Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Temu kangen


__ADS_3

"Halo," sapa Amartha saat panggilannya tersambung.


"Halo, sayang ... kenapa? kangen? aku masih lama Yank pulangnya, aku tau aku emang ngangenin," sahut Satya yang dengan pedenya.


"Ih, kamu ngomong apa sih, Mas? nggak jelas banget," Amartha heran dengan Satya yang menebak bahwa dirinya menelepon karena kangen, wanita itu cuma bisa geleng-geleng kepala.


"Terus kalau bukan karena kangen, terus kenapa coba kamu nelfon aku, Yank?" tanya Satya yang sedang duduk di sofa kamar hotel, ia sedikit melonggarkan dasinya.


"Aku mau ngasih tau, kalau aku mau ketemu sama Vira di cafe siang ini, boleh?" Amartha berdiri di depan jendela, sambil sesekali jari jemarinya memilin tirai.


"Bagus dong, biar kamu nggak bete juga, tapi diantar Damian, ya?" kata Satya lembut membuat segaris senyum di bibir wanita yang sangat dicintainya.


"Eh, monster kecil lagi ngapain? tumben nggak ada suaranya, dari kemaren kan dia nempel mulu sama kamu, Yank..." lanjut Satya yang merasa tak ada suara-suara monster kecil yang menjadi pengganggunya dari kemarin.


"Gitu-gitu juga adek kamu, Mas..." Amartha hanya terkekeh mendengar Satya yang memanggil adiknya monster kecil, karena tibuh adiknya yang bisa dikatakan mungil dan sifatnya yang nggak jauh beda dengan sang kakak, dengan tingkat kesablengan yang berbeda tentunya.


"Dia baru aja pergi, katanya sorean baru balik," jelas Amartha.


"Oh ya, kayaknya aku baru pulang besok deh, Yank ... ada sedikit kendala disini, Yank..." kata Satya dengan diiringi helaan nafas.


"Ditambah Firlan kayaknya lagi nggak jelas, Yank..." lanjutnya.


"Emang dia kenapa?" Amartha yang niatnya menelepon hanya untuk meminta izin, sekarang malah mendengarkan Satya yang curhat masalah asistennya.


"Nggak tau, tuh mukanya lecek banget," Satya mendengus kesal kala mengingat wajah Firlan yang seperti orang tidak tidur, dan lesu tidak seperti biasanya.


"Kasih libur Mas, dia juga manusia, Mas ... bukan mesin pencetak uang," Amartha mengingatkan agar Satya juga memperhatikan kesejahteraan batin asistennya.


"Oke, oke kelar ini aku kasih dia cuti," Satya manggut- manggut. Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh calon istrinya, mungkin Firlan butuh liburan.


"Ya udah, aku mau siap-siap dulu, Mas ... kamu hati- hati disana ya, Mas..." ucap Amartha setelah dirasa tidak ada yang ingin dibicarakan Satya.

__ADS_1


"Iya, Sayang ... bye," Satya langsung mengakhiri sambungan teleponnya, dan mencoba merebahkan tubuhnya sebentar.


Amartha pun menutup panggilan teleponnya, lalu ia memakai jeans dan blouse berwarna krem. Tinggal di rumah Sandra tak banyak mengubah kebiasaan Amartha, hanya sikap dingin dan cuek Amartha yang mulai pudar. Amartha merasakan kehangatan yang luarbiasa di rumah itu.


Setelah menyelesaikan sapuan bedak di pipinya, Amartha segera menyambar tas kecil yang berisi dompet dan ponsel. Ia segera keluar dan masuk ke dalam mobil. Cuaca hari ini sedikit mendung, wanita itu segera masuk ke dalam mobil. Sementara Amartha memandang keluar jendela, namun perhatiannya teralihkan saat iang mendengar bunyi 'ting' yang menandakan ada chat masuk.


Keningnya berkerut saat melihat isi chat itu, Kenan memintanya untuk bertemu. Amartha hanya membacanya tanpa berniat untuk membalas chat dari mantan suaminya. Tidak ada hal lagi yang perlu dibicarakan, semuanya sudah jelas, ia akan menata ulang kehidupannya. Harus berapa kali dia mengucapkan itu, agar Kenan mau mengerti.


Amartha hanya menghela nafas panjang setelah beberapa saat chat itu terbaca, pria itu kemudian menghubunginya.


Ponsel Amartha berdering menampilkan nama mantan suaminya.


"Kenap sih, kalau mau nikah ada aja cobaannya, biarin aja lah ... ntar juga capek sendiri," gumam Amartha.


Amartha mengabaikan panggilan itu, malahan ia masukkan ponsel itu ke dalam tas kecil miliknya. Entah berapa kali ponsel itu berdering, Amartha tak peduli. Sampai akhirnya mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah cafe.


Amartha segera turun dari mobilnya, dan masuk ke dalam bangunan yang mengusung suasana retro. Wanita itu mengedarkan pandangannya, dan seseorang di pojok ruangan, melambaikan tangan padanya. Amartha langsung mempercepat langkahnya dan berjalan mendekat ke arah wanita itu.


"Nyantai aja, aku juga baru dateng kok," Vira tersenyum melihat sahabatnya, yang sekarang lebih terlihat ceria daripada sebelumnya, badan Amartha pun tak sekurus waktu mereka tinggal di kota S.


"Tadi aku udah pesenin, iced coffee, nggak apa- apa, kan?" lanjut Vira.


"Elah, nyantai aja kali..." sahut Amartha dengan diiringi tawa kecil.


"Ta, aku pengen nanya sesuatu," Vira menatap sahabatnya dalam.


"Ya udah tanya aja, eh ini punyaku bukan? Amartha menunjuk iced coffee yang masih utuh.


"Iya, minum aja, elah ... kan jadi lupa mau nanya apaan barusan," kata Vira kesal saat dia lupa pertanyaan apa yang ingin dia tanyakan.


"Dah mulai pikun?" ucap Amartha sambil menyeruput minumannya.

__ADS_1


"Ehm ... eh, gosip yang ada di rumah sakit bener nggak, sih?" Vira akhirnya mengingat ap yang ingin dia tanyakan, wanita itu melipat tangannya di depan dada.


"Gosip? gosip yang mana?" Amartha memutar bola matanya, biasa loading dulu.


"Yang kamu katanya pemilik rumah sakit itu dan foto yang tersebar kamu sama cowok, aku nebaknya sih Kenan, bener nggak sih?" ucap Vira yang sudah tidak tahan mendengar penjelasan Amartha.


Akhirnya Amartha menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Vira, dari mulai pertemuannya hari itu dengan Kenan sampai insiden pemecatan.


"Gilaaaaa, sumpeeh Ta, demi apapun kamu beruntung banget punya calon kayak Satya, kecuali sikap juteknya yang nggak ketolong!" Vira geleng- geleng kepala, sungguh teaksi yang berlebihan menurut Amartha.


"Aku nggak mandang semua itu, Vir ... banyak rasa sakit yang udah aku lalui sama dia, dia udah banyak nolongin aku selama ini," ucap Amartha sambil mengaduk- aduk iced coffee yang tinggal setengah.


"Tapi kamu nerima Satya bukan karena rasa nggak enak, kan?" Vira memicingkan matanya.


"Nggak lah, Vir ... aku juga nggak tau rasa sayang itu kapan mulai muncul, tapi aku yakin sama keputusanku ini, dan keluargamya udah nerima aku dengan baik, buatku yang penting restu dari orangtua, Vir ...karena hubungan tanpa restu bisa kandas di tengah jalan," ucap Amartha sendu.


"Masa lalu nggak usah diinget-inget, yang penting masa sekarang dan masa depan," kata Vira yang disambut senyuman oleh Amartha.


"Terus kamu gimana? masih suka sama Firlan?" Amartha mengganti topik pembicaraan.


"Nggak tau,"


"Kok nggak tau, sih?" Amartha menatap Vira heran


"Ya orang ditelfon aja nggak pernah diangkat, Ta ... gimana mau pedekate, Ta ... ah, nasiiib nasiiib," Vira menghela nafas meratapi nadib percintaannya.


"Jodoh kamu tuh ada," ucap Amartha yang membuat mata Vira berbinar.


"Cuma lagi jagain jodohnya orang, heheheh" celetuk Amartha yang membuat Vira mengeluarkan jurus monyet mode ngamuk.


...----------------...

__ADS_1


Double up lg dah 5 hari, vanasss vanasss otak mana otak


__ADS_2