya hendak berjalan keluar.
"Ha-hantu? K-kak, tunggu! aku ikut," Sinta buru-buru turun dari ranjang dan segera mengejar Refan yang sudah meninggalkan ruangan itu.
Biarlah hari ini gagal, dia akan memikirkan cara lain untuk menjerat Kenan. Lebih baik sekarang dia pulang daripada tetap disini ditemani para hantu, ih membayangkannya saja Sinta sudah bergidig ngeri.
...----------------...
"Emmhh, hoaam," Amartha menguap lalu mengucek-ngucek matanya, dia terperanjat pasalnya sekarang dia berada di dalam kamar yang sangat dia kenal, ini kamar Satya.
"Jam 7 malem?" Amartha memekik saat melihat arlojinya.
"Mas? Mas Satya?" Amartha buru-buru keluar sambil memanggil nama calon suaminya.
"Mas?" Amartha menghampiri Satya yang sedang memasak di dapur yang merangkap ruang makan.
"Eh, udah bangun, Sayang?" sahut Satya yabg sedang membolak balikkan ayam diatas grilled pan.
"Kenapa aku di kamar?" pertanyaan bodoh meluncur dari wanita yang sepertinya masih belum sadar sepenuhnya.
"Oh, aku yang angkat kamu, maaf ya? kamu dibanguninnya susah banget sih, ya udah aku gendong kamu dari basement sampai kamar, romantis kan, Sayang? mana diliatin banyak orang lagi, ehem aku borong pujian loh, dibilang suami siaga, Yank..." Satya terkekeh saat mengingat kejadian tadi, banyak pasang mata yang melihatnya menggendong seorang wanita di dalam lift.
"Ih, Mas ... malu-maluin, lain kali aku dibangunin kalau ketiduran kayak tadi," Amartha mencebikkan bibirnya, membuat Satya gemas melihatnya.
"Nggak apa-apa aku malah seneng, heheheh," jawab Satya diiringi tawa kecilnya.
"Masak apa, Mas? hmmm baunya enak banget," Amartha berjalan mendekati pria itu.
"Ayam bakar taliwang, udah pernah makan?" jawab Satya sambil mengangkat ayam dari panggangannya.
"Belom, hmmm kayaknya enak banget, jadi laper" Amartha mengusap perutnya yabg audah keroncongan melihat betapa lezatnya ayam dihadapannya ini.
"Yap, udah jadi, kita makan yuk?" ucap Satya saat ayam sudah diletakkan diatas piring.
__ADS_1
Mereka berdua menikmati makan malam yang diiringi canda tawa, Amartha sangat bahagia mendapatkan perhatian dari Satya, dia yakin dengan perasaannya kini, dia tidak akan membuat kesalahan dengan meninggalkan pria sebaik Satya
...----------------...