
"Mas, rumah ini beda banget," kata Amartha saat berkeliling rumah, Satya ikut mendampingi istrinya yang sedang melihat foto bertema monokrom dirinya yang masih bayi dengan digendong kedua orangtuanya. Ia menoleh pada Satya.
"Kamu suka?"
"Aku suka, dengan caramu memperlakukan orangtuaku," jawab Amartha.
"Aku kira aku salah masuk rumah, kan konyol ya?" kata Amartha terkekeh, saat mengingat pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah milik orangtuanya setelah sekian purnama.
"Makasih, untuk semuanya..." ucap Amartha seraya melemparkan senyuman pada suaminya.
"Aku yang beruntung, bisa memiliki orang yang aku cintai, apalagi sekarang kamu sedang mengandung anakku. Nggak ada kebahagiaan yang menandingi itu," kata Satya. Amartha mulai melangkah, mengabsen setiap ruangan.
"Ini ruangan apa, Mas?" kata Amartha yang melihat ruangan super besar tapi masih kosong, tak ada barang satu pun. Amartha bergerak menuju pintu yang ada di dalam ruangan itu. Amartha membukanya ternyata itu toilet dengan shower tanpa bathtub. Hanya ada closet dan wastafel dengan nuansa alam.
"Ini kamar buat siapa? kok gede banget? ini pintu tembus ke kamar kita?" tanya Amartha saat menyadari ada pintu lain di kamar itu.
"Iya, ini connecting room. Rencananya ini mau buat anak-anak kalau nginep di rumah eyang nya, kamarnya terhubung dengan kamar kita jadi kita dengan mudah mengawasi mereka," kata Satya sambil membuka pintu itu, dan benar saja saat pintu itu terbuka mereka bisa melihat kamar mereka berdua.
"Anak-anak siapa?" tanya Amartha heran.
"Anak-anak kita lah, Sayang. Masa anak tetangga?" seloroh Satya.
"Tapi ini kan gede banget, Mas..." kata Amartha.
"Ya kan aku rencananya punya anak banyak sama kamu, Yank..." ucap Satya.
"Aku belum kirim barang-barang lagi buat ngisi tempat ini, rencananya ini akan jadi kamar dan semuanya dilapis karpet dan pelindung dinding supaya aman buat anak kecil. Gimana kamu setuju? atau kamu ada ide lain?" tanya Satya.
"Nggak ada, kamu emang yang terbaik..." kata Amartha memuji sang suami.
"Kamu ngomong aja kalau ada yang kurang dari rumah ini," kata Satya merangkul pundak istrinya.
"Aku yang penting kenyamanan Mama dan Papa, Mas. Dan ini sudah lebih dari cukup," ucap Amartha.
"Kita ke dapur, yuk? kayaknya Mama bikin kue," lanjut wanita itu.
Di apartemen Ricko, tak banyak yang bisa Vira vvlakukan. Semalam katanya pria itu ingin membicarakan sesuatu dengannya namun nyatanya Ricko menghabiskan semalam suntuk di ruang kerjanya. Mungkin dia sedang sibuk, pikir Vira.
Pekerjaan yang berkaitan dengan beberes rumah sudah dikerjakan oleh pelayan yang datang jam 10 pagi tadi. Baca majalah bosen, nonton tivi apalagi. Vira beberapa kali mengubah posisi duduknya.
"Mbak Vira, saya pamit. Semuanya sudah beres," kata wanita yang memang sengaja ditugaskan untuk membersihkan unit milik Ricko ini.
"Makasih Mbak..." ucap Vira.
__ADS_1
"Permisi Mbak..." kata wanita itu sebelum melangkah pergi.
Vira hanya memandang lurus pada layar tivi yang menyala. Ia meniupkan poni barunya. Kemarin ia ke salon ditemani Firlan, ia memotong sedikit rambutnya, dan menambahkan poni yang membuatnya semakin cantik.
"Nggak ada kerjaan malah bete ya ternyata," gumam Vira.
"Masak nggak bisa, yang ada kompor bisa mleduk, malah ngerepotin orang rumah..." ucap Vira.
"Ya Allah ngapain ini aku? berasa jadi beban dunia kalau kayak gini dah!" lanjut wanita itu.
Tak lama ponselnya berdering, ada nama Firlan disana.
"Halo, Ay. Ada apa?" tanya Vira tanpa basa-basi.
"Astaga, nggak ada basa-basinya banget sama pacar, yang lembut gitu loh," protes Firlan.
"Biasanya juga gitu, kan? basa-basinya kayak gimana? coba contohin,"
"Halo, Ay ... akhirnya kamu nelfon, aku dari tadi nungguin telfon kamu, loh..." ucap Firlan mencontohkan ucapan yang dia mau dengar dari kekasihnya.
"Itu mah lebay! bikin geli tau, nggak?" Vira terkekeh.
Ya wanita berambut sebahu itu sudah bisa berdamai dengan Firlan, mereka sudah berbaikan kemarin.
"Lagi napas, lagi ngobrol juga sama kamu, lagi mandang atap rumah juga,"
"Astaga, lagi napas aja disebut! kalau napas mah aku juga napas kali," Firlan menggelengkan kepalanya heran dengan jawaban Vira.
"Hahahaha," Vira tertawa kecil.
"Yaelah malah ketawa," ucap Firlan kesal.
"Aku ketawa kamu kesel, aku marah-marah juga kamu kesel. Heran deh..." kata Vira.
"Aku harusnya gimana, coba?" lanjut wanita itu.
"Udah hampir jam makan siang, kamu mau makan apa? biar aku pesenin dari sini. Aku nggak bisa kemana-mana kerjaan banyak," ujar Firlan.
"Mama udah masak sih tadi, tapi kalau kamu maksa ya apa boleh buat. Kita kan nggak boleh nolak rezeki kan, ya?" ucap Vira.
"Pengen apa?" tanya Firlan.
"Seblak," kata Vira.
__ADS_1
"Siang-siang kayak gini makan begituan, inget perut!" kata Firlan.
"Tadi nanya pengen apa, gimana sih? nggak konsisten!" Vira mencibir Firlan yang nawarin tapi malah protes setelah tahu apa yang dipesan oleh Vira.
"Ya udah, beliin dimsum..." kata Vira main aman.
"Ada lagi, nggak?" tanya Firlan yang lagi baik hati pakai banget.
"Nggak, ah! itu aja cukup," jawab Vira.
"Ya udah aku pesenin sekarang. Awas jangan molor! hahahahaha," kata Firlan mengultimatum pacarnya. Namun pria itu tak bisa menyembunyinyan tawa renyahnya.
"Ya enggaklah! kecuali datengnya kelamaan. Nah, kalau itu aku nggak janji," ucap Vira.
"Kamu jangan lupa makan, Ay! awas jangan makan rumput!" kata Vira.
"Eiiits, makan rumput! emangnya aku sapi apa ya?" Firlan mendengus kesal. Vira tertawa kecil saat mendengar Firlan misuh-misuh.
"Ya udah, aku tutup telfonnya, daaah!" kata Firlan mengakhiri percakapannya.
Sudah waktunya jam makan siang, biasanya Ricko pulang untuk makan bersama. Vira melihat jam di dinding. Ketika ia akan beranjak dari sofa ia mendengar suara pintu terbuka dari arah ruang tamu.
"Ibu sama bapak dimana, Vir?" tanya Ricko saat masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Vira.
"Astagfirllah, iya Assalamualaikum," ucap Ricko.
"Waalaikumsalam," jawab Vira.
"Mama sama papa masih di kamar," Vira menjawab pertanyaan Ricko.
"Udah makan?" tanya Ricko, ia mengendurkan dasinya dan melepas jasnya. Ia menaruhnya diatas sofa yang berada di dekatnya. Ia menggulung kemeja sebatas siku.
Vira segera mengambil jas dan dasi yang tersampir di kepala sofa.
"Biar aku aja, Vir..." ucap Ricko yang melihat jasnya sudah berpindah ke tangan Vira.
"Nggak apa-apa biar aku bawa ke tempat cucian. Ini udah kan, Kak? atau Kakak mau berangkat lagi?"
"Nggak! mau aku kerjain dari rumah. Ya udah, aku mau ganti baju dulu," ucap Ricko yang berlalu meninggalkan Vira.
...----------------...
__ADS_1