
"Gimana ya, Mas? aku..." Amartha bingung dia harus menjawab apa, dia merasa sangat tidak pantas untuk menerima pemberian mantan suaminya itu.
"Aku cuma minta kamu terima ini, Ta..." Kenan menyodorkan sebuah kartu yang nilainya sangat fantastis. Amartha bimbang ubtuk mengambil kartu yang ada didepannya.
"Mau, ya? please..." Kenan kembali memohon.
"Baiklah, Mas ... aku terima kartu ini, terima kasih," ucap Amartha yang belum sempat membuka isis buku kecil yang ada di bawah kartu itu, dia tidak melihat nominal yang tertera disana.
"Paswordnya tanggal dan bulan ulangtahun kamu," ucap Kenan seraya tersenyum, entah mengapa hatinya begitu bahagia saat Amartha mau menerima pemberiannya ini.
"Aku harap kamu akan menemukan kebahagiaanmu, Mas..." ucap Amartha tulus.
"Aku nggak tau bisa atau nggak, yang penting kamu bisa hidup bahagia, maafkan semua yang pernah aku lakukan dan semua yang pernah terjadi, jika kita gagal menjadi suami istri, mungkin kita masih bisa menjadi saudara atau teman," ucap Kenan yang disambut senyuman manis dari Amartha.
"Ajaklah Satya bergabung, kita makan siang bersama," lanjut pria itu mencoba untuk tegar dan ikhlas menerima perpisahan anatara dirinya dan Amartha.
"Oke, sebentar..." Amartha memasukkan kartu dan buku tabungan yang diberikan Kenan ke dalam tasnya sebelum ia beranjak dari duduknya dan menghampiri suaminya.
Kenan menghembuskan nafasnya perlahan, ternyata sesakit ini melihat orang yang kita cintai sudah menjadi milik orang lain. Kenan segera menetralkan raut wajahnya, dia kembali bersikap dingin untuk menutupi perasaannya yang cemburu melihat pasangan suami istri yang duduk didepannya.
Siang itu mereka menikmati makan siang bersama, walaupun sedikit ada rasa canggung dan cemburu, tapi begitulah kehidupan. Dunia berputar tanpa bisa kita kendalikan, kita harus bangkit walaupun kita jatuh dan hancur berkali-kali.
Kenan belum sepenuhnya sembuh dari lukanya, namun dengan langkah kecil ini dia berharap bisa menjalani esok hari dengan lebih baik. Pria itu tak tak mau mengurusi hatinya, dia hanya menjalaninya seperti air yang mencari muaranya.
Satya menyadari, bahwa ada seorang pria yang lebih dulu hadir dalam kehidupan istrinya, seseorang yang dulu pernah menawarkan cinta dan juga luka pada perempuan yang kini menjadi miliknya, menjadi tanggung jawabnya dunia dan akhirat.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka dimana masa lalu dan masa depan saling bertemu, kini Amartha dan Satya berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman restoran. Kenan melihat Amartha dan Satya berjalan beriringan dengan jari jenari yang saling bertautan, pria itu kemudian memilih untuk berpaling dan masuk ke dalam mobilnya.
Satya membukakan pintu untuk istrinya, ia berjalan memutar lalu masuk dan duduk di kurai kemudinya, perlahan mobil Satya meninggalkan restoran itu.
"Mas?" Amartha menoleh pada suaminya yang sedang fokus pada jalanan.
__ADS_1
"Ya ... kenapa, Sayang?" kata Satya sembari menginjak pedal gasnya.
"Ehm, kamu jangan marah, ya?" ucap Amartha ragu-ragu.
"Kenapa, Sayang? kapan si aku marah sama kamu?" ucap Satya si raja gombal-gambel.
"Pernah! waktu kamu nemuin bunga anyelir di meja ruang tamu," ucap Amartha dengan matabyang memicing ke arah Satya yang malah terkekeh.
"Masa sih?" Satya masih tidak mau mengakui ucapan istrinya.
"Iya, ih ... nggak ngaku!" kata Amartha yang memutar matanya jengah dengan sikap Satya yang suka lupa-lupa ingat.
"Oh, yang waktu kamu ngambek balik ke aku ya? yang kita baikannya pake ehem- ehem, iya kan?" Satya malah menggoda Amartha dengan cengiran khasnya yang membuat Amartha ingin mencapit pinggang pria itu, kalau saja Satya tidak sedang menyetir, sudah pasti Amartha akan menggelitiki dan mencapit-capit pinggang suaminya.
"Dih bisa sedetail itu ingetnya, ih..." Amartha berdecak kesal dengan jawaban Satya.
"Kenapa? tadi mau ngomong apa, Sayang?" ucap Satya lembut, setelah puas menggoda istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Ehm, tadi Mas Kenan ngasih aku ini, Mas..." Amartha mengulangi ucapan terakhirnya.
"Terus?" Satya melirik Amartha sekilas yang sudah manyun-manyun.
"Ya abisnya, Mas nggak dengerin..." Amartha hanya melirik sedangkan pandangannya lurus kedepan.
"Maaf, maaf, aku sambil nyetir soalnya, maaf ya?" ucap Satya yang langsung menepikan mobilnya. Lalu Satya gemas melihat istrinya yang manyun-manyun nggak jelas, karena merasa tidak didengarkan Satya.
"Jangan manyun-manyun ntar aku enchun loh," ucap pria itu yang kemudian terkekeh.
"Iya, iya, gimana Sayang...? kamu ngomong apa tadi?" Satya menatap istrinya yang duduk disampingnya.
"Jadi? Mas nggak marah?" ucap Amartha lalu menoleh pada pria yang mengetuk-ngetukkan jari di dagunya.
__ADS_1
"Kenapa mesti marah? itu hak kamu, Yank ... nggak apa-apa, lagian Kenan pasti udah ngerasa lega karena dia udah melepas salah satu beban yang ada di hatinya, it's okay..." ucap Satya sembari tangan kirinya mengusap lembut pipi Amartha.
"Kita ke kantor nggak apa-apa, kan? ada berkas penting yang harus aku tanda tangani, abis itu kita langsung pulang," kata Satya sebelum menginjak pedal gasnya.
"Oke, bos!" seru Amartha.
Di lain tempat, ada seorang pria yang sedang berbicara dengan adik dari temannya.
"Halo, Sha?" ucap seorang pria diseberang telepon, ia berusaha seramah mungkin.
"Iya ada apa, Kak?" ucap gadis itu yang kebetulan sedang gulang-guling di kamarnya.
"Kamu tau nomor telepon istrinya Satya?" tanya orang itu yang membuat sang penerima telepon mengerutkan keningnya.
"Maksudnya mbak Amartha?" ucap gadis itu memperjelas pertanyaan orang tersebut. Ia yang sedari tadi berbaring, kemudian duduk sambil kucek- kucek mata yang terjerat dengan rasa kantuk.
"Iya, Amartha. Kamu punya nomornya?" ucap pria itu lagi.
"Punya, emang ada perlu apa sama Mbak Amartha?" bukannya langsung memberitahu, gadis itu malah bertanya lebih detail untuk apa meminta nomor kakak iparnya.
"Waktu itu aku sempat ketemu Satya di apartemennya, hmm ... ada sesuatu barangku yang tertinggal, aku mau ambil," ucap orang itu mencari alasan yang sekiranya tidak membuat gadis itu curiga.
"Kan tinggal telfon bang Satya..." sahut gadis itu yang membuat sang penelepon menghembuskan nafasnya, mencoba lebih sabar menghadapi gadis cerewet yang terus saja bertanya.
"Udah beberapa kali aku telfon tapi nggak diangkat," kata seorang pria yang masih berusaha mendapatkan nomor istri dari temannya.
"Ya udah bentar, aku cari kontaknya dulu, nanti aku kirim deh," ucap gadis itu yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Beberapa saat kemudian, sebuah chat masuk dari gadis yang baru saja menerima panggilannya. Gadis itu mengirim sebuah kontak bernama Amartha. Pria itu menyeringai saat mendapatkan apa yang dia inginkan.
...----------------...
__ADS_1