
Vira datang ke unit apartemen milik Ricko dengan membawa dua tentengan besar. Ia bisa langsung masuk karena Ricko sudah memberinya pasword. Ia meletakkan dua tas besar itu di ruang tamu. Mendengar seseorang yang masuk dari arah pintu utama, Dewi membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Wanita itu mendapati anak gadisnya sedang duduk memainkan ponsel dengan dua tas besar diatas lantai.
"Vira?" ucap Dewi.
"Ibu pikir Ricko yang pulang, eh ternyata kamu..."
"Eh, Mama..." Vira mengantongi kembali ponselnya.
"Ini tas kamu?" tanya Dewi.
"Iya, ini tas Vira ... jadi, Vira rencananya besok mau mengundurkan diri, Vira mau fokus dulu ngerawat papa..."
"Ada masalah?" tanya Dewi yang duduk di samping anaknya.
"Nggak ada, papa udah nggak mungkin kerja seperti dulu, jadi lebih baik Vira ikut bantuin usaha keluarga kita," jelas Vira.
"Lagipula, nggak selamanya aku akan tinggal di kota ini," lanjut Vira lagi.
"Kamu udah pikirin baik-baik?" tanya Dewi.
"Sudah, keputusan Vira sudah bulat. Vira kesini cuma mau naruh tas ini, sekarang Vira mau ke rumah sakit, mau nyerahin surat resign..." kata Vira.
"Ya sudah, hati-hati..."
"Vira pamit dulu ya, Maa?" Vira meraih tangan sang Ibu, lalu menciumnya. Ia segera bangkit lalu menutup pintu dari luar. Air mata Vira menetes membasahi pipinya, dengan cepat ia menghapus lelehan air mata dengan punggung tangannya. Wanita itu masuk ke dalam taksi yang akan membawanya menuju rumah sakit.
Vira segera menghadap, ia memberikan surat yang sudah ia siapkan pagi tadi. Wanita yang duduk di hadapannya tak bisa berkata apa-apa, karena kini alasan Vira adalah ingin merawat orangtua yang sedang sakit. Mau tidak mau, wanita itu mengabulkan permintaan Vira.
Matahari mulai naik dan hari mulai terik. Amartha tiba-tiba saja ingin makan sesuatu yang pedas dan manis.
"Mas..." ucap Amartha, ia menggoyangkan tubuh suaminya yang sedang tidur membelakanginya.
"Ya?" sahut Satya.
"Mas!" panggil Amartha lagi.
"Kenapa, Yank?" tanya Satya dengan mata yang masih ngantuk-ngantuk tanggung karena baru saja ia akan terlelap namun gagal.
"Kenapa, Yank? pinggangnya pegel?" Satya membalikkan posisinya menghadap Amartha. Satya memijat sedikit pinggang istrinya yang sudah pasti sering pegal karena menanggung beban di perutnya.
"Ya, pegel juga sih..." kata Amartha yang merasakan pinggangnya yang juga merasakan pegal walaupun sudah memakai bantal maternity.
"Eh, tapi bukan itu, maksudnya aku pengen rujak buah," ucap Amartha.
"Sekarang?" tanya Satya.
"Iya, sekarang..." kata Amartha.
__ADS_1
Satya segera bangkit, Amartha pun mengikuti suaminya. Sepertinya Amartha lupa kalau tangan suaminya sedang terluka.
"Mas, tunggu!" ucap Amartha tiba-tiba.
"Kenapa, Yank? ada yang mau dipengenin lagi? apa?" tanya Satya yang berjalan menuruni anak tangga.
"Tangan kamu kan lagi sakit, nggak bisa nyetir..." ucap Amartha.
"Oh, iya yah? ya udah tanggung juga udah keluar," ucap Satya yang mengajak istrinya melanjutkan menuruni setiap anak tangga, mereka berdua berjalan menuju dapur.
Amartha segera menuju lemari pendingin sementara Satya duduk di kursi di depan meja saji.
"Aku buat sendiri aja, Mas..." ucap Amartha sambil mengeluarkan beberapa buah lokal dari lemari pendingin.
"Tapi aku nggak bisa bantuin," ucap Satya menunjuk tangannya.
Nala muncul dan melihat majikannya yang sedang mengupas buah mangga.
"Biar saya saja, Nyonya..." ucap Nala yang mendekat ke arah Amartha.
"Cuma ngupas mangga aja, La..."
"Nala, itu istri saya pengen rujak buah, tolong bantuin buatin bumbu rujaknya, jangan terlalu pedes," perintah Satya.
"Aku bisa sendiri, Mas..." kata Amartha.
"Baik, Tuan..."
"Kalau udah jadi anterin ke ruang keluarga, sekalian buatkan saya jus mangga," ucap Satya.
"Yuk, Yank..." ajak Satya.
"Aku tinggal ya, La ... makasih," ucap Amartha yang segera mencuci tangan lalu mengeringkannya.
Amartha mengikuti suaminya menuju ruang keluarga, Satya menaruh beberapa bantal untuk menyangga punggung istrinya.
"Rebahan disini, Yank..." ucap Amartha yang duduk dan merebahkan dirinya dengan nyaman di sofa empuk.
"Makasih ya, Yank..." ucap Amartha, ia meluruskan kakinya yang kini sudah sering merasa pegal.
"Coba aku lihat, kaki kamu bengkak apa nggak," ucap Satya yang duduk di atas karpet, sejajar dengan kaki istrinya. Satya menyentuh kaki istrinya dengan tangan kirinya, ia memijit punggung kaki dan pergelangan kaki Amartha.
"Mas, nggak usah ... kamu kan lagi sakit, lagian nggak enak kalau dilihat orang," Amartha hendak bangun namun dicegah Satya.
"Udah, diem aja ... kaki kamu pasti sakit, berat si dedek kan semakin bertambah, lagian mijitin istri sendiri inih..." kata Satya.
"Yang sakit kan tangan kanan aku, Yank ... bukan tangan kiri," lanjut Satya ia menunjukkan tangan kirinya yang tidak terluka.
__ADS_1
"Tapi tetep aja nggak enak, Mas..." ucap Amartha, wanita itu menarik kakinya. Ia menurunkan kakinya ke lantai.
"Loh kok malah duduk? rebahan aja kayak tadi," ucap Satya.
Nala datang membawa rujak buah dengan sambel kacang. Ia meletakkannya diatas meja berdampingan dengan segelas jus mangga dan air putih. Wanita itu juga menyediakan piring kecil. Amartha mengambil beberapa potong mangga dan melon ke dalam piring kecil dan melumurinya dengan sambel kacang.
"Bismillahirrohmaniirohim," Amartha menusukkan garpu pada potongan mangga yang sudah bercampur dengan sambel kacang dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Enak?" tanya Satya. Amartha hanya mengangguk. Satya menyeruput jus miliknya sambil melihat sang istri memakan rujak.
Tiba-tiba saja monster kecil datang dengan ponsel di tangan kanannya, ia nampak segar sepertinya gadis itu baru mandi.
"Wuidih, ada rujak! mau, dong!" seru Prisha yang datang langsung menghampiri Amartha tanpa melirik abangnya.
"Ambil aja, Sha..."
"Mau naik pesawat jangan sampe kamu bonjrot disana," kata Satya memperingatkan.
"Wah, tumben ada nasehat berfaedah meluncur dari Abang?" ucap Prisha.
"Dikasih tau bukannya terima kasih malah..." Satya belum sempat melanjutkan ucapannya, Prisha sudah menyerobot duluan.
"Malah apa?" tanya Prisha.
"Lagian Abang tuh merong-merong bae, cepet tua baru nyaho, loh!" ucap Prisha yang duduk bersila diatas karpet. Ia menempelkan ponsel di telinganya.
"Nala? bikinin pancake, dong! kasih vanilla ice cream diatasnya," ucap Prisha di telepon.
"Mbak Mira kemana emang, Sha? dari tadi aku nggak liat mbak Mira..." tanya Amartha.
"Ikut mami beli taneman," jawab Prisha.
Tak lama, Sandra bersama Abiseka datang masuk ke dalam rumah. Ia mendengar ada yang tengah berbincang di ruang keluarga.
"Loh, lagi pada disini?" tanya Sandra.
"Sat? tangan kamu kenapa?" Sandra melihat tangan Satya yang dibalut.
"Insiden kecil, Mam!" sahut Satya.
"Insiden kecil kok sampe dibalut kayak gitu?" Sandra tak percaya dengan jawaban anaknya. Mira datang membawa sebuah tanaman yang sedang hits.
"Kalian kapan datang?" tanya Abiseka.
"Satu jam yang lalu, Pap!" jawab Satya
"Kalian tunggu disini, mami sama papi mau ganti baju dulu. Kita makan siang bareng!" ucap Sandra, lalu mereka berjalan menuju lantai atas.
__ADS_1