Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Evren, Semesta Kita


__ADS_3

Setelah tertidur lebih dari 2 jam, Amartha pun terbangun. Ia mengerjap beberapa kali. Ia berusaha untuk menyesuaikan netranya dengan cahaya lampu yang ada di ruangan itu.


Seluruh tubuhnya terasa sangat pegal, dan rasanya walupun sudah memejamkan mata ia masih merasa lelah.


"Sayang?" panggil Satya saat Amartha sudah membuka matanya lebar.


"Mas ... anak kita," Amartha mencari-cari anaknya.


"Ada di ruang sebelah, sedang dihangatkan. Terima kasih kamu sudah memberikan bayi mungil yang sangat cantik, terima kasih sudah mempertaruhkan nyawamu untuk dia..." ucap Satya lembut.


"Kita pindah ke ruangan kamu, ya? tunggu biar aku ambil kursi roda," kata Satya lagi. Pria itu pergi kemudian kembali dengan seorang suster yang membawakan satu kursi roda.


Setelah mengganti pakaiannya, Amartha duduk di kursi roda.


"Biar saya saja yang mendorongnya, tolong bawakan putri kami supaya bisa satu kamar dengan ibunya," ucap Satya.


Satya membawa Amartha keluar dari ruang persalinan. Amartha mendongak melihat wajah tampan suaminya, Satya pun membalas tatapan istrinya dengan mengecup lembut puncak kepala istrinya. Mereka melihat bayi mungil mereka ada di dalam box transparan yang sedang di dorong oleh seorang suster.


"Sebentar lagi kita sampai," ucap Satya seraya mengusap pundak istrinya.


Satya berhenti di depan sebuah ruangan sudah pernah Amartha tempati dulu. Seorang perawat membantu membukakan pintu. Bayi mereka lebih dulu dibawa masuk disusul Amartha.


"Sayang?" panggil Sandra yang sudah menunggu cucu dan menantunya di dalam ruang rawat.


"Mami? Papi?" pekik Amartha, Satya segera mendorong Amartha mendekat pada sang mami yang duduk di sofa. Sementara perawat menaruh bayi yang ada di dalam baby box ditempatkan di dekat ranjang pasien.


"Tuan, Nyonya, saya permisi..." ucap perawat yang mengantar mereka.


"Terima kasih, Sus!" ucap Amartha.


"Selamat ya, Nak? sekarang kamu sudah menjadi ibu," kata Abiseka seraya mengusap kepala menantunya.


"Makasih, Pap!" kata Amartha. Abiseka beralih menuju cucunya berada. Bayi mungil itu masih tidur, Abiseka duduk di samping box bayi itu.


"Selamat, Sayang! maafkan mami yang nggak menemani kamu, itu semua gara-gara anak itu!" ucap Sandra menunjuk Satya. Yang ditunjuk hanya cengar-cengir.


"Nggak apa-apa, Mam! lagi pula memang kejadiannya terlalu cepat, mungkin mas Satya terlalu panik jadi dia nggak sempat ngehubungin mami," jelas Amartha.


"Kamu ini suka sekali membela anak itu, Sayang!" kata mami Sandra.

__ADS_1


"Kalian sudah memiliki nama untuk bayi ini?" tanya Abiseka.


"Aku sih terserah mas Satya, Pap!" ucap Amartha.


"Gimana Sat? kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?" tanya Sandra pada Satya. Ia menggenggam tangan menantunya, Amartha.


"Sudah, tapi tergantung Amartha setuju atau nggak,"


"Kamu nggap pernah bilang sebelumnya kalau kamu sudah punya nama, Mas?" Amartha mendongak menautkan kedua alisnya. Satya berpindah tempat. Pria itu menekuk kakinya dilantai, menghadap istrinya. Ia mengambil alih tangan Amartha yang digenggam Sandra.


"Siapa, Mas? aku jadi penasaran..." kata Amartha.


"Evren Arsatya Ganendra. Kita panggil dia, Evren dalam bahasa turki artinya semesta. Kalau Arsatya gabungan dari nama kita berdua dan Ganendra diambil dari nama belakangku. Dia merupakan dunia bagi kita berdua, dunia aku, kamu dan keluarga kita..." ucap Satya.


"Kamu suka?" tanya Satya.


"Suka, aku suka nama itu..." jawab Amartha. Satya kemudian mengecup punggung tangan istrinya.


"Pinter juga kamu milih nama, Sat? mami bangga sama kamu!" kata mami Sandra sambil menabok punggung kekar Satya. Amartha hanya bisa tertawa melihat ekspresi suaminya yang kaget karena tabokan melayang secara tiba-tiba.


"Tunggu!" seru Abiseka. Memecah senyum yang sudah terlanjur mengembang diantara Amartha, Satya dan juga Sandra.


"Evren?" gumam Abiseka dengan wajah serius, tampak berpikir. Semua mata tertuju pada pria yang duduk sambil melihat wajah cucunya.


Mereka bertiga memandang Abiseka debgan jantung yang berdegub kencang, menanti jawaban dari pria itu.


"Bagus, Papi setuju. Sekarang panggil dia Evren," lanjut Abiseka. Semua orang bernafas lega saat Abiseka memandang mereka dengan senyum yang mengembang.


Mereka diselimuti kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun yang ada di dunia ini. Air mata keluar begitu saja dari netra Sandra melihat kemesraan Satya dan Amartha.


"Loh, kok mami nangis?" tanya Abiseka yang beralih mendekat pada istrinya.


"Kenapa, Mam? kenapa mami?" tanya Satya yang heran kenapa sang mami malah mengeluarkan air mata.


"Mami cuma terlalu bahagia, akhirnya bocah ini punya anak juga! mami kan dulu sempat takut dia bakal jadi perjaka tong-tong! mami bahagia, Piiiiiih....!" kata Sandra yang memeluk suaminya.


"Astaga, mami ini dikirain kenapa?" ucap Abiseka yang malah tertawa, geli dengan tingkah istrinya sendiri. Sedangkan Satya hanya bisa geleng-geleng kepala, kenapa juga mami nya bisa kepikiran dia bakalan jadi perjaka tong-tong!


Karena hari semakin malam, Sandra dan Abiseka pamit pulang. Mereka berjanji akan kembali besok pagi.

__ADS_1


Kini tinggalah Satya dan Amartha beserta Evren di dalam ruang rawat itu. Satya berbaring di ranjang yang sama dengan Amartha, ia membawa istrinya ke dalam pelukannya.


"Sayang, kamu tau nggak?" tanya Satya.


"Nggak,"


"Ish, kamu ini kalau aku mau mulai romantis-romantis pasti begitu," Satya ngambek.


"Udah jadi bapak-bapak jangan suka ngambekan!" kata Amartha.


"Aku mirip hot hot popcorn ya, Yank?" tanya Satya.


"Apaan itu, nggak jelas kamu, Mas!" ucap Amartha.


"Dia mirip kamu, Yank! terutama mata dan bibirnya, aku yakin dia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik suatu hari nanti," kata Satya.


"Dia masih bayi, Mas! baru lahir beberapa jam yang lalu tapi kamu udah ngebayangin dia udah dewasa aja," kata Amartha.


"Aku cinta banget sama kamu, Yank! kamu harus tau itu dan bukan hanya tau tapi harus yakin. Kalau nggak akan ada yang bisa menggantikan kamu di hati aku, Yank!" kata Satya. Amartha mendongak melihat wajah suaminya yang tampak sangat lelah. Amartha menyentuh wajah itu.


"Iya, Sayang..." jawab Amartha.


"Lagi dong bilang sayangnya ... aku pengen denger lagi," pinta Satya.


"Iya, Sayang..."


"Duh, berasa adem banget aku dengernya," kata Satya yang melanjutkan memeluk istrinya lebih erat.


"Saat aku tau kalau kamu dekat sama-" ucapan Amartha langsung dipotong Satya.


"Sssttt, jangan ngomongin yang lain," Satya menjarak tubuhnya. Ia menangkup kedua wajah istrinya. Pandangan mereka bertemu.


"Dan jangan inget itu, karena itu semua aku lakukan supaya nggak ada pengganggu di dalam rumah tangga kita," kata Satya. Satya meraih tangan Amartha dan menaruhnya di dada bidangnya.


"Di dalam sini cuma ada kamu, nggak ada yang lain dan nggak akan pernah ada. Apalagi ada Evren diantara kita," ucap Satya. Satya mulai mendekatkan wajahnya, semakin dekat. Namun tiba-tiba...


"Oeeeeeeee......" Evren menangis kencang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2