
Sore ini Amartha bersama suami dan orangtuanya berada dalam satu mobil. Sedangkan Sasa yang merupakan seorang pelayan di kediaman Ganendra, di mobil yang lain bersama Damian membawa barang-barang Satya. Dan kini sekarang sudah sampai di sebuah rumah megah.
"Nah, kita udah sampai..." seru Satya yang sudah menghentikan mobilnya di pelataran sebuah rumah. Pria itu segera membuka pintu mobil dan berjalan memutar untk membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Mah, Pah..." ucap Satya pada mertuanya.
Mereka langsung masuk ke dalam rumah yang sudah lengkap dengan segala furniture-nya.
Pria itu menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ini rumah kita, kamu suka?" kata Satya menatap istrinya.
"Suka," jawab Amartha tersenyum, Satya merangkul bahu istrinya. Tak lama seorang pria datang dan muncul dari arah pintu.
"Oh ya, ini Mang Tatang ... dia yang menjaga di pos depan," ucap Satya memperkenalkan Mang Tatang pada istrinya.
"Mang Tatang, ini Amartha istri saya. Dan ini mertua saya, Bu Rosa dan Pak Rudy," ucap Satya, Rosa dan Rudy tersenyum pada pria di depannya itu.
"Selamat datang, Tuan ... Nyonya..." kata mang Tatang membungkukkan badannya.
"Nanti juga ada Mang Anto yang khusus buat ngerawat tanaman disini, aku sengaja kasih taman belakang rumah biar suasananya adem," ucap Satya.
"Bik Surti udah kesini, Mang?" tanya Satya pada Mang Tatang.
"Belum, Tuan. Sepertinya besok." jawab Mang Tatang.
"Bik Surti siapa, Mas?" Amartha mengernyitkam dahinya.
"Bik Surti istrinya Mang Tatang, aku minta dia buat bantu-bantu kamu disini," ucap Satya.
"Kalau begitu saya balik dulu ke pos, Tuan ... permisi," ucap mang Tatang sopan.
"Oh ya, silakan Pak..." Satya tersenyum, lalu mang Tatang segera berjalan menuju pos depan.
"Oh, ya aku udah bilang sama mami kalau Sasa nanti ikut kita disini, rumah ini terlalu besar kasian jika Bik Surti ngurus rumah ini sendirian,." ujar Satya, pria itu langsung memanggil Sasa.
"Sa?"
__ADS_1
"Ya, Tuan..." sahut Sasa yang sudah selesai menurunkan koper bersama Damian.
"Mulai besok, kamu kerja disini, malam ini biar Damian yang mengantar kamu untuk ambil barang-barangmu, begitu juga dengan kamu Damian. Mulai besok kamu jadi supir pribadi di rumah ini," perintah Satya yang dijawab anggukan oleh Damian dan Sasa.
"Damian, koper saya tolong bawa ke atas," lanjutnya.
"Baik, Tuan..." ucap Damian, pria itu segera menaikkan koper milik majikannya dibantu oleh Sasa.
"Mah, Pah? jadi kan nginep disini?" tanya Amartha pada kedua orangtuanya.
"Jadi, tapi mungkin hanya dua hari, Sayang..." Rosa mengusap lengan Amartha, namun anaknya malah mencebikkan bibirnya.
"Kan mama sama papa, bulan depan kesini lagi. Sayang..." Rosa memberi pengertian anaknya, padahal Amartha sebenarnya sudah terbiasa berjauhan dengan Rudy dan Rosa, namun akhir- akhir ini putri semata wayangnya itu seringkali merengek minta orangtuanya untuk datang.
"Iya deh," ucap Amartha.
Mereka mulai berkeliling melihat setiap sudut rumahnya, bahkan ada playground yang disiapkan Satya untuk anaknya, Amartha tersenyum saat melihat Satya sedetail itu mengkonsep rumah ini. Amartha tersenyum saat sampai di taman belakang, banyak bunga yang ditanam membuat suasana menjadi teduh dan sejuk. Rumah dengan konsep modern minimalis ini sudah menggaet hati sang pemiliknya. Mereka kembali duduk di sofa ruang keluarga.
"Kamu disini, biar aku ke supermarket utuk belanja kebutuhan kita, kulkas masih kosong, sekalian beli makanan untuk makan malam," kata Satya.
"Aku ikut," ucap Amartha cepat.
"Benar kata Nak Satya, Sayang. Kamu disini aja sama mama," kata Rosa.
"Aku mau ikut pokoknya," ucap Amartha dengan tatapan mengiba. Satya menghela nafasnya, tak tega melihat istrinya.
"Ya sudah, bumil emang nggak boleh dibantah, ya?" ucap Satya pada mertuanya.
"Yang sabar, Sat. Hahahahaha," ucap Rudy tertawa melihat wajah stres menantunya itu. Dia jadi ingat bagaimana ketika Rosa mengandung Amartha dulu.
"Kamu masih mending, Sat! Amartha cuma ngerengek pengen ikut, dulu mamahnya Amartha malah minta saya buat bikin nasi bakar pakai daun jati, dan daunnya harus saya sendiri yang naik buat ngambil," seloroh Rudy mengingat bagaimana dia menuruti ngidamnya sang istri.
"Hah? masa sih, Pah? terus Papah mau gitu nurutin?" tanya Amartha heran, dia tidak percaya Rudy akan menuruti keinginan Rosa yang diluar nalar itu.
"Ya gimana lagi? daripada kepala papah digetok sama nenek kamu waktu itu, jadi ya mau nggak mau harus nurutin, kata orang dulu kalau ada orang lagi hamil terus ngidam, harus diturutin, kalau nggak anaknya bisa ileran. Papah sih percaya nggak percaya, tapi ya udah lakuin aja," jelas Rudy.
"Tuuuh, denger? kalau istri lagi ngidam harus dituruti," ucap Amartha menepuk paha suaminya.
__ADS_1
"Iya, Iya ... kan udah diturutin juga, Yank..." Satya membela diri.
"Mah, Pah ... koper mama sudah ada di kamar,"
ucap Satya yang kemudian mereka beranjak dari duduknya, untuk mengantar mertuanya ke kamar yang memang disiapkan untuk orang tua mereka jika menginap. Amartha berjalan dibelakang Satya.
"Ini kamarnya, Mah. Mamah Papah bisa istirahat dulu, kita mau pergi ke supermarket dekat sini, mau beli bahan makanan." ucap Satya, lalu keluar dari kamar mertuanya.
"Kalian hati-hati, ya?" ucap Rudy.
"Jangan ngebut, Sat." kata Rosa mengingatkan.
"Siap, Mah..." seru Satya.
Akhirnya Amartha dan Satya pergi ke sebuah Supermarket untuk membeli beberapa perlengkapan dan kebutuhan dapur mereka. Sepanjang perjalanan Amartha tersenyum memandang luar jendela yang ternyata sudah gelap.
"Kenapa, Yank? kok senyum-senyum?" tanya Satya penasaran.
"Emang nggak boleh kalau aku senyum? maunya aku marah-marah, gitu?" bukannya menjawab Amartha malah mencecar Satya dengan pertanyaan.
"Boleh, boleh banget malah. Aku malah seneng liat senyuman kamu, Sayang..." ucap Satya lembut.
Satya begitu sabar menghadapi emosi bumil yang up and down seenaknya sendiri. Terkadang Amartha sampai nggak tahan sama kelakuannya, tapi tidak dengan Satya.
Sementara di sebuah restoran fine dining, Fendy mengajak Sinta untuk berkencan. Bukan mengajak lebih tepatnya memaksa wanita itu untuk makan malam dengannya.
"Kok nggak dimakan? nggak suka?" tanya Fendy saat melihat steak yang sudah ia potong-potong masih tak tersentuh oleh Sinta.
"Gue heran, lo kok hobi banget ganggu hidup gue?" tanya Sinta sambil melipat tangannya di depan dadanya, menatap pria yang dengan santainya memasukkan daging ke mulutnya.
"Kan kamu pacar aku, gimana si?" ucap Fendy nyolot, Sinta melihat Fendy dengan tatapan nyalang.
"Sakit nih orang!" gumam Sinta tapi masih didengar oleh Fendy.
"Ya kan karena kamu," sahut Fendy cuek.
"Makan atau aku cium kamu disini." lanjut pria itu.
__ADS_1
...----------------...