
"Yank ... aku kangen, masa nggak boleh vidio call? jahat banget kamu, Yank..." rengek Satya meminta vidia call-an dengan sang calon istri.
"Nggak boleh, Mas ... kita lagi dipingit," ucap Amartha yang sedang rebahan di ranjangnya.
"Apa lagi pingit segala, jaman udah modern Yank..." Satya kesal karena Amartha tidak mau juga mengalihkan panggilan telepon ke panggilan vidio.
"Sabar, kan nanti kita ketemu beberapa hari lagi, ehm ... emangnya kamu nggak sibuk, Mas? kok telfon aku dijam kantor," Amartha mencoba mengalihkan pembicaraan, karena Rosa bilang kalau Amartha dan Satya lagi dipingit, katanya orang dulu mah biar manglingi.
"Kerjaan mau di kerjain sampe ayam beranak kodok juga nggak akan ada habisnya, Yank ... lagian udah ada Firlan, jadi aku ada yang bantuin," ucap Satya yang membuat Amartha manggut-manggut mengerti.
"Mas?" Amartha memanggil Satya.
"Kenapa? ngomong aja, Yank..." tanya Satya dengan sangat lembut.
"Itu..." Amartha bingung harus mulai dari mana, dia yang sedang rebahan kini mengubah posisi tidurnya menyamping sambil mendekap guling, memilin ujung tali sarung gulingnya.
"Itu apa?" Satya mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Ehem," Amartha malah berdehem.
"Ngomong aja, Sayang ... nggak usah ragu..." Satya membujuk Amartha untuk mengutarakan apa yang ingin ia katakan.
"Masalah Vira ... ehm, aku bisa minta tolong nggak?" ucap Amartha ragu.
"Emang Vira kenapa?" Satya kembali bertanya pada calon makmumnya.
"Aku mau nikah, terus ... dia kan belum setaun kerja, belum bisa dapet cuti, aku pengen dia disini, nemenin aku..."
"Yank ... itu rumah sakit kan punya kamu, si Vira mau dikasih libur sebulan juga bisa Yank..." sahut Satya menjawab kegalauan hati Amartha, dia tahu kalau Amartha pasti membutuhkan teman, dia pasti merasa gugup menjelang pernikahan.
"Gini deh, nanti Firlan yang urus, kamu nggak usah kepikiran, besok aku jamin Vira bakalan aku paketin ke rumah kamu dengan selamat, ntar aku tambahin keterangan, awas barang pecah belah..." lanjut Satya yang membuat Amartha terkekeh mendengarnya.
"Ish Mas ini ada-ada aja masa Vira disamain sama barang ecah belah, oh ya ... katanya yang ngedecor besok datengnya, Mas ... buat acara siraman..." ucap Amartha dengan lembut.
"Iya Yank ... mami juga ngadain siraman di rumah, habis acara siraman baru deh meluncur ke kota kamu," kata Satya yang sedang santai berbincang dengan sang kekasih, sementara asistennya sibuk dengan tumpukan berkas-berkas. Memang tidak berperi keasistenan.
__ADS_1
"Makasih ya, Mas..." ucap Amartha yang membuat Satya mengerutkan keningnya heran.
"Buat?"
"Semuanya..." sahut Amartha singkat.
"Iya Sayang ... ya udah aku kerja dulu ya? kamu jangan lupa makan, oke?" kata Satya, sebenarnya ia sudah sangat merindukan Amartha, ditambah lagi ia tidak boleh melihat wajah Amartha, jangankan bertemu lewat virtual saja tidak boleh.
"Siap bos," sahut Amartha singkat.
"Bye, Sayang..." ucap Satya sebelum menutup sambungan teleponnya.
Satya meletakkan kembali ponselnya di atas meja sambil sesekali senyam-senyum nggak jelas, Firlan pun yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkas penting di ruangan Satya, akhirnya melirik ke arah bosnya.
"Apa liat-liat?" sarkas Satya yang kebetulan melihat Firlan melirik padanya.
"Tidak Tuan, barangkali Tuan kesambet ... kan saya harus waspada," sahut Firlan sekenanya.
Mendengat jawaban Firlan, Satya menjadi kesal dan melempar bolpointnya ke arah Firlan, kemudian Satya menyenderkan punggungnya di kursi kerjanya dan menghela nafas panjang.
"Baik, Tuan..." Firlan tak bisa menolak, dia harus melakukan apa yang diperintahkan Satya, oh ya mengenai hati Firlan, sekarang pria itu sudah membaik, dia sudah memutuskan Andini lewat telepon. Firlan pergi berlibur selama seminggu untuk menata hatinya kembali, walaupun bayang-bayang penghianatan Andini masih berbekas dalam ingatannya, tapi Firlan tidak mau terpuruk terlalu lama dan ia memilih untuk bangkit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat lain, seorang pria melempar undangan yang ada di meja kerjanya. Hati pria itu hancur ketika melihat nama mantan istrinya tertera sebagai pengantin wanita dari pria bernama Satya Ganendra.
Bukan Amartha yang mengirim undangan itu, tapi Satya. Bagaimanapun Kenan harus tahu kalau mantan istrinya akan segera menjadi istri dari pria lain, pria yang sedari dulu menjadi rivalnya.
"Kenapa, Ta? kenapa kamu nggak mau kasih kesempatan kedua buat aku, aku tau aku salah, tapi ... aku ..." Kenan tak kuasa menahan airmatanya, ia memukul dadanya yang terasa sesak, dia belum siap kehilangan Amartha, dia merutuki kebodohannya mengapa ia melepaskan Amartha waktu itu.
"Aku udah berusaha, tapi berkali-kali aku gagal, aku nggak bisa liat kamu sama Satya ... aku memang egois, aku yang menyakiti kamu, aku terlalu lemah untuk mempertahankan pernikahan kita," Kenan menyeka airmata yang merembes dari sudut matanya. Ia menjambak rambutnya frustasi.
tok
tok
__ADS_1
tok
Suara ketukan terdengar, Kenan langsung membenarkan posisi duduknya, bagaimanapun ia tidak boleh terlihat rapuh di depan karyawannya.
"Maaf Tuan, Nona ini," ucap Soraya yang merupakan sekretaris Kenan, belum selesai dia bicara pada atasannya, seorang wanita dengan seenaknya menerobos masuk.
"Awas minggir," kata Sinta yang sengaja hari itu datang ke perusahaan Brawijaya untuk menemui Kenan.
"Mas ... kamu kok sekarang nggak bisa dihubungi?" tanya Sinta, belum juga sempat untuk duduk, Kenan langsung mengusirnya.
"Maaf, aku lagi sibuk, lebih baik kamu pergi," Kenan menatap Sinta dengan tatapan yang sangat tajam, menyiratkan bahwa dia sedang tidak ingin diganggu saat ini.
"Aku cuma mau-" Sinta tak mendengarkan apa yang Kenan katakan, wanita itu malah mau menarik kursi yang ada dihadapan Kenan berniat untuk duduk disana.
"Pergi!" seru Kenan, sambil menunjuk pintu keluar.
"Oke, tadinya aku cuma mau ngajak makan siang, tapi sepertinya Mas lagi banyak kerjaan ya, ya udah deh ... aku balik lagi aja," ucap Sinta yang melihat Kenan tidak seperti biasanya, pria itu terlihat sangat kacau.
"Eh, ini apa?" gumam Sinta saat tak sengaja menginjak sebuah undangan.
"Undangan?" Sinta mengernyit heran lalu membuka dan membaca undangan pernikahan itu.
"Oh, jadi Mas sedih karena Amartha mau nikah sama Satya? baguslah Mas dia nikah lagi, berarti dia udah move on dari kamu," ucap Sinta sambil menunjukkan sebuah undangan pada Kenan.
"PERGI! AKU BILANG PERGI!" teriak Kenan penuh emosi, mendengar apa yang Sinta katakan malah semakin menyulut emosinya.
"PERGI!" Kenan kembali berteriak.
"Oke, oke, aku pergi..." ucap Sinta.
"Akhirnya kamu merasakan apa yang aku rasakan, Mas ... kehilangan seseorang," lanjut wanita itu yang kemudian berjalan ke arah pintu keluar diiringi tawa yang membuat Kenan semakin marah.
...----------------...
kan mlm ini aku up lagiiiiii..wkwk udah kejar tayang pkoknya
__ADS_1