
Satya sudah mengabari Sandra bahwa hari ini mereka datang terlambat, lagi-lagi urusan pekerjaan yang jadi alasan. Amartha hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah suaminya yang sangat perlu dikasihani. Serangan demi serangan ocehan dari sang mami membuat telinga Satya panas.
"Udah deh, Yank nggak usah ketawain, kamu seneng ya? liat aku diomelin kayak gitu?" ucap Satya yang tadi sempat menepikan mobilnya karena menelfon Sandra.
"Nggak mas, nggak. Cuma muka mas itu loh yang bikin aku ketawa... lucu banget soalnya," kata Amartha sambil cekikikan mirip mbak kun.
"Yank, aku pengen es itu..." Amartha menunjuk sebuah abang-abang yang menjual milk shake.
"Yang mana?" Amartha memperlambat laju mobilnya dan berusaha melihat kemana jari istrinya menunjuk.
"Itu loh," Amartha gemas karena suaminya belum mengerti, penjual es yang mangkal di depan SMA.
"Yang pake gerobak putih itu?" tanya Satya.
"Iya, aku pengen..." kata Amartha yang sudah membayangkan betapa enaknya milkshake vanilla dengan remahan biskuit berwarna hitam kesukaannya.
"Loh kok nggak berhenti? kan jadinya kelewatan," ucap Amartha yang melihat ke jendela, sementara mobil Satya terus melaju. Amartha langsung menatap suaminya kesal.
"Yang lain aja, Yank. Dia jual dipinggir jalan, itu pakai air isi ulang atau pakai galon kita kan nggak tau, terus esnya juga nggak tau itu es pake air mentah atau air matang. Dia pakai es krystal atau pakai es balok, kalau es balok ya mending jangan, kotor soalnya. Aku nggak ya mau kamu sakit perut, inget ada dedek bayi dalam perut kamu itu. Nanti aja di rumah mami, aku bikinin kamu milk shake." Satya nyerocos sambil nyetir.
"Iya deh Pak Dokter yang tau banget soal kesehatan. Liat aja kalau anaknya ileran baru tau rasa." ucap Amartha melirik suaminya.
"Kok gitu? kamu kan perawat, dan kamu juga tau masalah kesehatan. Mana ada korelasinya antara pengen milk shake yang dibeli dipinggir jalan tapi nggak keturutan sama anak yang ileran? lagian kan aku udah bilang, nanti aku bikinin di rumah mami. Jadi tetep keturutan dong minum milk shake-nya? Enakan juga aku yang bikinin, Yank. Pakai cinta dan perasaan, si abang itu dia cuci tangan atau nggak kita kan nggak tau," Satya nyerocos lagi bikin Amartha gerah.
"Tapi kan beda, Mas! aku pengennya yang di tempat tadi. Ya udah, Kalau nggak percaya aku telfon mami, Nih!" ancam Amartha. Dia sekarang tahu kata-kata ajaib yang bisa membuat Satya menurutinya adalah dengan mengatakan 'Ya udah biar aku telfon mami!'.
"Ish, kayak gitu aja lapor mami sih, Yank? lagian yang lain aja sih? nanti kita cari kedai lain yang jual minuman kayak gitu." ucap Satya ngeles, padahal dia sendiri yang berniat untuk membuat minuman dengan es yang diinginkan istrinya.
__ADS_1
"Aku maunya yang itu! puter balik, nggak?" Amartha memicingkan matanya, memaksa Satya untuk kembali ke tempat yang tadi.
"Ampun dah bumil kalau udah kepengen nggak bisa dinego sama sekali," gumam Satya, namun samar terdengar oleh Amartha.
"Mas bilang apa barusan?" tanya Amartha yang melihat bibir suaminya komat-kamit.
"Nggak, itu aku lagi nyari buat puter balik." Satya ngeles, dan dia akan mencari cara supaya istrinya itu tidak jajan sembarangan.
"Nah itu tadi puteran balik!" Amartha menunjuk ke sebuah sisi jalanan.
"Ah, iya yah! aduh, nggak liat Yank. Nanti kita cari lagi," ucap Satya dengan cekikikan dalam hati.
Amartha beberapa kali mengingatkan supaya Satya berputar arah, namun ada saja alasan yang dilontarkan Satya. Amartha cemberut dan menatap suaminya dengan penuh selidik.
"Mas sengaja kan? nggak puter balik?" tuduh Amartha. Sedangkan pria yang menjadi tertuduh itu pun bermain dengan raut wajahnya.
"Mana ada, Yank. Emang tadi kebablasan mulu, kok!" ucap Satya yang terus melajukan mobilnya tanpa menatap istrinya yang sudah pasti sudah bertanduk perkara jajanan es yang dilarang Satya.
Setelah beberapa puluh menit Satya memacu kendaraannya, mereka pun sampai di kediaman Ganendra. Satya keluar dari mobil dan berjalan cepat untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya. Sementara Amartha masih jengkel karena keinginannya tidak dituruti. Satya sangat mengerti bahwa istrinya sedang ngambek. Namun Satya sekuat hati supaya tidak tertawa, pasalnya wajah Amartha luci kalau sedang cemberut.
"Pokoknya nanti aku aduin sama mami," ucap Amartha saat sudah berada di luar mobil.
"Ya jangan dong, Sayang. Nanti aku bisa dijadiiin sate sama mami," kata Satya memelas.
"Hati-hati..." ucap Satya saat Amartha akan melangkahkan kakinya.
"Pelan-pelan aja jangan buru-buru," kata Satya mengingatkan, pria itu memegang lengan Amartha.
__ADS_1
"Kayak berasa udah jompo kalau jalan begini, Mas." ucap Amartha menghela nafas kasar. Menurutnya Satya terlalu berlebihan memperlakukan dirinya, ibarat bawa telor ayam yang takut pecah di jalan.
"Ish, nurut sama suami napa, Yank..." ucap Satya. Siapa sangka ucapannya itu malah menjadikan istrinya bertambah kesal. Mungkin jika tadi Satya mau menuruti keinginan Amartha, mungkin bumil cantik itu tidak mungkin sampe ngambek.
"Emang selama ini aku nggak nurut? jadi selama ini mas nganggep aku istri yang nggak nurut suami iya, gitu?" Amartha mrmghentikan langkahnya, dan menatap suaminya.
"Nggak Yank ... nggak, bukan gitu..." Satya merasa pusing perkara sifat istrinya yang sekarang sangat sensitif.
"Terus tadi mas bilang apa coba?" Amartha masih tak melepaskan tatapannya, ia malahan melepaskan tangan Satya dari lengannya.
"Aku cuma salah ngomong, aku minta maaf, ya? sekarang kita masuk ke rumah, mami pasti udah nungguin." Satya mengajak istrinya untuk kembali berjalan.
"Senyum, dong?" lanjut pria itu lagi.
Satya mengusap layar ponselnya dan mengetikkan sesuatu di aplikasi hijau.
"Ayo, cepetaaaan!" Amartha berjalan namun sang suami masih berdiri di tempat dengan ponsel di tangannya.
"Iya iya Sabar..." Satya segera mengantongi benda pipih itu dan mempercepat langkahnya mengejar istrinya yang sudah manyun-manyun pastinya.
"Maksudnya gimana gimana? jadi menurut Mas Aku nggak sabar gitu? jahat banget sih kamu, Maaaass..." ucap Amartha yang menghentikan langkahnya saat sudah sampai di teras depan, sejengkal lagi sudah ada pintu utama dengan ukuran yang besar di depannya.
"B-bukan gitu, Yank ... kamu salah denger kali, aku bilang sayang bukan sabar..." Satya ngeles lagi.
"Jadi, menurut Mas aku-" Amartha tak sempat menyelesaikan ucapannya.
"Eeeeemmmmmpphhh," Satya segera membungkam mulut istrinya itu dengan bibir miliknya. Namun tanpa mereka ketahui, seseorang membuka pintu utama daaaan...
__ADS_1
"Astagfirllaaaaaah!" seru seorang wanita.
...----------------...