Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Otakmu Sudah Tidak Waras, Alia!"


__ADS_3

Setelah beberapa jam berkendara akhirnya Amartha dan Satya pun sampai di rumah mereka.


"Sayang, kita udah sampai..." Satya membelai wajah istrinya. Amartha masih tertidur di kursi mobil.


"Sayang..." Satya kembali memanggil istrinya.


"Emhh," Amartha mengerjapkan matanya perlahan.


"Kenapa, Mas?" tanya Amartha.


"Tuh, udah sampai rumah ... pindah ke kamar aja, yuk? biar tidurnya nyaman," kata Satya. Amartha mengangguk pelan.


Satya keluar terlebih dahulu, dia membantu istrinya untuk keluar dari mobil.


"Selamat datang, Nyonya..." ucap bik Surti dan juga Sasa.


"Sa? tolong buatin jus alpukat ya, antar ke kamar..." ucap Satya pada pelayannya sebelum masuk ke dalam rumah.


"Jalannya jangan buru-buru, Sayang ... sini pegangan aku," kata Satya yang menawarkan tangannya. Amartha hanya tersenyum kecil, dia berpegangan pada tangan suaminya. Perlahan mereka menaiki anak tangga satu persatu, dan perlahan Satya membukakan pintu kamar untuk Amartha.


"Kamu laper, nggak? biar aku pesenin makanan," tanya Satya saat Amartha duduk di tepian ranjang.


"Nggak usah pake nanya segala, kalau yang boleh dimakan hanya makanan tertentu aja," cibir Amartha. Dia hafal betul tabiat suaminya yang selalu melarang Amartha untuk jajan di pinggir jalan.


"Hahahahah, ya kan untuk formalitas nawarin dulu, Yank..." seloroh Satya.


"Aku pengen makan bakso, Mas ... tapi bakso yang gede itu loh, bakso beranak pinak!" kata Amartha yang sudah terbayang memakan bakso dengan ukuran tak biasa.


"Bakso beranak pinak? ada gitu bakso bisa ngelahirin?" kata Satya yang gagal paham.


"Ishh, bukan baksonya yang ngelahirin. Itu kan cuma nama aja, katro banget sih!"


"Orang aku nggak pernah makan yang begituan," jawab Satya.


"Ya gitu baksonya ukurannya jumbo, nah di dalem bakso jumbo itu ada beberapa butir bakso yang ukurannya lebih kecil," jelas Amartha.


"Ya udah aku cariin aja kalau gitu," kata Satya.


"Sudah ku duga," ucap Amartha.


"Hanya memastikan makanan yang dimakan istriku-"


"Enak dan terjamin kebersihannya," serobot Amartha.


"Nah, itu tau..." kata Satya.


"Kamu tunggu, biar aku carikan..." kata Satya.

__ADS_1


"Aku menunggu," jawab Amartha.


Satya mengecup sekilas puncak kepala istrinya. Hal yang sangat disukai Amartha karena dengan satu kecupan di kepalanya, ia merasa sangat dicintai.


"Padahal dia pasti merasa lelah," gumam Amartha saat melihat suaminya perlahan hilang dari balik pintu. Amartha pun menumpuk beberapa bantal untuk menyangga posisi duduknya


Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu dari luar.


"Ya masuk!" seru Amartha.


Pintu terbuka dan terlihat Sasa sedang membawakan jus alpukat diatas nampan.


"Silakan, Nyonya..." ucap Sasa seraya menaruh segelas jus diatas nakas.


"Terima kasih, Sa..."


"Apa ada lagi yang Nyonya butuhkan?" tanya Sasa.


"Nggak ada," kata Amartha.


"Kalau begitu saya permisi, mari Nyonya..." ucap Sasa.


Sementara di tempat lain, Firlan masih penasaran dengan siapa Vira ngobrol lewat panggilan video. Namun, ia memilih untuk diam. Sekarang dia sedang mengurus administrasi rumah sakit. Beruntung tuan Abiseka tidak seperti anaknya yang suka sekali bertindak ajaib. Tuan Abi selalu memaklumi jika Firlan ada keperluan mendadak seperti ini.


"Untung Vira sakit disaat yang tepat. Coba aja, kalau bos sableng udah keburu masuk ke kantor. Mana bisa aku jagain dia di rumah sakit," Firlan ngedumel sendiri sambil berjalan ke ruang rawat Vira.


"Sudah siap?" tanya Firlan.


"Ya," sahut Vira singkat.


Vira pun berdiri dan membawa tentengan yang berisi alat jahit, beberapa hari di rumah sakit ia sangat bosan. Beruntung dia memiliki alat sulam dan rajut itu. Vira sempat menyulam sebuah wajah anak perempuan yang cantik dengan rambut panjang digerai. Namun, belum sempat terselesaikan. Vira pikir akan melanjutkannya nanti setelah sampai di apartemen Ricko.


Selama di rumah sakit, Ricko tidak mengunjunginya. Dia beralasan sangat sibuk, padahal Firlan yang menyuruh pria itu untuk tidak datang. Karena dia yang akan menjaga Vira selama wanita itu dirawat di sana.


Beberapa puluh menit berkendara dengan mobil, mereka pun sampai di apartemen Ricko. Firlan mengantar Vira sampai ke depan unitnya. Tak ada pembicaraan khusus, hanya beberapa percakapan yang terkesan sangat basi.


"Masuklah," ucap Firlan.


"Terima kasih," kata Vira dingin.


"Tunggu," Firlan menahan kekasihnya. Dia mendekatkan dirinya dan mencium kening Vira.


"Istirahat, jaga dirimu baik-baik..." kata Firlan sebelum pergi.


"Kamu juga," lirih Vira saat Firlan sudah berjalan menjauh darinya.


Saat di dalam mobil, ponsel Firlan berdering. Ada nama Alia yang tertera di layar pada benda pipih itu.

__ADS_1


"Ya! kenapa lagi, Al?" tanya Firlan.


"Tolong aku, waktunya sudah mendesak," ucap Alia.


"Bantu apa?" tanya Firlan.


"Sulit kalau bicara lewat telepon!" kata Alia.


"Aku share lokasinya," ucap Firlan dan panggilan itubpun terputus.


Firlan kemudian pergi untuk menemui Alia, Firlan membuka sebuah aplikasi chat berwarna hijau. Ia mengirimkan sebuah lokasi, tempat untuk mereka bertemu.


"Ada apa lagi dengan Alia? butuh setengah jam untuk sampai kesana, huufh!" gumam Firlan, namun sialnya tanpa sengaja ucapannya itu terkirim pada Vira.


Vira yang mendapatkan sebuah voice note dari Firlan pun tersenyum miris saat mendengar isi dari pesan suara itu.


"Apa dia sengaja? biar aku tau kalau mereka mau ketemuan?" cibir Vira, ia melempar ponselnya ke atas ranjang sebelum ia merebahkan tubuhnya.


Hari sudah sangat sore saat Firlan berjumpa dengan Alia.


"Sorry telat 2 menit," ucap Alia, ia menggeser kursi lalu mendudukinya.


"Ada apa?" tanya Firlan.


"Kamu berjanji kan akan membantuku sebagai imbalan aku yang sudah membantumu untuk membuat pacarmu cemburu, kan?" tanya Alia.


"Ya, lalu?" Firlan tak mengerti arah pembicaraan wanita itu.


"Kalau begitu ini saat yang tepat aku meminta imbalanku, dan kita impas!" ucap Alia menggebu-gebu.


"Tergantung apa permintaanmu, Alia..." kata Firlan.


"Jangn mencoba untuk mengingkari, karena kamu sudah berjanji padaku!" ucap Alia.


"Ya kan tidak mungkin aku penuhi permintaanmu jika kamu ingin keliling dunia atau membeli sebuah pesawat pribadi atau membeli sebuah pulau, kan itu nggak sebanding dengan bantuan yang telah kamu berikan," ucap Firlan.


"Astaga, tidak salah jika pacarmu itu memilih untuk mengabaikanmu, ternyata kamu pria seperrti ini!" kata Alia.


"Kamu ingin imbalan apa, Alia? cepat katakan, sejujurnya hari ini aku sangat lelah..." ucap Firlan.


"Minumlah dulu, supaya kamu bisa mengutarakan maksud dan tujuanmu memintaku datang menemuimu," Firlan menyodorkan sebuah minuman dengan ice cream diatasnya. Alia menyesapnya sedikit, lalu mulai mengatakan apa yang dia inginkan dari pria itu.


"Bantu aku supaya tuanmu mau menikahi nona Ivanka," ucap Alia.


"What? otakmu sudah tidak waras, Alia!" seru Firlan tidak percaya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2