
Beberapa saat kemudian, ponsel yang ada dalam genggaman pria itu berdering kembali. Firlan mengusap ponselnya dengan gerakan cepat.
"Ada apa lagi, Aliaaaaa?" ucap Firlan kesal. Alia masih saja meneleponnya untuk mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Pria itu memijit pangkal hidungnya.
"Alia? siapa tuh Alia?" ucap wanita di seberang telepon, Firlan terlonjak kaget.
Firlan mengerjapkan matanya dan menegakkan tubuhnya. Pria itu langsung menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama si penelepon, walaupun sebenarnya dia hafal suara itu.
"Vira?" gumam Firlan, dia berdehem untuk mengusir keterkejutannya. Lalu menempelkan kembali benda pipih itu ke telinganya.
"Haloooo?" seru Vira dongkol, ia menaikkan suaranya satu oktaf.
"Ehm, iya Vira..." ucap Firlan, yang memukul bibirnya pelan. Dia sangat ceroboh sudah mengira bahwa Alia yang meneleponnya lagi.
"Halooooo?" seru Vira lagi.
"Kok Vira, sih?" lanjutnya dengan nada sinis.
"Eh, iya Ay..." ucap Firlan, susah payah ia menelan salivanya. Sudah dipastikan pacarnya yang cemburunya kebangetan itu bakal ngamuk.
"Belum jawab pertanyaanku tadi. Siapa Alia?" tanya Vira minta penjelasan.
"Urusan kerjaan, nggak penting." jawab Firlan cepat, Vira mengernyit.
"Yang ditanya apa, yang dijawab apa," ujar Vira kesal, tapi dia berusaha meredam rasa dongkolnya terhadap Firlan.
"Lagi sama bos atau..." ucap Vira menggantung, vira menekan pilihan loudspeaker pada ponselnya.
"Iya, kenapa?" sahut Firlan cepat
"Bosmu disana lagi sama cewek?" tanya Vira to the point, dia tidak ingin berbasa-basi.
"Nggak!" sahut Firlan lantang, Vira melirik ke arah sahabatnya agar tidak berisik.
__ADS_1
"Lagi sama aku, kenapa?" kini Firlan yang bertanya.
"Bukannya nanya pacar malah nanyain suami orang!" ucap Firlan ketus, dia yang kini kesal karena Vira yang menanyakan perihal bosnya, dan bukannya menanyakan kabarnya terlebih dahulu.
"Ssssst, diem! aku nanya karena tuh bininya nangis sampe banjir air mata duyung disini, dia bilang denger suara cewek jejeritan pas telfon suaminya. Beneran tuh bos nggak lagi selekong?" ucap Vira memancing Firlan untuk bicara, Vira menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Ia mengisyaratkan Amartha jangan bersuara.
"Kita lagi d rumah sakit, bos lagi demam. Tapi jangan bilang-bilang temen kamu itu, soalnya tuan Satya nggak mau bikin istrinya khawatir, pokoknya nggak usah ngomong macem-macem," kata Firlan memperingatkan Vira agar wanita itu melakukan apa yang disuruhnya.
"Kak Firlan! dimana suami saya? mas Satya sakit apa?" Amartha mencecar Firlan dengan pertanyaan, dia langsung merebut ponsel yang ada di tangan Vira. Air mata lolos lagi dari kedua matanya yang sudah sembab.
"Nyonya?" ucap Firlan dengan susah payah.
"Suami saya ada di rumah sakit mana, Kak?" tanya Amartha yang sudah sangat khawatir mendengar kabar kalau suaminya sakit.
"Ehm," Firlan melirik Satya yang sedang tertidur, dengan selang infus yang masih tertancap di punggung tangannya.
"Ay? kasih tau alamatnya atau kita..." ancam Vira agar Firlan cepat buka suara.
"Aku belajar dari kamu. Udah cepet kasih alamatnya!" ucap Vira ketus, Firlan hanya mengusap dadanya. Mau tidak mau, Firlan pun memberikan alamat rumah sakit pada Vira.
Alia telah mengabari Ivanka perihal penolakan Satya. Ivanka geram dan mencari tahu sendiri dimana Satya berada. Dan setelah beberapa saat seseorang mengiriminya informasi mengenai keberadaan pria itu. Ivanka langsung berganti baju dan menyambar tasnya. Ia membiarkan rambutnya tergerai. Wanita itu menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya seorang wanita paruh baya bernama Elena. Wanita itu mengerutkan keningnya saat melihat putrinya keluar dengan pakaian casual, dengan jeans yang memperlihatkan kaki jenjangnya dan atasan yang mencetak jelas bentuk tubuhnya. Namun ia tutupi dengan cardigan panjang transparan, yang sama sekali tak berguna.
"Mau keluar, Mah..." sahut Ivanka yang mencium pipi ibunya.
"Ivanka pamit," lanjutnya, ia berlari kecil menuju pintu keluar.
"Hati-hati!" seru Elena.
"Anak itu, sampai kapan dia akan melajang seperti itu? memikirkan satu anak saja membuat kepalaku terasa sakit," ucap Elena yang beranjak pergi menuju kamarnya.
Sedangkan Ivanka yabg sudah berada di dalam mobilnya langsung menekan pedal gas, menuju tempat dimana Satya berada. Apalagi kabarnya, pria itu hanya bersama asistennya. Sekilas seringai muncul di wajah wanita yang dengan lihai memainkan kemudinya.
__ADS_1
"Ketika kamu sakit saja, istrimu tidak ada disampingmu. Satya ... Satya! ah, tapi baiklah. Aku dengan senang hati akan menggantikan tugasnya," gumam Ivanka sambil tertawa senang.
"Kamu akan merasakan kalau aku ini lebih baik dari istrimu yang sibuk dengan perut buncitnya itu, ah. Biarkan dia memberikanmu keturunan, sedangkan aku akan memberikanmu belaian," lanjut wanita itu dengan seringai jahatnya.
Tak jauh berbeda dengan Ivanka, Amartha sedang berada dalam perjalanan dengan diantar oleh supir pribadi, Damian. Wanita yang tengah hamil itu begitu gelisah menatap jalanan.
"Masih lama ya, Pak? kok nggak nyampe-nyampe?" tanya Amartha. Entah sudah berapa kali ia menanyakan hal itu pada Damian.
"Sabar, Ta ... lagipula disana ada Firlan yang jagain dia, kamu nggak usah khawatir..." ucap Vira mengelus lengan sahabatnya.
"Aku nggak bisa tenang. Dia jarang banget sakit, aku pengen cepet ketemu suamiku, Vira..." Amartha menoleh pada Vira dengan deraian air mata. Vira mengambil beberapa helaian tissue dan memberikannya pada Amartha. Vira tak tahu sudah berapa ratus helai tissue yang Amartha habisnya untuk menyeka air matanya hari ini
"Iya, iya kita akan kesana, ini juga hampir nyampe kok," ucap Vira lembut.
Akhirnya kedua wanita itu sampai juga di rumah sakit tempat Satya dirawat.
"Hati-hati jalannya, inget kamu bawa jabang kebo di dalem, kalau kamu kepleset gimana? udah pelan-pelan aja jalannya, suami kamu nggak bakalan ilang kok!" seru Vira yang menyamai langkah Amartha. Vira mencekal tangan sahabatnya, ia menunjuk perut Amartha dengan dagunya. Amartha mengangguk pelan.
"Jangan ceroboh atau kamu akan menyesal kalau terjadi sesuatu dengan kandungan kamu," ucap Vira tegas, ia memegang lengan Amartha menjaga agar wanita hamil itu tidak terburu- buru.
Akhirnya setelah menaiki sebuah kotak besi dan menyusuri lorong rumah sakit, Amartha dan Vira sampai juga di depan sebuah kamar. Vira melepaskan tangannya dari lengan Amartha.
"Masuklah dulu, biar aku tunggu disini," ucap Vira yang menunjuk sebuah bangku yang terbuat dari stainless.
"Kamu nggak apa-apa disini sendirian?" tanya Amartha.
"Ya jangan sendirian, lah! yayang Firlan suruh keluar buat nemenin aku disini," ucap Vira yang sudah mendudukkan dirinya.
"Ya udah, aku masuk..." ucap Amartha. Kemudian ia memutar handle pintu perlahan.
Dan air matanya memupuk saat melihat...
...----------------...
__ADS_1