Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Malu sendiri


__ADS_3

"Anda tidak berhati-hati, Pak Satya!" ucap Ivanka meraih tangan Satya yang berdarah, tiang infus yang jatuh membuat selang infus tercabut dari punggung tangan Satya.


"Biar saya saja," Amartha mengambil alih tangan yang berdarah itu. Ia segera memencet tombol untuk memanggil bantuan perawat jaga.


"Kenapa infusnya sampai terlepas?" Amartha memandang lekat suaminya.


"Aku nggak sengaja menyenggolnya tiang infus itu hingga terjatuh," ucap Satya berbohong, karena tidak mungkin juga ia mengatakan bahwa ia mendorong Ivanka saat wanita itu akan menciumnya.


"Lagipula, aku sudah sembuh, aku tidak memerlukan infus itu lagi," ucap Satya. Sedangkan Ivanka menyunggingkan senyumnya, ia berjalan menuju sofa.


Seorang perawat datang untuk membantu menutup punggung tangan Satya yang terluka, dan memasang infus di punggung tangan yang satunya. Setelah selesai perawat itu pergi meninggalkan ketiga orang yang merasa sangat canggung.


Amartha segera menghubungi Damian untuk membawakan satu koper besar miliknya. Sementara Ivanka anteng duduk di sofa sambil sesekali mencuri pandang pada Satya. Tak lama Damian datang, hanya untuk mengantar koper lalu pergi setelah Amartha menyuruh supirnya itu mencari hotel untuk nenginap. Sedangkan Amartha akan menemani Satya di rumah sakit.


"Nona Ivanka, bukan saya ingin mengusir, tapi bisakah anda menunggu di luar? karena saya akan mengganti baju suami saya," ucap Amartha.


"Kalau begitu saya pamit, Pak Satya! Kita akan sambung pembicaraan tadi besok pagi," ucap Ivanka seraya berdiri dan menganggukkan kepalanya pada Satya.


"Permisi," lanjutnya.


Amartha menghela nafasnya, akhirnya wanita itu pergi juga. Amartha segera membuka koper dan mengambil piyama milik suaminya.


"Aku bantu ganti baju kamu, Mas..." ucap Amartha, ia menarik tirai berwarna krem melingkar menutupi ranjang dimana Satya berbaring.


Amartha membuka satu persatu kancing baju Satya. Pria itu menyentuh wajah istrinya, wanita itu menatap suaminya.


"Kamu pasti lelah, begitu juga dengan dia..." ucap Satya seraya mengelus perut istrinya. Tangan Satya menangkap tangan Amartha saat sang wanita akan melanjutkan untuk membuka kancing yang tadi sempat tertunda.


"Aku bisa sendiri, Sayang..." ucap Satya.


"Kalau kamu tidak ingin aku bantu, aku merasa sangat tidak berguna, Mas..." ujar Amartha, raut wajahnya berubah sendu.


"Atau sebenernya kamu nggak mau aku datang kesini? biar kamu bisa berduaan sama Ivanka? iya, kan?" kata Amartha, ia memalingkan wajahnya.


"Kok Ivanka, sih? lagian aku juga nggak tau kalau dia bakalan kesini, suwer ewer ewer, deh! ucap Satya mengangkat jarinya membentuk huruf V.

__ADS_1


"Bohong!"


"Beneran, Sayang ... aku nggak bohong," ucap Satya yang kepalanya terasa nyeri.


"Bukan aku nggak mau kamu bantu, tapi karena sentuhanmu, membuat aku sulit untuk bisa menahan diri kecuali kita bisa melakukannya disini," ucap Satya sambil menaik turunkan alisnya dan menatap Amartha penuh arti.


"Ehm, jadi mau nggak aku bantuin ganti baju?" tanya Amartha yang tak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.


"Baiklah, lakukan apa yang kamu inginkan, Sayang ... aku mode pasrah ini," ucap Satya. Sementara Amartha tidak menanggapi omongan Satya yang menjurus kesana kemari. Amartha fokus memakaikan pria itu piyama.


"Kamu lagi mikirin apa, Yank?" tanya Satya saat melihat Amartha seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Vira," ucap Amartha sambil membaringkan tubuh suaminya.


"Emang dia kenapa?" Satya mengernyit heran


"Vira kemana, ya?" Amartha malah bertanya pada Satya yang dari tadi belum melihat batang hidung Vira.


"Bukannya tadi kamu bilang dia ada di luar? waktu kamu nerima telfon," ucap Satya mengingatkan.


"Palingan lagi pacaran sama Firlan, udah tenang aja," sahut Satya yang disambut gelak tawa Amartha.


"Iya juga, ya? hahahahaha,"


"Tadi mami nelfon ada apa?" tanya Satya.


"Tadi katanya mami sama papi mau ke rumah, makanya nelfon aku dulu, dan aku bilang lagi jagain kamu disini," jelas Amartha.


"Mami khawatir banget sama kamu, Mas..." lanjut wanita itu.


"Tapi aku lebih khawatir dengan keadaan kamu, Sayang. Aku nggak ngabarin, itu karena aku nggak mau kamu cemas," Satya memandang lembut istrinya


"Aku tuh awalnya ngira kalau kamu selingkuh sama wanita lain, karena pas aku telfon ada suara cewek, ngejerit pula. Aku jadi mikir yang aneh-aneh," ujar Amartha, sementara Satya terkekeh mendengar pengakuan istrinya itu. Satya bisa membayangkan bagaimana reaksi Amartha, pasti Vira ikutan pusing mendengar istrinya yang sudah pasti banjir air mata.


"Tadi waktu kamu telfon aku masih di IGD, dan kebetulan ada perempuan lagi kontraksi disana, jadi aku langsung tutup telfon kamu, karena badanku aja lagi nggak karuan banget rasanya," jelas Satya.

__ADS_1


Amartha jadi malu sendiri mendengar penuturan suaminya, tapi feelingnya terhadap Ivanka tak mungkin salah. Batinnya mengatakan bahwa wanita itu memang datang kesini tidak untuk membahas pekerjaan di hari libur seperti ini.


Firlan datang malam itu hanya untuk mengantarkan makanan pesanan Amartha, sementara Vira sudah ngiler di hotel. Mereka menginap di hotel yang sama dengan Damian. Tenang saja, Vira dan Firlan memesan kamar yang berbeda. Amartha memang memperlakukan orang yang bekerja dengannya seperti keluarga, Satya pun bangga pada kebaikan hati Amartha yang tidak pernah berlaku seperti kacang yang lupa akan kulitnya.


Sementara di tempat yang lain, Sinta mondar-mandir di kamarnya. Dia ragu untuk menelepon Fendy, tapi hatinya gelisah sepanjang malam ini.


Wanita itu memandangi layar ponselnya, ia akan mengirim Fendy sebuah chat, namun ia kembali menghapus kalimat yang baru saja akan dikirimnya. Sedangkan Fendy mengernyit heran, saat melihat sebuah aplikasi chat dengan keterangan Sinta sedang mengetik, namun tak kunjung ada chat yang terkirim di ponselnya.


Pria itu lantas berinisiatif untuk menghubungi Sinta, dan wanita itu langsung mengangkatnya.


"Malam, cantik! ehem, kayaknya ada yang nungguin telfon dari kangmas, ya?" sapa Fendy setelah terhubung dengan Sinta.


"Kangmas? norak banget, sih?" ucap Sinta ketus. Tapi disisi lain ada perasaan lega saat pria menyebalkan itu menghubunginya.


"Kenapa? tadi ngetik chat kok nggak nyampe-nyampe?" sindir Fendy. Sinta menelan salivanya dengan susah payah.


"Kepencet, terus aku hapus, untung belum terkirim," Sinta ngeles, ia memukul bibirnya pelan. Gengsinya diatas rata-rata.


"Aku kira kamu butuh bantuan, atau seenggaknya kangen sama kangmas karena beberapa hari ini libur ngapel," seloroh Fendy.


"Dih, pede banget sih jadi orang!" ketus Sinta.


"Lagian kenapa juga ngangkat telfonnya cepet, hayo? udah ketauan lagi nungguin telfon dari aku, pake acara ngeles segala!" Fendy mengangkat satu sudut bibirnya, sesuai prediksinya bahwa Sinta lambat laun akan terbiasa dengan kehadirannya.


"Gue pengen ketemu Amartha," ucap Sinta tiba-tiba.


"Nggak usah macem-macem! kasian, dia lagi hamil." Fendy memperingatkan Sinta agar tidak bertindak diluar akal sehatnya.


"Siapa juga yang mau celakain dia?" Sinta geram karena Fendy menuduhnya akan berbuat jahat.


"Terus mau ngapain? lagian aku nggak yakin suaminya ngijinin kamu ketemu sama istrinya," kata Fendy yang penasaran mengapa tiba-tiba Sinta ingin bertemu Amartha.


"Karena..." Sinta ragu untuk mengatakannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2