Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Tuker Tambah


__ADS_3

"Mbaaaaaakkk!" seru Prisha yang tiba-tiba berteriak saat melihat Amartha masuk ke dalam ruang makan. Ia merentangkan kedua tangannya berharap dipeluk. Amartha yang melihat itu langsung memberikan pelukan hangat pada adik iparnya.


"Heeeeey, itu suara ngalahin toa masjid! bikin orang kaget aja!" ucap Satya yang langsung nyerobot susu low fat milik Prisha yang masih utuh.


"Mamiiiiiii! nih susu udah terkontaminasi sama mulut abang!" teriak Prisha sambil menunjuk susu yang bekas diminum Satya. Sandra yabg mendengar itu pun ingin sekali menyumpal mulut anaknya dengan roti yang ada ditangannya.


"Berisik! biasanya juga doyan-doyan aja minum bekasan abang ganteng," ucap Satya yabg kembali meminum susu di gelas ramping itu.


"Ih, najong! aku heran aja gitu, kenapa orang model beginian bisa dapet istri cantik, coba?" ucap Prisha sedangkan Satya hanya menggerakkan alisnya berusaha menggoda istrinya yang malah memutar bola matanya malas.


"Sirik aja bocil!" ucap Satya yang kemudian menghabiskan susu yang masih tersisa dalam gelas.


"Mam, nih orang bisa nggak sih kalau dituker tambah aja sekalian? lumayan dituker sama panci atau guci krystal buat nambah koleksi Mami di rumah!" ucap Prisha yang kini melotot melihat gelas yang tadinya penuh berisi susu, kini malah habis tak tersisa.


"Mas segini cukup?" Amartha bertanya dengan menunjukkan porsi nasi goreng diatas piring yang dipegangnya.


"Iya segitu aja, udah kenyang minum susu," ucap Satya dengan nada penuh arti, sedangkan Amartha melotot pada Satya yang malah dengan santainya menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Mon, makan oats mulu? pantes badan kamu mentok segitu, kurang gizi kamu!" celetuk Satya saat melihat adiknya yang menuangkan yogurt ke dalam mangkok yang berisi oats, kacang almond dan beberapa potongan strawberry.


"Mamiii, masa tuh orang ngatain aku kurang gizi?" teriak Prisha ngadu sama Maminya. Membuat Sandra yang mengoles roti gandum dengan selai blueberry.


"Nggak kurang gizi, cuma nggak tinggi-tinggi, sama kurus dikit! iya kan, Dek?" ucap Sandra dengan santainya.


"Dih, Mami! bukannya belain malah ngatain!" Prisha mencebikkan bibirnya mendengar jawaban sang Mami yang malah terdengar seperti ngatain versi halus.


"Badan udah kurus gitu, ngapain pake diet-diet segala?" ucap Satya yang mendapat pelototan dari istrinya.


"Moon maap nih, soalnya cewek itu sensitif banget perkara timbangan, tuh angka bergeser kekanan dikiiiit aja, stresnya udah nggak ada obat, berasa dunia udah runtuh pokoknya, kaum laki-laki harap peka dikit, napa!" ucap Prisha dengan mulut sambil ngunyah.

__ADS_1


"Makan sambil ngomong, keselek baru tau rasa!" ucap Satya yang kembali mendapat lirikan maut dari istri, pria itu langsung nyengir tanpa dosa.


"Adek kamu kan emang dari dulu paling susah kalau disuruh makan nasi," ucap Sandra sambil me


"Kenapa sih, Mon? takut banget sama nasi?" Satya bertanya sambil memotong telor mata sapi miliknya


"Bukan takut, tapi menjaga tubuh agar tetap ideal," ucap Prisha yang terdengar menggelitik di telinga Satya, baru saja Satya akan bicara, sang istri langsung mendelik. Pria itu pun akhirnya tidak menyahuti ucapan adiknya itu.


"Oh ya? gimana kemarin liburannya, Sayang?" tanya Sandra pada menantunya.


"Kita jalan- jalan masuk ke dalam hutan, seru pokoknya, Mam!" jawab Amartha.


"Nggak gempor tuh kaki, mbak? nggak modal banget sih punya laki? duit banyak kenapa ngajak liburan masuk ke hutan? untung aku nggak jadi ikut ya? enak jg nyantai di resort sambil nikmatin spa ... uh, itu baru nikmat, ini malah blusukan ke hutan!" Prisha tersenyum mencibir kakaknya yang sedang menikmati sarapan.


"Namanya berpetualang, menyatu dengan alam," jawab Satya yang dibalas dengan senyum mengejek gadis mungil yang badannya segitu aja dari SMA.


"Mami juga pengen tuh, Sat! liburan ke pulau terpencil" ucap Sandra yang begitu antusias.


"Ada apa nih, pagi-pagi udah ngomongin papi," ucap Abiseka yang kemudian bergabung duduk menikmati sarapan pagi.


"Eh, Sat? kapan kamu dateng?" tanya pria paruh baya itu sambil menyeruput kopi hitam yang disodorkan Sandra


"Semalem, Pih .. itu, Amartha katanya kangen sama Mami," ucap Satya mencari alasan, sedangkan Amartha hanya memutar bola matanya malas.


"Hari ini kamu udah mulai ke kantor lagi, kan? oh, ya ... coba kamu tengokin proyek yang ada di Bandung, kayaknya ada sedikit trouble," kata Abiseka yang dijawab anggukan oleh Satya


"Iya Pih, besok aku kesana," kata Satya.


Setelah melepas rindu dengan mertua dan adik ipar yang tarung terus sama abangnya, Amartha dan Satya pulang ke apartemennya.

__ADS_1


"Sayang? aku langsung ke kantor ya? Firlan udah nelfonin terus dari tadi," ucap Satya setelah mengganti pakaiannya dengan setelan jas berwarna biru langit.


"Iya, Mas ... hati-hati di jalan,"


"Iya, mungkin malam ini aku lembur di kantor, karena besok kita akan ke Bandung, kamu nggak apa-apa, kan?" ucap Satya yang mengelus pucuk kepala istrinya.


"Iya, aku nggak apa-apa kok, kamu hati-hati ya, Mas?" ucap Amartha dengan senyum yang merekah.


Satya mencium sekilas kening Amartha sebelum menghilang dibalik pintu.


Tak berapa lama, ada seorang kurir yang datang untuk mengantar bunga anyelir merah, sama seperti buket bunga sebelumnya. Kata-kata tertulis di kartu ucapannya pun sama.


"Maaf, Pak ... mungkin Bapak salah alamat, karena saya tidak mengenal pengirim bunga ini," Amartha menolak buket bunga yang disodorkan padanya.


"Maaf Nona, mengenai hal itu saya tidak tahu menahu. Saya hanya disuruh untuk mengantar ke alamat ini, silakan Nona tanda tangan bukti penerimaannya," ucap sang kurir yang menyerahkan sebuah kertas dan pulpen.


"Tapi,"


"Tolong Nona, saya bisa dipecat jika anda saya membawa kembali bunga ini bersama saya," ucap sang kurir.


"Saya mohon, Nona ... anda hanya perlu menandatangi ini dan mengambil bunga itu," lanjutnya dengan wajah yang memelas.


Kurir itu bersikeras tidak mau membawa buket itu bersamanya. Akhirnya Amartha merasa tidak tega jika nanti seseorang akan kehilangan pekerjaan karena hal sepele seperti ini. Wanita itu menandatangani bukti penerimaannya, dan dia segera membuang bunga itu.


Selama berhari-hari bunga itu selalu datang di jam yang sama, dan dengan kata-kata yang sama pula. Bahkan selama dia pergi ke Bandung bersama suaminya, buket bunga itu datang dengan jumlah hari yang dihabiskan Amartha di luar kota. Amartha sampai bingung harus membuang bunga itu kemana, dia tidak ingin Satya berpikiran macam-macam.


Terpaksa ia keluar dari unitnya apartemen, Dia tidak mau hubungannya dengan suaminya menegang hanya karena bunga yang dikirim oleh seseorang yang tidak diketahuinya.


Namun, Ketika ia akan membuang sekumpulan bunga itu, tiba-tiba...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2