
Vira pun akhirnya keluar kamar, dan menghempaskan tubuhnya di sofa di ruang tengah.
"Astaga, dingin banget dah jam segini di luar kamar, mana nggak ada selimut!" kata Vira sembari melihat jam di ponselnya.
"Ngapain sih ngechat mulu! bikin kesel aja," ucap Vira saat melihat chat dari kekasihnya.
"Bukannya lagi seneng-senengnya sama si Alia berkacamata? kalau kamu mau ngebales aku, kamu berhasil udah tau, nggak?" Vira bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Sepertinya hubungan ini tidak layak untuk dipertahankan, dasar cinta eo kucing!"
Karena matanya sudah terbuka ia pun mencoba menonton televisi. Semakin lama ia pun mengantuk ditemani televisi yang masih menyala. Beberapa kali Firlan mengirimnya pesan, namun wanita itu malas untuk membalasnya.
Sementara di dalam kamar, Satya mematikan lampu tidur dan mulai masuk ke dalam selimut bergabung dengan sang istri.
"Seenggaknya badanku nggak akan sakit karena tidur di tenda," kata Satya, ia meninggalkan asistennya dalam kubangan penderitaan seorang diri.
"Ayah kangen banget sama kamu, Sayang..." kata Satya yang mengelus perut istrinya yang sudah sangat besar, Amartha pun memiringkan posisi tidurnya dan beberapa kali bergumam tidak jelas.
"Kamu harus denger semuanya dari aku, Yank! karena semua ini aku lakukan demi pernikahan kita," kata Satya membelai lembut puncak kepala istrinya.
"Hal yang paling aku takutkan di dunia ini jika aku kehilangan kalian, aku nggak mungkin dan nggak mau ngebayangin itu..." kata Satya seraya memeluk istrinya dari belakang.
Dalam tidurnya Amartha bermimpi sedang dipeluk oleh suaminya, rasa hangat dan nyaman menjalar ke tubuhnya. Bahkan beberapa kali ia merasakan kecupan di kening dan pipinya. Mimpi itu terasa sangat nyata baginya.
Sebelum subuh Satya keluar dari kamar, dan menyuruh Vira untuk mengunci pintu kembali. Vira yang masih ngantuk pun iya iya saja. Ia berjalan menutup pintu dan kembali ke kamar, tidur memunggungi Amartha.
Satya yang keluar di jam 4 pagi itu pun langsung masuk ke dalam tenda dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
"Untung saja aku bangun di jam yang tepat, gimana kalau nggak? bisa-bisa dia tambah marah," kata Satya menggigil kedinginan.
Matahari perlahan naik ke atas, membagikan kehangatan bagi para makhluk hidup. Amartha sudah bangun dari tadi subuh, lalu tiduran-tiduran kembali, awalnya ia ingin keluar namun malas jika harus melewati tenda-tenda yang ada di pelataran rumahnya.
Amartha beranjak dari tidurnya, ia melihat Vira masih setia dengan gulingnya. Malah ia mendekap benda itu semakin erat saja.
"Astaga Vira dari dulu nggak pernah berubah," gumam Amartha melihat posisi tidur Vira yang meringkuk sambil menaruh pipinya diatas guling berwarna putih.
__ADS_1
"Semalem aku kok mimpiin mas Satya, ya?" ucap Amartha seraya mengambil kardigannya di dalam lemari.
"Kamu pasti kangen sama ayah ya, Sayang?" Amartha mengusap perutnya, dan ia menerima satu tendangan dari dalam.
"Maafin ibu, ibu nggak mau pisahin kamu dari ayah, tapi ibu nggak sanggup buat ketemu ayah kamu untuk saat ini, ibu masih kecewa," kata Amartha. Ia menarik nafas dan menghembuskannya, berusaha untuk tidak sedih atau pun menangis.
Amartha keluar dari kamar, ia sudah wangi dan cantik. Amartha berjalan ke arah ruang tamu, ia sibak sendikit tirai yang menutupi jendela. Ia melihat Satya baru saja keluar dari tenda. Pria itu terlihat mengusap kedua telapak tangannya.
"Dia pikir ini tempat camping!" gumam Amartha.
Tak lama Kenan pun membuka tendanya, namun ia tak merasa kedinginan. Pria itu hanya memakai kemejanya tanpa sweater atau jaket.
"Kedinginan?" ejek Kenan
"Nggak juga," jawab Satya.
"Tapi telapak tanganmu terlihat sangat pucat!" kata Kenan.
"Kenapa setelah kembali otakmu geser lagi? aku kira setelah hijrah ke luar negeri kamu sedikit berubah, ternyata lebih parah dari sebelumnya," sindir Satya.
Kenan meregangkan badannya, sepertinya tidur di tenda membuat tubuhnya terasa pegal. Satya manarik satu sudut bibirnya, pasalnya semalam dia tidur sangat nyenyak ditambah memeluk guling hidupnya membuatnya semakin hangat.
Merasa diperhatikan, Satya pun mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan ia melihat satu sosok cantik berdiri di balik jendela. Ia pun tersenyum, namun secepat kilat wanita itu menutup tirai dan hilang begitu saja.
Satya pun tersenyum saat mengetahui bahwa Amartha diam-diam memperhatikannya.
"Aku tahu kamu butuh waktu, aku harap kamu bisa percaya sama aku," lirih Satya.
Kenan yang mendengar Satya berucap tidak jelas pun segera berkomentar.
"Kesambet dimana nih orang?" celetuk Kenan.
"Lah nih setannya yang pake kemeja ijo bladus!" ucap Satya.
"Asal tau aja ini ijo army!" kata Kenan.
__ADS_1
Ketika mereka akan berseteru kembali, tiba-tiba seseorang mengendarai sebuah motor masuk ke pelataran melewati mobil-mobil mewah yang terparkir di sana.
Sontak saja Satya dan Kenan menoleh berbarengan. Satya mengernyitkan dahinya kala melihat seorang pria turun dari motor sport-nya. Pria itu menautkan kedua alisnya saat melihat beberapa tenda terpasang di pelataran villa miliknya.
Pria yang memakai kaos berwarna putih dan kemeja kotak berwarna biru sebagai outer-nya itu pun mendekat pada kedua pria yang sepertinya pemilik tenda.
"Maaf, kalian siapa, ya?" tanya pria itu yang membawa sesuatu di tangannya.
"Seharusnya saya yang tanya, anda siapa?" Satya balik bertanya dan menatap tajam pria itu.
"Saya Akbar pemilik villa ini, siapa yabg mengijinkan anda membangun tenda disini? ini bukan tempat perkemahan, kalau anda mau berkemah anda bisa naik lagi ke atas bukit sana," kata Akbar.
"Saya Satya, saya suami dari Amartha, penyewa villa ini!" kata Satya memperkenalkan dirinya.
"Kalau saya Kenan, saya mantan suami dari penyewa villa ini," Kenan pun mengenalkan dirinya pada pria yang bernama Akbar.
"Hahahhahah, jangan bercanda!" Akbar tertawa.
"Siapa yang bercanda? kamu pikir aku komedian?" celetuk Kenan.
"Hahahahaha, astaga ... anda ini ada-ada saja Tuan. Mengaku sebagai suami dan mantan suami? baiklah, menginaplah sesuka hati anda, Tuan. Mungkin bevan hidup di kota membuat pikiran anda berdua sedikit terganggu. Kalau begitu saya permisi..." kata Akbar yang malah memancing emosi Satya dan Kenan.
"Eits! kau mau kemana?" tanya Satya seraya menghalangi jalan Akbar.
"Sepertinya anda salah jalan. Bukankah villa itu sedang disewa?" tanya Kenan.
Entahlah kali ini mereka berdua sangat kompak menghalangi Akbar yang akan berjalan menuju villa miliknya.
"Villa itu milikku dan aku tidak salah jalan. Karena aku ingin menemui orang yang menyewa villa ini," jawab Akbar.
"Maaf tapi aku tidak mengijinkannya," kata Satya dingin
Tak lama pintu pun terbuka, Esih yang berniat menyapu teras pun terpaku pada ketiga pria yang sepertinya sedang bersitegang.
"Den Akbar?" seru Esih membuat ketiga pria itu menoleh pada asal suara tersebut.
__ADS_1
...----------------...