
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Satya sudah memakai kemejanya. Amartha segera membantu suaminya memakai jas berwarna biru langit. Satya terus memandangi wajah sang istri, membuat Amartha tersipu malu dan gagal menyembunyikan rona di wajahnya.
"Mas, mama sama papa mau pulang hari ini," ucap Amartha yang mulai memasangkan dasi untuk suaminya.
"Kapan kita bisa gantian mengunjungi mereka?" tanya Amartha.
"2 minggu lagi gimana?" tanya Satya, Amartha berpikir sejenak.
"Kelamaan?" Satya bertanya lagi.
"Nggak ... ya udah 2 mingguan lagi ya?" ucap Amartha sumringah. Senyumnya membuat hati Satya begitu tentram.
"Yank, kabarin aku kalau jadi pergi, ya? hati-hati, diantar Damian, Prisha lagi galau nggak boleh nyetir," Satya merapikan anak rambut Amartha dan menyelipkan di telinga wanita itu.
"Iyaaaaaa, Pak Bos!" kata Amartha, ia merapikan dasi yang sudah terpasang di leher suaminya.
"Mas," panggil Amartha.
"Ya?" sahut Satya.
"Ini aku pakai kartu yang Mas kasih waktu itu?" tanya Amartha, sewaktu ke mall dengan Sandra beberapa waktu yang lalu, Amartha memang memakai kartu yang diberikan Satya. Namun, tetap saja dia akan bertanya sebelum memakainya, takut-takut dia melewati batas limit kartu.
"Iya, pakai aja ... itu unlimited kok," ucap Satya menjawab kegundahan Amartha.
"Ehm, waktu itu kan aku juga di kasih kartu sama..." ucapan Anartha terhenti, ia menunduk sambil mengancingkan satu kancing pada jas yang dikenakan Satya.
"Itu hak kamu, Yank ... nggak masalah," ujar Satya mengelus puncak kepaka istrinya.
"Mas nggak marah?" tanya Amartha,
"Nggak sama sekali," ucap Satya, ia mengangkat dagu istrinya dengan jari tangannya.
"Oh, ya? jangan terlalu capek, ya?" lanjutnya.
Amartha menatap suaminya lekat-lekat, ia merapikan kerah kemeja Satya.
"Aku ada meeting pagi ini, jadi aku sarapan di kantor aja, ya?" kata Satya.
"Nggak, nggak! ayah harus nemenin ibu sarapan," protes Amartha pada suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, ayah mau roti dan kopi..." ujar Satya.
"Siap laksanakan!" kata Amartha.
"Sudah selesai, aku turun ke bawah dulu," sambung wanita itu.
"Nanti aku menyusul," ucap Satya, ia mengecup kening Amartha sebelum wanita itu menjauh darinya.
Amartha berjalan ke arah pintu ia meninggalkan Satya di kamar sendirian. Pria itu mengambil kunci mobil diatas nakas, namun ketika ia akan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia tak berniat untuk mengangkatnya, malah Satya langsung merubah pengaturan ponselnya menjadi senyap.
"Ngapain lagi nih orang, bikin mood rusak aja," gumam Satya.
Satya langsung bergegas menyusul istrinya ke ruang makan disana sudah ada orangtua dan juga mertuanya. Namun matanya tak menangkap sosok sang adik.
"Kopinya, Mas..." ucap Amartha saat Satya sudah duduk di kursi yang berada di sampingnya.
"Makasih, Sayang..." ucap Satya sambil tersenyum lembut.
"Pagi-pagi udah rapi aja, Sat?" tanya Abiseka.
"Iya nih, Pap ... ada meeting mendadak," sahut Satya.
"Oh ya, Papa sama Mama pulang hari ini, ya?" tanya Satya pada Rosa.
"Itu sudah pasti, Mah..." jawab Satya
"Mama dan Papa biar nanti diantar Barli atau Damian," kata Satya, lalu ia menoleh pada Sandra.
"Hari ini Mami nggak kemana-mana, kan?" tanya Satya pada Sandra.
"Nggak, kaki mami pegel abis acara kemarin, jadi mami mau santai aja di rumah," kata Sandra.
"Onti Isha kemana? tumben nggak nongol?" tanya Satya, karena sedari tadi ia tak melihat adiknya.
"Lagi males katanya, tadi udah dianter sereal sama susu juga ke kamarnya," jelas Sandra, Satya manggut-manggut saja, ia berpikir mungkin Prisha masih galau karena putus cinta.
Satya pun menyeruput kopi hitamnya, ia mengunyah roti bakar selai coklat kacangnya. Rasa kopi buatan istri memang terasa berbeda, komposisinya begitu pas, antara kopi dan gulanya.
"Sat sebelum berangkat ke ruang kerja papi dulu, ada yang mau papi bicarakan," ucap Abiseka.
__ADS_1
"Iya, Pap!" jawab Satya.
Tak memerlukan waktu yang lama, Satya akhirnya menyelesaikan sarapannya. Pria itu berpamitan pada Sandra, Rudy, Rosa dan juga Amartha. Lalu ia mengikuti Abiseka untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Sebenarnya ia juga penasaran dengan apa yang akan disampaikan papinya.
Kedua pria berbeda generasi itu kini berada di ruangan yang sama. Abiseka berdiri menghadap Satya, ia memasukkan tangan ke dalam saku celananya.
"Ada apa, Pap?" tanya Satya, sesekali ia melihat arloji di tangannya.
"Ada hubungan apa kamu dengan Ivanka?" tanya Abiseka, matanya menatap lurus pada anak sulungnya itu
"Nggak ada," sahut Satya seadanya.
"Jangan bohong kamu, Sat!" kata Abiseka, yang tidak suka anaknya berkata dusta.
"Ya Allah masa Satya bohong? nggak ada beneran, Pap! Ivanka hanya investor di perusahaan kita. Kemarin memang ada rencana buat kerjasama, tapi Satya nggak bisa, Pap..." jelas Satya.
"Nggak bisa maksudnya?" Abiseka menatap anaknya.
"Nggak bisa melanjutkan rencana kerjasama itu," ujar Satya.
"Kemarin dia datang diacara keluarga kita, dia tidak akan datang jika kamu tidak mengundangnya," ucap Abiseka.
"Cobaan dalam rumah tangga itu macam- macam salah satunya adalah kesetiaan, Papi melihat dengan sangat jelas bahwa dia merasa dekat dengan kamu, Papi sebagai orangtua wajib mengingatkan kamu supaya lebih berhati-hati. Walaupun papi dan Adam berkawan baik, tapi papi tidak akan setuju jika kamu menghianati istrimu," Abiseka menepuk pundak Satya.
"Terima kasih, Pap ... Satya akan ingat itu. Kalau begitu, Satya pamit..." ucap Satya seraya keluar dari ruangan sang papi.
Abiseka bertanya pada Satya karena dia tidak mau rumah tangga anaknya berantakan. Dia sempat mendengar Mira membawa sebuah bingkisan yang ia tahu bingkisan itu Ivanka yang membawanya. Saat dia bertanya pada Mira, mau dibawa kemana barang-barang itu. Mira hanya menjawab akan dibuang. Dari situ Abiseka menyimpulkan bahwa Ivanka ada ketertarikan dengan anaknya, begitu juga saat bicara padanya kemarin. Bibirnya menjawab pertanyaan dari abiseka namun matanya mencuri pandang pada anaknya.
Satya segera bergegas masuk ke dalam mobil Ia tak mau terlambat. Setelah mengendarai mobil cukup lama akhirnya dia sampai juga di perusahaan ayahnya
Dengan langkah yang tegap ia keluar dari mobil dan melangkah masuk, namun tangannya tiba-tiba dicekal oleh seseorang.
"Ivanka?" pekik Satya.
"Kenapa anda sulit sekali untuk dihubungi?" tanya wanita itu.
"Saya ada meeting, maaf!" Satya melepas cekalan tangan di lengannya.
"Saya hanya ingin bicara sebentar," ucap wanita itu.
__ADS_1
"Saya sudah mewakilkan Firlan untuk membicarakan hasil diskusi kita tempo hari, jadi anda bisa bertemu dengan asisten saya, maaf tapi saya sedang tidak ingin diganggu," ucap Satya yang langsung berjalan ke arah lift.
...----------------...