Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kabur Dari Rumah


__ADS_3

Amartha menaiki sebuah taksi menuju ke luar kota. Dengan ongkos taksi yang sangat mahal, karena tujuannya memakan waktu selama kurang lebih 2-3 jam perjalanan. Amartha sengaja meninggalkan ponselnya di rumah Satya, karena dia tahu kalau ponsel itu sudah dipasang alat pelacak. Amartha sudah mencatat nomor yang kira-kira dia butuhkan di sebuah notes kecil.


Atas bantuan seseorang yang dikenalnya dulu di rumah sakit, Amartha berhasil menyewa sebuah Villa.


Amartha sempat berhenti di sebuah toko baju untuk membeli beberapa potong pakaian, seprai dan selimut. Tak lupa ia juga membeli ponsel baru.


Tak lama, akhirnya taksi yang ditumpanginya berhenti di sebuah Villa yang sangat asri. Villa ini tidak begitu besar, namun sangat nyaman karena ditumbuhi banyak bunga dan pohon.


"Kita sudah sampai, Nyonya..." ucap supir taksi.


"Terima kasih ya, Pak?" kata Amartha seraya menyerahkan beberapa lembar uang.


"Ini terlalu banyak, Nyonya..." ucap supir taksi sembari mengembalikan dua lembar uang berwarna merah.


"Tidak apa-apa, Pak. Tadi kan saya minta mampir di beberapa tempat, anggap saja itu tips dari saya, Pak!" kata Amartha yang berusaha mengeluarkan barang belanjaannya.


"Terima kasih. Sebentar, saya bantu bawakan barang belanjaannya, Nyonya..." ucap supir taksi yang dengan cekatan membantu Amartha membawakan barang-barang yang dibelinya di perjalanan menuju Villa.


"Terima kasih, Pak..."


"Sama-sama, Nyonya ... permisi," ucap supir taksi itu.


Amartha duduk di kursi kayu yang ada di teras. Baru saja ia akan menelepon pemilik Villa, ada seseorang yang menyapanya.


"Permisi, maaf saya Akbar. Saya pemilik Villa ini," ucap pria muda yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


"Oh, ehm. Saya Amartha, saya yang akan menyewa Villa ini," ucap Amartha seraya bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu salam kenal, Mbak! maaf ini kunci Villanya. Mbak bisa telfon jika butuh sesuatu rumah saya dekat dari sini," ucap pria bernama Akbar itu.


"Oh, ya? Mbak perlu seseorang untuk bantu-bantu bersih-bersih rumah? kalau iya, saya bisa panggil orang yang biasa merawat Villa ini," lanjut Akbar, karena melihat kondisi Amartha yang sedang hamil besar.


"Kalau ada sih boleh, Mas..." jawab Amartha.


"Ya sudah kalau begitu, nanti saya panggilkan..." kata Akbar.


Pria itu pun membantu Amartha untuk memasukkan barang ke dalam ruang tamu, setelah selesai pria itu pun pergi meninggalkan Amartha di dalam sebuah Villa seorang diri.


Sementara di sebuah pusat perbelanjaan, Damian nampak panik karena ia tak bisa menghubungi ponsel majikannya. Ia pun sudah berkeliling, tawaf mengelilingi ke semua lantai tapi ia tak juga menemukan sosok wanita hamil itu.


"Astaga! kemana perginya, Nyonya!" ucap Damian seraya melihat kesekelilingnya.

__ADS_1


Setelah beberapa jam mencari, Damian memutuskan untuk menelepon Satya.


"Tuan, Nyonya hilang!" ucap Damian saat panggilan itu terhubung.


.


.


Sementara di perusahaan Ganendra.


"Apaaaaaa! bagaimana bisa?" bentak Satya pada Damian.


"Cepat temukan dia!" teriak Satya sebelum menutup sambungan telepon itu secara sepihak.


Satya yang semula berdiri, kemudian menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya. Dia memijit kepalanya yang nyut-nyutan. Satya takut jika istrinya diculik oleh orang jahat.


"Astaga, kamu dimana Amartha!" gumam Satya, ia mencoba berpikir. Ia segera meraih kembali ponselnya saat teringat sesuatu.


Satya menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Lan, tolong lacak ponsel istri saya!" perintah Satya ditelepon pada Firlan, asistennya.


Satya pun tak bisa tenang, dia langsung pergi meninggalkan ruangannya. Prianitu setengah berlari, menuju lift.


"Sial! kenapa lambat sekali lift ini!" gerutu Satya pada kotak besi yang membawanya turun ke bawah.


Setelah pintu terbuka, pria itu berlari menuju mobilnya. Ketika ia akan menginjak pedal gasnya. Ponselnya berdering.


"Bagaimana, Lan? sudah ketemu?" tanya Satya tidak sabaran.


"Posisi ponsel Nyonya ada di rumah, Tuan!" ucap Satya.


"Apa mungkin dia pulang menggunakan taksi?" gumam Satya.


"Ya sudah, saya cek dulu ke rumah," kata Satya yang sedetik kemudian memutus sambungan telepon dengan Firlan.


Pria itu menghubungi Damian, untuk menyusulnya ke rumah. Hati Satya sangat tidak tenang, meskipun mendengar kabar kalau lokasi ponsel istrinya saat ini ada di rumah. Selama ini Amartha selalu membawa serta benda pipih, dan tidak mungkin benda penting itu tertinggal di rumah


Satya mempercepat laju kendaraannya. Ia ingin segera sampai, dan ingin memastikan kalau tidak terjadi sesuatu dengan istrinya.


Satya menekan klakson dengan tidak sabaran, mang Tatang pun tak kalah terkejutnya. Ia segera membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi dan memberi akses masuk mobil milik majikannya itu.

__ADS_1


Satya memarkirkan mobilnya sembarangan, ia keluar dan membanting pintu mobil.


"Astagfirllah, tuan Satya kenapa, dah!" mang Tatang mengelus dadanya kaget, saat mendengar pintu mobil yang ditutup dengan kasar.


"Sayang? Amartha!" teriak Satya saat memasuki rumah. Bik Surti yang mendengar suara teriakan majikannya pun segera menghampiri ke sumber suara.


"Bik? istri saya sudah pulang?" tanya Satya pada bik Surti.


"Sepertinya belum, Tuan..." jawab bik Surti.


Mendengar jawaban pelayan di rumahnya, Satya pun berlari menaiki tangga, ia membuka pintu kamarnya berharap istrinya ada disana.


"Sayang!" seru Satya saat sudah masuk ke dalam kamar.


"Amartha? Sayang, kamu dimana?" seru Satya sekali lagi. Ia tak melihat istrinya di kamar mandi.


Saat Satya berniat untuk pergi ke bawah mencari di setiap sudut rumahnya, namun mata elangnya menangkap suatu benda yang selalu dibawa istrinya.


"Ponsel?" gumam Satya saat meraih benda yang sengaja ia pasang alat pelacak.


Firasatnya tidak begitu baik, ia langsung mengecek lemari pakaian istrinya. Dia melihat sebuah tas jinjing berwarna coklat muda berada tepat di depan lemari pakaian istrinya.


Satya segera membuka tas itu. Dan benar, disitu ada banyak baju milik istrinya. Pria itu lantas membuka lemari pakaian istrinya, disitu tergeletak black card yang Satya berikan untuk Amartha, dan beberapa kartu yang lainnya yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya.


"Dia sengaja meninggalkan ini semua?" ucap Satya saat benda itu berada dalam genggamannya.


"Astaga, Amartha! ada apa dengan kamu sebenarnya! kenapa kamu pergi dari rumah ini," Satya sudah tidak dapat menyembunyikan rasa cemas yang menghantui pikirannya.


"Aku akan segera menemukanmu," ucap Satya meyakinkan dirinya sendiri. Ketika akan mengembalikan kartu ke tempat semula, matanya melihat ada sebuah map berwarna coklat.


Satya mengambilnya, dan membuka apa isinya.


Dan betapa terkejut dirinya saat ia melihat beberapa potret dirinya bersama Ivanka.


"Sialan! sepertinya aku dijebak oleh Carlo! bodoh! kenapa aku mengikuti rencana gila orang itu, aaaaaarghhhhh!" Satya meremas foto-foto dirinya yang tampak sangat mesra dengan Ivanka.


Satya segera merogoh saku celananya, meraih ponselnya.


"Lan! istri saya kabur dari rumah, tolong tanyakan pacarmu apakah istriku bersamanya saat ini?" ucap Satya pada Firlan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2