Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Sesuatu Yang Terlupakan


__ADS_3

"Ivanka," sahut Satya, sekilas raut wajah istrinya berubah. Senyum yang tadinya menghiasi wajahnya kini redup saat mendengar nama Ivanka. Satya malah menonaktifkan ponselnya, Amartha pun keheranan. Pikiran negatif berkecamuk di dalam batinnya.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Amartha melihat suaminya, menuntut sebuah jawaban.


"Karena aku lagi sarapan bareng istriku, dan aku nggak suka diganggu. Aku suapin, ya?" Satya menyuapkan nasi goreng untuk istrinya. Satya sebenarnya tahu jika wanitanya tidak suka ketika mendengar rekan bisnisnya itu. Dia paham, dan tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman.


"Mmm, aku bisa makan sendiri, Mas..." ucap Amartha sambil mengunyah. Satya hanya tertawa kecil.


"Tapi rasanya beda kalau aku yang suapin," seloroh Satya. Amartha merasakan panas di pipinya mendapat sentuhan di pipinya.


"Masa?"


"Ih, nggak percaya lagi. Makanya dirasain bener- bener kan jadi tau perbedaanya," Satya menyuapi istrinya lagi.


"Kamu tau nggak yank? masakan istri itu makanan terenak di dunia" Satya sangat menikmati makanannya, memuji hasil kerja keras istrinya.


"Di, gombal..." ucap wanita yang semakin bersemu.


"Kok gombal, sih? emang beneran enak pake banget, Yank..." Satya menatap istrinya dengan tatapan lembut.


"Masakanmu juga enak, Mas..." kata Anartha seakan tidak mau kalah memuji.


"Hey baby, nanti setelah lahir kamu akan merasakan betapa enaknya masakan ibumu ini, " ucap Satya pada calon anak yang ada diperut istrinya. Satya sering sekali mengajak bicara calon anaknya, pria itu seperti mendapatkan mainan baru. Dia suka sekali mengelus perut istrinya yang bertambah besar setiap bulannya.


"Mas? mami beneran nggak marah semalem kita nggak dateng?" tanya Amartha sambil menatap Satya cemas. Dia takut Sandra kecewa atau marah karena mereka tidak datang.


"Nggak. Mami malah nyuruh kamu buat istirahat, jadi nggak perlu dipikirin, ya?" ucap Satya, ia kemudian mengambil gelas yang sudah diisi air.


Amartha segera bersiap setelah menyelesaikan sarapannya. Ia memakai dress yang disiapkan oleh Satya. Ia meraih papper bag dan mengeluarkan isinya, sebuah dress cantik dengan panjang selutut berbahan sutera yang simple namun elegan.

__ADS_1


"Mau ke rumah mami kenapa pake pakean kayak gini?" gumam Amartha, namun wanita itu tetap menuruti apa yang diperintahkan suaminya.


Dilain tempat Firlan mendapatkan telepon dari Alia, asisten pribadi Satya. Alia mengatakan kalau bosnya ingin bertemu dengan Satya, perempuan berkacamata itu memberitahu dimana mereka akan bertemu.


Firlan mengetuk pintu Satya ketika bosnya itu sampai di ruangannya. Dia pun menyampaikan pesan dari Ivanka.


"Kamu wakilkan saya kesana, saya ada urusan keluarga. Sampaikan permintaan maaf saya," ucap Satya dengan tak mengalihkan pandangan dari kertas yang sedang dipegangnya.


"Tapi saya juga mau ikut, Tuan." ucapan Firlan membuat Satya mendongak, ia tahu dengan apa yang dimaksud Firlan. Pria itu meletakkan penanya dan menatap asistennya sarkas.


"Haissssh, saya tau itu pasti karena ada," Satya hampir saja keceplosan, dia tidak melanjutkan ucapannya mengingat ada Amartha di dalam ruangan yang sama dengannya.


"Ya sudahlah, bilang saja besok saya yang menemui dia di kantornya," kata Satya dan Firlan menarik satu garis senyum yang menandakan ia sangat setuju dengan apa yang dikatakan Satya


"Terima kasih, Tuan..." ucap Firlan, Satya hanya berdehem sebagai jawaban untuk asistennya seraya melirik ke arah sofa tempat istrinya duduk. Firlan ikut melihat kemana arah tatapan bosnya. Firlan mengisyaratkan bahwa Amartha tidak akan mengerti dengan apa yang mereka bahas saat ini. Karena wanita itu sejak tadi sibuk dengan ponsel ditangannya.


"Pesanan saya sudah kamu lakukan, Lan?" Satya bertanya dengan nada dibuat biasa saja agar tak mengundang rasa curiga.


"Kalau begitu, saya permisi Tuan.." Firlan segera undur diri mengingat dirinya harus menemui seseorang yang sudah sangat ia rindukan meskipun semalam mereka baru saja bertemu.


"Mari, Nyonya..." Firlan melempar senyum sebelum keluar dari ruangan itu.


"Iya, Kak..." seru Amartha yang mendapat deheman dari Satya.


"Eheem, kakak!" Satya mode cemburu. Amartha segera menghampiri suaminya dan memutar kursi sang boss agar menghadap dirinya.


"Nggak usah cemberut, nanti tambah tua. Lagian Firlan kan emang lebih tua dari aku jadi aku panggil kakak..." ucap Amartha menangkup wajah Satya.


Pria itu malah kesempatan ngusel di perutnya, menempelkan telinga di perut istrinya seolah ingin mendengar apa yang sedang dilakukan oleh buah hatinya. Amartha mengelus kepala suaminya, dia sedikit banyak merasa bersalah akhir-akhir ini suka cemburu tidak jelas dan mudah sekali naik turun moodnya merepotkan suaminya.

__ADS_1


"Nunggu bentar ya, Yank. Ini bentar lagi kelar kok," Satya mendongak melihat wajah istrinya.


"Iya, aku tungguin kok. Aku duduk disana, ya? Mas lanjutin lagi aja," kata Amartha menjauh dari suaminya dan kembali ke tempat semula.


Kecantikan wanita hamil memang beda, setiap melihat Amartha ada pikiran lain yang malah muncul. Namun ketika melihat tumpukan kertas di mejanya mulutnya langsung mengumpat asisten gendeng.


"****** emang si Firlan, katanya dikit, tapi malah banyak kayak gini," Satya berdecak kesal, karena apa yang dikatakan Firlan di telepon berbeda dengan kenyataan yang ada di hadapannya.


Ketika sedang membaca isi dari kertas itu, Satya mendadak menepuk keningnya.


"Astagfirllah!" seru Satya, sedangkan Amartha langsung menoleh pada pria yang sekarang malah merogoh saku celananya.


"Ada apa, Mas?" tanya Amartha cemas, karena suara Satya begitu mengagetkan dirinya yang lagi enak-enak berselancar di akun media sosialnya.


"Aku lupa nyalain ponsel!" ucap Satya sembari menyalakan kembali ponsel miliknya.


Dan benar saja begitu banyak chat yang masuk dan panggilan telepon tidak terjawab. Ia mengabaikan chat yang salah satunya dari Ivanka, dia langsung mengklik chat dari Sandra. Sang mami mengirimnya chat sedari pagi namun sudah hampir jam 11 siang dia belum membalas dan mengabari keterlambatannya.


"Kirain kenapa, ngagetin orang aja deh..." Amartha mengelus dadanya, dan mengatur nafasnya kembali.


"Aku kan belum ngabarin mami kalau kita kesananya telat. Alamat disemprit sampe rumah," ucap Satya melihat Amartha dengan wajah yang ketar-ketir.


Pantas saja sedari tadi ia merasa melupakan sesuatu, namun Satya belum juga menemukan apa yang sebenarnya ia lupakan. Amartha tertawa melihat raut wajah suaminya yang sangat lucu karena takut dimarahin maminya.


Firlan segera menghubungi Alia. Dia memberitahu bahwa Satya tidak bisa menemui bos dari Alia, dan sebagai gantinya besok Satya sendiri yang akan menemui Ivanka di kantornya.


Ivanka yang mendapat kabar bahwa dirinya tidak bisa bertemu Satya pun merasa kecewa. Apalagi beberapa kali Satya tidak bisa dihubungi. Namun sesaat kemudian, ia menarik satu garis bibirnya. Wanita itu memutar kursinya ke kanan dan ke kiri, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan ia kembali tersenyum kala mengingat seseorang yang bertahun-tahun ia cari.


"Mungkin kita bisa bermain-main terlebih dahulu," ucapnya kemudian.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2