Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Midodareni


__ADS_3

Di Rumah Sakit tempat Refan dirawat.


Kenan duduk di ruang tunggu depan ICU, pria itu sesekali memijat pangkal hidungnya. Ia sama sekali tak menggubris wanita yang duduk disampingnya, yang berulang kali menawarkan makanan dan minuman.


Sinta yang dicueki pun akhirnya memilih untuk diam, dan rak mengganggu Kenan.


"Ken, sebaiknya kamu pulang ... kamu pasti lelah..." ucap Arya seraya menepuk bahu Kenan.


"Eh, Om Arya," Kenan refleks menegakan duduknya.


"Saya disini saja, Om..." lanjut pria itu.


"Pulanglah, Ken ... besok, Om akan pindahkan Refan ke rumah sakit di singapura, Om ingin Refan bisa cepat sembuh," ucap Arya.


"Apa tidak beresiko, Om?" tanya Kenan mengingat kondisi Refan yang dalam keadaan koma.


"Om sudah berkonsultasi dengan dokter, mereka menyetujui pemindahan Refan, mereka akan mengutus beberapa dokter untuk ikut dan memastikan keadaan Refan stabil selama diperjalanan," ucap Arya yang diangguki oleh Kamila.


"Terima kasih, Ken ... kamu sudah menjaga anak tante, maaf sudah merepotkan," ucap Kamila.


"Sama sekali tidak merepotkan, Tan..." ucap Kenan yang dibalas senyuman dari Kamila dan Arya


"Baiklah kalau begitu, saya pamit Om, Tante..." Kenan berpamitan.


"Ken, tunggu ... Om bisa minta tolong?" kata Arya yang membuat Kenan mengurungkan langkahnya.


"Apa itu, Om?" tanya Kenan.


"Tolong sekalian antarkan Sinta pulang, biar disini Om dengan tante Kamila saja, kasihan dia ... lagipula besok kami semua akan terbang ke singapura, Sinta akan menggantikan posisi Refan untuk sementara waktu," kata Arya sambil melihat ke arah Sinta.


"Baik, Om ... kalau begitu saya pamit," ucap Kenan sedikit membungkukkan tubuhkanyabke depan lalu berjalan, sementara Sinta yang melihat Kenan sudah melangkah meninggalkannya, segera berpamitan pada orangtuanya.


"Mas, tunggu..." seru Sinta pada Kenan yang tak memperdulikan suara wanita itu


"Mah, Pah ... Sinta pulang, nanti kabarin, ya? tentang perkembangan kondisi kakak," ucap Sinta cepat, ia berlari kecil menyusul Kenan yang tak memperlambat langkahnya.


"Hati-hati ya, Sayang..." ucap Kamila yang mungkin tak terdengar oleh Sinta.

__ADS_1


"Mas ... tunggu, Mas Kenan!" teriak Sinta.


Sementara Amartha menjalani malam midodareninya, Kenan malah bearada dalam satu mobil dengan Sinta. Dia hanya diam menatap jalanan, dan tak membuka mulutnya walaupun wanita yang disampingnya mencoba mengajaknya berbicara.


"Lebih baik kamu diam, atau mau aku turunkan disini?" kata Kenan ketus, pria itu sedang berada di jalan tol dan ia sama sekali tidak ingin mendengar suara Sinta.


"Okey aku akan diam, setelah Mas jawab pertanyaanku, aku penasaran ... kenapa Mas bisa tahu kalau mas Refan kecelakaan," ucap Sinta, seraya melihat ke arah Kenan.


"Karena sebelumu kecelakaan itu dia sedang menelfonku, karena aku dia mengalami kecelakaan itu, aku sudah menjawab pertanyaanmu, puas?" ucap Kenan tanpa sedikitpun melihat ke arah Sinta.


"Maksud Mas?" ucapan Kenan membuat Sinta menatap Kenan tak mengerti.


"Karena Mas Kenan?" Sinta menatap Kenan menuntut jawaban lebih.


"Ya, kamu ingin tau kan kenapa dia bisa sampai kecelakaan? aku berkata yang sebenarnya, hari itu dia datang ke rumah Amartha, dia datang untuk meminta maaf atas semua yang dilakukan adiknya, dia berjanji akan menebus kesalahannya, dia menelfonku dan tak lama terjadilah kecelakaan itu, ya ... aku tak menyangka Refan akan mengalami kejadian naas di malam itu," jelas Kenan sambil terus menatap ke depan, ia memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang, Sinta yang mendengar itu hanya terdiam.


"Sadarlah Sinta ... obsesimu telah melukai banyak orang disekitarmu," lanjut pria itu.


"Aku..." Sinta mulai bersuara.


"Cinta dan obsesi itu sangat berbeda, Sinta ... cinta tak akan memaksa ... cinta tak akan menyakiti, hanya obsesi yang mampu membuat orang ingin memiliki dengan cara licik sekalipun, aku tidak pernah memiliki rasa cinta terhadapmu, dan tidak akan pernah ... karena di hatiku hanya ada Amartha," ucap Kenan yang membuat Sinta tertohok dengan apa yang diucapkan pria yang duduk di kursi kemudinya.


"Lalu apa bedanya dengan kamu, Mas?" ucap Sinta yang membuat Kenan kembali bersuara


"Aku memang mencintainya, tapi aku sadar kalau dia telah memilih seseorang untuk menjadi teman hidupnya, dan aku akan melepaskannya ... merelakannya ... dan aku ajan terus mencintainya tanpa harus memilikinya, itulah yang membuat kita berbeda," kata Kenan membuat Sinta terpaku.


"Mas ... aku-"


"Diamlah dan jangan banyak bicara, aku akan mengantarmu pulang," Kenan tak ingin melanjutkan pembicaraan dengan Sinta, dan Sinta pun akhirnya diam.


Kenan mulai memacu kembali kendaraannya dengan tatapan fokus ke depan, sementara Sinta hanya diam. Dia teringat dengan Refan yang hampir meregang nyawa, beruntung pria itu masih bisa diselamatkan. Entah mengapa, apa yang diucapkan pria disampingnya saat ini sedikit membuat dirinya menyadari sesuatu.


Kenan menatap jalanan dengan perasaan yang kacau, dia akan mencoba mengikhlaskan Amartha, untuk hidup bersama orang yang menjadi pilihannya. Biarlah cinta ini dia simpan dalam hatinya dan menyimpan rapat-rapat hanya untuk dirinya sendiri.


Setelah dua jam perjalanan, akhirnya Kenan sampai kediaman Aryaka.


Kenan menghentikan mobilnya dipelataran, dia hanya diam. Sinta yang melihat itu hanya menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas..." ucap wanita itu, lalu ia membuka pintu dan keluar dari mobil.


Setelah Sinta menutup pintu mobilnya, Kenan langsung menekan pedal gas dan melesat menuju apartemennya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


.


.


Malam itu rombongan Satya sudah sampai di hotel, dengan serba serbi yang super riweuh.


Mereka memesan banyak kamar karena pasukan yang dibawa Sandra sangat banyak. Berbagai macam hantaran telah dipersiapkan.


Sementara orang- orang sedang mengantarkan hantaran ke rumah Amartha, Satya ditinggal di hotel sendirian.


Pria itu jadi uring-uringan di kamarnya, Satya terus saja mondar -mandir, sembari terus menghubungi Amartha.


"Kenapa nggak diangkat, sih?" gumam Satya kesal.


Sementara di rumah Amartha dia tidak sempat memegang ponselnya, dia sibuk menyapa para tamu yang datang, lebih tepatnya pasukan pengantar hantaran, Sandra yang melihat calon menantunya sangat cantik dengan sanggul dan kebaya berwarna maroon pun tersenyum bangga. Sandra menyerahkan berbagai macam hantaran, dari mulai satu set perhiasan yang bertahtakan berlian, tas dan sepatu, make up dan masih banyak lagi.


Dalam acara itu, Sandra akan memakaikan cincin sebagai pengikat antara Satya dan Amartha, walaupun Satya telah melamar Amartha namun Sandra menginginkan pertunangan mereka juga diulang dan disaksikan oleh kedua belah pihak.


Kali ini Amartha menjalani prosesi tantingan, disini Amartha akan ditanya tentang kemantapan hatinya untuk menolak atau menerima pinangan tersebut. Amartha mengangguk dan menjawab bahwa dia menerima pinangan dan telah memantapkan hatinya untuk menjadi istri dari Satya Ganendra. Sandra dan Abiseka berserta seluruh keluarga kedua belah pihak pun tersenyum bahagia.


Semua orang terkesima saat Sandra menyematkan sebuah cincin di jari Amartha. Lalu Sandra pun memakaikan kalung yang sangat indah di leher jenjang Amartha.


"Selangkah lagi kamu akan menjadi istri dari putraku, Satya..." ucap Sandra seraya memeluk Amartha.


"Terima kasih, Mam..." ucap Amartha yang sudah tak bisa berkata apa-apa lagi.


----------------


Oke...lanjut ya? wkwkkwkwk


Sampe keriting nihhhhhhh jari, jgn lupa likenya

__ADS_1


__ADS_2