
Bagaimana keadaamu, Pak?" ucap seorang wanita saat panggilan itu terhubung.
"Baik," sahut Satya datar.
"Ada apa?" tanya Satya.
"Tidak ada, hanya ingin mendengar suaramu,"
"Jika tidak ada yang penting, saya mau istirahat, selamat sore," ucap Satya yang langsung mengakhiri panggilannya dengan wanita itu.
Amartha tidak ingin bertanya perihal siapa yang menelepon suaminya. Satya masih menunggu kabar dari Firlan.
"Aku siapin air hangat buat Mas mandi, ya?" ucap Amartha tersenyum pada Satya yang masih memegang ponselnya.
"Iya, Sayang..." jawab Satya.
Amartha segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk suaminya. Ia meneteskan essential oil yang bercampur dengan air hangat yang pasti akan mengendurkan syaraf-syaraf yang tegang dan tak lupa ia menyalakan lilin aroma therapy. Anartha berjalan mendekat ke arah ranjang.
"Airnya sudah siap, Mas..." ucapnya pada Satya. Pria itu melengkungkan senyumnya.
"Bareng, yuk?" ajak Satya seraya merengkuh pinggang istrinya.
Amartha mengangguk dan mereka berendam di dalam bathtub menikmati air hangat bersama. Amartha menyandarkan punggungnya pada dada bidang Satya.
Setelah selesai dengan aktivitas berbagi air hangat dan busa di dalam bathtub. Wanita itu sedang duduk di meja riasnya, sedangkan Satya berdiri di belakangnya, mengelus rambut istrinya yang lembut.
"Mas?" panggil Amartha.
"Ya?" sahut Satya menikmati wangi rambut istrinya. Ia menatap istrinya lewat pantulan cermin.
"Kamu masih cinta sama aku?" tanya Amartha.
"Sangat!" jawab Satya mengalungkan tangannya di leher istrinya, ia memeluk istrinya dari belakang.
"Walaupun nanti tubuhku tidak seperti dulu?" tanya Amartha lagi.
"Nggak masalah, aku malah tambah suka," jawab pria itu menciumi leher istrinya.
"Kalau nanti aku sudah tua dan keriput, apa kamu masih cinta sama aku?"
"Dengan segenap hatiku, Yank..." Satya menyibak rambut istrinya.
__ADS_1
"Jika ada wanita lain mencintaimu dan ingin memilikimu, apa kamu akan pergi ninggalin aku?" tanya Amartha serius. Satya menghentikan aktivitasnya, ia menatap cermin.
"Itu tidak akan pernah terjadi, aku bisa pastikan itu," kata Satya.
"Kalau..." ucap Amartha ragu, ia tak melanjutkan ucapannya.
"Nggak akan ada yang bisa menggantikan posisimu, aku cinta sama kamu dan aku nggak akan pernah menghianati pernikahan kita," ujar Satya lembut.
"Benarkah?"
"Apa kamu meragukan suamimu ini, Sayang?" Satya membenamkan wajahnya di ceruk istrinya.
"Daya tarikmu membuat aku takut," Amartha menikmati sentuhan suaminya.
"Kenapa?"
"Aku takut kamu berpaling dan meninggalkan aku, aku takut kehilangan kamu, Mas..." kata Amartha menatap dirinya dan suaminya lewat pantulan cermin.
"Kamu dan dia adalah segalanya buat aku, bahkan aku berencana mencetak banyak anak, jadi kita akan semakin sibuk melakukan itu sayang," ucap Satya yang mengelus perut istrinya.
"Apaan sih, Mas..." Anartha tersipu malu. Pria itu menggeser sedikit kursi yang di duduki Amartha sehingga menghadap dirinya.
"Kamu wanita yang luar biasa, aku pria beruntung yang bisa mendapatkanmu Sayang..." ucap Satya yang langsung membawa istrinya naik ke atas ranjang.
Firlan yang menaruh mobilnya agak jauh dari area proyek pun sangat lelah harus berjalan kaki untuk menuju mobilnya karena Ia harus menunggu semu orang pulang baru ia bergerak berjalan ke arah mobilnya. Pria itu langsung mengganti bajunya di dalam mobil, karena tidak mungkin ia kembali ke hotel dengan pakaian kotor seperti itu. Tubuhnya sudah sangat berpeluh, ia merindukan guyuran air yang bisa menghilangkan penat setelah lelah bekerja.
Sesampainya di hotel Firlan segera membuka pintu kamar dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia menyalakan shower dan air hangat segera menjalar di tubuhnya. Ia menengadahkan wajahnya menikmati air hangat menyapu setiap pori-porinya. Firlan segera mematikan shower dan menyambar handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang basah.
"Gila, seharian angkut-angkut barang capek juga," gumam Firlan dengan handuk yang melikit di pinggangnya. Pria itu segera memakai kaos dan celana pendek, ia menyemprotkan parfum kesukaannya dan tak lupa ia memesan makanan lewat sambungan telepon, karena perutnya sudah meminta untuk segera diisi.
Sepulang dari proyek, Firlan membeli sebuah ponsel baru, yang hanya bisa untuk telefon dan berkirim pesan. Dia tidak bisa membawa ponselnya, karena orang bisa saja curiga dengan ponsel yang digunakannya terlaku mewah untuk seorang buruh serabutan seperti Surya. Ia meletakkan ponsel jadul itu diatas meja.
Ia beralih pada ponselnya yang sejak pagi ia tinggal di dalam kamar hotel. Firlan sedang menghubungi kekasihnya.
"Ya, halo?" suara wanita menyapa pendengaran Firlan
"Kamu baru bangun tidur?" tanya Firlan, yang ditanya malah menguap.
"Emh ... iya," sahut Vira dengan suara serak khas bangun tidur.
"Udah sore, mandi kek!" perintah Firlan
__ADS_1
"Tiap pulang dari rumah sakit kan aku pasti langsung mandi," jawab Vira masih mengumpulkan nyawa, ia mengucek matanya masih mengantuk.
"Huuufh, kayaknya aku belum bisa pulang, masalah disini belum selesai," Firlan menghela nafasnya. Vira cemas dengan keselamatan Firlan disana.
"Kamu jaga diri, Ay..." kata Vira
"Kamu jaga hati, Vira..." Firlan menimpali ucapan kekasihnya.
"Kamu kenapa?" tanya Firlan yang merasa ada yang aneh dengan Vira. Vira yang semula tiduran kini mengubah posisinya duduk.
"Nggak ada, aku cuma kecapean, pasien lagi banyak," ucap Vira berbohong, ia tidak mau pikiran Firlan terbagi.
"Jaga kondisi, biar jangan oleng," lanjut wanita itu, ia mencoba tersenyum.
"Apa? biar jangan telolet?" tanya Firlan mencoba melucu.
"Biar jangan oleh, ih!" ucap Vira kesal. Firlan tertawa senang.
"Take care, ya? ya udah, aku mau kasih kabar bos dulu," ucap Firlan.
"Nanti malam aku telfon lagi," sambung Firlan.
"Iya, Ay..." jawab Vira, ia menutup panggilan teleponnya.
Firlan segera menghubungi Satya yang sedang berbagi selimut dengan istrinya, mendekap istrinya yang tengah tertidur pulas karena aktivitas yang melelahkan. Ia bahkan tidak terganggu dengan suara telepon.
"Halo, Tuan..." sapa Firlan diseberang sana.
"Bagaimana? apa yang kamu dapatkan hari ini?" Satya langsung mencecar Firlan n dengan pertanyaan.
"Kenapa sejak pagi kamu tidak bisa dihubungi?" tanya Satya.
"Saya tidak membawa ponsel, takut mereka curiga, saya akan kirim nomor baru, kita akan berkomunikasi dengan nomorku yang baru." jelas Firlan.
"Baiklah kalau begitu, sekarang katakan ... apa saja informasi yang kamu dapatkan?" tanya Satya.
"Tidak banyak, hanya saja pekerja yang ada diasana tidak sesuai dengan jumlah pekerja sewaktu kita memantau ke proyek itu beberapa hari yang lalu, dan..." ucap Firlan
"Dan apa?" tanya Satya tidak sabaran.
...----------------...
__ADS_1