
Sesuai janjinya pada Amartha, malam ini Satya akan menghadiri pesta pernikahan Sinta. Wanita yang pernah menjadi batu sandungan dalam bahtera rumah tangga Amartha.
"Sebenarnya aku malas sekali, tapi apa boleh buat!" ucap Satya saat melajukan mobilnya di jalan raya.
Setelah sekian lama memacu kendaraannya, akhirnya Satya sampai juga di hotel tempat dilaksanakannya resepsi pernikahan Fendy dan Sinta.
Satya segera memperlambat laju kendaraannya setelah sampai di tempat yang menjadi tujuannya.
Pria tampan menawan tidak ada lawan itu keluar dari mobilnya dan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas Vallet.
Satya melangkah menuju sebuah ballroom diadakannya pesta.
"Baru juga datang sudah kangen dengan Evren," gumam Satya yang sudah kangen dengan putri kecilnya.
Suasana riuh mewarnai pesta dilihatnya sang pengantin sedang berdansa di tengah-tengah tamu undangan yang melingkari kedua sejoli yang saling memancarkan binar cinta.
Sang pengantin wanita bergerak memutari sang pria, sebuah uluran tangan dari pengantin pria membawa sang wanita bergerak bersamanya, menjejakkan kakinya lembut sesuai irama musik. Sang pengantin wanita bergerak menjauh namun sang pria segera meraih tangan wanita itu dan menarik pengantin wanita ke dalam pelukannya. Jari jemari mereka saling bertaut, pandangan mereka terkunci.
Satya juga melihat bagaimana Fendy dengan lembut memperlakukan Sinta yang kini menarik tubuhnya ke belakang dengan kaki yang menekuk sedikit diangkat ke atas. Dansa diakhiri dengan riuh tepuk tangan para tamu undangan. Sinta dan Fendy membungkukkan tubuhnya memberinaalam hormat pada semua orang yang menyaksikan pertunjukkan dansa mereka.
Fendy pun mengajak pengantinnya naik ke atas pelaminan. Rona merah jelas terpancar di wajah Sinta yang sesekali melihat ke arah pria yang kini sudah menjadi suaminya.
Satya melihat arlojinya, ia ingin segera pulang. Rindunya sudah tak bisa lagi di tahan. Pria itu melangkah menuju pelaminan.
"Selamat, atas pernikahan kalian..." kata Satya menjabat tangan Fendy, sedangkan dengan Sinta ia hanya tersenyum sedikit lebih ramah dari biasanya.
"Terima kasih, sudah menyempatkan untuk datang," ucap Fendy
"Oh, ya. Ini hadiah dari kami. Bulan madu ke Dubai," kata Satya yang menyerahkan sebuah amplop pada Fendy.
"Wah, terima kasih. Padahal kau sudah mau datang saja kami sudah sangat senang. Sekali lagi terima kasih," ucap Fendy.
"Sampaikan salamku untuk Amartha dan putri kecilnya," ucap Sinta.
"Ya, nanti aku sampaikan," jawab Satya.
"Maaf, aku tidak bisa lama karena Amartha membutuhkan kehadiranku di rumah. Sekali lagi selamat," lanjut Satya.
"Terima kasih," ucap Fendy.
Satya melayangkan senyumannya sebelum turun dari pelaminan yang di penuhi dengan bunga-bunga.
Sementara di rumah. Evren menangis, dan tak mau diberi asi. Amartha menggendongnya dan menimangnya. Bahkan ia mendendangkan nyanyian agar Evren segera tertidur namun nihil. Bayi itu masih saja menangis.
"Evren? kamu kenapa, Sayang? anak ibu kenapa, hem?"
Rosa yang kebetulan ingin melihat keadaan cucu dan anaknya pun mengetuk pintu kamar utama yang ada di lantai dua.
__ADS_1
"Amartha?" Rosa memanggil sambil mengetuk pintu.
Amartha yang mendengar suara ketukan dari luar pun segera membukakan pintu untuk melihat siapa yang mendatangi kamarnya.
"Mah?"
"Loh, kenapa Evren nangis? baru bangun?" tanya Rosa.
"Iya, Mah. Tadi bangun dan nangis kayak gini. Dikasih asi juga nggak mau, di gendong juga nangis terus," kata Amartha.
"Uh, Sayang ... ckckckkc," Rosa mengambil alih Evren dari tangan ibunya.
Pintu yang sengaja dibuka pun membuat suara Evren terdengar sampai ke lantai bawah. Rudy yang mendengar cucunya menangis pun segera naik ke atas menuju kamar anaknya.
"Evren kenapa?" tanya Rudy pada Rosa.
"Cuma nangis aja, kakek. Evren baru bangun tidur. Oh, Sayang ... nananannana..." Rosa mulai bersenandung, namun tangis Evren tak kunjung berhenti.
"Satya kemana, Amartha?" tanya Rudy.
"Lagi ke nikahannya Sinta, temen Amartha Pah..." jawab Amartha.
"Coba sini, Evren sama kakek..." Rudy mulai menimang cucunya tapi tak juga menghentikan tangis bayi mungil itu.
Disisi lain, Satya yang sedang membeli pesanan martabak bangka kesukaan istrinya pun memicingkan matanya saat melihat asistennya berjalan bersama asisten Ivanka. Firlan membukakan pintu untuk wanita itu, mereka baru saja keluar dari sebuah cafe.
"Firlan? ngapain dia bareng sama asistennya Ivanka?" gumam Satya.
"Kamu lagi dimana, Mas?" tanya Amartha.
"Ini lagi beli martabak bangka pesanan kamu,"
"Emang aku pesan itu, ya?" Amartha malah bertanya balik.
"Bukannya tadi pas aku mau berangkat, kamu minta dibawain martabak bangka rasa keju? jangan bilang kalau kamu pengen makanan yang lain lagi?"
"Masih lama?"
"Nggak. Ini tinggal bayar, lagi di pack sama yang jual," ucap Satya.
"Ya udah cepetan pulang. Evren nangis terus, aku nggak tau lagi harus ngapain," ucap Amartha.
"Iya iya, ini aku udah selese, kok! aku pulang sekarang," ucap Satya yang memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Satya pun segera membayar 3 porsi martabak bangka pesanan istrinya. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan menekan pedal gasnya menjauh dari tempat itu.
Satya memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumah megah miliknya.
__ADS_1
Kedatangannya disambut oleh bik Surti yang membukakan pintu untuk tuannya.
"Tolong, Bik!" kata Satya yang menyerahkan bungkusan box martabak pada pelayannya.
"Baik, Tuan..."
Satya langsung naik ke lantai atas. Ia mendengar suara Evren sangat nyaring. Pria itu segera melepas jasnya sembari menaiki tangga.
Satya membuka pintu yang memang tidak tertutup dengan sempurna.
"Evren! Sayang?" panggil Satya.
"Akhirnya kamu datang juga, Mas..." ucap Amartha.
"Udah lama nangisnya?" tanya Satya yang segera membuka dasinya.
"Iya lumayan lama,"
Mendengar suara ayahnya, perlagan tangis baby Evren mereda.
"Kayaknya dia kangen sama kamu, Sat!" ucap Rosa yang kini sedang menggendong cucunya. Rudy yang tadinya mencoba menenangkan Evren, namun tak juga berhasil dan memilih menyerahkan kembali bayi cantik itu pada Rosa.
"Sebentar, ayah cuci tangan dan ganti baju dulu," Satya langsung melenggang menuju kanar mandi sedangkan Amartha membawakan baju ganti untuk suaminya. Berhubung di kamar sedang banyak orang, Satya mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.
Setelah beberapa saat, Satya muncul dari balik pintu. Pria itu berjalan mendekat pada Evren.
"Halo, assalamualaikum, Evren..." ucap Satya sembari mengambil alih bayinya dari tangan mertuanya.
Pria itu menimang anaknya, dengan diiringi lantunan salawat. Tangis Evren mereda, ia sepertinya suara ayahnya menjadi kenyamanan tersendiri bagi bayi mungil itu.
"Coba kamu beri asi," ucap Satya.
"Evren, minum dulu sama ibu, ya?" Satya menyerahkan Evren pada Amartha.
"Kalau begitu mama sama papa keluar dulu, ya? biar Evren bisa tidur," kata Rudy.
"Ayo, Mah..." ajak Rudy pada Rosa.
"Ya sudah, ternyata Evren udah bisa kangen sama bapaknya. Astaga...! kalian jangan lupa makan, nanti kalau Evren tidur panggil mama aja. Nanti mama kesini jagain dia," ucap Rosa.
"Makasih ya, Mah..." ucap Amartha. Rosa dan Rudy pun berjalan ke luar kamar dan tak lupa menutup pintu.
Amartha segera memberi asi pada anaknya sedangkan Satya segera mengunci pintu.
"Minumlah yang banyak, Ev! tangisanmu hampir membuat ibu menjadi tak bisa berpikir," ucap Amartha pada Evren yang kini sedang meminum asi dari sumbernya.
"Kangen sama ayah juga nggak gitu juga kali Ev! kasihan ibu kamu pusing karena tangisanmu yang membuat gempar rumah ini," seloroh Satya.
__ADS_1
"Evren memang anak ayah!" lanjut Satya yang terkekeh sambil mengelus kepala anaknya dengan lembut.
...----------------...