
"Pernikahan kita memang dipercepat, Sayang ... kita nikah 2 minggu lagi, atau kamu mau aku nikahin besok?" Satya menaik turunkan alisnya, perkataannya membuat Amartha sangat malu.
Satya pasti berpikiran dirinya sudah ngebet kawin, eh nikah maksudnya.
"Aku mah ayok-ayok aja, mami juga pasti setuju tuh," ucapnya lagi
"Hah? ehm, ah," Amartha mati kutu, ah ada-ada saja reaksi pria itu, membuatnya tak bisa berkata-kata, malu banget rasanya, kalau ada lubang semut atau lubang cacing, dia pengen ikutan nyungsep, umya minimal bisa menyembunyikan dirinya sampai tujuh purnama, saking malunya.
"Gimana? kamu mau aku nikahin besok?" Satya mulai menowel dagu Amartha, dia malah terkekeh melihat raut wajah Amartha yang membuatnya sangat gemas.
"Bukan, ihhh Massss..." Amartha sudah tidak kuat mendengar Satya berulang kali menggodanya.
"Udah nggak usah malu, Yank..." satu kalimat meluncur lagi dari bibir pria itu.
"Dih, siapa juga yang malu,"
"Itu mukanya merah, kamu pasti udah nggak sabar ya pengen milikin aku seutuhnya?" kata Satya lagi, yang membuat Amartha tidak tahan untuk mencubit pinggang pria itu
"Ih, Masssss...." seribu capitan menyerang Satya, membuat pria itu mengaduh kegelian, namun Amartha tak juga menghentikan serangannya. Siapa suruh Satya menggodanya terus menerus?
"Awww, aww, iya iya ampun..." Satya sampai ugat uget kaya ulet bulu, dia sudah tidak kuat menahan rasa geli.
"Yank ampuuuuun," Satya tersudut di sofa, sementara Amartha masih saja, melancarkan aksinya.
"Rasain, enak kan enak?" Amartha tersenyum senang saat Satya
"Udah yank, yank... udaaaaah, aku udah nggak tahaaaann!" seru Satya dengan susah payah bicara, kemudian ia tertawa lagi karena gelitikan tak juga berhenti.
"Abisnya suka banget godain aku," Amartha menghentikan capitannya ketika melihat Satya sudah lemas, dengan wajah yang merah seperti tomat.
"Ganas banget kamu, Yank..." Pria itu mengusap pinggangnya.
"Biar kamu kapok, Mas..." kata Amartha sambil menyunggingkan senyumnya. Senyum yang membuat Satya klepek-klepek dibuatnya.
"Mas, hem, kalau..." cicit Amartha, namun suara dering yang berasal dari ponsel Satya menginterupsi pembicaraannya
"Apa, Sayang? kalau apa? ngomong aja," kata Satya tanpa berniat mengangkat telfonnya.
"Kamu angkat dulu aja, telfonnya Mas..." kata Amartha pada Satya masih duduk anteng.
"Paling Firlan, Yank..." ucap Satya dengan tangan kanannya merogoh kantong celananya mengambil benda pipih yang dari tadi berdering. Baru juga mau dilihat, ponsel itu berhenti berdering.
__ADS_1
"Tuh udah mati juga," lanjut pria itu saat benda itu berada di tangannya.
"Mas, gimana kalau-" belum juga menyelesaikan perkataannya, ponsel ditangan Satya kembali berdering, membuat keduanya mengalihkan perhatian pada benda yang sedari tadi mengibterupsi pembicaraan kedua sepasang kekasih itu
"Haiiiissh, siapa sih?"
"Mami?" cicit Satya melihat sebuah nama yang terpampang dilayar ponselnya, Satya memberi kode bahwa dia yang meneleponnya adalah Sandra, segera ia mengusap tanda warna hijau untuk mengangkat panggilan itu dan meminta Amartha untuk menunggu sebentar
"Bocah nakal! angkat telfon lama banget!" Sandra mengomel saat panggilannya diangkat sang anak.
"Hehehe, Maaf Mam ... ada apa Mam?" Satya hanya terkekeh saat maminya mencak-mencak.
"Kamu lagi ngapain, sih? ngangkat telfon lama banget, mami sampe capek nungguin kamu! huh, sabar ... sabar ... ehm, mami cuma mau ngabarin, kalau papi sama mami minggu depan baru balik!" tutur Sandra panjang lebar membuat Satya mengerutkan keningnya.
"Loh emangnya urusan disana belum kelar, Mam?" Satya heran, kenapa Sandra dan Abiseka berlama-lama di negara tetangga.
"Kita nengokin perusahaan aja belum, hihihihi..." Sandra terkekeh menjawab pertanyaan putranya itu
"Lah terusss? mami sama papi ngapain?" Satya tak habis pikir dengan tingkah maminya yang luar biasa ajaib, dia tidak sadar bahwa dirinya juga sama saja dengan Sandra.
"Mami minta naik tuk-tuk keliling-keliling kota, Sat..." kata Sandra yang terdengar sangat gembira
"Iya, tapi ini beda Sat..."
"Bedanya?" Satya tak paham dengan apa yang dibicarakan Sandra.
"Ya bedalah orang papi yang nyetirin," celetuk Sandra yang membuat Satya geleng-geleng kepala.
"Astagaaa Mammmmmiiii!" seru Satya membuat Sandra menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar teriakan anak sulungnya.
"Udah ya, Sat ... oh ya jangan lupa jagain calon mantu mami," Sandra mengakhiri obrolan yang tidak berfaedahnya dengan Satya.
"Siap, Mam..." ucap Satya sebelum mematikan sambungan telepon.
"Mami kenapa, Mas?" tanya Amartha yang tidak mengerti apa yang dibicarakan Satya dengan maminya
"Nggak apa-apa dia bilang aku suruh jagain kamu," jawab Satya sembari mengantongi kembali ponsel ke dalam saku
"Perasaan kamu tadi ngomong lama," Amartha tak cukup puas mendengar jawaban pria yang masih menggenggam tangannya.
"Oh, itu mami bilang kalau mami disana sekitar semingguan," jelas Satya menuntaskan rasa penasaran Amartha
__ADS_1
"Tadi kamu mau ngomong apa, Yank?" Satya balik bertanya pada wanita yang duduk disampingnya.
"Oh, itu Mas ... ehem ... gimana kalau," Amartha ragu untuk mengatakannya.
"Kalau?"
"Kalau aku berhenti kerja," ucap Amartha sambil menatap Satya dengan lembut.
"Karena masalah tadi?" tanya Satya yang di jawab gelengan kepala Amartha.
"Nggak, bukan karena itu," lirih Amartha.
"Karena sebentar lagi aku jadi istri kamu, aku takut nggak bisa bagi waktu," lanjutnya.
"Aku malah seneng Yank, kamu bisa selalu ada buat aku, buat anak-anak kita nanti," kata Satya menatap wanitanya lekat-lekat.
"Tapi, kamu yakin?" lanjut pria itu sambil mengelus punggung tangan Amartha, wanita itu mengangguk mantap, dia yakin dengan keputusannya, membuat Satya tersenyum bahagia.
"Jadi, besok aku nggak perlu berangkat nggak apa-apa?" tanya Amartha yang membuat pria disampingnya tertawa kecil.
"Ya nggak apa-apalah Sayang ... Sayang, rumah sakit itu milik kamu, kamu lupa ya? kamu mau apakan rumah sakit itu, itu hak kamu Sayang..." jelas Satya yang membuat Amartha tersenyum.
"Tapi, aku nggak ada pengalaman," kata Amartha, saat memikirkan rumah sakit yang dibangun Satya atas nama dirinya.
"Kamu tinggal duduk, dan biarkan mereka yang bekerja, lagi pula aku bangun rumah sakit itu bukan untuk bisnis, aku bangun itu dengan hati, jadi kamu nggak perlu merasa terbebani," ucap Satya yang meneduhkan hati Amartha, wanita itu sangat beruntung dicintai pria sebaik Satya.
"Makasih ya Mas ... kamu udah percaya sama aku, makasih buat semuanya," Amartha memeluk Satya, Satya mengusap lembut punggung wanita yang ada dalam dekapannya.
"Aku nggak akan biarin orang lain menyakiti kamu, Sayang ... aku akan selalu melindungi kamu, walaupun nyawaku yang menjadi taruhannya," kata-kata Satya membuat hati Amartha sangat tersentuh dibuatnya. Satya menjarak tubuh keduanya.
Cup
Sebuah kenyal Amartha rasakan menyentuh keningnya, Satya menyelipkan rambut ditelinga wanita itu, menatap kedua mata indah milik Amartha dan kemudian pria itu semakin mendekatkan wajahnya, semakin dekat, dan...
"Aaaabaaaaangggggg!!!!!!" teriak seorang perempuan yang langsung menerobos ke dalam kamar Satya.
...----------------...
WADUH, kira-kira siapa ya?????
hari ini aku double up, jgn lupa klik likenya ya
__ADS_1